Bab 37: Gelombang Baru Bermunculan
Ketika Li Chenlan mengajukan perihal pernikahan antara Wanchun dan Qin Ye, Yin Chen benar-benar tak bisa menggambarkan perasaannya sendiri. Barangkali karena bertahun-tahun terbiasa dengan persaingan terang-terangan maupun diam-diam, Yin Chen pun reflek menolak ketika menyadari maksud Li Chenlan.
“Mengapa?” Li Chenlan tidak mengerti. Pria dan wanita saling menyukai, bukankah ini kabar bahagia bagi semua? Kenapa justru Yin Chen tampak tidak rela?
“Qin Ye adalah orang kepercayaanku. Jika dia berkeluarga, banyak urusan nanti yang mungkin tak bisa lagi dia kerjakan.”
“Ternyata Ah Ci tak rela!”
Li Chenlan pun mulai ngambek, membalikkan badan membelakangi Yin Chen, duduk tanpa berkata apa-apa. Keduanya terdiam dalam suasana yang kaku.
“Lagipula, andai Wanchun menikah, bukankah di sisimu tak ada lagi pelayan yang kau percayai?”
“Itu justru yang ingin hamba sampaikan pada Paduka. Hamba ingin memanggil Shouqiu dan Cangdong dari rumah ke istana. Mereka tumbuh bersama Wanchun sejak kecil, dan hamba sangat mempercayai mereka.”
Oh begitu rupanya, Yin Chen memandang Li Chenlan dengan hening, tak berkata apa pun, hingga Li Chenlan merasakan hawa dingin dalam hati.
Li Chenlan benar-benar tak habis pikir. Bukankah hanya urusan bawahannya menikah saja? Siapa yang tak ingin menjadi mak comblang dan merestui jodoh baik? Entah mengapa, justru Yin Chen yang tidak berkenan.
“Beri aku waktu untuk mempertimbangkan lagi. Lagipula, andai benar jadi menikah, harus juga menunggu Pengawas Langit memilih hari baik, lalu Kementerian Ritus menyusun waktu yang paling mujur.”
“Jadi Paduka setuju?”
Yin Chen tidak menjawab, hanya duduk sebentar lalu pergi.
Di Istana Yangxin, sejak Yin Chen kembali, Qin Ye sudah berlutut di lantai. Kira-kira selama sebatang dupa, namun Yin Chen tak juga berkata apa pun. Baru setelah lama berlalu, ia bertanya dengan suara dingin, “Sejak kapan terjadi?”
Qin Ye tertegun, sejak kapan apa? Apakah ada tugas yang ia gagal kerjakan?
“Hamba bodoh, mohon Paduka beri petunjuk.”
“Pelayan utama di Istana Yongfu, Wanchun. Sejak kapan?”
Mendengar Yin Chen menyebut nama Wanchun, Qin Ye refleks mendongak, terpana menatap Yin Chen. Sebagai pengawal pribadi, apalagi pengawal rahasia, seharusnya tidak boleh berkeluarga. Kini Qin Ye mengerti maksud Yin Chen, namun apa yang terjadi sudah terjadi, ia tak bisa berkelit.
“Kau tahu aturannya. Kau juga tahu siapa majikan Wanchun.”
“Mohon ampun, Paduka... Hidup hamba ini Paduka yang beri. Jika Paduka melarang, hamba... pasti akan memutus semua hubungan dengan Nona Wanchun.”
Seorang lelaki sejati jarang meneteskan air mata, namun kata-kata Qin Ye yang tegas itu justru terdengar menahan isak. Yin Chen duduk di atas, mengernyit, perasaannya terasa sesak.
“Aku bukan orang yang kejam dan tak berperasaan. Tentu saja aku juga takkan memisahkan dua insan yang saling mencintai.”
Tak disangka, bukan hanya Qin Ye yang terkejut mendengar ucapan Yin Chen, bahkan Kepala Pelayan Hou yang berdiri di sampingnya pun terperanjat.
“Terima kasih atas kemurahan hati Paduka!”
“Jangan buru-buru berterima kasih. Wanchun adalah orang kepercayaan Lady Lan. Apa yang boleh dan tidak boleh dikatakan, kau pasti tahu.”
“Hamba mengerti.”
“Pergilah ke penjara rahasia, terima hukuman lima puluh cambukan, agar kau ingat.”
Hukuman dan anugerah datang bersamaan. Bahkan Kepala Pelayan Hou yang lama mengikuti Yin Chen pun tak mampu menebak isi hati sang kaisar saat itu.
Belakangan ini, He’an hampir setiap hari berkunjung ke Istana Yongfu, lengket pada Li Chenlan tak mau berpisah. Terakhir kali seseorang diperlakukan seperti ini adalah Xiang Fei.
“Sungguh anak bandel, lihat saja, kau sudah membuat istana Yongfu ini kacau balau.”
Beberapa hari lalu, He’an bosan dengan Li Chenlan yang menurutnya membosankan, memaksa para pelayan memasang ayunan di halaman hari itu juga. Lalu, setelah mendengar Li Chenlan pandai berburu, ia meminta para pelayan menangkap kelinci dan merpati untuk dilepas di halaman, memaksa Li Chenlan berburu supaya ia bisa menikmati daging panggang. Li Chenlan benar-benar kelelahan, bahkan bunga lili di halaman pun kini beraroma daging panggang.
“Lady Lan sungguh pilih kasih. He’an dengar saat Ayahanda membawamu ke Gunung Fushui, kau sendiri yang memasakkan ayam panggang lumpur untuk beliau.”
Li Chenlan jadi tertawa dibuat He’an, “Bagaimana, sekarang bahkan cemburu pada sang Kaisar juga?”
“Bukan cemburu, memang kenyataannya begitu.”
He’an terus saja bicara sambil mulutnya tak berhenti menyantap kudapan. Selain kiriman dapur istana, ada juga kue-kue yang ia paksa Li Chenlan buatkan sendiri.
“Oh iya, Lady Lan, sebentar lagi Festival Duanyang tiba. Malamnya, Ayahanda akan menjamu seluruh pejabat di Istana Linhua. Anak-anak pejabat yang bersahabat denganku juga akan datang.”
“Kau bicara soal anak-anak, bukankah kau sendiri juga masih anak-anak? Lagi pula, bagus kan kalau mereka datang, kau jadi ada teman bermain, tak perlu tiap hari menggangguku.”
He’an pura-pura tak peduli, bersikeras bahwa ia datang ke Istana Yongfu hanya demi menghormati Li Chenlan.
“Nanti, bisakah kau buatkan kudapan untukku? Setiap kali mereka masuk istana, selalu membawa kue dari Toko Yifang Zhai untuk menggoda aku. Tapi menurutku, ketrampilanmu tak kalah dari Yifang Zhai. Kalau kau yang buat, aku bisa membalas mereka.”
Kali ini, He’an benar-benar memperlihatkan kepolosan khas anak-anak. Li Chenlan pun mengiyakan dengan senang hati. Namun baru saja He’an bergembira, tiba-tiba ia mengerutkan dahi.
“Ada apa, sudah aku setujui tapi kau masih tidak senang?”
Li Chenlan membujuknya, tahu bahwa hati He’an tidak buruk, dan memang ia menyayanginya.
He’an menggeleng, namun saat menatap Li Chenlan, matanya berkaca-kaca.
“Ada apa, mereka membully-mu? Kau ini putri, mana mungkin mereka berani?”
“Bukan! Bukan! Jangan salah paham!” He’an buru-buru membantah, takut Li Chenlan salah menilai teman-temannya.
“Baru masuk istana, kau tentu belum tahu. Setiap tahun aku hanya kembali ke istana sebentar. Setelah Festival Duanyang berakhir, aku harus pulang ke Biara Negara...”
Ternyata begitu. Di dalam istana, para ibu suri dan selir memanjakan para putri, tentu saja He’an sangat senang tinggal di sana. Namun saat melahirkan He’an, Selir Liang nyaris kehilangan nyawa, sehingga ia tidak ingin putrinya mengalami kesulitan di istana. Setiap kali He’an masuk istana, ia selalu cemas, dan sepulangnya diawasi serta dididik dengan sangat ketat, takut He’an berperilaku buruk.
“Selir Liang tidak memperlakukanmu dengan baik?” tanya Li Chenlan sengaja.
He’an menggeleng, menjawab dengan sungguh-sungguh, “Ibu sangat baik padaku, begitu juga bibi, hanya saja di Biara Negara ada guru besar dan kepala biara. Ibu dan bibi juga sangat tegas padaku. Tiap kali aku gagal menghafal sastra kuno, mereka akan memarahi, kadang-kadang memukul telapak tanganku...”
Ucapan He’an justru mengingatkan Li Chenlan pada masa kecilnya yang juga tidak suka belajar. Ia dulu berpikir, sebagai gadis petani, apa mungkin punya masa depan cerah? Namun ayahnya sangat tegas, memintanya untuk tak pernah meremehkan diri sendiri dan rajin belajar.
“Kau tahu, bukan cuma di Biara Negara, bahkan di istana pun kau harus belajar.”
“Kenapa?” He’an sedikit kecewa.
Li Chenlan tersenyum, seolah melihat diri kecilnya sendiri, lalu mengusap rambut He’an dengan lembut.
“Karena itu tanggung jawab. Kau adalah putri agung Dinasti Qi. Jika kau buta huruf, kelak hanya bisa menikah dengan pengemis yang juga buta huruf. Negeri Qi, ayah dan ibumu, semua akan jadi bahan tertawaan orang lain. Tapi kalau kau pandai, berpengetahuan luas, rendah hati dan sopan, para pemuda baik di dunia ini bisa kau pilih sesuka hati. Orang lain pun akan menghargai kau, seperti mereka menghargai ayah dan ibumu yang berhasil membesarkan putri sehebat itu.”
Entah He’an mengerti atau tidak, ia hanya memandang Li Chenlan dengan mata bulat, lalu bertanya polos, “Apa aku bisa menikah dengan lelaki seperti Ayahanda?”
“Yang lebih baik dari Ayahandamu!”
“Tidak mungkin, Ayahanda adalah yang terbaik di dunia!”
Li Chenlan tidak menyangka He’an akan berkata begitu, ia pun tak kuasa menahan tawa.
“Tak kusangka aku begitu berharga di hati He’an.”
Keduanya menoleh ke sumber suara, melihat Yin Chen dan Putri Agung berdiri di halaman. Yin Chen tersenyum pada Li Chenlan, sementara Putri Agung hanya menatap He’an.
“He’an, kemarilah! Sudah lama di luar, kita harus pulang.”
Putri Agung memanggil He’an, tersenyum pada Yin Chen dan Li Chenlan, lalu membawa He’an keluar dari Istana Yongfu.
“Paduka masuk diam-diam lagi.”
Karena Yin Chen sangat menyayangi Li Chenlan, Li Chenlan pun tak perlu banyak aturan di depannya, bahkan menariknya duduk di paviliun bunga.
“Andai aku tak masuk diam-diam, tak kukira di mata permaisuriku masih ada lelaki yang lebih baik dariku.”
Li Chenlan tersenyum menyindir, “Apa lagi ini, cemburu? Kalau tahu Paduka begitu suka cemburu, harusnya kusuruh dapur istana mengirim semua cuka ke Istana Yangxin, biar kau peluk saat tidur.”
Yin Chen tertawa terbahak-bahak, bahkan ia sendiri tak menyadari bahwa setiap kali bersama Li Chenlan, dirinya selalu merasa santai tanpa sebab.
“Chenlan-ku makin pandai bicara saja. Denganmu di istana, untuk apa aku peluk kendi cuka lagi?”
Sambil bercanda, Yin Chen memeluk Li Chenlan dari belakang, dagunya bertumpu di pundak istrinya, keduanya hening menatap bunga lili di halaman.
“Belum kutanya, kenapa kau memberiku satu taman penuh bunga teratai?”
“Teratai menenangkan pikiran. Bukankah kau sering bilang sulit tidur?”
Dulu hanya keluhan sepele, tak disangka Yin Chen menyimpannya di hati. Li Chenlan pun merasa bahagia, tak tahan lalu mencium pipinya.
“Nakal lagi!”
“Tidak, kok!” Li Chenlan manja, benar-benar berbeda dari biasanya.
Yin Chen tertawa pelan, menatap pipi Li Chenlan yang memerah, tiba-tiba muncul niat jahil.
“Kalau istri sudah tak sabar begini, bagaimana kalau sekarang kita kembali ke kamar?”
Maka, dari luar Istana Yongfu terdengar suara Li Chenlan memarahi manja, bercampur tawa lepas Yin Chen.
Hari itu, Istana Shoukang kedatangan tamu yang sudah diduga namun tetap mengejutkan. Sang Permaisuri Agung segera memerintahkan pelayan menyiapkan teh dan kudapan, wajahnya penuh senyum.
“Hamba memberi hormat pada Permaisuri Agung.”
“Berdirilah, aku sudah lama menunggumu. Aku mengagumi cara kerjamu, tapi selama ini tak pernah kau datang.”
Tamu itu tak lain adalah Wang Yun’er, yang belum lama kehilangan anaknya.
“Hamba bersalah. Kedatangan ini khusus untuk memohon ampun pada Permaisuri Agung.”
“Oh?”
Permaisuri Agung tampak menikmati situasi, seolah semua perubahan pada Wang Yun’er telah ia perhitungkan.
“Hamba mendapat anugerah dari Permaisuri Agung, diangkat menjadi bangsawan dan diberi tempat tinggal di istana utama. Namun karena beberapa alasan, belum sempat menghadap untuk mengucapkan terima kasih — itu satu dosa. Hamba mengandung anak kaisar, namun terlalu polos hingga mempercayai orang yang licik, tak mampu melindungi kandungan — itu satu dosa lagi. Kini hamba menyesal, tapi tak bisa mengubah apa pun, datang untuk memohon hukuman dan petunjuk dari Permaisuri Agung.”
Semakin lama Wang Yun’er berbicara, suaranya makin tegas, wajahnya dipenuhi kemarahan dan dendam yang tak bisa disembunyikan.
“Bagus, aku tidak salah menilaimu.”
Memang inilah yang diinginkan Permaisuri Agung. Semakin Wang Yun’er membenci Li Chenlan, ia semakin puas. Dulu, Permaisuri Agung pernah mencoba menarik Wang Yun’er, tapi saat itu Wang Yun’er hanya fokus pada kandungannya, tak ingin terlibat masalah. Karena itu, lebih baik anak itu lenyap, supaya ia benar-benar berserah diri.
Festival Duanyang tiba sesuai jadwal. Li Chenlan bersama Xiang Fei masuk ke ruang perjamuan, melihat kaisar dan permaisuri belum hadir, semua orang tampak santai.
“Kulihat hari ini semua lengkap, pasti akan ada tontonan lagi,” bisik Xiang Fei yang memang paling suka menonton keributan. Menurutnya, setiap pesta harus ada drama, baru hidup jadi seru.
Saat itu He’an melompat masuk, Putri Agung seperti biasa tak menyapa siapa pun, langsung duduk di tempatnya.
“Xiang Niangniang! Lan Niangniang!”
Begitu masuk, He’an langsung menuju Li Chenlan, mengambil kudapan yang sudah dijanjikan. Setelah mencicipi satu, ia mengangguk puas, lalu memanggil teman-teman kecilnya dari keluarga para pejabat.
“Kue ini enak sekali, rasanya tak kalah dari Yifang Zhai. He’an, apa kau diam-diam beli di luar, takut kalah dari kami?”
“Kalian tak tahu apa-apa! Ini buatan Lady Lan, kalian harus menabung pahala delapan generasi untuk sekedar merasakannya!”
He’an bersama beberapa anak lain bercanda ramai, membuat Li Chenlan ikut merasa rindu masa kecil.
“Kau melamun apa?” tanya Xiang Fei.
Li Chenlan tersenyum malu, “Aku membayangkan, suatu hari anakku juga sebandel He’an, betapa bahagianya.”
Xiang Fei jelas tak menyangka Li Chenlan berkata demikian, ia hanya tersenyum sekilas tanpa disadari Li Chenlan. Anak? Xiang Fei membatin, dadanya terasa sesak.
Di pesta, semua orang duduk dengan pikiran masing-masing, menunggu pengumuman masuknya Kaisar Yin Chen dan yang lain. Tak lama kemudian, Yin Chen dan permaisuri masuk bersama Permaisuri Agung. Setelah ucapan selamat, semua mulai santai, sebagian sudah agak mabuk, menonton penari di atas panggung tanpa benar-benar menikmati. Alkohol tak membuat mabuk, tapi suasana hati sendirilah yang membuat mereka lengang.
Li Chenlan yang sedang senang, minum beberapa gelas lebih banyak, hingga kepalanya terasa pusing dan wajahnya panas.
“Hamba tak kuat minum, izinkan hamba keluar sebentar untuk menyegarkan diri.”
Yin Chen bertanya khawatir, namun setelah memastikan tak serius, ia menyuruh Wanchun mengantar Li Chenlan ke luar.
Karena musim, bulan malam itu tidak bulat sempurna, bahkan tertutup awan tebal. Li Chenlan berjalan di luar diterpa angin malam, sedikit demi sedikit kesadarannya pulih. Di tepi jalan, deretan pohon bambu di samping tebing buatan berdesir ditiup angin, suara desau bambu membuatnya nyaman.
“Niangniang hari ini tampak bahagia, minum banyak juga.”
“Memang senang, ingat waktu pertama kali bertemu He’an di pesta, suasananya sangat tidak menyenangkan.”
“Putri itu masih anak-anak, sekarang malah sangat akrab dengan Niangniang.”
Li Chenlan tersenyum, tak bisa menahan diri untuk berkata, “Andai suatu hari aku punya anak, pasti akan lebih kusayangi daripada He’an.”
Wanchun hendak menenangkan, namun suara di belakang mereka memotong ucapan itu.
“Kau pikir kau pantas melahirkan pewaris kaisar?”
Suara itu sangat dikenal. Hari ini, semua pejabat membawa keluarganya ke pesta, tentu saja Li Mingyue juga hadir.
“Kau memang senang mencari gara-gara denganku.”
Li Chenlan pun tak mau kalah, menunjukkan wibawa seorang nyonya istana.
“Kau pikir setelah masuk istana, kau benar-benar sudah berubah dari burung pipit jadi burung phoenix?”
“Tentu aku tak pantas disebut phoenix, tapi aku adalah Lady Jieyu dari Qi, sementara kau hanya putri pejabat biasa yang wajib memberi hormat padaku. Wanchun, adik ketigaku ini cukup cerdas, tolong beri contoh padanya.”
Wanchun patuh, membalik badan lalu berlutut di hadapan Li Chenlan, memberi hormat dengan sempurna, “Hamba Li Mingyue memberi hormat pada Lady Jieyu, semoga Lady Jieyu selalu bahagia.”
Li Chenlan tersenyum tipis, menyuruh Wanchun bangkit, lalu menatap Li Mingyue, “Mengerti?”
Li Mingyue jelas tak mau kalah, bahkan berharap bisa membunuh Li Chenlan saat itu juga. Mana mungkin ia sudi memberi hormat.
“Kau pikir kau benar-benar jadi nyonya besar? Liu Xia itu pembantu bodoh, tapi aku takkan berhenti sampai di sini.”
Li Chenlan tak menyangka Li Mingyue terang-terangan menantangnya, matanya refleks menyipit penuh bahaya. Namun Li Mingyue tak melanjutkan, langsung kembali ke Istana Linhua.
Meski tak mengerti mengapa Li Mingyue sengaja memperingatkannya, Li Chenlan tahu diri: musuh bersembunyi, ia di tempat terang, hanya bisa siap siaga.
Insiden itu membuat Li Chenlan benar-benar sadar, lalu ia menarik Wanchun untuk kembali ke aula. Baru sampai di depan pintu utama, tiba-tiba terdengar suara marah Yin Chen dari dalam,
“He’an! Panggil tabib istana! Cepat! Panggil tabib istana!”