Bab 50 Kecerdikan Kecil Li Chenlan
Haboyin mengikuti kakaknya, Pangeran Hakeye, ketika mereka dipanggil masuk ke istana. Yang mereka tahu hanya bahwa Selir Lan di istana sedang mengalami masalah.
“Kak, apa hubungannya masalah wanita itu dengan kita?” tanya Haboyin.
Hakeye menatap adiknya dengan sedikit marah, menyesal telah terlalu memanjakannya hingga menjadi begini.
“Kemarin, apakah kau berbuat sesuatu di istana?” tanyanya tajam.
“Kak! Kenapa kau bicara begitu!” Haboyin tak menyangka kakaknya langsung menuduhnya, lebih-lebih karena ia memang telah melakukan sesuatu.
Melihat keraguan di mata adiknya, Hakeye hanya bisa menghela napas dalam hati.
“Ayah tidak seharusnya terlalu memanjakanmu. Lihat bagaimana kau sekarang!”
“Apa aku salah? Kak, bukankah mereka memang memandang rendah kita dari Selatan? Masa aku tidak boleh memberi mereka pelajaran?”
“Haboyin! Kau berdoalah semoga Selir Lan itu tidak apa-apa! Kalau sampai terjadi sesuatu, jangan harap kita bisa kembali tanpa masalah. Bahkan, jangan-jangan kita tak bisa keluar dari ibu kota ini!”
Wajah Hakeye semakin memerah karena marah. Namun Haboyin tetap tidak menunjukkan penyesalan, membuatnya semakin kesal.
Tiba-tiba, seorang pelayan istana menyapa mereka dengan nada menggoda, “Salam hormat untuk Pangeran dan Putri.”
Keduanya tak menyangka begitu masuk gerbang istana, Hozhong sudah menunggu mereka. Melihat situasinya, masalah yang menimpa Li Chenlan tampaknya cukup serius.
“Bolehkah kami tahu alasan Kaisar memanggil kami?” tanya Hakeye.
Hozhong hanya tersenyum samar, membuat keduanya semakin gelisah.
“Nanti kalian akan tahu setelah sampai di Istana Yongfu.”
Benar saja, masalah ini berkaitan dengan Li Chenlan. Gerakan kecil di tangan Haboyin tak luput dari perhatian kakaknya.
“Aku ini hanya tamu kerajaan, seharusnya tidak boleh masuk ke bagian dalam istana...” ujar Hakeye.
“Tenang saja, ini atas perintah langsung dari Yang Mulia. Takkan ada aturan yang dilanggar,” jawab Hozhong, lalu membawa mereka menuju bagian dalam istana.
Menariknya, meski secara resmi mereka diantar, nyatanya di belakang mereka ada barisan pengawal dan kasim yang mengikuti. Bagi orang yang tidak tahu, mereka seperti sedang dibawa sebagai tahanan.
Di dalam Istana Yongfu, para pelayan dengan kepala dipimpin oleh Shouqiu dan Cangdong berlutut gemetar di hadapan Kaisar Yincheng.
“Paduka, Pangeran dan Putri Selatan telah tiba.”
“Suruh mereka masuk.”
Begitu masuk, Haboyin melihat para pelayan berlutut di lantai, beberapa tabib berdiri di samping—dan yang paling mengejutkannya, salah seorang membawa cawan anggur dari perjamuan semalam.
“Hormat kami kepada Kaisar Qi Agung,” ucap Hakeye, tetap tenang dan tidak tergesa-gesa, sopan seperti biasa.
“Apakah kalian sadar akan kesalahan kalian?” tanya Yincheng dengan nada marah. Ia teringat sejak Li Chenlan mengandung, masalah terus berdatangan. Begitu situasi mulai tenang, orang Selatan malah membuat kekacauan.
“Apa maksud Baginda?” tanya Hakeye dengan raut bingung.
Yincheng tak langsung menjawab, melainkan memberi tanda kepada tabib untuk menjelaskan.
“Sejak pagi tadi, Selir Lan merasa tidak enak badan. Saat kami tiba, beliau sudah muntah-muntah dan mengalami pendarahan. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan jejak kayu secang dalam tubuh beliau, dan setelah diselidiki, ditemukan bubuk itu dalam cawan anggur yang digunakan beliau saat perjamuan tadi malam.”
Wajah Hakeye berubah marah, menatap Yincheng tajam.
“Apa maksud Kaisar? Baru sehari kami di sini, masa kami sengaja cari masalah dan hendak membunuh pewaris Anda?”
“Soal kayu secang, aku yakin Pangeran tahu. Di seluruh Zhongyuan, hanya segelintir yang memilikinya, apalagi di ibu kota.”
“Itu pun tidak membuktikan bahwa kami pelakunya!”
Memang, bukti masih kurang. Dari balik tirai, Li Chenlan menggenggam erat jemarinya, menyesal karena mungkin ia terlalu ceroboh dan mengira bisa menjebak Haboyin hanya dengan itu.
Namun, saat Hakeye selesai berbicara, Qin Ye masuk membawa sebuah baki. Di atasnya ada tamborin yang digunakan Haboyin saat menari semalam.
“Kalian menggeledah kamarku!” Haboyin murka, sedangkan wajah Hakeye sudah memerah karena marah.
Ia tak menyangka adiknya sebodoh ini. Jika sebelumnya ia hanya marah karena penggunaan kayu secang yang terlalu jelas, sekarang ia benar-benar kesal karena Haboyin secara terang-terangan mengaku bersalah.
“Putri memang cermat, ini adalah kostum tari yang ditemukan di kamar Anda semalam,” kata Yincheng dengan senyum sinis. Semua orang, termasuk Shouqiu yang sudah tahu rencananya sejak pagi, tak bisa menahan tawa.
“Apa maksudmu?” tanya Haboyin.
Tak ada yang menjawab. Yincheng mengangkat tangan, tabib langsung memeriksa tamborin itu. Benar saja, ditemukan bubuk kayu secang di dalam lonceng tamborin. Bukti sudah lengkap, dan pelakunya mungkin yang paling bodoh dalam sejarah.
“Kaisar Qi Agung, aku sudah bilang sejak kecil adikku ini sangat dimanja. Memang ia bersalah, tapi kami hanya tamu di sini.”
Ucapan Hakeye setengah menahan, tapi semua tahu maksudnya. Tamu dari Selatan baru dua hari di ibu kota, sudah dituduh mencelakai ahli waris dan dijebloskan ke penjara. Raja mereka di Selatan pasti mengira ini jebakan, dan bisa-bisa perang kembali pecah.
“Pangeran tahu, Qi Agung tak pernah takut pada kalian,” balas Yincheng, sama sekali tak menunjukkan niat mengalah.
“Qi Agung memang punya Jenderal Zhao dan putranya, tentu tidak takut perang. Tapi ingat, tentara boleh bertempur, rakyat tidak,” ujar Hakeye.
Benar, kota-kota di sekitar sudah sangat terdampak akibat perang. Jika terus terjadi, rakyat akan menderita mengungsi dan kehilangan segalanya.
Faktanya, Yincheng memang tidak benar-benar ingin berperang. Sejak awal ia mencari cara menolak pernikahan politik ini tanpa menimbulkan konflik lagi.
Karena itu, ketika mendengar Li Chenlan bermasalah, walau belum tahu kaitannya dengan Selatan, ia memutuskan untuk memanfaatkan kejadian ini.
“Apa yang Pangeran katakan memang benar. Tapi bagaimanapun juga, ulah sang Putri telah melukai permaisuri dan hampir membahayakan calon pewaris. Aku tidak bisa membiarkan ini berlalu begitu saja.”
“Kaisar Qi Agung, Anda pasti sudah punya keputusan. Katakanlah langsung.”
Melihat Hakeye bicara terus terang, Yincheng pun langsung menyampaikan bahwa ia tidak mungkin menikahi perempuan yang telah berbuat jahat. Ia menolak pernikahan aliansi itu.
Tak ada yang bisa dikatakan lagi oleh utusan Selatan. Akhirnya mereka hanya menyatakan ingin tinggal lebih lama untuk berwisata. Soal pernikahan, mereka tak ada niat melanjutkan.
Sepanjang perjalanan kembali ke penginapan, Haboyin sangat marah. Harga dirinya terluka—bukan saja lamaran ditolak di depan umum, bahkan ia disebut wanita beracun. Siapa pun pasti sulit menahan diri.
“Hanya seorang Kaisar Qi Agung, berani sekali merasa hebat. Aku pun tak sudi menikah dengannya, tfiuh!” makinya begitu masuk halaman penginapan.
Andai saja bukan karena perang, yang harus menikah pasti perempuan dari Qi Agung, bukan dirinya.
“Plak!”
Hakeye, yang selama ini tak pernah memukul adiknya, kali ini menamparnya keras.
Haboyin tertegun, menatap kakaknya tak percaya. Pipi mungilnya langsung memerah, air mata menggenang di pelupuk, tapi ia menahan agar tak jatuh.
“Tahu kenapa aku memukulmu?”
Haboyin diam, menatap kakaknya dengan penuh kebanggaan yang tersisa.
“Apa kau tahu kenapa aku memukulmu!” suara Hakeye meninggi.
“Sebelum ke sini, Ayah sudah mengingatkanmu. Aku juga sudah memperingatkan. Kau harus menahan diri, bersabar, menunggu waktu! Tapi lihat apa yang kau lakukan—semua rencana hancur berantakan!”
“Itu bukan salahku! Kalau saja Kakak tidak tertipu oleh jebakan Zhao Li, tentu kita tidak akan kalah perang. Sekarang, Kakak malah ingin mengorbankan aku demi membalas keadaan, masih menyalahkanku pula!”
Haboyin benar-benar marah. Sejak kecil ia tak pernah dipukul. Soal pernikahan politik, kalau bukan karena permintaan Ibunda untuk memikirkan Selatan, ia takkan mau. Yincheng, sebaik apa pun, tetap pria asing baginya. Menyerahkan diri demi perdamaian saja sudah terasa hina, apalagi kini harus menerima makian dan tamparan.
Hakeye pun tertegun mendengar ucapan adiknya.
Sampai Haboyin akhirnya berlari masuk kamar sambil menangis keras, Hakeye hanya berdiri terpaku. Tangan yang menampar terasa perih, ia menghela napas berat.
“Ha ha ha, aku sudah bilang dia harus diberi pelajaran!” Di Istana Yongfu, Li Chenlan tertawa terpingkal-pingkal mendengar laporan Wan Chun.
“Paduka masih bisa tertawa, padahal hamba sempat ketakutan!” keluh Wan Chun. Sejak mendengar kabar dari Qin Ye, ia ingin sekali masuk istana. Namun belum sempat masuk, ia sudah mendapat pesan dari Li Chenlan agar mengirim orang membuntuti Haboyin.
“Tak ada yang menakutkan, lihat aku baik-baik saja di sini,” ujar Li Chenlan santai, seolah-olah orang yang muntah-muntah pagi tadi bukan dirinya.
“Paduka benar-benar terlalu, mengorbankan diri sendiri untuk menjatuhkan musuh.”
Wan Chun bicara tanpa sungkan. Sejak menjadi kepala pengawal rahasia, ia sudah jauh lebih santai pada Li Chenlan.
Hubungan mereka kini lebih mirip sahabat daripada majikan dan pelayan.
“Paduka belum menjelaskan, bagaimana dengan pendarahan tadi? Benarkah calon pewaris tidak apa-apa?”
Li Chenlan hanya tersenyum dan menggeleng. Tidak pernah ada pendarahan—sebelum memanggil tabib, ia hanya mengambil darah ayam dari dapur dan mengoleskannya.
“Jangan salah, bau darah ayam itu benar-benar menyengat. Sampai sekarang aku merasa sekujur tubuhku bau ayam.”
“Paduka benar-benar keterlaluan. Kalau sampai diketahui Kaisar, pasti beliau marah.”
“Aku malah membantu beliau menyelesaikan masalah besar. Omong-omong, apakah Kakak Xiang sudah tahu?”
Itu satu-satunya yang dikhawatirkan Li Chenlan. Kalau Wan Chun saja kaget, apalagi Xiangfei yang kini tinggal di kediaman Zhao.
“Tenang saja, sejak pagi hamba sudah mengirim pesan. Pasti beliau sudah tahu.”
“Itu bagus.”
Sementara itu, Xiangfei yang tadi disebut Li Chenlan, sedang membaca surat dari pengawal rahasia di dalam kereta. Surat itu menjelaskan seluruh rencana Li Chenlan secara rinci, membuatnya geli sendiri.
“Chenlan benar-benar luar biasa kali ini. Selir Selatan itu pasti takkan berhasil masuk istana,” ucap Xiangfei sambil tersenyum.
“Benar, kalau dia sampai masuk, istana pasti kacau balau,” sahut Qinyin di sampingnya.
Mereka sedang berbincang ketika kereta tiba di tujuan.
Wajah Xiangfei berubah tegang, padahal ia sudah lama menanti saat ini. Kini, ketika akhirnya tiba, ia malah gugup.
“Paduka…”
“Ayo, kita turun.”
Yang tampak adalah gubuk sederhana dengan halaman kecil tempat ayam dan bebek berkeliaran, asap dapur mengepul dari atapnya.
Di sinilah pengawal rahasia mendapat informasi terbaru—konon seseorang melihat Gu Chou tinggal di sini. Tanpa pikir panjang, Xiangfei langsung datang.
Pintu halaman didorong perlahan, ayam dan bebek berlarian ketakutan. Dari dalam muncul suara perempuan bertanya, membuat langkah Xiangfei terhenti.
Ia pernah membayangkan berbagai pertemuan dengan Gu Chou, tapi tak pernah menyangka kalau ternyata Gu Chou sudah berkeluarga.
“Siapa di sana?” tanya seorang perempuan berpakaian sederhana, keluar sambil mengelap tangan.
“Boleh saya tahu, saya mencari seseorang…” Xiangfei ragu menjawab. Perempuan itu jelas sudah menikah. Jika benar ini rumah Gu Chou, berarti ia telah menikah dengan orang lain.
Perempuan itu cemas karena Xiangfei diam saja, lalu memanggil, “Ayah anak-anak!”
Ayah anak-anak?
Gu Chou sudah punya anak?
Pikiran Xiangfei kosong, tangannya yang menggenggam Qinyin gemetar.
Saat seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun keluar membawa pisau, Xiangfei tak tahu harus tertawa atau menangis.
“Anda mencari siapa?” tanya pria itu.
“Aku… Apakah ini rumah Gu Chou?”
“Gu Chou? Siapa Anda baginya?”
Mereka mengenal Gu Chou!
Xiangfei antara kaget dan gembira, setelah kecewa malah mendapat harapan.
“Aku temannya, sudah lama mencarinya.”
“Oh, teman Pak Gu? Silakan masuk, silakan.”
Ternyata mereka tidak hanya kenal, bahkan sangat menghormatinya.
“Apakah Gu Chou tinggal di sini?”
Pria itu menggeleng, “Dulu beliau tinggal di sini. Tapi demi keluarga kami, beliau menyerahkan rumah ini dan pindah ke tempat lain.”