Bab Empat Puluh Lima: Berusaha Menipuku? Tidak Semudah Itu
Departemen Kehakiman.
Di aula utama, tampak Menteri Du Mi, Wakil Menteri Kiri Liu Wuji, dan Wakil Menteri Kanan Qiu Jing. Selain itu, hadir pula para pejabat tingkat tinggi, sekretaris, juru tulis, serta para petugas pengadilan dan pesuruh yang berbaris rapi di tempat masing-masing.
Hari ini tampaknya menjadi hari dengan tingkat kehadiran personel Departemen Kehakiman yang paling lengkap, sebab mulai hari ini, di atas posisi Menteri Kehakiman, akan ada satu orang lagi yang berkuasa.
Dari luar, Putra Mahkota ini tampak tidak memiliki kekuasaan maupun pengaruh nyata, tetapi bagaimanapun juga, ia tetaplah seorang Putra Mahkota dan pewaris takhta.
Du Mi melirik sekilas ke arah pemuda di sampingnya, sementara tatapannya yang dalam menyembunyikan secercah kilatan misterius.
Jika tidak ditangani dengan baik, pemuda di hadapannya ini bisa jadi akan segera menggantikan posisinya sebagai Menteri Kehakiman dalam waktu dekat.
Hal ini membuatnya merasa sangat tidak rela.
Ia berpikir tentang bagaimana dirinya telah menghabiskan waktu sepuluh tahun dengan belajar di bawah cahaya lampu minyak, membaca dengan tekun dan penuh kerja keras, serta melewati berbagai rintangan yang tak terhitung jumlahnya. Di dunia birokrasi, ia harus merendahkan diri, bersikap penjilat, dan melakukan segala macam cara kotor demi bisa mencapai posisi seperti sekarang.
Bakat dan jasa apa yang dimiliki oleh pemuda ini sehingga di usia yang begitu muda sudah bisa menjadi Wakil Menteri Kehakiman?
Hanya karena orang itu memiliki saudari perempuan yang bernasib mujur?
Seketika itu pula, tatapannya saat memandang Liu Wuji dipenuhi dengan rasa jijik.
Para pejabat di bawah tampak bisa merasakan suasana aneh yang menyelimuti aula utama, sehingga tak seorang pun berani bersuara karena takut kesialan akan menimpa diri mereka sendiri.
Orang-orang ini adalah para birokrat veteran yang licin, yang sangat memahami hukum rimba di dunia pemerintahan.
Jika tidak ada halangan, langit di Departemen Kehakiman tampaknya akan segera berubah.
"Putra Mahkota tiba!"
Pada saat itu, terdengar suara kasim dari luar.
Mendengar hal itu, Du Mi menahan rasa muak di dalam hatinya, lalu memimpin para pejabat Departemen Kehakiman untuk melangkah keluar.
Setengah pengaja tetaplah pengaja.
"Hamba selaku Menteri Kehakiman, Du Mi, memimpin para pejabat instansi terkait untuk menghadap Putra Mahkota. Semoga Yang Mulia senantiasa dilimpahkan usia panjang."
Sebuah kereta kuda yang dikawal oleh seratus prajurit Pasukan Hutan Panjang melaju langsung ke depan gerbang kantor Departemen Kehakiman.
"Bangkitlah."
Xiao Muye turun dari kereta kuda, lalu mendongak untuk mengamati bangunan kantor Departemen Kehakiman di hadapannya.
"Mari kita masuk dan mulai bekerja!"
Pandangan Xiao Muye menyapu wajah setiap orang yang hadir, lalu ia memimpin untuk melangkah masuk ke dalam aula utama Departemen Kehakiman.
Setelah Du Mi kembali memimpin para pejabat untuk memberikan penghormatan sekali lagi, barulah ia meminta para pejabat di bawahnya untuk memperkenalkan diri masing-masing.
"Aku datang atas perintah Kaisar Ayahanda untuk mengawasi Departemen Kehakiman. Namun, usiaku masih muda dan aku belum akrab dengan urusan Enam Departemen, apalagi urusan di Departemen Kehakiman. Oleh karena itu, kedatanganku ke sini murni untuk belajar."
"Bagaimana rupa Departemen Kehakiman di masa lalu, maka biarlah ia tetap seperti itu di masa depan."
"Aku hanya akan membaca berkas-berkas perkara, tidak akan mencampuri hal lain, dan tidak akan membuat keputusan apa pun. Kalian juga tidak perlu datang menemuiku. Jika ada hal yang tidak aku pahami, aku tentu akan bertanya kepada kalian. Pada saat itu, aku berharap Tuan-tuan sekalian bersedia membagikan ilmu tanpa pelit."
Xiao Muye berkata sambil tersenyum ramah.
"Yang Mulia, Departemen Kehakiman ini berada di bawah pengawasan Anda, segala urusan di sini tentu saja diputuskan oleh Anda!" ucap Du Mi buru-buru.
"Menteri Du, apa yang kukatakan tadi sudah sangat jelas. Aku hanya membawa sepasang mata, hanya datang untuk melihat, dan bertindak bagaikan orang bisu. Kalian lakukan saja tugas kalian seperti biasa tanpa harus memedulikanku. Kalian hanya perlu membawakan berkas-berkas perkara selama tiga tahun terakhir untuk kubaca," jawab Xiao Muye sambil melambaikan tangan.
Meskipun ia ingin menguasai Departemen Kehakiman, saat ini bukanlah waktu yang tepat.
Ia sama sekali tidak memahami urusan di Departemen Kehakiman. Jika ia terburu-buru ikut campur sekarang, ia hanya akan membuat keputusan yang serampangan, menjadi bahan tertawaan orang lain, dan dipandang rendah oleh Kaisar. Jauh lebih baik baginya untuk dengan jujur membaca berkas-berkas perkara, menenangkan diri, dan menunggu kesempatan yang tepat.
Orang-orang di hadapannya ini jelas bukan orang baik. Jika ia tidak berhati-hati, ia bisa saja dijebak oleh mereka. Tetap waspada adalah pilihan yang paling bijaksana.
"Yang Mulia, bagaimana sebaiknya kita menangani Geng Xidao dan rekan-rekannya? Mohon petunjuk dari Yang Mulia," tanya Qiu Jing sekali lagi.
"Geng Xidao? Bukankah dikabarkan bahwa perkara itu telah diserahkan kepada Tiga Lembaga? Apa urusannya dengan Departemen Kehakiman kita?"
Xiao Muye bertanya dengan memasang ekspresi penasaran.
Sidang Tiga Lembaga di Dinasti Da Liang merujuk pada Departemen Kehakiman, Kuil Dali, dan Kantor Sensor. Meskipun Departemen Kehakiman memegang posisi utama, mereka tidak memiliki wewenang penuh untuk mengambil keputusan akhir.
Mendengar hal itu, Du Mi merasa jijik seolah-olah baru saja menelan lalat.
Ia tadinya berniat menyeret Xiao Muye ke dalam pusaran masalah.
Jika mereka menjatuhkan hukuman ringan kepada Geng Xidao dan yang lainnya, ia akan segera mengerahkan orang untuk memakzulkan Xiao Muye dengan tuduhan melindungi para pejabat istana Timur. Sebaliknya, jika mereka menjatuhkan hukuman berat, ia akan menyebarkan desas-desus bahwa sang Putra Mahkota berhati dingin dan tidak kenal belas kasihan, di mana para pejabat yang telah mengikutinya selama bertahun-tahun dibuang begitu saja tanpa ragu, sehingga kelak tidak akan ada lagi yang mau mendedikasikan diri untuk Istana Timur.
Sayangnya, Xiao Muye sama sekali tidak memberi mereka kesempatan dan langsung melemparkan masalah itu kembali kepada Tiga Lembaga.
"Yang Mulia, hukuman seperti apa yang seharusnya dijatuhkan oleh Departemen Kehakiman kita?" tanya Qiu Jing mendesak.
"Sudah kubilang, aku masih muda dan kurang berpengalaman. Tujuanku datang ke Departemen Kehakiman adalah untuk belajar, hanya membaca berkas perkara, dan memahami proses penanganan kasus di sini. Mengenai hal-hal lainnya, mari kita diskusikan nanti setelah aku benar-benar memahami seluk-beluk Departemen Kehakiman."
Xiao Muye tetap mempertahankan senyuman di wajahnya tanpa pernah memberikan pendirian yang pasti.
"Sudahlah, cukup sampai di sini!" Melihat Du Mi dan yang lainnya masih ingin berbicara, Xiao Muye bangkit berdiri untuk menghentikan mereka dan berkata, "Di mana ruang kerjaku? Setelah ini, tolong kirimkan berkas-berkas perkara selama tiga tahun terakhir ke ruanganku."
"Baik, hamba akan segera memerintahkan seseorang untuk mengurusnya."
Pada saat itu, Liu Wuji bangkit berdiri dan memandu Xiao Muji menuju aula belakang Departemen Kehakiman.
"Taktik Yang Mulia sungguh luar biasa."
Liu Wuji berbicara sambil berjalan di sampingnya.
"Orang-orang itu jelas bukan orang baik. Memberikan jawaban ya ataupun tidak sama-sama berbahaya."
"Terutama Kaisar, beliau tidak akan membiarkan begitu saja aku mencampuri urusan Departemen Kehakiman. Aku datang ke sini hanya sebagai pengamat."
Xiao Muye berbisik pelah.
Kedua mata Liu Wuji bersinar terang, lalu ia menatap Xiao Muye dengan pandangan yang penuh arti.
Ia tidak menyangka Xiao Muye bisa begitu berpikiran jernih dan tidak dibutakan oleh kekuasaan Departemen Kehakiman meskipun dirinya ditugaskan untuk mengawasinya.
"Yang Mulia sungguh bijaksana."
Rasa girang melintas di dalam hati Liu Wuji.
Jika saudari perempuannya menikah dengan Putra Mahkota yang berpikiran tajam seperti ini, masa depannya di dunia birokrasi kelak mungkin akan benar-benar tanpa batas.
"Urusan sidang Tiga Lembaga tidak perlu kau urusi. Nanti ketika Di Feng tiba, kalian periksalah berkas-berkas perkara lama. Aku punya firasat bahwa orang-orang di Departemen Kehakiman ini tidak ada yang bersih, dan masalah pasti bisa ditemukan di dalam berkas-berkas lama."
"Geng Xidao dan kelompoknya itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi, dan mereka juga tidak layak untuk diselamatkan. Biarkan saja mereka kembali ke kampung halaman untuk belajar membaca! Jangan sampai kelak aku sendiri yang harus menghabisi nyawa mereka," pesan Xiao Muye.
"Hamba mengerti," jawab Liu Wuji buru-buru.
"Pergilah kumpulkan berkas-berkas perkara itu, mari kita baca bersama-sama."
Xiao Muye melihat ke arah ruangan di depan. Mulai hari ini, tempat itu akan menjadi ruang kerjanya. Tidak jauh dari sana terdapat gudang arsip Departemen Kehakiman, tempat di mana berkas-berkas perkara dari tahun-tahun sebelumnya disimpan.
Di ruang baca kekaisaran, Kaisar Taichu bersandar santai di atas dipan empuk, sementara seorang pelayan istana di belakangnya sedang memijat pelipisnya, dan dua pelayan lainnya dengan lembut memijat kedua kakinya.
Di hadapan mereka, seorang kasim sedang melaporkan kejadian yang baru saja berlangsung di Departemen Kehakiman.
"Menurutmu, apakah Putra Mahkota kita sudah tumbuh dewasa, ataukah ada seseorang di baliknya yang mengajarinya?"
Kaisar Taichu tiba-tiba melontarkan pertanyaan.
Jelas sekali bahwa ia merasa sangat puas dengan penampilan Xiao Muye hari ini, kalau tidak, ia tidak mungkin melontarkan perkataan seperti itu.
"Yang Mulia sering jatuh sakit dan banyak membaca kitab suci para bijak di Istana Timur, rasanya wajar jika beliau telah memahami banyak prinsip. Ditambah dengan didikan penuh kesabaran dari Baginda Kaisar, maka tercapailah hari ini," puji Gao Shouzhong dengan nada kagum.
"Benar juga!" Kaisar Taichu merenung sejenak, lalu mengangguk dan berkata, "Para pejabat di Istana Timur telah habis, sehingga sulit baginya bahkan sekadar mencari seseorang untuk diajak berdiskusi. Hmph, jika itu orang lain, mereka pasti sudah tidak sabar untuk merebut kekuasaan, mana mungkin mau repot-repot membaca berkas perkara."