Bab Enam: Siapa yang mengincar nyawaku, maka nyawanyalah yang akan kuambil lebih dulu.
Menurut hemat pria itu, Putra Mahkota hanyalah sosok pengecut yang tidak disukai Kaisar. Bahkan jika ia tahu uang hadiahnya disunat, sang Putra Mahkota tak akan berani berbuat apa-apa dan hanya bisa menerima nasibnya.
Namun, ia tidak menyangka sosok yang berdiri di hadapannya kini telah berubah drastis, bahkan berani membawa uang tersebut untuk menghadap Kaisar. Jika hal ini sampai ke telinga Kaisar, dirinya lah yang akan menanggung akibat paling fatal.
"Yang Mulia, ampunilah hamba! Yang Mulia, hamba tidak akan berani melakukannya lagi." Gao Shoucheng berseru tanpa ragu, "Yang Mulia, hamba bersedia mengabdi kepada Anda. Mohon ampunilah hamba!"
"Tunggu dulu."
Mata Jiang Nanxian berkilat penuh antusiasme. "Bukankah bagus jika ada seseorang di sisi Kaisar?" ucapnya dengan nada sedikit angkuh. "Dengan adanya orang di sisi Kaisar, kau dan aku bisa memantau pergerakan di dalam istana setiap saat."
Xiao Muye menatapnya dengan tatapan aneh. Pandangannya sempat tertuju pada sepasang bukit yang menonjol di balik pakaian wanita itu, membuatnya menelan ludah. Benar saja, pepatah mengatakan wanita berdada besar sering kali tidak memiliki otak. Menempatkan mata-mata di sisi Kaisar sama saja dengan mencari mati.
Xiao Muye yakin, jika hari ini ia menyetujui tawaran Gao Shoucheng, pria itu akan langsung menjualnya dalam sekejap mata. Meminta pelayan pribadi Kaisar untuk menjadi mata-mata di depan umum, jika bukan mencari mati, lalu apa namanya?
Istana Timur penuh dengan mata-mata dan telinga yang tersembunyi. Pelayan dan kasim di sekitar sini tak ada yang tahu siapa sebenarnya majikan yang mereka layani. Namun, Xiao Muye yakin bahwa di dalam Istana Timur pasti terdapat orang-orang suruhan Kaisar Taichu. Bahkan, percakapan mereka hari ini mungkin akan segera sampai ke telinga Kaisar.
"Apa kau ingin mati? Kau pikir tidak ada mata-mata Kaisar di Istana Timur ini? Memasang telik sandi di sisi Kaisar sama saja dengan bunuh diri!"
"Percayalah, jika kau setuju dengan keparat ini sekarang, sedetik kemudian dia akan mengkhianati kita."
"Jika dia tunduk pada kita, dia pasti mati. Jika dia melaporkan kita, dia mungkin masih punya kesempatan hidup. Paham?" Xiao Muye berbisik dengan nada geram.
Wajah cantik Jiang Nanxian memucat seketika. "Apakah caramu ini bisa berhasil?" tanyanya dengan nada cemas.
"Faktanya membuktikan bahwa caranya yang lama sudah tidak berguna, jadi aku harus mengambil alih," jawab Xiao Muye datar.
"Siapa kau sebenarnya?" kilatan cahaya tampak di mata Jiang Nanxian. Sebuah bayangan seharusnya tidak perlu memiliki pikiran sendiri.
"Aku hanyalah orang biasa yang hanya menginginkan kekayaan. Kalian yang memaksaku. Jika kalian ingin membunuhku, aku tidak punya pilihan selain melawan," ujar Xiao Muye dengan tatapan tajam yang mematikan.
Jiang Nanxian merasa ketakutan melihat sorot matanya. "Dia tidak bisa membantumu, hanya aku yang bisa," ucap Xiao Muye tajam, seolah mampu menembus relung hati sang wanita.
Jiang Nanxian merasakan jiwanya bergetar. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya membuatnya gemetar, wajahnya memerah, dan pandangannya mengabur.
Di dalam istana, Kaisar Taichu menatap Gao Shouzhong. "Untuk apa Putra Mahkota datang kemari? Dan mengapa dia membawa kembali hadiah yang kuberikan?"
"Mengenai hal itu, hamba kurang tahu pasti. Hanya saja, Gao Shoucheng tampak dibawa masuk ke istana dengan paksa," Gao Shouzhong memasang wajah getir, meski jauh di lubuk matanya tersirat kelicikan. Dengan banyaknya mata-mata di istana, bagaimana mungkin ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi? Ia hanya merasa tidak pantas untuk mengungkapkannya.
"Suruh dia masuk!" perintah Kaisar Taichu sembari melambaikan tangan.
"Anakanda menghadap Baginda Kaisar, semoga Baginda berumur panjang." Xiao Muye melangkah masuk dengan mantap, tak ada lagi sikap pengecut seperti biasanya.
Mata Kaisar Taichu berbinar, menunjukkan ekspresi yang rumit. "Bangkitlah."
"Terima kasih, Baginda."
Xiao Muye memanfaatkan kesempatan itu untuk berdiri. "Baginda, saat ini Kerajaan Liang sedang berperang dengan Qin Barat, dan kas negara sedang kosong. Anakanda ingin mempersembahkan kembali hadiah yang Baginda berikan kepada negara."
Kaisar Taichu hendak menolak, namun seolah teringat sesuatu, ia mengamati Xiao Muye sejenak. "Apakah terjadi sesuatu? Mengapa kau membawa Gao Shoucheng masuk ke istana dengan paksa?"
"Baginda, uang hadiah yang Anda berikan ternyata disunat setengahnya. Gao Shoucheng mengaku telah memberikannya kepada Kakanda. Bukan hanya kali ini, tapi hadiah-hadiah sebelumnya pun selalu dipotong setengah," ujar Xiao Muye dengan nada serius. "Jika ini memang atas izin Baginda, Anakanda tidak akan berkata apa-apa dan akan mematuhinya. Namun jika tidak, maka masalah ini sungguh mencurigakan."
Mendengar itu, Kaisar Taichu memotong perkataannya dan menoleh ke arah Gao Shouzhong. "Pergilah, hukum cambuk pelayan itu sampai mati."
Ia tahu putra-putranya sering berhubungan dengan pelayan di istana, dan ia tidak peduli selama mereka tidak menyentuh orang-orang di sekitarnya. Namun, Xiao Musan jelas telah melampaui batas dengan bersekongkol bersama pelayan pribadinya dan bahkan merampas uang milik Istana Timur. Itu adalah tindakan yang sangat menjijikkan.
"Baik!"
Gao Shouzhong segera mundur.
"Mengapa kau melakukan ini?" Kaisar Taichu menatap Xiao Muye yang kini tampak berbeda—tidak lagi menunjukkan sikap penakut, melainkan penuh semangat.
"Dulu, saat tubuh Anakanda lemah, Baginda mengangkat Anakanda sebagai Putra Mahkota. Anakanda tahu itu karena Baginda menghormati mendiang Ibu Suri. Anakanda tidak ingin mengecewakannya, jadi Anakanda hanya menjalani hidup apa adanya, berharap suatu hari nanti jika Anakanda meninggal, Baginda bisa memilih pengganti tanpa merasa bersalah kepada Ibu Suri."
"Namun sekarang, penyakit Anakanda telah sembuh. Mengapa Anakanda tidak bisa mewujudkan impian Ibu Suri?"
"Mungkin suatu hari nanti Baginda akan mencopot jabatan Putra Mahkota dariku, tapi Anakanda lebih memilih dicopot karena Baginda curiga, daripada dicopot karena sikap pengecut. Anakanda mengalirkan darah Baginda dan Ibu Suri, bagaimana mungkin Anakanda bersikap selemah itu?"
Xiao Muye berlutut dan berseru, "Baginda, Anakanda tidak ingin mengecewakan arwah Ibu Suri."
"Jika suatu hari Baginda merasa harus mencopot jabatan Anakanda, mohon sisakan satu nyawa untuk Anakanda agar bisa pergi ke perbatasan dan melawan musuh! Anakanda lebih memilih mati di medan perang daripada mati karena secangkir anggur beracun."
Kaisar Taichu menatap wajah di depannya dengan ekspresi rumit. Wajah itu begitu familiar, mengingatkannya pada sosok wanita yang lembut namun memiliki keteguhan hati.
"Penyakitmu sudah sembuh?" suara Kaisar Taichu melunak.
"Qin Wuyong menemukan seorang tabib sakti yang memberikan pil obat. Setelah meminumnya, tubuh Anakanda terasa segar kembali," jawab Xiao Muye cepat.
"Kondisi tubuhmu memang bawaan sejak lahir. Saat ibumu mengandung, ia tidak sengaja terjatuh ke air. Bukan hanya tubuhmu yang lemah, ibumu pun meninggal lebih awal karena hal itu," Kaisar Taichu melambaikan tangan, memberi isyarat agar Xiao Muye berdiri. "Mengenai pembatalan gelar Putra Mahkota, jangan pernah dibahas lagi. Aku tidak pernah berpikir untuk mencopot jabatannya darimu."
Xiao Muye bisa merasakan bahwa ucapan itu cukup tulus. Namun, alasan Kaisar tidak mencopotnya bukanlah karena perasaan kepada Permaisuri atau kasih sayang ayah-anak, melainkan karena ketidakmampuan dan sifat penakut sang Putra Mahkota yang membuatnya merasa bahwa posisi Kaisarnya tidak terancam.
Jika bisa, Xiao Muye tentu ingin terus berpura-pura seperti Putra Mahkota yang asli. Namun, ia bukanlah Putra Mahkota yang sebenarnya, dan ada banyak hal yang ingin ia capai. Sikap penakut tidak akan menjamin nyawanya. Untuk menduduki kursi Putra Mahkota dengan stabil, ia harus tampil berbeda.
Sebagai seorang aktor kawakan, Xiao Muye sadar betul: tidak peduli seberapa hebat kau berakting, kepalsuan akan selalu memiliki celah pada detail-detail tertentu. Karena itu, ia harus mencari kesempatan yang tepat untuk meruntuhkan identitas lamanya dan memanfaatkan masa transisi ini untuk membangun citra diri yang baru dan utuh.