Jilid Kedua: Catatan Perjalanan Melintasi Negeri Dewa - Gulungan Naga Biru Bab 102: Semua Ini Gara-Gara Batu
Tak percaya pada ramalan perjodohan, Hua Chi mengedipkan mata sambil tersenyum lirih, “Hal-hal tentang nasib seperti itu, aku tidak pernah percaya.” Ia menatap Bai Li Feng, “Tapi, Xiao Feng, kau paham soal ilmu nasib yang begitu misterius?”
Bai Li Feng tersenyum, menyesuaikan bingkai hitam kacamatanya dengan telunjuk kanan, lalu mengeluarkan sebuah buku berjilid benang dari ransel dan menunjukkan pada Hua Chi, “Apa aku belum pernah memberitahumu soal profesiku?”
“Apa profesimu?” tanya Hua Chi heran, baru teringat bahwa selama ini ia belum pernah menanyakan profesi, level, atau nilai kemampuan Bai Li Feng. Namun, bagi Hua Chi, hal-hal itu memang tak terlalu penting, jadi ia pun lupa menanyakannya.
Bai Li Feng hanya tersenyum, tidak menjawab, lalu menyerahkan buku kuno bercover biru itu ke tangan Hua Chi, menunjuk empat karakter tinta di sampulnya, “Ini tulisan kuno zaman dulu, artinya ‘Langit dan Bumi Gelap dan Kuning’. Aku adalah seorang murid aliran rahasia, profesi tersembunyi yang mempelajari pengamatan bintang, ramalan, dan hal-hal semacam itu.”
“Tunggu, waktu itu, saat di Serikat Tentara Bayaran, ketika tangan Wu Tou dipotong dan dua orang itu...” Hua Chi tiba-tiba teringat dan berseru kaget, “Buku milikmu semuanya terbuka!”
Bai Li Feng mengangguk sambil tersenyum, “Aku sangat tidak suka bajuku terkena darah, jadi aku lebih memilih menggunakan ramalan dalam buku ini dari kejauhan daripada bertarung langsung.”
Pemandangan Desa Ping An pun biasa saja. Setelah meninggalkan jalanan ramai, mereka berjalan di ujung jalan berbatu yang berakhir di tanah gembur dan kebun sayur hijau. Meski musim dingin membuat rerumputan dan pepohonan kering, kebun sayur milik petani tetap tampak subur dan hidup. Hua Chi, Xiao Bai, dan Bai Li Feng, bertiga yang malas dan tak peduli tugas atau pencapaian, setelah kenyang makan dan minum di kedai teh, berjalan-jalan santai di kebun.
Mereka memilih jalan setapak sembarangan, melangkah di atas tanah gembur yang terasa nyaman. Tiga sahabat itu menikmati suasana baru, penuh semangat menengok ke kiri dan kanan. Di sisi kiri jalan, barisan sawi hijau tampak segar dan menggiurkan, daunnya hijau cerah. Di kanan, wortel besar dan merah menonjol dari tanah, memperlihatkan akar merah yang menggoda.
Melihat wortel itu, Hua Chi teringat masa kecilnya, saat ibunya mengajaknya ke luar kota dan pernah makan wortel segar yang baru dicabut, dicuci, lalu langsung dimakan. Sampai sekarang, Hua Chi masih ingat rasa wortel itu—renyah, manis, dengan rasa segar, terutama di bagian dekat inti kuningnya yang sangat manis.
Menengok ke kiri dan kanan, tiba-tiba Hua Chi merasa ingin berbuat nakal, mencabut satu wortel diam-diam saat tak ada orang, membawanya ke tepi sungai atau kolam, mencucinya, lalu langsung memakannya, mencicipi kembali manisnya kenangan masa lalu. Tentu saja, itu hanya angan-angan. Hua Chi menoleh ke arah Xiao Bai dan Bai Li Feng, tersenyum, “Wortel yang dimakan mentah seperti ini sebenarnya sangat enak.”
Bai Li Feng memandang Hua Chi, tersenyum, “Memang ada hal yang enak, tapi tak semua baik untuk perut. Aku sendiri hanya suka teh dan kue, paling tak suka wortel.”
Saat mereka bercanda, terdengar suara perkelahian samar dari depan. Hua Chi dan teman-temannya, yang sedang bosan, langsung berlari ke arah suara itu, ingin melihat apa yang terjadi.
Begitu mendekat, mereka melihat seorang pria tinggi tujuh kaki dipukuli dua orang sampai tergeletak, tubuhnya meringkuk, tangan kiri terkepal, tangan kanan mencengkeram tangan kiri dengan kuat. Tubuhnya penuh darah, ia menggigit bibir, menahan sakit tanpa bersuara. Dua orang yang memukulinya mengumpat marah, dan saat darah korban hampir habis, salah satu dari mereka yang berprofesi tabib memberinya ramuan pemulih, memastikan ia tidak mati.
Melihat Hua Chi dan dua temannya mendekat, dua orang yang sedang memukuli itu berkata, “Kalian bertiga, orang ini mencuri barang kami, suruh kembalikan! Ini urusan pribadi, jangan ikut campur.”
Di dunia game Virtual Void, konflik antar pemain sudah biasa, apalagi urusan pencurian sering memicu pertengkaran, bahkan pembunuhan. Karena dalam game orang tidak benar-benar mati, duel sampai mati pun jadi hal lumrah. Hua Chi dan teman-temannya mengangguk, merasa tak ada yang menarik, hendak pergi. Namun, pria yang semula meringkuk di tanah itu tiba-tiba berbalik menghadap Hua Chi.
“Eh?!” Hua Chi memperhatikan wajah pria itu, merasa agak familiar. Ia pun melirik ke dada kiri pria itu, dan benar saja, ada sebuah lencana berbentuk kuda putih. “Tunggu!” Langkah yang tadinya hendak pergi terhenti. Hua Chi bertanya, “Apa urusan kalian sampai harus menyiksa orang seperti ini?”
Membunuh orang toh hanya cukup dengan satu tebasan, urusan selesai, impas. Kalau ingin bermurah hati, cukup dipukuli dan disuruh mengembalikan barang yang dicuri, tak perlu menyiksa dengan cara kejam seperti ini—melukai, lalu menyembuhkan, membuat korban menggantung di antara hidup dan mati. Meski ini dunia virtual, cara seperti itu tetap saja kejam dan jahat.
“Apa urusannya denganmu?” Salah satu dari dua orang itu, yang sedang menebaskan pedang ke tempat sakit korban, menjawab dengan kesal, “Di dunia ini banyak urusan, mau urusin semua? Dasar perempuan, suka ikut campur!”
Dia menoleh, menebas lagi dua kali, lalu membentak, “Hei, kau, si Kacang Polong dari Serikat Kuda Putih, cepat kembalikan Batu Warna itu! Kami tak punya waktu buang-buang dengan sampah sepertimu!”
“Batu Warna?” Bai Li Feng, mendengar umpatan terhadap Kacang Polong, tersenyum tertarik, menoleh pada Hua Chi, menyesuaikan kacamatanya, “Jadi, Kacang Polong ini yang mencuri Batu Warna kalian? Batu Warna itu apa sebenarnya?”
“Eee... itu…” Orang yang menebas tadi agak bingung, lalu memaki lagi, “Kalian ini kenapa ikut campur? Sudah dibilang urusan pribadi, kalian minggat saja!”
Ia mengangkat pedang yang masih berlumuran darah, menatap garang dan mengancam, “Kecuali kalian mau cari masalah dengan Serikat Tentara Bayaran Pedang Besi!”
“Serikat Tentara Bayaran Pedang Besi?!” Hua Chi mengerutkan dahi, merasa pertemuan ini kebetulan sekali. Ia pun memperhatikan lencana di dada orang itu—benar saja, bentuknya seperti pedang besi.
Orang yang menebas itu masih ingin bicara, namun si tabib menariknya dan berbisik, “Waktu keluar tadi, Kak Jianzi sudah pesan, jangan buat masalah, kita harus rendah hati, jangan cari gara-gara.” Baru setelah itu ia berhenti, tapi tetap menebas Kacang Polong beberapa kali untuk melampiaskan kemarahan.
Setelah menenangkan rekannya, si tabib baru menyapa Hua Chi dan kedua temannya, “Sebenarnya, Batu Warna itu cuma batu warna-warni biasa, tak ada istimewanya. Tapi pacar ketua kami suka batu-batu indah, jadi ketua meminta kami mencarikan.”
Ia melirik pria yang tergeletak tanpa suara, tangan tetap mengepal erat, lalu mengerutkan kening, “Orang ini merebut batu kami, tapi tak juga mau mengembalikannya. Karena itu, kami terpaksa menggunakan cara ini agar dia mau menyerahkan batu itu.”