Bab Tujuh Puluh Dua: Getaran Hati
Air mata Nangong Ruoli yang selama ini ditahan tiba-tiba tumpah bagai bendungan yang jebol. Air mata hangat itu lambat laun menembus pakaian Mu Jing, meninggalkan bercak basah yang luas di bajunya, sekaligus meninggalkan jejak yang tak terhapuskan di lubuk hati Mu Jing.
Namun, hati Mu Jing justru lebih berpihak kepada Nangong Jin. Betapa pun besar pengorbanan Selir Li demi pria itu di masa lalu, luka yang telah tercipta tidak akan pernah bisa dipulihkan lagi. Mu Jing menarik napas dalam-dalam, jemarinya dengan lembut menyushel helaian rambut Ruoli. "Ruoli, semuanya sudah berlalu... Sekalipun aku akui semua hal yang ia lakukan di masa lalu untuk menyakiti Nangong tujuannya adalah agar ia bisa lebih baik dalam melindunginya, tetapi, kau juga tahu bagaimana Nangong melewati tahun-tahun ini? Jadi, jika dilihat dari sudut pandang Nangong, kesalahannya terletak sepenuhnya pada wanita itu! Dialah yang terlalu lemah dan tidak memiliki kemampuan untuk melindungi anaknya sendiri... Namun, kenyataan terkadang membuat kita tak berdaya, sama seperti saat aku meninggalkan Haoran dan You'er."
"Yiran, kau tidak tahu... Kau tidak tahu seberapa besar curahan darah dan tenaga yang ia berikan secara diam-diam untuk Kakak Sebelas. Akan tetapi, ia tidak pernah meminta sedikit pun imbalan. Sekalipun Kakak Sebelas yang telah beranjak dewasa selalu menatapnya dengan dingin, ia tidak pernah melontarkan sepatah kata keluhan pun. Setiap kali aku menjenguknya, tidak peduli seberapa buruk suasana hatinya atau seberapa lemah tubuhnya saat itu, ia selalu menyambutku dengan senyuman, bercanda dan mengajakku bersenang-senang, serta mengajariku membaca, menulis, dan mempelajari lebih banyak ilmu pemerintahan. Kedudukannya di dalam hatiku telah melampaui siapa pun di istana ini, karena berkat dialah aku mempelajari banyak sekali pengetahuan baru yang tidak bisa kudengar dari para guru tua. Dialah yang membuatku memahami prinsip dan aturan hidup manusia. Namun, aku tidak habis pikir, mengapa orang sebaik dia tidak mendapatkan akhir yang baik? Ancaman dan bujukan Permaisuri yang semakin mendesak, Kaisar yang kian menjauh, serta kepergian Kakak Sulung, dan kebencian Kakak Sebelas... telah lama meremukkan raganya tanpa sisa..."
"Namun, mengapa ia harus begitu baik kepadaku? Aku adalah anak dari musuhnya! Aku ingat hari itu, hari di mana ia hendak meninggalkan dunia yang tak kenal cinta ini, ia memintaku untuk melupakannya, menganggap seolah-olah ia tidak pernah berbuat baik kepadaku! Ia juga menyuruhku agar tidak pernah menceritakan tentang dirinya kepada Kakak Sebelas, karena hanya dengan kebencian di dalam hati Kakak Sebelaslah pencapaian besarnya kelak akan terwujud! Hatinya selalu dipenuhi oleh semua orang, tetapi di dunia ini, selain aku yang mengenang kebaikannya, siapa lagi yang mengingatnya? Yiran, aku sangat menyesal, mengapa dulu aku tidak membawanya keluar dari istana, sehingga ia..."
Hati Mu Jing terasa berdenyut nyeri. Ia tahu bahwa masa lalu setiap orang mungkin merupakan sebuah luka yang tak terhapuskan. Namun, luka milik Nangong Ruoli ini tampaknya hanya bisa dikunci rapat-rapat oleh rantai yang bernama waktu!
Dengan sedikit desahan, ia mengangkat wajah Nangong Ruoli dengan kedua tangannya, memaksa pemuda itu untuk memfokuskan pandangannya ke arahnya, lalu berkata, "Ruoli, kau tidak salah. Ini adalah pilihannya. Ia bisa melepaskan segalanya demi Nangong, bagaimana mungkin ia demi kenyamanan sesaat tega menyerahkan seluruh bahaya di istana kepada Nangong seorang diri? Ruoli, mungkin kegagalan Nangong untuk datang tepat waktu guna mengantar kepergian Selir Li untuk terakhir kalinya adalah kesalahan Nangong, ia bukan anak yang berbakti. Tetapi, bukankah sebelum pergi pun tidak ada sedikit pun penyesalan di hati wanita itu terhadap Nangong? Jadi, ia pergi dengan bahagia, dan kau pun seharusnya merasa lega! Lupakan semua hal yang tidak menyenangkan itu, dan kubur dalam-dalam semua kenangan yang layak dikenang di lubuk hatimu yang paling palung. Jadilah seorang pangeran kecil yang bahagia, kurasa inilah yang paling ingin ia lihat darimu saat ini! Jangan kecewakan dia, Ruoli!"
Ruoli menggelengkan kepalanya dengan penuh penderitaan. Ia juga pernah menghibur dirinya sendiri dengan cara seperti itu, tetapi setiap kali kenangan saat bersama wanita itu tanpa sengaja terlintas di benaknya, hatinya terasa sesak bagaikan diremas-remas. Sejak usianya empat tahun mulai mengingat sesuatu, hingga tujuh tahun mulai memahami keadaan, wanita itu selalu berada di sisinya, mendedikasikan segala hal terbaik untuknya. Hingga kini, genap sudah enam belas tahun lamanya. Bagaimana mungkin ia bisa melupakannya begitu saja? Terlebih lagi, wanita itu adalah wanita pertama yang ia cintai seumur hidupnya!
"Ruoli... Baginya, kau dan Nangong adalah putra-putra yang sangat ia cintai. Ia berharap kalian berdua akan menjalani kehidupan yang bahagia dan menyenangkan di masa depan. Kau bilang kau menyukainya, maka seharusnya kau lebih memedulikan perasaannya dan membuat dirimu hidup dengan bahagia, bukan? Jika arwahnya di surga melihatmu menjadi seperti ini karenanya, tahukah kau betapa sedih hatinya nanti? Ruoli, aku mohon padamu, berhentilah bersedih!" Mu Jing mengulurkan tangan untuk menyeka air mata di wajah Ruoli. Melihat Ruoli seperti itu membuat hatinya merasa sangat tidak nyaman. Dibandingkan dengan Ruoli yang 'pendiam' seperti ini, ia lebih menyukai Ruoli sebelumnya yang selalu memasang senyuman di wajahnya, karena hanya senyuman seperti itulah yang seharusnyamilik pemuda itu!
Setelah menuangkan seluruh isi hatinya yang ingin ia sampaikan, Nangong Ruoli justru merasa jauh lebih lega. Hanya saja, rasa sesak yang melilit di dadanya masih belum sempat mereda. Dengan tatapan kosong, ia merasakan tangan Mu Jing membelai pipinya. Manik matanya berkedip, dan dengan suara yang sedikit bergetar ia berkata, "Maafkan aku, Yiran... aku... aku hanya terlalu merindukannya akhir-akhir ini, makanya..."
Sebenarnya, kemelut emosi Ruoli yang tiba-tiba ini tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Potongan dupa itu awalnya memang adalah pemberian terakhir dari Selir Li. Menggunakannya secara terus-menerus setelah tiba di Negeri Utara sudah menjadi hal biasa, namun hari ini, ketika Mu Jing menamai halaman itu Taman Li, secara kebetulan suku kata 'Li' memiliki pelafalan yang sama dengan nama Selir Li. Terlebih lagi, pohon-pohon pir yang ditanam memenuhi halaman ini seolah-olah dipersiapkan khusus untuknya. Oleh karena itu, betapa pun emosi seseorang diredam, pasti akan ada saatnya ia tak sanggup lagi menahannya.
"Sudahlah! Yang penting kau baik-baik saja. Sudah sebesar ini tapi masih seperti anak kecil yang suka meneteskan air mata, tidak takut kuceritakan pada orang lain dan ditertawakan, hah?" Mu Jing menepuk bahu Ruoli sambil tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
Kesan wajah tampan Ruoli langsung memerah seketika akibat 'candaan' tak sengaja dari Mu Jing itu. Dengan perasaan malu, ia menundukkan kepalanya sambil menggigit bibir, "Aku tahu Yiran pasti tidak akan menceritakannya."
"Oh? Bagaimana kau tahu aku tidak akan mengatakannya?" Mu Jing memutar bola matanya, memiringkan kepala menatap pemuda pemalu di hadapannya dengan ekspresi seolah ingin menonton pertunjukan bagus. "Lihat, bajuku sampai basah kuyup begini. Ini bukti nyata yang tertinggal darimu, lho!"
"Yiran... A-aku... ampunilah aku..." Mendengar perkataan Mu Jing, Ruoli begitu ketakutan hingga lidahnya kelu. Kedua tangannya terkepal erat dan seluruh tubuhnya mulai merasa tidak tenang, seolah-olah pada detik berikutnya insiden memalukan hari ini akan menyebar ke telinga semua orang yang bersangkutan.
Melihat reaksi Ruoli saat ini, Mu Jing akhirnya bisa bernapas lega. Ia menepuk kedua tangannya dengan kuat di bahu Ruoli dan bertanya dengan serius, "Sekarang, apakah perasaanmu sudah sedikit lebih baik? Apakah dadamu masih sakit?"
Ruoli tertegun sejenak, sepertinya ia belum sepenuhnya keluar dari candaan tadi. Ia perlahan menempelkan sebelah tangan ke dadanya, merasakan debaran jantung yang kuat dan teratur di dalam tubuhnya, lalu sudut bibirnya terangkat perlahan, "Aku akhirnya mengerti apa yang ingin ia katakan kepadaku!"
"???" Alis Mu Jing terangkat. Ia tahu bahwa apa pun yang pemuda itu pahami saat ini, sisa jalan hidupnya akan ia lewati selangkah demi selangkah dengan senyuman.
Adapun makna di balik ucapan Nangong Ruoli itu, mungkin hanya langit yang tahu, bumi yang tahu, dia yang tahu, dan dia yang bisa melihat serta memahaminya yang tahu!
+++++++ Garis +++++ Pembatas +++++++
Di sebuah rumah makan tak bernama di ibukota, dua bersaudara Feng Luo dan Feng Mo masing-masing memegang sebuah kendi anggur dan menenggak minuman keras itu dengan tandus. Di lubuk hati mereka masing-masing, mereka tahu betul bahwa kemabukan hari ini mungkin akan menjadi kenangan abadi seumur hidup bagi mereka berdua. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara keduanya, mereka hanya terus-menerus mendentingkan kendi dan mendongak untuk menenggak minuman.
Namun, anggur yang memasuki usus yang gundah justru semakin menambah kegundahan; orang tidak mabuk karena anggur, melainkan mabuk oleh diri sendiri. Keduanya membuat ruangan itu berantakan, seluruh lantai dipenuhi oleh pecahan kendi anggur. Akhirnya, hanya tersisa satu kendi terakhir arak putri merah, dan Feng Luo pun menghentikan tindakannya.
"Kenapa Kakak tidak minum lagi? Apa sudah tidak sanggup? Kalau tidak sanggup, menyerah saja! Jangan memaksakan diri!" Begitu melihat Feng Luo berhenti minum, Feng Mo langsung melontarkan kata-kata sindiran.
"Dengan kadar seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa mabuk? Sebaliknya, Adik kecil, kau harus berhati-hati agar nanti tidak tertidur di jalanan lagi. Sekarang kan musim dingin yang ekstrem, kalau kau sampai tertidur, besok kau tidak akan bisa melihat dunia ini lagi!" jawab Feng Luo dengan mata yang memerah.
Mendengar sang kakak mengungkit kelemahannya sendiri, Feng Mo merasa tidak senang. "Mana ada kakak sulung yang mengutuk adik kandungnya sendiri seperti ini? Apa kau begitu ingin tidak pernah melihatku lagi sejak hari ini?"
Feng Luo tidak langsung menjawab pertanyaannya, melainkan mengangkat semangkuk anggur dan langsung meminumnya dalam sekali teguk. "Aku ingin sekali membuatmu menemaniku setiap hari sejak hari ini, aku ingin kita berdua tidak pernah berpisah sedetik pun! Tapi aku tahu kau tidak akan pernah memberiku kesempatan itu, jadi hal semacam ini tidak akan pernah kuucapkan lagi di hadapanku! Mo, jagalah dirimu baik-baik! Minum!"
Kesedihan yang pekat, kepahitan yang tipis, semuanya terkunci di dalam lubuk hati seiring dengan tegukan demi tegukan minuman keras!
"Kak, setelah hari ini, pergilah! Jangan kembali lagi hanya karena aku!" Saat mengucapkan kata-kata ini, mata Feng Mo telah diselimuti oleh lapisan kabut tipis. "Setelah hari ini, kejar kehipupan yang ingin kau jalani! Jangan ikut campur lagi dalam urusan-urusan itu!"
Feng Luo menggelengkan kepalanya. Sekalipun hari ini adalah waktu perpisahan mereka, ia sama sekali tidak pernah berniat untuk melepaskannya! Seperti yang pernah ia katakan, sampai saat terakhir pun ia tidak akan pernah dengan mudah mengucapkan kata menyerah! Karena pemuda itu adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini!
"Adik kecil benar-benar memikirkan untuk Kakak ya? Kau bahkan tahu kehidupan seperti apa yang ingin kujalani... Haiko! Sudahlah, aku sudah bilang aku akan menunggumu, karena aku yakin, selagi urusan ini selesai, kita pasti akan berkumpul kembali!"
"Kak..." Hati Feng Mo bergetar hebat. Di saat seperti ini, kakaknya masih memikirkannya di dalam hati, selalu memikirkan yang terbaik untuknya. Padahal dirinya... "Kak, pergilah! Tinggalkan Song Yan, tinggalkan organisasi, pergilah sejauh mungkin! Tidak peduli urusan itu berhasil atau tidak, mereka tidak akan melepaskanmu! Kau tahu metode Donghuang ribuan kali lipat lebih kejam daripada Song Yan, aku tidak ingin melihatmu menderita siksaan yang tidak manusiawi itu, jadi jangan biarkan aku menemukanmu, bisakah kau melakukannya?" ucap Feng Mo dengan suara tercekat.
Namun, yang tidak diketahui oleh Feng Mo adalah bahwa di lubuk hati Feng Luo, ia tidak pernah berniat untuk meninggalkannya.
Faktanya, di dalam hati Feng Mo tidak sepenuhnya hanya ada kebencian. Seperti nasihat-nasihat yang ia berikan kepada Feng Luo barusan, semuanya membuat Feng Luo merasakan kehangatan dan keharuan yang berasal dari adiknya itu. Feng Luo merasa sangat senang di dalam hatinya, meskipun ia tidak mengungkapkannya secara lahiriah, ia hanya mengangguk pelan sebagai tanda setuju atas perkataan Feng Mo, sementara di saat yang sama ia memancarkan kesedihan yang mendalam.
"Lindungi dirimu baik-baik! Ingatlah bahwa tempat Kakak adalah sandaran abadi bagimu, dan aku akan selalu menunggumu kembali..." (Bersambung)