Bab Lima Puluh Tiga: Mengaku Tanpa Ditanya
Bab Lima Puluh Tiga: Mengaku Tanpa Ditanya
"Taman Kekaisaran ini sangat luas, dan kita sudah berada di perbatasannya. Jika kakakmu juga berada di sini, bagaimana kalau Kakak temani kau mencarinya di sana?" Selir Hua benar-benar menyukai wanita berpakaian polos ini, terlebih lagi wajahnya sangat mirip dengan orang itu, sehingga Selir Hua tidak bisa menahan diri untuk merasakan kedekatan tersebut.
Mu Jing mengangguk, namun hatinya terasa berat bagaikan ditindih ribuan kati. Apakah ini benar-benar wanita yang dulu begitu angkuh, sombong, dan kejam? Apa yang sebenarnya terjadi di sini selama dua tahun kepergiannya? Mengapa Liu Ruyan berubah menjadi begitu baik? Dia bahkan bisa merasakan bahwa kebaikan dan perubahan ini bukanlah kepalsuan, melainkan pancaran tulus dari lubuk hatinya. Bagaimana mungkin?
Mu Jing mengikuti di belakang Selir Hua dengan patuh, benar-benar tampak meyakinkan. Hanya saja, dia terlalu fokus pada perubahan Selir Hua hingga mengabaikan sesuatu yang lebih gawat, yaitu Selir Luo yang terus mengamatinya. Tatapan tajam dan pikiran yang berputar cepat itu menyembunyikan niat jahat yang tak terlihat oleh siapa pun.
"Kakak Ruyan, tunggu!" Selir Luo melangkah cepat untuk mencegat jalan mereka, sehingga dia tepat berhadapan dengan Mu Jing.
Namun, pertemuan ini memberikan hasil yang tak terduga. Itu dia? Bagaimana mungkin dia masih hidup dan terlihat begitu cantik? Dia tidak percaya ada dua orang di dunia ini yang memiliki wajah semirip itu! "Kau? Mengapa kau muncul di sini? Bukankah seharusnya kau sudah mati terbakar?" Melihat Mu Jing, Selir Luo tiba-tiba menjadi gila. Dia menerjang ke depan dan mencengkeram bahu Mu Jing dengan kuat, mencoba memastikan melalui sentuhannya apakah wanita di depannya ini nyata atau hanya halusinasi.
"Qing-er, lepaskan! Kau salah orang! Dia bukan Permaisuri, bukan seperti yang kau bayangkan, lepaskan!" Selir Hua tentu tahu apa yang ada dalam pikiran Selir Luo, namun dia tidak menyangka Selir Luo masih menyimpan kebencian yang sama terhadap Permaisuri.
Selir Luo yang sudah kalap tidak bisa mendengar bujukan Selir Hua. Matanya terkunci pada gerak-gerik Mu Jing. Dia bahkan menepis tangan Selir Hua yang mencoba melerai dengan kasar, hingga Selir Hua hampir terjatuh jika tidak ditopang oleh orang di belakangnya.
"Jika bukan dia, lalu siapa lagi? Aku mengenalinya! Dia mungkin bisa menipu mata kalian semua, tapi tidak denganku! Itu dia! Dia adalah Permaisuri yang digulingkan yang ‘mati’ terbakar beberapa hari setelah masuk istana! Tidak mungkin salah, pasti dia!" Selir Luo menunjuk-nunjuk wajah Mu Jing sambil berseru dengan yakin kepada semua orang. Dia percaya pada perasaannya; wanita ini kembali untuk membalas dendam!
Mu Jing seperti anak domba yang menunggu giliran jagal, kehilangan daya perlawanan di bawah cengkeraman Selir Luo yang kuat. Menghadapi Selir Luo yang beringas, Mu Jing hanya bisa diam dan berpura-pura menjadi orang asing yang tidak bersalah sambil menunggu Beiye Haoran dan yang lainnya datang. "Kakak, apa yang Anda bicarakan? Saya sama sekali tidak mengerti. Hari ini pertama kalinya saya masuk istana, saya belum pernah bertemu kalian sebelumnya, bagaimana mungkin saya orang yang Anda kenal? Kekuatan Anda sangat besar, bahu saya terasa hampir hancur, sakit sekali..." Ucap Mu Jing sambil gemetar, air mata menetes di sudut matanya, tampak begitu menyedihkan.
"Qing-er, apa kau tidak dengar aku menyuruhmu berhenti?" Selir Hua, demi menyelamatkan Mu Jing, kembali menggunakan wibawanya sebagai selir agung dan membentak. Namun, Selir Luo seolah tuli dan terus tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Ada apa ini? Mengapa Selir Luo tiba-tiba bertindak kejam pada orang luar?"
Para selir di sekitar mulai berbisik-bisik. Hanya Selir Hua yang terus mencoba meredam situasi. Jika ini terlihat oleh Kaisar atau pejabat istana, akan menjadi skandal yang memalukan.
"Kalian semua jangan berisik, segera bawa Selir Luo kembali ke kediamannya! Jika masalah ini sampai ke telinga Kaisar, kalian semua tidak akan selamat!" ancam Selir Hua.
Melihat Selir Hua begitu serius, para selir pun terpaksa mendekati Selir Luo. Namun, saat mereka mendekat, Selir Luo justru menarik Mu Jing dan mencekik lehernya. Tujuannya jelas, dia lebih baik membunuh orang yang salah daripada membiarkan musuhnya lolos!
"Kalian semua menjauh, atau aku akan membunuh wanita jalang ini!" teriak Selir Luo.
"Selir Luo, apa kau sudah gila? Kau tahu membunuh orang tak bersalah adalah kejahatan besar!" Selir Hua terkejut. Dia mengakui kemiripan Mu Jing dengan Permaisuri, tetapi aura mereka sangat berbeda, sehingga dia tidak pernah menganggap mereka orang yang sama.
"Apa dendam yang kau miliki padaku, sampai kau ingin membunuhku saat kita baru pertama kali bertemu?" wajah Mu Jing dipenuhi kepanikan.
"Jangan berakting! Kau kembali ke istana untuk membalas dendam, bukan? Sayangnya, aku sudah mengetahui rencanamu! Biarkan ratusan arwah tak berdosa di kediaman Yuwen yang menjawab dendam kita! Mati kau! Dua tahun lalu aku tidak melihatmu mati, hari ini aku sendiri yang akan menghabisimu!"
"Jadi, kebakaran dua tahun lalu benar-benar perbuatanmu?" Sebuah suara lantang yang mengandung kesedihan terdengar dari belakang Selir Luo.
Selir Luo yang sedang kalap mengira itu adalah suara pengawalnya, jadi tanpa berpikir panjang dia menjawab: "Tentu saja aku yang melakukannya, hanya saja aku tidak menyangka api sebesar itu tidak bisa melenyapkanmu..."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuh Selir Luo terhempas jauh.
Beiye Haoran yang baru saja datang adalah pelakunya. "Yuwen Qingzi, aku tidak menyangka kaulah pelakunya!" Beiye Haoran berdiri menatap wanita yang kini tampak berantakan itu. Kenangan indah masa lalu melintas di benaknya. Dia selalu menganggap Selir Luo sebagai wanita yang tenang, elegan, dan berbakat. Namun kenyataan pahit ini sulit dia terima.
"Haoran, bukan begitu! Bukan aku yang membakar, aku tidak berniat membunuh Permaisuri..." Selir Luo panik melihat kedatangan Beiye Haoran.
"Siapa lagi jika bukan kau? Semua orang di sini mendengarmu mengakuinya sendiri! Yuwen Qingzi, apakah kau sadar akan dosamu?" tanya Beiye Haoran dingin.
"Aku tidak salah, itu adalah pembalasan yang pantas untuknya!" teriak Selir Luo ke arah Mu Jing.
"Masih berani membantah!" Beiye Sheng datang bersama Mu Jing dan Nangong Ruoli. Dia meminta maaf kepada Mu Jing di depan Selir Luo, "Putri Yaoyue, saya mohon maaf atas kejadian ini. Terserah Anda bagaimana ingin menghukumnya."
"Saya? Kaisar terlalu berlebihan. Dia hanya salah mengenali saya sebagai orang lain. Karena saya baik-baik saja, mohon berikan hukuman yang ringan saja!" ujar Mu Jing tenang, tanpa jejak kepanikan di wajahnya.
Beiye Sheng merasa lega. Dia mengira wanita dari negeri asing ini adalah tipe yang pendendam, ternyata dia memiliki hati yang luas.
"Karena Putri Yaoyue tidak menuntut, maka saya tidak perlu memberikan hukuman tambahan. Namun, kasus pembakaran dua tahun lalu tidak bisa dimaafkan. Bawa Selir Luo ke penjara bawah tanah, segera eksekusi setelah kasusnya diputuskan!" perintah Beiye Sheng tegas. Dia merasa akhirnya bisa memberikan keadilan bagi mendiang Song Wanrou.