Bab Lima Puluh Lima: Hal Biasa di Rumah Makan
Bab 55: Hal Biasa di Rumah Makan
“Kau! Xiao Jing, sifat keras kepalamu benar-benar luar biasa!” Leng Xiao menghela napas, berkata tak berdaya, “Sudahlah, kalau kita tidak juga mencari penginapan, malam ini kita benar-benar akan tidur di jalan!”
Tidur di jalan pun tidak apa-apa, bukankah itu juga gara-gara dirimu? Mu Jing hanya mencebik tanpa suara, berjalan mendahului Leng Xiao untuk mencari tempat bermalam.
Dua orang asing di kota asing bernama Suiyang itu, mencari cukup lama hingga akhirnya menemukan tempat menginap di pusat kota Suiyang, yaitu Rumah Makan Ji Yun.
Rumah Makan Ji Yun adalah tempat yang sangat digemari para pelancong dari seluruh penjuru negeri. Karena Suiyang terkenal sebagai kota dengan pemandangan terindah di negeri utara, tempat ini pun menjadi favorit para pengelana dari berbagai daerah.
Walaupun pemandangannya indah dan rumah makannya nyaman, Mu Jing justru merasa kepalanya pusing, seakan dunia berputar. Kelopak matanya pun terasa berat, seperti memikul beban ribuan kati. Butuh beberapa menit baginya untuk memaksa membuka mata, lalu menyeret tubuh letihnya menuju kamar.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara Leng Xiao di depan pintu kamar, “Xiao Jing, turunlah makan.”
“Guru, kau saja yang makan. Aku tidak lapar, juga tidak ingin makan apa-apa,” jawab Mu Jing lirih dari dalam kamar.
Begitu mendengar suara itu, Leng Xiao merasa ada yang tak beres dan langsung cemas, “Xiao Jing, kau kenapa? Apa kau tidak enak badan?”
Mu Jing yang sedang berbaring di ranjang, menggeleng pelan. Ia tak menyangka gurunya ternyata lebih perhatian dari yang selama ini ia kira. Ia menahan rasa haru di hatinya, “Guru, pergilah makan dengan tenang. Aku benar-benar tidak apa-apa!”
“Benarkah? Perlu guru bawakan makanan ke kamar nanti?” Leng Xiao memang tahu sifat keras kepala Mu Jing. Kalau Mu Jing bilang tidak apa-apa, berarti memang tak ada masalah besar.
“Tidak usah, kalau aku lapar, aku akan turun sendiri.” Kelopak mata Mu Jing terasa semakin berat, seolah sebentar lagi ia akan tertidur.
“Baiklah, kalau begitu! Aku turun dulu.” Leng Xiao menghela napas, lalu berbalik turun ke bawah.
Mu Jing tidur sangat lelap di dalam kamar, rasa aneh di tubuhnya pun tertutupi oleh kantuk yang amat dalam.
Leng Xiao tiba di bawah, memesan beberapa hidangan kecil. Ia berniat makan secukupnya lalu naik lagi untuk melihat keadaan Mu Jing. Namun, tiba-tiba suara tak ramah dari meja sebelah membuatnya mengernyit tak senang.
“Dasar bodoh! Satu cangkir teh saja tak bisa kau bawa dengan benar, masih juga bertahan di sini untuk apa? Bajuku kau rusak, dengan apa kau akan ganti rugi! Apa kau ini babi? Sebodoh itu! Hal sepele begini saja tak becus!”
“Maaf, Tuan! Maaf! Maaf!” Suara lemah penuh ketakutan dan keputusasaan terdengar dari seorang gadis pelayan. Astaga, kenapa ia sebodoh itu sampai harus melayani pria menyebalkan ini!
“Kalau kau tak sanggup mengganti bajuku, bagaimana kalau kau ikut pulang jadi selir keempat belas di rumahku?” Pria itu tiba-tiba mengubah nada bicara, matanya kini dipenuhi nafsu terhadap kecantikan si gadis.
Gadis kecil itu mundur beberapa langkah dengan ketakutan, baru bisa berdiri tegak, “Jangan, Tuan, jangan lakukan ini…”
Namun pria mesum itu jelas tidak akan melepaskannya begitu saja. Setiap kali gadis itu mundur, ia malah semakin mendekat. Tak seorang pun di aula itu berani campur tangan, bahkan pemilik rumah makan pura-pura tidak melihat, tetap sibuk dengan urusannya.
“Nona manis, menurut saja padaku! Lihat, bertahan di tempat ini hanya membuang-buang kecantikanmu!” Pria itu tiba-tiba memeluk si pelayan dengan penuh nafsu.
“Tolong, Tuan, ampunilah hamba… Tolong…!” Gadis pelayan itu menangis memohon belas kasihan.
“Tidak mau! Lihat saja, siapa yang berani ikut campur urusanku di rumah makan ini!” Pria itu langsung menekan pelayan ke atas meja kosong, hendak merobek pakaiannya.
Tidak, di sini memang tak ada yang peduli dengan urusan orang lain. Saat bekerja, ia kadang-kadang memang menghadapi masalah, tapi biasanya hanya pencuri kecil yang tak akan berani berbuat apa-apa. Tapi hari ini…
“Kakak Qin’er! Tolong aku! Kakak Qin’er, tolong aku!” Hanya itu satu-satunya nama yang terlintas di benaknya. Selama ini Qin’er selalu membantunya mengatasi masalah, jadi di saat genting seperti ini, hanya nama itu yang bisa ia panggil.
“Nona, kau memang keras kepala, berhentilah berteriak. Meski Qin’er datang, tak akan ada gunanya! Ikut saja aku! Hahaha…” Pria itu tiba-tiba mengangkat gadis kecil itu, membawanya menuju tangga sambil terus melontarkan kata-kata kotor menghina.
“Tolong…” Kak Qin’er, tolong aku, aku tidak mau… Gadis itu kini begitu ketakutan hingga tak mampu berkata-kata. Yang ia harapkan hanya satu, kemunculan Qin’er.
“Berhentilah memohon, lebih baik patuh saja!”
Tidak, jangan… Kak Qin’er tolong aku, tolong aku!
“Mohon berhenti di sana!” Suara dingin Leng Xiao tiba-tiba terdengar. (Bersambung)