Bab Empat Puluh Empat: Awal yang Hebat, Akhir yang Mengecewakan
"Kali ini berbeda," ujar Adipati Qi dengan nada serius. "Baginda secara langsung memecat menteri urusan garam di istana."
"Apa?"
Nyonya Pingning berseru kaget saat mendengar ucapan itu. Pada saat itu, ia juga menyadari betapa gawatnya situasi tersebut.
Menteri urusan garam adalah pejabat tingkat tiga senior, hanya sedikit lebih rendah dari para menteri di berbagai departemen, tetapi lebih tinggi daripada para wakil menteri.
Dipecat begitu saja menunjukkan bahwa Baginda benar-benar bersungguh-sungguh kali ini.
"Suamiku, apakah masalah ini tidak akan menyeretmu ke dalamnya?" tanya Nyonya Pingning dengan cemas.
Adipati Qi menjabat sebagai komisaris pengangkutan urusan garam di Jalur Jingji. Sekilas, jabatan ini tampak hanya mengurus alokasi dan transportasi garam.
Komisaris pengangkutan pertama kali dibentuk pada masa Dinasti Tang, dan fungsi awal mereka memang seperti itu.
Namun, ketika memasuki masa Dinasti Song, wewenang komisaris pengangkutan bertambah jauh lebih besar.
Jabatan Komisaris Pengangkutan Urusan Garam Jalur Jingji yang dipegang oleh Adipati Qi tidak hanya bertanggung jawab atas urusan garam di Bianjing dan prefektur-prefektur sekitarnya, tetapi juga mengemban tugas mengawasi urusan garam serta pembukuannya.
Sebagai komisaris pengangkutan, bagaimana mungkin Adipati Qi tidak menemukan kejanggalan di dalamnya?
Hanya saja, masalah ini terlalu rumit. Meskipun ia tidak ikut ambil bagian, ia telah menerima banyak keuntungan dan memilih untuk bungkam.
Jika Baginda menyelidiki masalah ini secara mendalam, kejahatan Adipati Qi tidaklah kecil.
Mendengar itu, Adipati Qi tersenyum pahit dan berkata, "Semua ini bergantung pada seberapa jauh Baginda ingin menyelidikinya. Jika Baginda hanya berniat memperingatkan, aku mungkin hanya akan mendapat teguran. Namun, jika Baginda benar-benar ingin mengusutnya hingga tuntas, aku kemungkinan besar akan diadili atas kesalahan."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
Nyonya Pingning berkata dengan panik, "Bagaimana jika aku pergi ke istana untuk memohon belas kasihan kepada Baginda?"
"Tidak boleh. Situasinya saat ini belum jelas, kita tidak boleh pergi ke istana untuk memohon," geleng Adipati Qi.
"Tetapi jika kita menunggu situasinya menjadi jelas, akan terlambat untuk memohon," kata Nyonya Pingning.
"Keluarga kita tidak kekurangan kekayaan, dan sejujurnya aku tidak ingin mengambil uang itu. Akan tetapi, urusan garam melibatkan terlalu banyak pihak; demi membuat mereka tenang, aku terpaksa menerimanya. Meskipun aku mengambil uang itu, aku sama sekali tidak ikut campur di dalamnya. Jika Baginda benar-benar ingin meminta pertanggungjawaban, hukumannya paling-paling pencopotan jabatan, dan gelar kebangsawanan kita tidak akan dicabut.
Hanya saja, aku khawatir masalah ini akan memengaruhi masa depan Heng'er. Heng'er adalah teman belajar Putra Mahkota, dan Paduka amat menghargainya. Jika masa depan Heng'er hancur karena ulahku, bagaimana aku harus menghadapi Heng'er di masa depan?" keluh Adipati Qi.
Sebagai seorang ayah, ia tentu ingin citranya tetap lurus di mata sang putra.
Adipati Qi benar-benar tidak tahu bagaimana ia harus menghadapi putranya jika Qi Heng mengetahui bahwa ia menerima suap dan hal itu merusak masa depan sang anak.
"Suamiku, apa yang harus kita lakukan?"
Nyonya Pingning adalah seorang wanita yang bangga, sehingga ia menaruh harapan yang sangat besar pada Qi Heng, satu-satunya anak laki-laki mereka.
Qi Heng pun tidak mengecewakannya. Meskipun terlahir dari keluarga bangsawan, ia sama sekali tidak memiliki kebiasaan buruk para pemuda kaum ningrat di Bianjing.
Sejak kecil ia tekun belajar dan bertekad mengikuti ujian imperial untuk mengabdi kepada negara melalui jalur akademis, alih-alih mengandalkan perlindungan leluhur.
Meskipun usianya baru sepuluh tahun, siapa di kalangan bangsawan Bianjing yang tidak memujinya?
Begitu menyadari bahwa masalah ini tidak hanya akan berdampak pada suaminya, tetapi juga merusak masa depan sang putra, Nyonya Pingning menjadi semakin cemas.
"Kau tidak perlu terlalu khawatir, kita belum tahu pasti bagaimana akhir dari masalah ini. Urusan garam melibatkan terlalu banyak orang, tidak mungkin Baginda menyelidiki semuanya secara ketat," hibur Adipati Qi.
Urusan garam tidak hanya melibatkan para pejabat yang memimpin jalannya birokrasi garam; para pejabat di berbagai daerah mustahil sama sekali tidak menyadarinya, tetapi tidak pernah ada yang membongkar masalah ini.
Sekalipun diselidiki dengan tuntas, Baginda tidak mungkin menghukum semuanya.
Kesalahannya tidaklah terlalu berat. Selama Baginda tidak mengusutnya hingga ke akar-akarnya, ia seharusnya akan baik-baik saja.
...
Usai sidang pagi, banyak pejabat yang memiliki hubungan dekat atau kepentingan bersama berkumpul untuk mendiskusikan tindakan Baginda yang mengusut tuntas urusan garam.
Beberapa orang yang terlibat langsung bergegas menuju kediaman keluarga Wen, berniat mendiskusikan langkah tandingan bersama Wen Xuan.
Begitu mengetahui hal itu, Wen Xuan mengutuk dalam hati dan menolak menemui semuanya.
Sikap Baginda kali ini sangat tegas, dan entah sudah berapa banyak pasang mata yang mengawasinya saat ini, tetapi orang-orang ini masih berani datang mencarinya.
Meskipun menolak menemui mereka, Wen Xuan tetap mengirim pesan untuk mengingatkan mereka agar segera membersihkan bukti-bukti kejahatan.
Meskipun Baginda telah memegang beberapa bukti, bukti-bukti itu masih bersifat sepihak dan belum mampu membuktikan bahwa seluruh sistem birokrasi garam bermasalah.
Selama masalah yang akhirnya terungkap tidak terlalu besar, ia masih memiliki kesempatan untuk kembali menjabat.
Jika tidak, ia kemungkinan besar akan dipaksa pensiun dini. Usianya kini baru menginjak lima puluh tahun, dan ia sama sekali belum ingin kembali ke kampung halaman untuk menikmati masa tua.
Demi menyelamatkan diri, Wen Xuan bahkan mengirim orang untuk secara diam-diam mengarahkan opini publik dan menyebarkan desas-desus mengenai masalah yang ada di dalam birokrasi garam.
Apa yang dilakukan Wen Xuan bukanlah untuk bunuh diri secara politik, melainkan untuk menyulut kemarahan rakyat. Ada begitu banyak masalah dalam urusan garam, dan pihak yang paling dirugikan tetaplah kepentingan rakyat jelata.
Jika bisnis garam yang dikelola negara ini menyimpan begitu banyak masalah, mengapa tidak diserahkan saja kepada swasta?
Wen Xuan sangat memahami betapa pentingnya pendapatan dari garam bagi istana kekaisaran. Begitu opini publik bergejolak, demi meredam kemarahan rakyat, Baginda tidak akan berani menyelidiki urusan garam secara mendalam.
Jika tidak, skandal dan intrik di baliknya terungkap ke publik, rakyat pasti akan marah besar dan menentang monopoli garam negara.
Harus diakui bahwa cara yang ditempuh Wen Xuan benar-benar memicu kemarahan rakyat.
Harga garam sangat mahal, sementara rakyat tidak bisa tidak mengonsumsinya. Sebagian keluarga miskin bahkan terpaksa menggunakan kain yang direndam cuka sebagai pengganti garam dapur.
Rakyat yang tidak tahu duduk perkara sebenarnya mengira bahwa harga garam yang mahal disebabkan oleh para pejabat istana yang melakukan korupsi, sehingga harga garam terus melambung tinggi.
Dalam sekejap, opini publik bergejolak dan mendatangkan tekanan luar biasa bagi istana kekaisaran.
Kenyataannya, harga garam yang tinggi memang berkaitan dengan istana kekaisaran, dan pihak istana sama sekali tidak bisa menjelaskannya.
Tampak seolah-olah korupsi yang dilakukan para pejabat itu tidak merugikan kepentingan rakyat.
Namun faktanya tidak demikian. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ketika istana kekurangan uang, demi menghindari kenaikan pajak secara langsung, mereka akan menaikkan harga garam untuk mencapai tujuan peningkatan pajak secara terselubung.
Cara ini memiliki keuntungan: jika istana secara terang-terangan mengenakan pajak baru kepada rakyat, para pejabat daerah pasti akan mencari keuntungan di dalamnya, sehingga beban rakyat akan semakin berat.
Sebaliknya, menaikkan harga garam tidak menambah beban bagi rakyat miskin yang bahkan tidak mampu membeli garam.
Bagaimanapun juga, mereka memang sudah tidak mampu membelinya sejak awal.
Alasan mendasar di balik tindakan istana menaikkan harga garam tetaplah karena kas negara yang kosong.
Sementara tindakan korupsi yang dilakukan orang-orang itu hingga merugikan kepentingan istana hanyalah sebagai penyebab tidak langsung.
Meskipun Baginda merasa pusing akibat opini publik, hal itu sama sekali tidak menggoyahkan tekadnya untuk mengusut tuntas urusan garam.
Para pejabat urusan garam di berbagai jalur, begitu mendengar berita tersebut, segera membersihkan bukti-bukti. Namun, ketika Baginda mengeluarkan titah untuk penyelidikan menyeluruh, beliau telah mengamankan banyak bukti.
Menteri Kanan Yu, dengan membawa bukti-bukti yang disediakan oleh Baginda, menghabiskan waktu setengah tahun lamanya sebelum akhirnya berhasil 'menyelesaikan' penyelidikan urusan garam.
Alasan mengapa kata itu diberi tanda petik adalah karena bukti-bukti yang ada hanya mampu menelusuri sampai di batas tersebut.
Pada akhirnya, pejabat yang terlibat dan berhasil diidentifikasi berjumlah seratus tujuh puluh enam orang.
Begitu mendengar laporan tersebut, Baginda langsung menjatuhkan hukuman buang kepada lebih dari dua puluh pelaku utama. Dari seratus empat puluh orang lebih sisanya, separuh dari mereka harta bendanya disita dan jabatannya dicopot, sementara sisanya yang memiliki kesalahan lebih ringan dikenakan denda dan diturunkan jabatannya.
Melihat hanya sedikit orang yang terseret, Wen Xuan tahu bahwa Baginda tidak berniat mengusut tuntas hingga ke akar-akarnya, dan ia pun merasa lega.
Ia yakin orang-orang itu tidak akan berani menyebut namanya. Kesalahannya paling-paling hanya kelalaian dalam menjalankan tugas, dan Baginda seharusnya tidak akan mendepaknya, paling-paling hanya menjatuhkan titah teguran dan memotong gaji selama beberapa bulan.
Namun, tepat ketika ia berkhayal bisa kembali menduduki jabatannya, seorang pelayan istana datang bertamu ke kediamannya.
Tidak seorang pun yang tahu persis apa yang mereka bicarakan, tetapi keesokan harinya Wen Xuan mengajukan permohonan ke istana untuk mengundurkan diri dengan alasan kesehatan dan pulang ke kampung halaman untuk menikmati masa tua.
Baginda tidak menahan kepergiannya, bahkan tidak memberikan gelar kehormatan pensiun, dan langsung menyetujuinya begitu saja.
Zhao Xing sama sekali tidak dilibatkan dalam seluruh proses penyelidikan urusan garam tersebut, namun ia mengetahui garis besar jalannya peristiwa itu.
Mengenai penyelidikan urusan garam kali ini, Zhao Xing hanya memiliki satu penilaian—hangat-hangat kuku di awal, melempem di akhir.
Kelihatannya banyak orang yang ditindak, tetapi jumlah pejabat istana yang mengurus masalah garam mencapai ribuan orang.
Hasil akhirnya, bahkan seperlima dari mereka pun tidak berhasil ditindak. Selain satu menteri urusan garam tingkat tiga senior, hanya dua komisaris pengangkutan dan belasan wakil komisaris pengangkutan yang digeser.
Selebihnya hanyalah para pejabat rendahan yang tidak memiliki kedudukan tinggi.
Zhao Xing tahu bahwa membersihkan seluruh pejabat korup itu tidak realistis, tetapi para pejabat tinggi yang ditindak terlalu sedikit, sehingga efek jera yang ditimbulkan tidaklah besar.
...
Qi Heng pulang ke rumah usai belajar, namun ia mendapati suasana di dalam kediaman terasa sangat janggal.
Ia menghentikan seorang pelayan untuk bertanya, barulah ia mengetahui bahwa hari ini Baginda telah mengeluarkan titah yang berisi teguran kepada ayahnya.
Mengenai alasan khususnya, sang pelayan tidak mengetahuinya.
Mengetahui kabar tersebut, Qi Heng menanyakan keberadaan ayahnya, lalu bergegas menuju halaman belakang.