Bab Sembilan Puluh
Malam turun dengan pekat, cahaya bulan bersih dan putih, sinarnya yang lembut membalut istana megah nan agung, menambah sejuk yang samar.
Di paviliun taman istana, Syau Jue dan Syau Han sedang menikmati minuman.
Aroma bunga persik merebak, angin malam sejuk, manusia menjadi hening.
“Kakak Ketujuh, jangan minum terlalu banyak!” Syau Han menegur dengan suara berat, sebab jika hati sudah murung lalu minum, kesedihan hanya akan bertambah. Minum untuk mengusir gundah, paling mudah membuat mabuk. Ah... Andai tahu begini, hari ini dia tak akan datang, meski harus menghadapi orang menyebalkan, mestinya dia tetap tinggal.
Apa yang sebenarnya membuatnya resah? Mata besar Syau Han yang menawan melirik Syau Jue, tatapan dinginnya dipenuhi awan gelap nan rumit, seperti seseorang yang tengah berjuang di tengah arus deras, namun ragu untuk meraih satu-satunya kayu penyelamat.
Syau Han minum tanpa suara. Sejak kecil, Kakak Ketujuh selalu cerdas dan tenang, memiliki bakat luar biasa, dalam ilmu dan bela diri pun melampaui saudara-saudaranya. Ia mampu mengendalikan segalanya, tak pernah sekalipun terlihat menunjukkan kelemahan seperti ini. Apa penyebabnya? Ia sendiri tak punya rasa simpati, apalagi kasih persaudaraan, jangan sampai membuatnya merinding. Jika bisa melihat sandiwara Syau Jue, ia malah ingin bertepuk tangan. Ia hanya... penasaran!
Syau Jue meliriknya dingin, menengadahkan kepala, meneguk segelas lagi. Cawan giok putih itu diletakkan dengan keras di atas meja batu, sorot matanya gelap, wajahnya kaku dan dingin. Ia menuang lagi, lalu menenggak habis.
“Aku cuma ingin kau menemaniku minum,” kata Syau Jue dengan dingin. Angin sepoi-sepoi berhembus, rambutnya berterbangan. Ia mengibaskan kepala, berharap hembusan angin bisa mengusir bayang wajah indah yang terus membayangi benaknya. Namun sosok itu justru makin mengusik dan tak kunjung hilang, Syau Jue pun semakin gusar. Ia meraih cawan, menenggak keras, sensasi panas membakar tenggorokannya hingga ke perut, seolah-olah ada pisau yang mengiris.
“Kakak Ketujuh, sebenarnya ada apa? Katakan saja, biar adik turut memikirkan.” Senyum Syau Han licik seperti rubah, gayanya seperti menggoda anak di bawah umur.
Syau Jue mendengus dingin, Syau Han tertawa cekikikan. Kalau dia tak mau bicara, dia bisa menebaknya sendiri. “Katanya selirmu sedang hamil, kau risau soal itu? Tak ingin punya anak? Aduh, Kakak Ketujuh, kau sudah dua puluh lima, bukan anak-anak lagi, orang biasa bahkan sudah jadi ayah berkali-kali. Ini kabar baik!”
“Siapa bilang aku tak ingin anak?” Syau Jue mendengus dingin. Ia sangat mementingkan keturunan, mana mungkin tak ingin anak sendiri, parah benar Syau Han bisa berpikir begitu.
Eh? Salah tebak? Syau Han memiringkan wajah, tak bisa berbuat apa-apa. Akhir-akhir ini hanya kabar itulah yang terdengar di istana, wajar jika ia mengaitkan semuanya ke sana.
“Lalu, ada masalah apa?”
Syau Jue memandangnya sejenak, lalu meneguk lagi. Ia menengadah, menatap langit penuh bintang, nada suaranya mengandung penyesalan dan kemarahan yang tak jelas, “Soal Fang Liusu!”
Syau Han merasa hatinya bergetar, Fang Liusu? Ia menyipitkan mata tanpa terlihat, apa maksudnya ini? Jangan-jangan...
“Adik Kesembilan, menurutmu apa yang harus kulakukan? Aku sepertinya mulai lunak padanya... Tidak, tidak, sejak awal, orang yang ingin kubalas dendam adalah Fang Jinxiu, bukan Fang Liusu. Fang Jinxiu yang mendorong Yao’er ke ujung pedang, Fang Jinxiu yang menyebabkan Yao’er tewas. Tapi Fang Liusu... aku tak tahu harus bagaimana dengannya...” Suara Syau Jue penuh keputusasaan, matanya berjuang menahan sakit, wajahnya seperti binatang buas yang terkurung puluhan tahun, bingung, gelisah, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pertama kalinya, Syau Han melihat wajah Kakak Ketujuh begitu kaya akan emosi.
Apakah dia benar-benar jatuh cinta pada Fang Liusu? Pikiran ini sangat mengejutkan, dahinya berdenyut. Kalau benar, ini adalah bencana.
“Kakak Ketujuh, bukankah kau bilang Fang Jinxiu melakukan itu demi Fang Liusu hingga mendorong Liu Xueyao? Jadi, biang keladinya tetap Fang Liusu. Wajar saja kau membencinya. Bukankah kau sudah menghancurkan nama baiknya, seantero negeri tahu Fang Liusu dicap wanita jalang? Itu sudah hukuman paling kejam bagi seorang wanita, bahkan lebih menyakitkan dari kematian. Kau harus tetap pada keputusan awal, kenapa mulai ragu?” Syau Han bertanya penuh selidik. Jangan sampai ia ragu, semakin ia membenci Fang Liusu, semakin besar peluang Fang Liusu pergi. Jangan sampai dia jatuh cinta! Kalau wanita galak di rumah tahu, tamatlah riwayatnya, habislah dia, biarlah petir menyambar!
Wajah Syau Han tampak masam, sungguh malang, kenapa bisa jadi begini?
Kakak Ketujuh, Fang Liusu itu lemah seperti batang rumput, dingin pula, dipeluk malam-malam pun pasti terasa dingin, apa sebenarnya yang kau sukai dari dia? Janganlah terlalu tersiksa...
“Bukan begitu, bukan begitu...” Syau Jue bergumam, di benaknya melintas wajah indah bagai krisan, lembut namun kuat, seolah ada daya magis yang menariknya. Hatinya yang penuh dendam, hari demi hari menjadi lunak, sudah lama tak seperti semula. Ia bahkan mengkhawatirkan kerut di dahi wanita itu, merasa bahagia bila melihat senyumnya, dan sakit hati ketika melihatnya menderita sakit di tangan.
“Aku tampaknya... benar-benar jatuh cinta padanya...” Syau Jue tersenyum pahit. Ia tak pernah menyangka akan benar-benar jatuh cinta pada Fang Liusu...
Jari-jarinya mencengkeram cawan giok putih, hampir menghancurkannya. Sorot matanya memancarkan amarah, penyesalan, sakit, dan rasa bersalah... “Sialan Fang Liusu, sialan Fang Liusu!”
Kenapa ia harus jatuh cinta pada Fang Liusu, kenapa Fang Liusu begitu menarik baginya? Dengan perasaan seperti ini, bagaimana ia bisa mempertanggungjawabkan pada Yao’er? Ekspresi Syau Jue makin pilu...
Ia mengambil satu kendi arak, menenggaknya langsung ke tenggorokan...
Syau Han menatap kakaknya yang mabuk karena cinta dengan terkejut, namun tak berusaha mencegah pelarian diri itu. Sorot matanya dalam, seolah sedang berpikir keras.
Kakak Ketujuh jatuh cinta pada Fang Liusu, sungguh! Wajah penuh derita seperti itu, belum pernah ia lihat, begitu hebat, begitu membara, seolah hendak membakar habis manusia.
Lalu, apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia tetap melanjutkan rencananya...?
Mana yang lebih penting, kebahagiaan Kakak Ketujuh atau wanita itu? Syau Han terjebak dalam pertentangan batin, tiba-tiba bertanya, “Kakak Ketujuh, kau tidak membencinya?”
Syau Jue sudah agak mabuk, mata dingin dan menawan itu tampak kemerahan, pipinya pun bersemu. Apakah ia membencinya? Tiba-tiba ia tertawa getir, “Benci? Ironisnya, aku tak pernah benar-benar membencinya...”
Penyiksaan kejam, sikap dingin dan acuh, semua hanya upaya melawan perasaannya yang makin dalam. Sayang, semua itu sia-sia, ia tetap membiarkan wanita itu masuk ke hatinya.
Semakin dalam...
“Lalu, bagaimana dengan Lin Yun’er? Ia mengandung anakmu!” Syau Han mengingatkan dengan datar. Sial, andai ia tahu semua akan begini, dulu ia tak akan membawa ketiganya pulang.
“Aku tak tahu, tak tahu...” Syau Jue bergumam...
Syau Han menghela napas, merebut kendi dari tangan kakaknya, lalu menopangnya, “Kau sudah mabuk, pikirkan baik-baik saat kau sadar. Aku antar kau istirahat.”
“Aku tidak mabuk!”
“Orang mabuk selalu bilang begitu!” Syau Han mencibir, memapahnya menuju paviliun pribadinya. Di tengah jalan, ia tiba-tiba berhenti, sebuah ide terlintas di benaknya, bibirnya melengkung membentuk senyuman nakal, ia pun berbelok ke arah Taman Wutong.
“Kakak Ketujuh, mumpung sedang mabuk, tunjukkan dirimu yang sebenarnya!” Syau Han tersenyum licik, mendorongnya masuk ke Taman Wutong. Konon, saat mabuk, manusia paling jujur. Ia hanya memberi mereka kesempatan.
Sambil mengusap dahi, ah... sepulangnya nanti ia harus menjelaskan dengan baik pada Jinxiu, sungguh merepotkan!