Bab Lima Puluh Delapan: Pertemuan Pertama
Wajah Lili tampak pucat seperti es, tubuhnya yang putih mulus menegang kaku, dan di dahinya muncul beberapa butir keringat dingin. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kematian begitu dekat dengannya.
Empat orang berpakaian hitam dengan wajah tertutup berdiri di depannya. Tatapan mereka sedingin es, tak berperasaan, mata mereka hitam dan kosong laksana lubang tak berdasar, menakutkan hingga membuat Lili serasa melihat malaikat maut mengayunkan sabit ke arahnya.
“Mengapa kalian ingin membunuhku?” Ia berusaha keras menahan agar suaranya tidak bergetar.
“Tanyakan saja pada raja kematian!” Suara dingin tanpa emosi itu meluncur keluar. Sinar tajam penuh niat membunuh mengarah ke lehernya. Lili refleks memejamkan mata.
Apakah aku akan mati sekarang?
Anehnya, saat itu ia justru merasa sangat tenang. Hatinya selayaknya danau yang damai, tak beriak, tenteram dan hening. Saat wajah Xiao Jue melintas dalam benaknya, senyum tipis muncul di sudut bibir Lili. Jika ia mati begini pun, Xiao Jue pasti takkan bersedih karenanya, sebab ia sudah membencinya hingga sedemikian rupa.
Saat suara angin terbelah oleh senjata tajam, sebuah anak panah kecil melesat dan menghantam pergelangan tangan orang berpakaian hitam. Terdengar denting logam jatuh ke tanah, disusul jeritan kesakitan. Lili spontan membuka matanya.
Ia melihat seorang pria paruh baya dengan wajah jujur berdiri kaku di sana, tubuhnya agak kekar, tatapan matanya dalam dan tenang. Wajah polosnya justru memberi rasa aman.
“Siapa kau, berani mencampuri urusan Istana Bulan Es?” bentak salah satu orang berpakaian hitam.
Pria paruh baya itu menatap tajam, “Kalian dari Istana Bulan Es? Hanya karena ucapan itu saja, kalian layak mati.”
Pedangnya terayun, hawa tajam menyapu keempat orang itu. Ia menghardik, “Cepat pergi!”
Mendengar itu, Lili ragu sebentar lalu segera berlari ke depan. Suara perkelahian di belakangnya semakin lama semakin jauh. Takut dikejar, ia memilih jalan-jalan kecil yang sepi. Setelah kira-kira seperempat jam, ia baru sadar kalau dirinya tersesat.
Pandangannya disambut oleh hamparan hutan bambu nan sunyi, aroma samar bunga persik menyeruak dari sela-sela bambu, membuat Lili tanpa sadar berhenti melangkah.
Bambu hijau berkilauan, angin sepoi membawa harum, udara sejuk meredakan ketegangannya. Ketakutan yang menyesakkan hati pelan-pelan luluh oleh kedamaian sekitar.
Jalan setapak berbatu biru, batu kerikil bulat—semuanya memancarkan nuansa elegan.
Tiba-tiba, terdengar alunan seruling nan jernih dan merdu. Dalam keheningan dan keindahan itu, suara seruling bak musik para dewa, memukau hati siapa saja yang mendengar.
Nada seruling yang mengalun lembut dan dingin menebarkan suasana sunyi, juga kesendirian, kesedihan, dan kepedihan yang mendalam.
Lili diam-diam mendengarkan, hatinya ikut larut dalam kesedihan seruling itu. Nuansa terasing yang terasa di udara seolah menular padanya.
Perasaan itu menggugah hatinya. Ia mengikuti alunan seruling, menyusuri jalan setapak berbatu, perlahan-lahan melangkah ke dalam hutan bambu.
Wangi bunga persik makin semerbak, harum menusuk indra. Detak jantung Lili bertambah cepat. Suara seruling itu seperti penuntun langkah, membawanya terus berjalan ke depan.
Di balik hutan bambu, berdirilah sebuah paviliun mungil dua lantai yang anggun. Bangunannya indah, penuh kesan terasing dari dunia. Lili kagum, jika bukan karena menembus hutan bambu, ia takkan tahu ada dunia lain di baliknya.
Akhirnya ia menemukan sang peniup seruling. Di bawah tiga empat pohon persik yang bermekaran indah, kelopak bunga beterbangan, hujan bunga menari tertiup angin, berputar di udara laksana selendang merah muda yang bersinar, anggun dan memesona...
Di bawah pohon persik, di atas kursi roda mewah berwarna keemasan, duduklah seorang lelaki muda. Hujan bunga jatuh menimpa rambut hitam dan jubah putih saljunya, menambah kesan sepi dan pilu. Usianya sekitar dua puluh tahun, wajahnya seputih giok, dingin bak salju, sepasang mata bening bagaikan batu permata hitam, dalam dan menawan. Namun yang paling menarik perhatian adalah setitik merah terang di tengah alisnya, seperti tetesan darah batu delima.
Merahnya menyala, indah bak bara api, memancarkan aura anggun dan penuh misteri, menghadirkan kesan tegas dan dingin, serta kesepian yang menusuk.
Setitik merah itu menambah kesan tenang dan sepi pada lelaki muda itu, membuatnya tampak luhur, terasing, sendu dan menawan.
Alunan serulingnya tiada duanya, keindahannya sulit dicari tandingannya, memancarkan bakat luar biasa.
Lili hanya bisa terpana, memuji keajaiban Sang Pencipta—ternyata di dunia ini ada lelaki semempesona itu.
Walau tak mampu berjalan, pesonanya tetap tiada tara!
Saking terpesona, Lili sampai lupa akan bahaya di sekelilingnya. Ketika suara angin menandakan ada bahaya, alunan seruling terhenti, lelaki di atas kursi roda itu mengangkat tatapannya, sorot matanya tajam, elegan dan tak tersentuh. Benang emas di tangannya meluncur cepat layaknya ular mungil, menembus ke belakang Lili, terdengar jeritan memilukan.
Benang emas itu menembus pergelangan tangan orang berpakaian hitam yang mengangkat pedang, memutuskan urat tangannya.
Lili terkejut hingga mundur beberapa langkah. Lelaki berbusana putih itu berwajah dingin bagai salju, suaranya pun sedingin es, “Berani menumpahkan darah di tempatku, benar-benar tak tahu diri!”
*
Hari ini tiga bab, ya! Aku akan terus berusaha!