Bab Tiga Puluh Tujuh
Penulis ingin menyampaikan sesuatu: Kebetulan saat ini Mawar di rumahku sedang berperang melawan penyakit dan kerja lembur, situasinya sungguh tidak baik, jadi semua pengetikan dan pembaruan naskah dilakukan olehku. Jadi, harap jangan berharap terlalu banyak pada kecepatan kerjaku.
Filoksil tersenyum ringan dan berkata, “Baiklah, mungkin otaknya tidak kemasukan air, hanya saja matanya yang kurang awas.”
Ucapannya membuat Soronol tidak bisa menahan tawa, dan tawa Soronol itu sukses membuat wajah sang ksatria memerah karena marah.
“Kalian telah mempermalukan seorang bangsawan, aku berhak—”
Kasihan sekali, kata-katanya hanya sampai di situ.
Karena tidurnya terganggu, suasana hati Filoksil benar-benar buruk. Ia sedikit meninggikan suaranya, “Aduh, benar-benar payah. Sepertinya bukan cuma otaknya yang rusak, tapi semuanya sudah busuk dan hanya bisa dibuang.”
Sambil berkata demikian, ia menggoyang-goyangkan dengan agak berlebihan sepotong kelabang bersayap yang sudah dibedah di tangannya, lalu melemparkan makhluk malang itu begitu saja.
Kali ini bukan hanya Soronol yang tertawa, beberapa orang lain dalam rombongan dagang pun tak kuasa menahan tawa tertahan.
Memang, dalam percakapan sebelumnya, baik Filoksil maupun Marian tidak pernah menyebut nama siapa pun secara langsung; ucapan barusan sepenuhnya bisa dianggap sebagai obrolan tentang kualitas bahan alkimia di tangan mereka. Ksatria malang itu jelas dihina, namun tidak punya alasan untuk membalas, hanya bisa menelan kekesalannya.
Tentu saja, kalau ia memang ingin mencari gara-gara tanpa alasan, itu juga bisa saja. Bagaimanapun, ia sudah menjadi ksatria resmi, yang berarti statusnya sudah setingkat bangsawan rendah. Meski tanpa alasan, mencari masalah dengan rakyat biasa bukan perkara sulit.
Namun, terlepas apakah ksatria muda nan angkuh itu akan bertindak semena-mena, perkembangan selanjutnya bukan lagi haknya untuk menentukan.
Kereta mewah itu selama mereka berbicara telah mendekat, setidaknya sudah cukup dekat sehingga tak perlu berteriak untuk bercakap-cakap.
Dari dalam kereta terdengar suara perempuan yang jernih, “Kueros, kenapa orang-orang ini belum juga menyingkir?”
Ksatria muda yang dipanggil Kueros menoleh ke arah kereta dengan hormat dan menjawab, “Nona Velikaf, mohon tunggu sebentar, akan segera saya usir mereka.”
Ia lalu berbalik ke arah rombongan dagang, wajahnya langsung berubah muram, lebih cepat dari lembaran buku yang dibalik.
“Nona Velikaf kelak akan menjadi pendeta perempuan Istana Malam Abadi, kalian rakyat bodoh berani menghalangi jalan Istana Malam Abadi, sudah bosan hidup, ya!”
Tuduhan yang dilontarkan benar-benar berat. Istana Malam Abadi itu apa? Itu adalah kediaman Pangeran Dewa Kegelapan, penguasa yang memegang kekuasaan religius dan kerajaan di dunia iblis.
Benar saja, setelah nama Istana Malam Abadi disebut, Sistin langsung panik. Jangan kan dia yang hanya pedagang kecil, bahkan bangsawan besar di ibu kota pun tak berani menyinggung Istana Malam Abadi. Ia pun buru-buru memerintahkan rombongan dagangnya untuk bergerak, suasana menjadi kacau.
“Pendeta perempuan Istana Malam Abadi? Jabatan penting, ya?” Filoksil bertanya-tanya sambil menoleh ke arah Soronol. Orang ini jelas berasal dari keluarga bangsawan besar, pastilah paham tentang seluk-beluk urusan semacam itu.
Nama Istana Malam Abadi memang sangat besar, tapi semuanya tetap tergantung siapa orangnya, kan? Para pelayan biasa, pengurus wanita, dan staf bawahannya pun tidak punya kuasa maupun pengaruh.
Pendeta perempuan? Itu pasti bagian dari sistem rohaniwan, jabatan mereka di atas pastor, berada di tingkat menengah dalam sistem kuil. Kecuali mereka yang memegang posisi penting, biasanya kewenangan mereka tidak besar.
Mendengar pertanyaan itu, Soronol dan Marian menampakkan ekspresi aneh, seolah pertanyaannya sangat konyol.
Sekejap saja Filoksil menyadari, sepertinya ia telah menanyakan hal yang sudah umum diketahui semua orang di dunia iblis.
“Ehem…” Soronol tampak canggung, “Begini… Yang Mulia Pangeran Dewa Kegelapan belum menikahi permaisuri, dan pendeta perempuan Istana Malam Abadi…”
“Selir?” Pantas saja ia tampak canggung. Urusan dalam keluarga kerajaan! Walaupun semua orang tahu, tetap saja bukan topik yang layak dibicarakan.
“Bukan selir, tak punya status apa pun,” Marian tampaknya memang kurang respek pada wanita-wanita yang menganggap kehormatan bisa tidur dengan Pangeran Dewa Kegelapan, nada bicaranya pun terdengar sinis.
“Jadi, kekasih?”
“Hampir begitu.”
Kedua wanita itu lalu berbisik pelan tentang topik itu, membuat Soronol yang berdiri di samping mereka semakin kikuk, sampai-sampai ia mundur selangkah agar menjauh dari dua wanita yang asyik bergosip.
Ketika para wanita bercakap-cakap, sebaiknya laki-laki tidak ikut campur. Soronol sangat paham akan hal itu, ia pun tidak mau mencari masalah sendiri!
Setidaknya Filoksil dan Marian sadar bahwa mereka sedang membicarakan kehidupan pribadi Pangeran Dewa Kegelapan, jadi suara mereka ditekan serendah mungkin, hampir seperti bisikan, sehingga Nona Velikaf yang menjadi bahan gosip itu tentu saja tidak tahu dirinya sedang diperbincangkan.
Rombongan dagang bergerak sangat lambat, kereta, hewan pengangkut, orang-orang, dan berbagai barang campur aduk, beberapa menit berlalu pun barisan mereka masih belum rapi, yang paling cepat pun baru bergeser sekitar sepuluh meter.
Berbeda dengan Filoksil dan kawan-kawan, mereka hanya membawa dua binatang hitam, seekor kadal belang raksasa, serta dua ekor kuda bertanduk sebagai pengangkut beban—sebagian besar barang rampasan sudah mereka jual di perjalanan, yang tersisa hanya yang sulit dijual atau bahan alkimia yang ingin disimpan Filoksil. Dua kuda itu pun diurus oleh orang-orang Sistin, jadi mereka sendiri tak perlu repot.
Karena itu, mereka bertiga sangat santai, dan pemandangan itu jelas membuat sang ksatria merasa sangat jengkel.
Ksatria yang sempat diejek otaknya tumpul itu sebenarnya masih punya sedikit akal sehat, hanya saja belakangan ia terlalu mabuk dengan kegembiraan karena keluarganya berhasil mendekat ke Istana Malam Abadi, kekuatan terbesar di dunia iblis, sehingga pikirannya agak linglung.
Namun, seberapapun linglungnya, ia tak berniat melampiaskan kemarahannya pada Filoksil dan kawan-kawan. Setelah kemarahan awalnya reda, ia pun sadar, dua wanita yang bicara sindiran itu jelas bukan rakyat biasa, dan pria yang sejak awal menertawakannya kemungkinan besar juga seorang bangsawan. Reaksi mereka saat diancam pun terlalu tenang. Sebelum mengetahui identitas mereka, Kueros hanya berani melampiaskan amarah pada para pedagang yang tengah panik.
“Ayo cepat, kalian semua!” Ia duduk di atas kudanya, mengayunkan cambuk sebagai ancaman, meski jelas lebih banyak menakut-nakuti daripada benar-benar ingin memukul.
Ancaman semacam itu memang ampuh bagi para pedagang. Meski sangat tidak rela, mereka tetap mempercepat langkah. Tak lama kemudian, sebagian besar orang dan kereta sudah menyingkir, lahan di depan rombongan Velikaf pun cukup untuk dilewati.
Seolah ingin menunjukkan kemampuannya dan mencari perhatian di hadapan nona yang akan masuk Istana Malam Abadi, Kueros berteriak lantang kepada rombongan dagang, “Mundur! Mundur! Kalian tidak layak mendekati kereta Nona Velikaf!”
“Sudahlah, Kueros, mereka cuma rakyat jelata, kita berangkat saja, jangan buang-buang waktu,” kata Nona Velikaf dari dalam kereta.
“Baik.”