Episode 10: Pembantaian di Malam Gelap
Senja telah tiba, matahari yang sekarat memancar merah seperti darah!
Orang yang haus darah, hati yang telah dirasuki kegilaan, Jiang Chen yang terjerumus dalam amukan pembantaian tanpa akhir, memperlihatkan ilmu meringankan tubuh yang tiada tandingannya, membuntuti beberapa prajurit berkuda Yuan-Mongol yang melarikan diri dengan panik. Tak lama kemudian, ia tiba di hadapan sebuah kota besar.
"Nanyang."
Dulu, kota ini adalah benteng Dinasti Song. Kini, ia telah menjadi pusat logistik utama bagi serbuan selatan pasukan Yuan-Mongol, tempat di mana logistik untuk dua ratus ribu tentara mereka ditimbun.
Tempat sepenting ini tentu dijaga ketat. Jiang Chen berdiri di bawah tembok kota, menengadah ke atas, dan melihat para prajurit pilihan Yuan-Mongol berpatroli di atas tembok.
Meski hari sudah larut, malam belum sepenuhnya turun. Jiang Chen sadar ini bukanlah saat yang tepat untuk bertindak, maka ia tidak gegabah. Ia pun mencari sudut sunyi, makan bekal kering dan meneguk air, lalu duduk bersila untuk menenangkan diri.
Tatkala membuka mata, waktu telah melewati tengah malam menuju dini hari. Jiang Chen bangkit, mengatur napas dan tubuhnya menjadi ringan, berlari ke bawah tembok, lalu memilih sudut yang gelap dan tersembunyi. Dengan ilmu merayap seperti cicak, ia memanjat tembok.
Jujur saja, Jiang Chen bersyukur telah mengambil resiko menjebak Qiu Qianren demi mendapatkan seluruh ilmunya.
Qiu Qianren memang pantas disebut sebagai salah satu guru besar ilmu bela diri di zamannya. Setelah menguasai ilmunya, Jiang Chen yang semula hanyalah seorang pemula, segera meloncat menjadi ahli setingkat guru besar. Meski kemajuan secepat ini pasti membawa risiko, bagi Jiang Chen yang sangat membutuhkan kekuatan, jelas lebih banyak untung daripada rugi.
Di zaman kacau seperti ini, kau boleh tak punya keturunan, pengetahuan, bahkan harta, tapi tak boleh tidak punya kekuatan. Jika tidak, siapa yang bisa menjamin nyawamu masih ada di detik berikutnya?
Tanpa suara, Jiang Chen memanjat tembok kota. Begitu mencapai bibir tembok, ia menunggu celah di antara patroli, lalu melompat masuk ke dalam kota.
Qiu Qianren terkenal dengan jurus Tapak Besi Meniti Air. Ilmu meringankan tubuhnya adalah yang terunggul di dunia ini, bahkan bila dibandingkan dengan para ahli dari Perguruan Makam Kuno yang terkenal karena kelincahan mereka, ia tak kalah sedikit pun. Ditambah dengan dorongan tenaga dalam yang digandakan oleh Jiang Chen, kecepatannya benar-benar tak masuk akal.
Karena itu, meski para prajurit elit Yuan-Mongol berpatroli dengan lentera dan obor, kecepatan Jiang Chen sedemikian rupa sehingga, bahkan di siang hari pun, asal ia sengaja bersembunyi, kecuali benar-benar seorang ahli, tak ada yang akan menyadari keberadaannya.
Setelah melompati tembok, Jiang Chen pun masuk ke dalam Kota Nanyang. Saat itu, jam malam sudah diberlakukan. Siapa pun yang berani berkeliaran, jika tertangkap patroli, akan langsung dibantai di tempat.
Aroma darah masih samar tercium di jalanan. Tak sulit menebak bahwa Yuan-Mongol menguasai kota Han ini dengan cara yang sangat keras.
Pembantaian dan invasi bangsa asing selalu membawa bencana paling mengerikan. Ketika Kota Nanyang jatuh, entah berapa ribu rakyat Han yang tewas. Semua tahu, prajurit Yuan-Mongol paling gemar melalukan pembantaian massal.
Terlebih, kini kota ini sudah menjadi gudang logistik Yuan-Mongol. Rakyat di dalamnya sudah nyaris habis dibantai. Meski sudah lama berlalu, bau amis darah masih menggantung di udara.
Jiang Chen menarik napas dalam, dadanya dipenuhi hasrat membunuh yang membuncah. Matanya memerah, tubuhnya seperti dirasuki setan malam. Ia melesat di antara bayang-bayang, hingga akhirnya di kejauhan tampak sebuah kamp militer.
Kamp itu sangat besar, di dalamnya berdiri beberapa lumbung raksasa, jelas merupakan salah satu tempat penyimpanan logistik Yuan-Mongol. Prajurit bersenjata mondar-mandir berpatroli di mana-mana.
Jiang Chen menunggu dengan sabar, lalu memanfaatkan celah dan menyelinap diam-diam ke dalam, masuk ke sebuah tenda.
Tenda itu berukuran sedang, di dalamnya tidur dua atau tiga puluh prajurit Yuan-Mongol, semua terlelap tanpa menyadari ada penyusup di antara mereka.
Tatapan Jiang Chen membara. Ia mendekat, menutup mulut dan hidung seorang prajurit dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menghunus belati dan dengan senyap mengiris lehernya.
Prajurit itu, sedang tidur lelap, tak pernah menduga malaikat maut datang di tengah malam. Bahkan berteriak pun ia tak sempat, langsung meregang nyawa.
Hasrat membunuh Jiang Chen membuncah. Ia mengulangi aksinya, dan dalam sekejap, semua prajurit di tenda itu tewas di tangannya.
Namun, ini barulah awal.
Selesai di satu tenda, Jiang Chen berpindah ke tenda berikutnya. Ia bergerak cepat seperti hantu, membantai para prajurit Yuan-Mongol dalam tidur mereka tanpa suara.
Menyadari Yuan-Mongol pasti menyimpan ahli bela diri, Jiang Chen tak berani lengah. Ia menambah kecepatan hingga batas tertinggi, berpindah dari satu tenda ke tenda lain. Tak lama, hampir seluruh kamp sudah ia jelajahi, dan setiap tenda yang ia datangi, seluruh penghuninya telah tewas.
Setelah menghabisi satu tenda lagi, Jiang Chen memperkirakan waktu. Jika ia terus bertahan, kemungkinan besar akan ketahuan. Walau ilmunya tinggi, jika terjebak di tengah lautan musuh, ia pun akan binasa. Terlebih, bila bertemu ahli Yuan-Mongol, ia yang masih setengah matang pun belum tentu mampu bertahan.
Begitu niat untuk mundur muncul, Jiang Chen segera meninggalkan kamp dengan diam-diam. Saat melihat beberapa lumbung besar terhampar di depan mata, muncul sebuah pikiran: sebelum pergi, ia harus memberi hadiah istimewa!
Dengan hati-hati, Jiang Chen mendekati lumbung. Seolah-olah dewa keberuntungan berpihak, di sebuah tenda dekat lumbung ia menemukan persediaan minuman keras.
Orang Yuan-Mongol gemar minum arak susu kuda, namun karena cuaca utara yang dingin, mereka juga menyukai minuman keras. Kebetulan, tenda ini berisi arak yang sangat kuat!
Setelah membunuh penjaga tanpa suara, Jiang Chen menuang semua arak itu ke atas lumbung, lalu menyulut api. Bahan logistik mudah terbakar, apalagi sudah disiram arak. Api pun langsung membesar, tertiup angin malam, meluas dengan cepat.
“Kebakaran! Kebakaran! Lumbung terbakar!”
Prajurit Yuan-Mongol yang berjaga memang tak mampu mendeteksi ahli setingkat Jiang Chen, tapi kobaran api yang membara setengah langit malam mustahil tak terlihat.
Sudah menjadi pepatah, sebelum bala tentara bergerak, logistik harus disiapkan lebih dulu. Bisa dibayangkan betapa pentingnya logistik bagi sebuah pasukan. Melihat lumbung terbakar, para prajurit Mongol segera berlarian mengambil air. Banyak pula yang berteriak-teriak ke seluruh kamp, dan saat itulah, mereka menyadari sesuatu yang lebih mengerikan.
Ternyata, banyak tenda telah berisi mayat prajurit, semuanya tewas dengan luka irisan di leher. Dari tenda ke tenda, tak ada satu pun yang selamat.
“Keparat, keparat!” Seorang pria yang tampaknya seorang komandan militer melompat-lompat marah, sambil mengatur anak buahnya memadamkan api dan memaki para penjaga.
Saat itu, Jiang Chen masih berada di sekitar situ. Penglihatannya tajam, ia mendengar sang komandan mengumpat, namun yang keluar hanyalah ocehan aneh yang tak ia mengerti. Dengan santai, ia memainkan belatinya, mengumpulkan tenaga dalam, dan melesatkan belati itu ke arah komandan.
Dalam gelap, senjata rahasia sulit terdeteksi, apalagi bila dilontarkan oleh ahli setingkat Jiang Chen. Ditambah kekacauan di dalam kamp, sang komandan bahkan tak sempat menyadari, belati itu sudah menembus lehernya.
Sebuah jeritan pendek terdengar, lalu sunyi. Tubuh sang komandan ambruk, darah mengucur deras, membasahi tanah di bawahnya. Para pengawalnya hanya bisa tertegun.
Jiang Chen tersenyum puas dan segera mengundurkan diri. Sebagai ahli luar biasa, di tengah kekacauan kamp dan kota Nanyang yang porak-poranda, ia bisa menghilang dengan mudah. Malam itu, setengah kamp Yuan-Mongol binasa, sebuah kebakaran hebat tak terpadamkan, menandai kelahiran dewa pembantai yang baru...