Bagian 47: Mewariskan Ilmu dan Keterampilan
“Wen, kejadian hari ini dampaknya benar-benar besar. Para tetangga punya banyak keberatan, dan atap ini... sepertinya tidak bisa lagi disewakan padamu.” Teman lama yang dulu menyewakan rumah kepada Ip Wen, adalah pemimpin redaksi sebuah surat kabar bernama Lin Gen. Ia sangat menghormati kepribadian dan kemampuan Ip Wen, dan hubungan mereka pun cukup dekat. Namun, karena tekanan dari banyak penghuni gedung, ia terpaksa datang menyampaikan keputusan tersebut.
Mendengar ucapan sahabatnya, wajah Ip Wen pun dipenuhi rasa canggung dan ia dengan tulus meminta maaf, “Maaf sekali, Kak Gen, aku telah merepotkanmu.”
Lin Gen lebih tinggi satu kepala dari Ip Wen, tubuhnya agak kurus, berkacamata, tipikal pemuda sastrawan. Melihat ekspresi Ip Wen, ia pun merasa tidak enak hati, menepuk pundak sahabatnya namun tak tahu harus berkata apa. Pada akhirnya, ia hanya bisa berkata lirih, “Maaf sekali, Wen. Benar-benar maaf. Aku... aku masih ada urusan di kantor. Aku pamit dulu.”
“Hati-hati di jalan, Kak Gen.” Meski memikirkan bahwa ia tidak lagi punya tempat untuk mengajar bela diri membuat wajah Ip Wen diliputi kegetiran, namun menyadari betapa besar masalah yang telah ia timbulkan bagi sahabatnya, ia benar-benar tak tega membuka mulut untuk meminta bantuan lagi.
Keluar dari situ, Lin Gen sempat menatap Huang Liang dan kawan-kawannya dengan tatapan kecewa, namun akhirnya ia tak berkata apa-apa lagi dan pergi begitu saja.
Melihat kepergian sahabatnya, Ip Wen terasa kehilangan, ia menghela napas dalam-dalam dan bertanya pada Jiang Chen, “Chen, apakah semua permintaan maaf dan ganti rugi kepada para tetangga sudah dilakukan?”
“Sudah, semua yang perlu kami minta maaf dan ganti rugi sudah dilakukan,” jawab Jiang Chen dengan nada menyesal. “Syukurlah, hanya ada beberapa barang yang rusak, tidak ada korban jiwa, jadi situasinya tidak terlalu parah. Tapi, keributan kali ini memang terlalu besar dan para tetangga sangat tidak senang.” Ia ragu sejenak, lalu bertanya, “Perlu aku carikan perguruan baru?”
“Tidak perlu. Daripada perguruan baru, yang mereka butuhkan sekarang adalah etika bela diri. Tanpa itu, perguruan sebagus apa pun tak ada gunanya,” jawab Ip Wen sambil melangkah keluar. Melihat para muridnya yang terluka dan kelelahan, ia hanya bisa merasa kesal sekaligus geli, lalu menggelengkan kepala dengan pasrah.
Melihat raut wajah sang guru, Huang Liang dihantui rasa bersalah. Kini ia benar-benar sadar telah membuat kesalahan besar.
Namun, Ip Wen tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk menegur mereka. Ia hanya berkata dengan tenang, “Aku rasa kalian semua sudah tahu, mulai sekarang kita tidak bisa lagi berlatih di sini.”
“Guru, itu bukan salah kami! Mereka yang lebih dulu datang mengacau dan melarang orang belajar bela diri di sini!”
“Mereka juga yang memulai perkelahian. Mereka memukul Da Tou lebih dulu, makanya kami turun tangan.”
“Mereka benar-benar keterlaluan. Ayo kita datangi perguruan mereka dan minta penjelasan!”
Mendengar kata-kata Ip Wen, Huang Liang dan yang lain langsung naik pitam, beramai-ramai bersikeras ingin mendatangi Perguruan Hong Zhen Nan untuk menuntut balas. Namun Ip Wen melambaikan tangan, menahan emosi para muridnya, dan berkata dengan santai, “Bereskan semua barang sebelum pergi. Boneka kayu latihannya bawa ke rumahku dulu.”
Sambil menggelengkan kepala, Ip Wen berjalan pergi dengan tangan di belakang. Huang Liang dan yang lain hanya bisa termangu menatap punggung sang guru yang semakin menjauh, lalu menundukkan kepala satu per satu.
Jiang Chen baru keluar dari dalam ruangan. Melihat para juniornya, ia yang tidak sepenyabar Ip Wen, berkata tajam, “Jangan cuma berdiri bengong di situ. Cepat bereskan semuanya. Mulai hari ini, kita latihan di pinggir jalan besar saja.”
Ia tahu, Ip Wen tadi pergi menemui Hong Zhen Nan demi para muridnya, bahkan sampai terjadi perkelahian hebat. Namun, apalah daya, yang sudah terjadi tidak bisa diubah. Mudah-mudahan, kejadian ini bisa menjadi pelajaran hidup bagi Huang Liang dan kawan-kawan.
Takut pada ketegasan Jiang Chen sebagai kakak senior, Huang Liang dan yang lain tak berani membantah. Meski hati penuh amarah dan penyesalan, mereka hanya bisa menurut, membersihkan atap, lalu membawa boneka kayu latihan ke rumah Ip Wen.
Zhang Yong Cheng, istri Ip Wen, sudah merasa tidak enak sejak Ip Wen dan Jiang Chen dipanggil tadi. Melihat keadaan ini, ia pun langsung mengerti bahwa perguruan mereka telah tertimpa masalah besar.
Jiang Chen buru-buru menenangkan, “Ibu Guru, tidak perlu khawatir. Masalahnya sudah selesai, sebentar lagi kami pasti menemukan perguruan baru.”
“Begitu ya,” jawab Zhang Yong Cheng datar. Ia tampak tidak terlalu peduli soal perguruan, namun siapa yang tidak khawatir pada suaminya? Ia tahu, yang bisa ia lakukan hanyalah diam. Baik atau buruk, diamnya adalah bentuk dukungan terbesar bagi Ip Wen.
Tak lama, Ip Wen pulang dari Perguruan Hong Zhen Nan. Ia meminta semua orang meletakkan boneka kayu di tempatnya, lalu berkata tenang, “Pulanglah dan istirahat yang cukup. Besok pagi, kita latihan di sini.”
Semua menatap ruangan kecil itu dengan ragu, “Latihan di sini?”
“Ya!” Ip Wen mengangguk. “Cepat pulang dan besok pagi datang lebih awal!”
“Kalau begitu... Guru, kami pamit dulu...” Meski ragu, mereka tetap menurut dan pergi satu per satu. Tak lama, hanya Ip Wen, Jiang Chen, dan Huang Liang yang tersisa di depan pintu.
Tiba-tiba, “Duk!” Huang Liang berlutut di depan Ip Wen. “Guru, aku yang terlalu emosional sampai membuat Guru kehilangan perguruan. Maafkan aku!”
“Ayo, bangun dulu.” Ip Wen buru-buru membantu Huang Liang berdiri, lalu menuangkan teh untuk Jiang Chen dan Huang Liang. Ia tersenyum ramah, “Ayo, duduklah, minum teh dulu, kita bicara pelan-pelan.”
Jiang Chen dan Huang Liang pun duduk. Ip Wen duduk di hadapan Huang Liang, menatapnya sambil tersenyum, “Chen, Liang, menurut kalian, apakah aku jago bertarung?”
“Tentu saja, Guru sangat hebat. Guru bisa melawan banyak orang sendirian,” jawab Huang Liang cepat.
“Lalu, dua puluh tahun lagi bagaimana?” Ip Wen tersenyum, “Dua puluh tahun lagi, kalian bisa mengalahkanku kapan saja. Manusia pasti menua. Di dunia ini, tidak ada yang paling hebat selamanya.”
Huang Liang tertegun mendengar itu. Ip Wen melanjutkan, “Liang, sebenarnya kau punya bakat dalam beladiri. Tapi yang kau kejar hanya jurus dan teknik. Aku ingin kau belajar seni bela diri Tiongkok, karena di dalamnya ada semangat dan moral bangsa kita, mengutamakan keseimbangan dan tidak mencari pertengkaran. Kau mengerti maksudku?”
“Aku...” Huang Liang tampak bingung, terdiam lama sebelum akhirnya menjawab lirih, “Aku masih perlu memikirkannya.”
“Hehe.” Jiang Chen tersenyum, “Kalau belum paham, jangan dipaksakan. Nanti juga akan mengerti. Suatu hari, kau pasti memahami makna kata-kata Guru. Sudah, hari sudah malam, Ibu Guru sedang mengandung, sebaiknya kita tidak mengganggu lebih lama.”
“Baik, Kakak Senior.” Kali ini, sapaan itu terlontar lebih tulus dari sebelumnya.
“Guru, kami pamit dulu.” Jiang Chen mengucapkan salam perpisahan, hendak pergi, namun Ip Wen tiba-tiba berkata,
“Chen, tunggu sebentar. Ada yang ingin aku sampaikan.”
Jiang Chen sempat terkejut, namun setelah sedikit ragu ia tetap tinggal. Tak lama, Ip Wen keluar dari kamar membawa sebuah buku bersampul benang yang tampak lusuh dan tua.
“Chen, ini catatan latihan dan pengalaman yang kutulis selama ini. Bacalah baik-baik. Sebenarnya sudah lama ingin kuberikan padamu, tapi karena kejadian ini jadi tertunda. Semoga belum terlambat.”
“Tentu saja belum terlambat.” Jiang Chen menerima buku itu dengan hati penuh haru. Bagi banyak orang mungkin buku itu tak berarti, tapi bagi seorang pesilat, nilainya tak ternilai. Tak disangka, sang guru memberikannya begitu saja.
“Kalau begitu, baguslah.” Ip Wen tersenyum, lalu melambaikan tangan, “Sudah malam, pulanglah dan istirahat. Besok pagi, jangan lupa datang latihan.”
“Guru...” Jiang Chen begitu terharu, ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-katanya tercekat di tenggorokan.
“Pulanglah.” Ip Wen menepuk pundaknya dengan senyum, mengekspresikan rasa sayang dan terima kasihnya sebagai seorang guru.
“Guru, selamat malam.” Jiang Chen tidak berkata lagi, berpamitan, dan menggenggam erat buku itu lalu pergi.
“Suamiku, Chen dan yang lain sudah pulang?” Zhang Yong Cheng keluar dari dalam. Melihat Jiang Chen yang semakin menjauh, ia berkata pada Ip Wen, “Kau telah memilih murid yang baik.”
“Iya, dia memang luar biasa,” jawab Ip Wen sambil tersenyum. “Bakat Chen sangat besar. Selama ia mau rajin berlatih, masa depannya akan sangat cerah...”