Bab Dua Belas: Perlu Bantuan dariku?
Orang itu menjawab, “Ada. Demi melindungi benda itu, pemilik rumah ini menghabiskan banyak uang untuk menyewa sembilan belas pendekar dunia persilatan.”
“Sebanyak itu?” Suara tawa ringan terdengar dari Bibir Brahmana, “Kalau begitu, aku jadi penasaran, sebenarnya benda apa yang kau incar?” Bibir Brahmana mendadak mengubah nada bicara, “Jangan-jangan benda itu juga yang diminta orang misterius itu agar aku mengambilnya?”
Orang itu menatapnya lekat-lekat, “Kalau memang benar, apa kau akan bersaing denganku?”
Bibir Brahmana tertawa, “Kalau benar begitu, kau takkan mau bertransaksi denganku.”
Bibir Brahmana menekan lembaran gambar di atas meja dan melanjutkan, “Kalau sudah ada sembilan belas pendekar menjaga, merebut secara paksa jelas mustahil. Kita harus menggunakan tipu muslihat... Apakah akhir-akhir ini ada peristiwa besar di rumah itu?”
Orang itu berpikir sejenak, “Putra bungsu tuan rumah akan segera berulang tahun.”
“Kalau begitu, kita tentukan hari itu saja.” Bibir Brahmana membuka kotak rias, mengambil pensil alis, menyentuhnya ke ujung lidah, lalu menulis sesuatu di balik kertas itu dengan tulisan besar dan indah. Ia menyerahkannya pada orang itu, “Mumpung masih ada waktu, siapkan semua yang tertulis di sini, giling hingga menjadi bubuk, dan bawa pada hari kita beraksi.”
Orang itu menerima dan bertanya, “Apa ini?”
Bibir Brahmana menjawab dengan penuh rahasia, “Nanti juga kau akan tahu.”
Orang itu menyimpan kertas itu, berkata lirih, “Baiklah, tiga hari lagi, jam yang sama, kita bertemu di Istana Qihu.”
Orang itu pun hendak pergi, Bibir Brahmana buru-buru memanggilnya, “Tunggu, kalau kita sudah bekerja sama, paling tidak kau harus memberitahuku namamu.”
Orang itu tak berbalik, hanya menoleh, menampakkan separuh wajahnya yang sempurna dari samping, “Yin Jie.”
Tiga hari berlalu dengan cepat.
Menjelang tengah malam, Bibir Brahmana tiba tepat waktu di Istana Qihu, di mana Yin Jie sudah lebih dulu menunggu.
Bibir Brahmana berkata, “Kau pilih lokasi di Istana Qihu, tak takut bertemu orang lain?”
Yin Jie jelas tahu siapa yang dimaksud ‘orang lain’ oleh Bibir Brahmana, ia hanya menjawab datar, “Dia hanya muncul sebelum dan sesudah malam bulan purnama.”
Bibir Brahmana mencibir, “Kau rupanya paham betul. Sudah bawa semua barangnya?”
Yin Jie mengangguk, “Sudah.”
Bibir Brahmana berkata, “Mari kita berangkat.”
Namun Yin Jie tak langsung melangkah, “Sudah diatur semua urusan di istanamu? Perjalanan kali ini setidaknya akan menghabiskan waktu seharian penuh.”
Bibir Brahmana tidak menyangka ia akan peduli soal itu, lalu tertawa, “Tenang saja, aku sudah bilang pada mereka bahwa beberapa hari ini aku akan bertapa. Apa pun yang terjadi, tak boleh ada yang mengganggu.”
Mendengar kata ‘bertapa’, Yin Jie sempat tertegun. Rasanya tidak pantas kata itu keluar dari mulut seorang selir istana, tapi mengingat segala tingkah dan ucapannya, apa pun yang ia lakukan memang sulit untuk dibilang aneh.
Yin Jie menjejakkan ujung kaki, melompat ke atas atap tinggi. Malam gelap dan angin kencang, ia melesat bak angsa liar yang melayang-layang, kadang tampak kadang hilang dari pandangan.
Sungguh indah gerakannya! Bibir Brahmana membatin. Untung saja penglihatannya tajam, ia pun menggunakan jurus sembilan langkah ciptaannya sendiri, berusaha mengejar di tanah datar. Namun, begitu sampai di tembok istana, ia terhenti. Tembok itu terlalu tinggi, beberapa meter tingginya. Dengan kemampuannya kini, ia belum mampu memanjatnya.
Bibir Brahmana bertolak pinggang, dalam hati mengeluh, dulu jangankan tembok setinggi itu, ke langit pun cukup dengan kehendak. Kini semuanya kembali ke awal, tak bisa tidak, ia merasa canggung.
Sedang menakar tinggi tembok, Yin Jie kembali. Ia berdiri di puncak tembok, menunduk, suara lirih hanya terdengar oleh Bibir Brahmana, “Perlu bantuanku?”
Kalau saja Yin Jie tak bicara, Bibir Brahmana mungkin tak akan sewot. Bukankah ini cuma tembok kecil? Perlu-perlunya kau pamer di depanku?
Bibir Brahmana membentuk kata dengan mulut, “Tidak perlu.”
Lalu ia mundur beberapa langkah, menyiapkan tenaga, kedua kakinya melesat laksana kelinci, berusaha keras naik ke tembok. Sayang, tenaga dalamnya belum cukup hingga ke puncak. Saat hampir kehabisan tenaga, Bibir Brahmana berputar di udara, entah dari mana, ia mengeluarkan sebuah kait dan melemparkannya ke puncak tembok, tepat sasaran. Dengan bantuan tali, ia pun melompat naik dengan mudah.
Begitu kait ditarik kembali dengan suara mendesis, Bibir Brahmana menatap Yin Jie dengan penuh kemenangan.
Yin Jie agak heran, tak tahu apa yang membuat Bibir Brahmana begitu puas. Ia sudah bersikap baik dan kembali untuk membantu, tapi kenapa ia merasa ditantang?
Urat di kening Yin Jie berdenyut. Mendadak muncul semangat persaingan dalam dirinya, ia pun membalas tatapan Bibir Brahmana, merentangkan tangan, lalu membiarkan tubuhnya jatuh ke bawah dengan ringan seperti bulu.
Bibir Brahmana hanya bisa terdiam.
Di bawah tembok, Yin Jie mendarat dengan mantap, berdiri dengan tangan di belakang, meski menengadah, tetap tampak sedikit angkuh. Ia mengulang pertanyaan barusan, “Perlu bantuanku?”
Bibir Brahmana menahan amarah, memaksa tersenyum kaku, “Tidak! Perlu!”
Bibir Brahmana menarik napas dalam. Kata orang, ‘naik gunung mudah, turun gunung sulit,’ naik saja sudah susah, apalagi turun. Ia menahan kegelisahan, lalu membalikkan tubuh, meniru gerakan Yin Jie, memeluk tubuh sendiri dan menjatuhkan diri ke belakang.
Yin Jie sama sekali tak menduga ia akan melompat turun dengan cara seperti itu, matanya langsung membelalak. Ia pernah mencicipi kekuatan Bibir Brahmana, sangat lemah, turun seperti ini pasti akan remuk!
Yin Jie refleks ingin menangkapnya, namun saat Bibir Brahmana hampir tiga jengkal dari tanah, ia tiba-tiba membalik tubuh dan menghantam tanah dengan telapak tangan, sehingga bisa mendarat dengan selamat.
Yin Jie meliriknya, menarik kembali tangannya dengan kesal, menyindir, “Banyak juga alat kecil yang kau siapkan?”
Bibir Brahmana mengangkat dagu, “Lumayanlah.”
Yin Jie menggenggam tangan tanpa ekspresi, membalas, “Kalau begitu, semoga nanti Nona Lu tidak menjadi beban.”
Bibir Brahmana mengatupkan gigi, lalu memukul punggung Yin Jie dengan keras.
Dasar anak kurang ajar! Aku tak akan membiarkanmu lolos begitu saja!
Setengah batang dupa kemudian, mereka tiba di penginapan tak jauh dari rumah besar itu. Yin Jie sudah memesan kamar sebelumnya, ia melemparkan kunci pada Bibir Brahmana, “Besok jam tujuh pagi, kita bertemu di sini.”
“Baik.” Dasar anak sombong.
Malam berlalu tanpa kejadian.
Ini adalah kali pertama Bibir Brahmana bermalam di luar istana sejak ia terlahir kembali. Ketika pagi tiba, ia merasakan kebebasan yang tak bisa diungkapkan. Bersandar di jendela, ia memandangi hilir-mudik orang-orang dari berbagai rupa, hatinya pun melayang.
Inilah rasa kebebasan.
Jauh lebih baik daripada belenggu tembok tinggi istana.
Kalau nanti ada kesempatan, ia pasti akan bebas dari lautan penderitaan dan hidup sebebas-bebasnya.
Sedang asyik melamun, tiba-tiba sosok yang dikenalnya lewat di depan mata. Ia memperhatikan dengan saksama, bukankah itu anak kurang ajar itu? Pagi-pagi begini, mau ke mana dia? Padahal masih belum waktunya.
Bibir Brahmana keluar untuk menyapa, namun di depannya datang seorang pria berwajah pucat dengan fitur yang sangat biasa.
Eh? Bukan dia? Jangan-jangan salah orang?
Bibir Brahmana berkedip, dari postur memang Yin Jie, tapi wajah... “Kau menyamar?”
Yin Jie mengangguk tanpa ragu, “Ya.”
Bibir Brahmana menunjuk barang di tangannya, “Apa itu?”
Yin Jie menjawab, “Hadiah ulang tahun untuk putra bungsu. Tak mungkin datang dengan tangan kosong, kan?”
“Oh.” Bibir Brahmana menatap wajah Yin Jie tanpa berkedip, memuji keahlian penyamarannya yang luar biasa. Ia sudah mengamati lama, tetap tak menemukan kejanggalan, apalagi orang lain. Tapi, ia sendiri juga butuh penyamaran sederhana, siapa tahu nanti ada yang mengenalinya.
“Pinjamkan padaku juga,” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Apa?” tanya Yin Jie.
“Peralatan penyamaran.”
Yin Jie mengobrak-abrik bajunya, lalu mengeluarkan sebuah kumis palsu yang ujungnya melengkung.