Setelah sekian lama menekuni ilmu suci, Fan Yin akhirnya hampir berhasil; hanya menunggu satu kali cobaan petir sebelum ia dapat menembus langit dan menjadi Raja Iblis pertama sejak dunia tercipta. Tak disangka, petir yang menggelegar justru mengakhiri hidupnya. Saat ia membuka mata kembali, ia telah menjadi seorang selir istana Dinasti Liang bernama Lu Xiansi, di dunia yang asing baginya. Fan Yin tidak terima dengan nasib ini. Ia bersumpah akan meniti kembali jalan iblis, mengerahkan segala cara, dan menempuh delapan puluh satu penderitaan. Namun akhirnya, ketika menatap perutnya yang mulai membuncit, ia terdiam dalam kebingungan. Ini tidak benar. Bukankah kultivasi ganda seharusnya membangkitkan kembali jalur iblis? Mengapa sekarang justru seperti mengandung bola? Sementara itu, Pei Suyu demi menyelamatkan nyawa, terpaksa naik takhta menjadi Kaisar Liang. Selain harus menghadapi para pejabat dan jenderal yang mengincar tahtanya, ia juga harus waspada terhadap mata-mata dari negeri musuh. Salah satunya adalah Lu Xiansi, wanita muda istana yang menyamar dengan sandi “Fan Yin”. Tak disangka, suatu kejadian membuat sang mata-mata berubah haluan. Ia tidak lagi meneruskan informasi ke negeri musuh, malah fokus pada intrik istana, bersaing merebut perhatian kaisar dan berusaha naik pangkat. Pei Suyu pun setengah rela setengah terpaksa, memanfaatkan identitas samarannya untuk memerintahkannya mencari harta karun, mencuri lambang komando militer, menyingkirkan para pesaing, dan mengatasi berbagai kesulitan. Namun pada akhirnya, ia menyadari bahwa semua yang dilakukan Lu Xiansi hanyalah demi menekuni jalan iblis… Ah, ini… Setelah mengetahui kebenaran, Pei Suyu hanya bisa berkata, “Dia benar-benar celaka.” Sedangkan Fan Yin yang telah membongkar penyamaran Pei Suyu, bergumam, “Dia juga habis sudah.”
Sss... Sakit.
Sakit sekali.
Seolah ada sesuatu yang meledak di dalam kepalanya, berdengung tak henti.
Mata Banyu tertutup rapat, ia bergulat beberapa saat, lalu tiba-tiba membuka mata. Rasa sakit yang menyiksa itu lenyap begitu ia membuka mata.
Banyu terengah-engah seperti baru saja lolos dari maut. Butuh waktu lama sebelum ia mengingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan. Petir surgawi, benar, sebelum ia tertidur, ia sedang menahan delapan puluh satu sambaran petir surgawi. Asalkan berhasil melewati cobaan itu, ia bisa naik menjadi Penguasa Iblis. Tapi kemudian... kenapa ia tiba-tiba pingsan?
Banyu bangkit, menggelengkan kepalanya, tiba-tiba penglihatannya menjadi putih benderang. Saat itu ia teringat, ia jelas telah menahan delapan puluh satu petir, namun saat hampir berhasil naik tingkat, langit kembali menghantamnya dengan satu petir putih yang kejam!
"Dasar Hukum Langit tua bangka! Menghitung sambaran petir saja salah! Sembilan kali sembilan delapan puluh satu! Kau sengaja kirimkan petir ke delapan puluh dua supaya aku mati, ya?! Huh!"
Banyu memaki dengan tangan di pinggang, tapi belum selesai mengumpat, ia tiba-tiba menyadari ada yang tak beres—sejak kapan pinggangnya jadi selangsing ini? Ia pun menegakkan badan, mengukur ke kiri dan ke kanan, benar-benar ramping! Ia segera menunduk ingin melihat, tapi tidak tampak. Lalu muncul pertanyaan kedua di benaknya—sejak kapan dadanya jadi sebesar ini?! Apa karena disambar petir?
Sepasang mata indahnya membelalak bulat. Tak percaya, ia meraba dadanya—ternyata benar!