Bab Enam Puluh Satu: Dirampas
“Mayat Berdarah?”
Aku dan Su Zimo sama-sama menoleh ke arah si Kepala Plontos. Ini pertama kalinya aku mendengar soal makhluk yang disebut mayat berdarah. Kali ini aku tidak menanyakan detail tentangnya, hanya bertanya, “Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” Dari namanya saja, aku tahu makhluk ini pasti sangat sulit dihadapi.
“Kita tidak boleh membiarkan mayat berdarah itu lolos!” Paman Kedua mengernyitkan dahi, lalu tiba-tiba berkata dengan suara berat. “Hm?” Aku sedikit ragu saat mendengar ucapannya, namun saat kulihat ke arah Kepala Plontos, dia pun ternyata mengangguk. Kepala Plontos menatapku, seolah mengerti kebingunganku, lalu berkata dengan serius, “Jika mayat berdarah ini tidak segera diselesaikan, akibatnya akan sangat merepotkan.”
Saat itu aku memang sudah bisa melihat betapa mengerikannya makhluk ini. Namun, ketika mataku tertuju ke arah Kakek Jiang dan yang lain, aku pun menyadari meski wajah mereka tampak pucat, tak satu pun dari mereka berniat pergi.
“Kepala Plontos, kau jaga Xiuyuan dan yang lain di sini, aku akan menghadapi mayat berdarah itu!” Setelah berkata demikian dengan datar, Paman Kedua langsung melangkah keluar. Sementara dari sisi lain, Gu Sheng dan para pengawalnya juga keluar, jelas mereka pun tak berniat membiarkan makhluk itu kabur.
Mayat berdarah itu tampaknya sadar kalau Paman Kedua dan Gu Sheng hendak bertindak, ia berjalan keluar dari reruntuhan beton dan langsung bertarung dengan mereka. Kali ini, aku benar-benar bisa mengamati kemampuan Paman Kedua dan Gu Sheng. Gu Sheng dan Kepala Plontos serupa, keduanya mengandalkan jimat. Tiap kali jimat itu mengenai mayat berdarah, langsung meledakkan kekuatan besar. Sedangkan Paman Kedua lebih mengandalkan kekuatan fisik, menghajar dengan tangan kosong. Para pengawal yang lain, meski berniat membantu, nyatanya tak banyak yang bisa mereka lakukan.
Kami bertiga hanya dapat mengamati dari sisi lain, namun tatapan kami tetap tertuju pada kelompok Kakek Jiang. Pertarungan berlangsung sekitar lima menit, hingga akhirnya mayat berdarah itu tak sanggup bertahan, tubuhnya bahkan nyaris roboh.
Aku mengerutkan kening. Saat mengingat ekspresi Paman Kedua dan Kepala Plontos tadi, aku merasa ada yang aneh. Bukankah mayat berdarah ini seharusnya tak semudah itu dikalahkan? Aku bertanya pada Kepala Plontos, “Tuan, kenapa mayat berdarah ini kelihatan lemah sekali?”
Kepala Plontos juga mengerutkan alis, lalu meneliti sekeliling ruang persembahyangan sebelum akhirnya berkata, “Jika dugaanku benar, kekuatan mayat berdarah ini belum sempat benar-benar berkembang! Ia belum cukup lama menyerap hawa kematian dan aura mayat. Karena itu, kekuatannya masih lemah. Kalau saja kita tadi tak datang, dan Gu Sheng serta pengawalnya tak membongkar beton itu, kita pasti takkan tahu soal makhluk ini. Jika beberapa tahun lagi baru ditemukan, mungkin Paman Kedua-mu sendiri pun akan kesulitan menghadapinya.”
“Jadi begitu rupanya!” Aku mengangguk paham. Menurut Paman Kedua, seluruh hawa kematian dan dendam di Desa Peiyang diserap oleh mayat berdarah ini. Di satu sisi, hal itu membuat para penduduk desa bisa tetap hidup dalam bentuk lain, tak berubah jadi zombie. Namun di sisi lain, mayat berdarah itu justru menguatkan dirinya dengan semua hawa busuk itu.
Namun, semakin kupikirkan, semakin besar rasa penasaranku. Kalau memang kejadiannya seperti ini, jelas mayat berdarah itu bukan buatan penduduk desa sendiri. Atau setidaknya, makhluk tersebut baru ditempatkan di sini setelah tragedi menimpa Desa Peiyang.
Aku menoleh ke arah kepala desa yang terduduk lemas di lantai dengan wajah rumit. Di desa ini, hanya dialah yang berbeda dari yang lain, tepatnya, hanya dia yang benar-benar manusia. Jika ada seseorang yang mungkin melakukan semua ini, hanya dia yang mampu!
Su Zimo bersembunyi di belakangku. Mendengar uraian itu, ia tak tahan bertanya, “Jadi, apa yang dilakukan Kakek Jiang dan yang lain itu memang untuk mencegah mayat berdarah jadi semakin kuat?”
Setelah mendengar pertanyaannya, aku dan Kepala Plontos saling berpandangan sejenak, lalu sama-sama menggeleng. Aku lebih dulu menjawab, “Kurasa bukan begitu. Tadi, setelah mereka melihat mayat berdarah itu, mereka pun sempat terkejut, jelas ini di luar dugaan mereka.”
“Benar yang dikatakan Xiuyuan!” Kepala Plontos mengangguk dan menambahkan, “Mereka ikut membantu kita melawan mayat berdarah itu karena takut juga. Setelah makhluk itu bangun, siapa pun yang dilihatnya pasti dianggap mangsa. Kita semua makanan baginya, ia takkan membiarkan satu pun lolos. Mereka memilih tetap di sini demi memastikan masalah tuntas sekarang juga. Lagi pula, dengan bantuan Paman Kedua-mu, urusan ini jadi jauh lebih mudah.”
Tiba-tiba, tubuh mayat berdarah itu terlempar ke udara, menghantam tembok di sisi ruang persembahyangan. Butuh waktu lama sebelum ia bisa bangkit lagi.
Paman Kedua dan Gu Sheng berdiri di tempat, mengambil napas sejenak. Namun, ketika Paman Kedua hendak benar-benar mengakhiri makhluk itu, tiba-tiba ada suara keras. Jendela di sisi ruangan mendadak ditendang dari luar, lalu seseorang dengan mantel hitam dan topeng menyeramkan di wajahnya melompat masuk.
Kejadian mendadak ini benar-benar mengejutkan kami, sebab kami tak pernah menyadari ada orang lain di luar sana, apalagi mengintai sejak tadi. Paman Kedua dan Gu Sheng pun terdiam sejenak.
Orang misterius itu, tanpa ragu sedikit pun, langsung berjalan ke arah mayat berdarah, entah memasukkan apa ke mulutnya, lalu mencengkeram lengannya dan melompat keluar lewat jendela. Semua itu terjadi dalam hitungan detik, kami bahkan tak sempat bereaksi.
“Sialan, berhenti!” Paman Kedua yang pertama kali sadar. Begitu melihat aksi orang itu, ia langsung berteriak dan mengejar dengan cepat.
Setelah Paman Kedua dan orang misterius itu menghilang, Gu Sheng pun menyusul. Aku dan Kepala Plontos sempat ingin menyusul, tapi begitu tiba di jendela, kami tak lagi melihat jejak mereka.
Karena tak tahu ke mana mereka pergi, kami bertiga hanya bisa menunggu di dalam ruang persembahyangan. Waktu berlalu hingga sepuluh menit, barulah Paman Kedua kembali dengan wajah muram, diikuti Gu Sheng yang juga terlihat sangat kesal.
Gu Sheng langsung berjalan ke arah Zhao Ge dan yang lain, tampaknya hendak menjelaskan apa yang baru saja terjadi.
Aku dan Kepala Plontos segera menghampiri Paman Kedua. Aku bertanya cemas, “Paman, kau berhasil menangkap orang itu?”
Paman Kedua menggeleng. “Tidak, begitu keluar desa, dia langsung lenyap tanpa jejak!”
Mendengar jawabannya, wajahku dan Kepala Plontos sama-sama berubah suram. Kami tahu persis kemampuan Paman Kedua. Orang misterius itu bahkan membawa mayat berdarah yang sudah tak berdaya, namun Paman Kedua tetap tak mampu menangkapnya. Bukankah itu berarti, setidaknya dalam hal kecepatan, orang itu jauh melampaui Paman Kedua?
“Apakah orang itu sudah lama mengintai mayat berdarah ini?” Kepala Plontos berkata pelan, melihat dari cara orang misterius itu membawa mayat berdarah, jelas semua sudah direncanakan matang.
Saat kami tengah berbincang, kelompok Kakek Jiang mendekat. Aku dan Kepala Plontos langsung waspada, sebab kini mayat berdarah sudah dibawa kabur, dan hubungan kita berubah menjadi lawan.
Namun begitu Kakek Jiang berdiri di depan kami, ia tak menunjukkan tanda-tanda hendak bertindak. Ia justru menatap Paman Kedua, lalu berkata dengan makna mendalam, “Sepertinya, kali ini aku dan kau sama-sama dipermainkan orang.”
Paman Kedua menyipitkan mata, tak menjawab. Kepala Plontos maju selangkah, bertanya, “Maksudmu apa?”
“Maksudku sama seperti yang kau dengar!” Kakek Jiang tersenyum sinis. “Kau benar-benar percaya kalau benda yang dulu disembah di ruang persembahyangan ini adalah mayat berdarah itu? Jika memang itu, aku takkan repot-repot datang kemari!”
Aku sempat tertegun mendengar ucapannya, tapi setelah berpikir sejenak, aku pun paham. Seperti yang tadi kami bicarakan, mayat berdarah itu jelas sengaja ditempatkan di sini setelah tragedi menimpa Desa Peiyang. Sebelum itu, di ruang persembahyangan ini pasti ada benda lain.
Bahkan, bisa jadi wujud benda itu yang disegel dan dibungkus pun sangat mirip dengan mayat berdarah ini. Kalau tidak, dengan karakter Kakek Jiang dan kelompoknya, mereka pasti takkan salah, apalagi sampai membongkar beton dan membebaskan makhluk itu!