Bab 30 Kemenangan
Ketika Ding Yi selesai berbicara, fajar telah menyingsing di luar, kota yang dilanda perang menyambut pagi yang baru.
“Kau pandai mengarang, kalau tujuannya untuk menghiburku, kau berhasil,” kataku.
“Kau pikir semua yang baru saja kau dengar itu bisa aku karang begitu saja?”
“Keadaan kuantum dirinya diamati kalian sekian lama, mengapa tidak juga runtuh?”
“Sesungguhnya, sejak pertama kali ditemukan keberadaan keadaan kuantum makroskopis, aku selalu memikirkan satu hal: individu sadar dalam keadaan kuantum berbeda secara mendasar dengan kuantum biasa yang tak punya kesadaran. Dalam fungsi gelombang untuk yang pertama, kita mengabaikan satu parameter krusial, yaitu seorang pengamat. Lebih tepatnya, kita mengabaikan pengamat itu sendiri.”
“Pengamat? Siapa?”
“Dirinya sendiri. Tidak seperti partikel kuantum biasa, individu dalam keadaan kuantum yang memiliki kesadaran mampu mengamati dirinya sendiri.”
“Begitu, lalu apa gunanya pengamatan diri ini?”
“Kau sudah lihat sendiri, ia bisa meniadakan efek pengamat lain dan mempertahankan keadaan kuantum agar tidak runtuh.”
“Lalu, bagaimana proses pengamatan diri itu terjadi?”
“Itu pasti proses yang amat rumit, bahkan sulit kita bayangkan.”
“Apakah dia masih akan kembali seperti tadi?” Aku bertanya penuh harap pada pertanyaan terpenting itu.
“Mungkin tidak lagi. Entitas yang beresonansi dengan energi makrofusi, untuk beberapa waktu setelah resonansi terjadi, peluang untuk tetap eksis lebih besar daripada peluang musnah. Itulah sebabnya kita bisa melihat awan probabilitas saat fusi berlangsung. Tapi setelah waktu berlalu, keadaan kuantum akan meluruh, akhirnya kemungkinan musnah jauh lebih besar daripada eksis.”
“Oh—” Suara itu keluar begitu saja dari relung hatiku.
“Tapi, keadaan eksis itu, sekecil apa pun peluangnya, tetaplah ada.”
“Seperti harapan,” ujarku, berusaha membebaskan diri dari keletihan batin.
“Ya, seperti harapan,” sahut Ding Yi.
Seolah menjawab kata-kata Ding Yi, dari luar jendela terdengar suara riuh. Aku berjalan ke jendela dan menengok ke bawah, ternyata di luar sudah banyak orang, dan terus saja orang-orang berhamburan keluar dari gedung. Mereka bergerombol, berbincang dengan penuh semangat, dan yang paling mengejutkanku adalah ekspresi wajah mereka: senyum cerah terlukis di setiap wajah seakan matahari telah terbit lebih awal. Sejak perang pecah, baru kali ini aku melihat senyum seperti itu, dan kini begitu banyak orang memakainya serempak.
“Kita turun ke bawah,” kata Ding Yi, sambil mengambil setengah botol arak Merah Bintang di atas meja.
“Mau apa bawa arak?” tanyaku.
“Mungkin nanti kita akan membutuhkannya. Tentu saja, kalau aku salah duga, jangan kau tertawakan aku.”
Begitu kami keluar dari pintu gedung, seorang berlari ke arah kami dari kerumunan. Itu Gao Bo. Aku bertanya ada apa.
“Perang sudah berakhir!” teriaknya.
“Kita menyerah?” tanyaku.
“Kita menang! Aliansi musuh telah runtuh, mereka mengumumkan gencatan senjata sepihak dan mulai menarik pasukan. Kita menang!”
“Kau sedang bermimpi.” Pandanganku beralih dari Gao Bo ke wajah Ding Yi. Yang bersangkutan tampaknya tidak terkejut.
“Kau sendiri yang bermimpi! Semua orang semalaman mengikuti perkembangan perundingan. Kau sendiri ke mana? Tidur?” sahut Gao Bo, lalu dengan riang bergabung dengan kelompok orang yang lebih besar.
“Kau sudah memperkirakannya?” tanyaku pada Ding Yi.
“Aku tak punya penglihatan sejauh itu, tapi ayah Lin Yun sudah menduganya. Setelah Lin Yun menghilang, ia berkata bahwa makrofusi mungkin akan mengakhiri perang.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Sebenarnya sederhana saja: ketika kebenaran tentang bencana kehancuran besar chip ini diumumkan ke dunia luar, seluruh dunia dibuat terpana.”
Aku tersenyum sambil menggeleng. “Mana mungkin? Senjata nuklir termal yang kita miliki saja tak bisa membuat mereka gentar.”
“Itu berbeda dengan senjata nuklir termal. Ada satu kemungkinan yang tak terpikirkan olehmu.”
Aku memandang Ding Yi dengan bingung.
“Bayangkan, jika semua bom nuklir kita diledakkan di tanah air sendiri, apa yang akan terjadi?”
“Hanya orang bodoh yang mau melakukan itu.”
“Tapi, andaikan kita punya banyak senar yang bisa menghancurkan chip, katakanlah seratus buah, lalu kita lakukan makrofusi satu per satu di wilayah sendiri, apakah itu juga tindakan bodoh?”
Dengan petunjuk Ding Yi, aku segera menyadari kemungkinan yang ia maksud. Andaikan di tempat yang sama terjadi makrofusi kedua, karena fusi pertama telah menghancurkan chip di sekitarnya, energi fusi kedua tak bisa lagi diredam, ia akan menembus wilayah yang telah hancur itu dan menghancurkan chip di area yang lebih luas, sampai akhirnya energi itu benar-benar terserap oleh chip yang ditemuinya. Begitu seterusnya, jika makrofusi dilakukan berulang-ulang di tempat yang sama, energi fusi akan menyebar ke seluruh dunia. Saat itu, bahkan bumi pun akan menjadi transparan baginya. Mungkin hanya butuh kurang dari sepuluh pasang senar seperti itu untuk menyeret kembali dunia ke era pertanian, setidaknya untuk sementara!
Makrofusi penghancur chip bisa mengosongkan bumi bak sebuah hard disk yang diformat ulang, dan negara yang lebih maju akan terkena dampak paling besar. Dalam proses kembali ke era informasi, tatanan dunia yang sama sekali baru dan tak pasti akan muncul.
Setelah memahami hal ini, aku tahu aku tidak sedang bermimpi; perang benar-benar telah berakhir. Rasanya seperti ada seutas senar di tubuhku yang tiba-tiba dicabut, kakiku lemas dan aku terjatuh duduk di tanah. Aku hanya bisa duduk terpaku, hingga matahari terbit. Dalam kehangatan samar sinar mentari pertama hari itu, aku menutup wajah dan menangis.
Sekelilingku, gelombang kegembiraan meluap-luap. Sambil berlinang air mata aku bangkit berdiri. Ding Yi sudah hilang entah ke mana, menyatu dalam kerumunan orang yang bergembira, tapi segera saja ada yang memelukku, lalu aku pun mulai memeluk orang lain. Pada pagi yang agung itu, tak terhitung berapa orang yang kupeluk. Saat pusing karena kegembiraan mulai mereda, aku sadar orang yang sedang kupeluk adalah seorang perempuan. Setelah kami saling melepas pelukan, tanpa sengaja kami saling berpandangan dan langsung tertegun.
Kami saling mengenal. Dialah gadis cantik yang bertahun-tahun lalu di perpustakaan universitas, di tengah malam, pernah berkata aku sangat berorientasi tujuan dan bertanya apa yang sedang kucari. Lama aku berpikir sampai akhirnya teringat namanya: Dai Lin.