Bab Sebelas: Makna Menjadi Murid Inti
Sekitar pukul dua siang, Li Fei membawa sebuah papan giok berisi warisan teknik, lalu menumpang mobil Chen Junren menuju Gedung Long Xiang.
Berbeda dengan gelanggang bela diri yang terletak di lantai atas kawasan ramai, lokasi dan lingkungan Gedung Long Xiang sangatlah baik. Tempat ini berada di deretan toko lantai dasar di pinggiran sebuah kompleks perumahan yang jauh dari keramaian kota, tepat di sebelah taman tepi sungai, dengan pemandangan indah dan udara segar.
Gedung Long Xiang menyewa lima unit toko yang dindingnya sudah dibongkar sehingga menjadi satu ruangan luas. Saat Li Fei dan Chen Junren tiba, empat daun pintu rolling sudah ditutup, hanya satu yang terbuka.
Begitu mereka melangkah masuk, Long Feng bersama empat pelatih dan enam remaja segera berdiri menyambut. Melihat tumpukan kotak makan siang di dekat pintu, jelas mereka sudah menunggu sepanjang siang.
Li Fei meneliti sekilas arena latihan dan langsung menggeleng. Di sana ada rak senjata yang memajang pedang, tombak, serta alat latihan seperti tiang kayu dan perlengkapan bantu lainnya. Namun, tak terlihat samsak atau arena tanding yang lazimnya wajib ada di sebuah perguruan silat.
Ternyata mereka memang hanya belajar jurus, tanpa latihan pertarungan sungguhan. Mungkin menurut mereka, saling bertukar jurus sudah termasuk latihan nyata.
“Silakan masuk, Tuan Muda Li, Tuan Chen,” sapa Long Feng sopan sambil menunjuk sudut ruangan yang merupakan area istirahat, lengkap dengan sofa dan meja teh.
Keduanya berjalan ke sana. Li Fei duduk santai di kursi tunggal, sedangkan Chen Junren memilih berdiri di belakangnya. Dengan begitu, wibawa Li Fei terasa naik beberapa tingkat.
Para pelatih dan Long Feng yang melihatnya pun merasa waspada. Di wilayah ini, manajer cabang Lao Feng Xiang sudah tergolong elite masyarakat. Namun ternyata, di depan Li Fei pun ia bahkan tak berani duduk. Jelas latar belakang Tuan Muda Li ini jauh lebih luar biasa dari dugaan mereka.
Li Fei sendiri merasa geli. Chen Junren memang selalu pandai menjaga gengsi. Sekilas tampak merendahkan diri, nyatanya justru mengangkat derajatnya sendiri. Karena status sosialnya memang sudah tinggi, sikap sebagai pengikut malah membuat orang semakin menaruh hormat pada Li Fei. Semakin tinggi pandangan orang pada Li Fei, otomatis dirinya juga ikut terangkat. Ini saling menguntungkan, semacam ‘pertunjukan’ yang baik.
Akibat ulah Chen Junren, pelatih lain pun tak enak hati untuk duduk. Mereka tetap berdiri di samping, hanya Long Feng yang duduk, itupun hanya setengah pantat.
Li Fei membuka suara dengan tenang, “Ketua Long, tujuan kedatangan saya kali ini kalian pasti sudah tahu. Bagaimana keputusan kalian?”
Long Feng menoleh, saling bertukar pandang dengan para pelatih, lalu menatap Li Fei dengan mantap. “Tuan Muda Li, kami sudah sepakat. Selama bisa belajar ilmu silat sejati, kami bersedia menjadi murid Anda.”
“Bukan sekadar hubungan murid dan guru biasa, tapi seperti hubungan murid dan guru besar zaman dahulu. Mohon Anda menerima kami sebagai murid inti.”
Sambil berkata demikian, Long Feng merangkapkan tangan dan bersiap berlutut dengan satu lutut. Namun, tiba-tiba Li Fei mengulurkan tangan. Long Feng merasa ada kekuatan tak kasat mata menahan lututnya, sehingga ia tak bisa berlutut.
Sebelum rasa terkejutnya benar-benar tampak, Li Fei mengangkat tangan sedikit, dan tubuh Long Feng seolah terpental ke atas. Ia masih dalam posisi menekuk lutut, meloncat hampir satu meter, lalu jatuh terduduk di sofa.
“Eh, ini... apa...”
Para pelatih dan enam remaja yang menyaksikan, semuanya tertegun.
Li Fei tersenyum, “Ketua Long, ini sudah zaman apa, tak perlu seremonial seperti itu.”
Sebagai yang baru saja mengalaminya langsung, Long Feng makin menyadari keistimewaan Li Fei. Ia jadi sedikit gugup, “Tuan Muda Li, kami... kami benar-benar tulus ingin menjadi murid Anda.”
“Tak peduli zaman apa sekarang, kami tetap ingin mengikuti tradisi, menganggap guru sebagai orang tua, dan mengabdi seumur hidup. Mohon guru berkenan menerima.”
Empat pelatih lain saling berpandangan, lalu turut mengepalkan tangan dan hendak berlutut, serempak berkata, “Mohon guru berkenan.”
Li Fei kembali mengulurkan tangan, membuat mereka tidak bisa berlutut dan terangkat berdiri. Ia berkata pasrah, “Maksud saya, di zaman sekarang, cukup dengan menyajikan teh dan membungkuk saja. Tak perlu sampai berlutut segala.”
Long Feng dan keempat pelatih sempat bengong, lalu akhirnya paham apa maksud Li Fei, seketika mereka pun sangat gembira.
“Xiang, cepat, buatkan teh!”
“Baik!”
Xiang, atau Cheng Xiang, adalah wakil ketua Gedung Long Xiang dan sahabat dekat Long Feng, ahli tinju Xing Yi. Gedung ini memang mereka dirikan bersama.
Cheng Xiang pun sigap mencari daun teh. Sementara itu, enam remaja saling berbisik, lalu maju bersama. Salah satu di antara mereka berkata pada Li Fei, “Tuan Muda Li, kami juga ingin menjadi murid Anda.”
Li Fei menoleh sambil tersenyum, “Kalian paham makna menjadi murid inti? Ini bukan seperti mendaftar kursus, saat tertarik belajar, bosan lalu berhenti.”
Anak laki-laki itu menjawab, “Kami paham. Menjadi murid inti itu seperti menjadi anak sendiri. Saat guru tua, para murid wajib merawatnya seperti orang tua sendiri.”
Para pelatih yang mendengar pun tersenyum. Anak-anak itu berusia sekitar lima belas atau enam belas tahun, belum dewasa sepenuhnya, tapi sudah mengerti banyak hal. Walau kedewasaan mereka tak selevel zaman dahulu, tapi pengetahuan mereka jauh lebih luas. Mereka juga sudah belajar ilmu silat tradisional minimal tiga tahun, benar-benar sangat berminat.
Li Fei menanggapinya dengan serius, “Tak hanya itu. Seorang guru bisa jadi jauh lebih keras daripada ayah kalian sendiri.”
“Jika kalian mengkhianati guru, menentang, atau melakukan kesalahan berat, akibatnya sangat parah.”
“Yang paling buruk, kalian bisa hancur. Bukan hanya tak bisa berlatih, bahkan mungkin jadi lebih buruk dari orang biasa.”
Ucapan Li Fei ini bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga Long Feng dan para pelatih. Mereka pun langsung menunjukkan raut serius. Dengan kekuatan Li Fei yang seperti tokoh dalam kisah silat, mereka paham bahwa keputusan menjadi murid inti akan berdampak besar pada hidup mereka. Ini bukan sekadar formalitas seperti di Perkumpulan De Feng, yang mana jika murid keluar, guru tak bisa berbuat apa-apa.
Kalau kasus seperti Cao Fengjin terjadi pada mereka, mungkin saja mereka akan kehilangan seluruh kemampuan bela diri, bahkan bisa diusir dari lingkaran.
Para remaja pun tampak ragu, kecuali dua orang yang tetap teguh, “Karena kami sudah memilih jalan ini, kami siap bertanggung jawab penuh.”
Li Fei tertawa dan menggeleng, “Saya percaya ketulusan kalian. Tapi ini sudah zaman modern. Masalah kalian bukan hanya menyangkut pribadi, tapi juga keluarga.”
“Baik kalian yang ingin menjadi murid, maupun saya yang ingin menerima, ini urusan dua keluarga, bukan cuma kita saja.”
“Kalau benar-benar ingin menjadi murid, pulanglah dan bicarakan baik-baik dengan orang tua. Setelah sepakat, baru ambil keputusan.”
Ini bukan Li Fei bersikap tinggi hati. Mereka masih di bawah umur, belum bisa menentukan jalan hidup sendiri. Yang berwenang membuat keputusan adalah wali mereka, yakni orang tua.
Jadi, kecuali para orang tua datang langsung, menyatakan setuju dan paham makna menjadi murid inti, barulah Li Fei akan menerimanya.