Bab Lima Puluh Tiga: Kitab Suci Taiji Xuanqing
Setelah titah itu dikeluarkan, kejutan besar pun segera menghampiri Li Fei.
Kejutan itu berupa sebuah ilmu luar biasa dari Tibet, yakni teknik pamungkas “Pisau Api” yang sudah ratusan tahun tak ada yang mampu menguasainya.
Ilmu ini merupakan ilmu andalan sekte Nyingma dari aliran Tantra Tibet. Pada masa Dinasti Song Utara, Kepala Biara Daluansi, Raja Agung Daluanyi Jiumozhi, mengandalkannya untuk merajalela di dunia, dan sekian lama tak ada yang mampu menandinginya.
Namun setelah Jiumozhi wafat, hampir tak ada lagi yang bisa menguasai ilmu ini, hingga masa Dinasti Song Selatan, teknik itu pun nyaris lenyap.
Sebabnya, Pisau Api adalah ilmu yang menuntut pengeluaran energi dalam wujud hawa pisau panas membara, dengan syarat penguasaan tenaga dalam yang teramat tinggi dan berat.
Jiumozhi benar-benar seorang jenius langka. Andaikata tidak, ia pun takkan mampu, setelah kehilangan seluruh kekuatannya, meraih pencerahan dan menjadi seorang biksu agung yang penuh kebajikan.
Sejak kematiannya, penerus sekte Nyingma kian merosot, tak ada seorang pun yang mampu mencapai kekuatan Jiumozhi, sehingga mustahil lagi seseorang mampu menguasai Pisau Api.
Ilmu luar biasa itu pun hanya tersimpan di ruang kitab Daluansi, tertutup debu.
Kini, karena Li Fei sedang mengumpulkan berbagai ilmu bela diri untuk menciptakan Kitab Suci Ilmu Silat, Daluansi tanpa ragu mengirimkan ilmu ini.
Toh tak ada lagi yang mampu mempelajarinya. Jika nanti bisa ditukar dengan Kitab Suci Ilmu Silat atau bahkan salah satu jilid Kitab Sembilan Yin, itu sudah untung besar.
Lagipula, naskah aslinya masih tersimpan, yang dikirim hanya salinan tangan!
Dengan kemampuan Li Fei sekarang, bahkan tanpa bantuan Pedang Besi Hitam pun ia sudah bisa mengeluarkan energi dalam ke luar tubuh.
Mendapatkan manual rahasia Pisau Api, ia segera menghafal teknik pernapasan dan mengalirkan energi sesuai petunjuk. Sekali mengayunkan tangan, hawa pisau panas membara langsung melesat sejauh hampir sepuluh meter.
Jika ia menggunakan Pedang Besi Hitam dan mengubah hawa pisau menjadi hawa pedang, jaraknya bahkan mencapai hampir dua puluh meter sebelum menghilang.
Dulu, dengan Pedang Langit saja, ia hanya mampu mengeluarkan hawa pedang sejauh tiga meter. Sekarang, dengan tangan kosong bisa sejauh itu—kemajuannya benar-benar luar biasa.
Sebelumnya, karena tak memahami teknik seperti Pisau Api atau Pedang Enam Nadi, ia hanya mengalirkan energi secara kasar ke bilah pedang, lalu menembakkannya setelah dikonsentrasi Pedang Langit.
Itu amat boros tenaga dan daya rusaknya pun kecil.
Dengan memahami teknik khusus untuk mengeluarkan hawa pisau dan pedang, ia bisa menghemat tenaga dan menghasilkan daya serang yang jauh lebih besar.
Teknik pernapasan Pisau Api benar-benar meningkatkan kekuatannya secara drastis, terutama dalam hal daya tahan.
Titah yang dibuat Li Fei itu bukan cuma untuk menipu berbagai sekte demi mendapatkan ilmu pamungkas mereka; ia benar-benar hendak menciptakan sebuah Kitab Suci Ilmu Silat.
Sebagai kaisar boneka dalam sistem kabinet, ia tidak punya pekerjaan apa-apa. Ia pun tidak tahu kapan akan kembali ke dunia asalnya, jadi setidaknya harus punya kesibukan dan sekaligus meningkatkan diri.
Langkah pertama untuk menciptakan Kitab Suci Ilmu Silat adalah memastikan siapa pun yang memilikinya dapat memperoleh hasil yang nyata—bukan cuma nama kosong.
Lihat saja teknik pamungkas yang diciptakan oleh Xiao Yaozi, "Xiao Yao Yufeng", pada akhirnya hanya ia sendiri yang bisa menguasai. Akhirnya, teknik itu pun harus dipisah menjadi tiga: “Delapan Penakluk Jagat”, “Kecil Tanpa Bentuk”, dan “Ilmu Dewa Penyerapan Utara”, lalu diwariskan kepada tiga muridnya.
Setiap bagian sudah cukup untuk melahirkan seorang ahli luar biasa, tapi dibandingkan “Xiao Yao Yufeng”, itu bagaikan murid SD melawan doktor, selisihnya luar biasa jauh.
Konon, bila “Xiao Yao Yufeng” benar-benar dikuasai, seseorang bisa berjalan di udara, melayang dibawa angin—itu sudah masuk ranah ilmu keabadian!
Li Fei tidak berharap mampu menciptakan ilmu keabadian semacam itu, tapi setidaknya harus melampaui tingkat Kitab Sembilan Yin dan Sembilan Yang.
Soal Sembilan Yang nanti saja, untuk melampaui Sembilan Yin, syarat utamanya adalah harus mampu memperbaiki tubuh dan bakat alami seperti Sembilan Yin, bahkan lebih baik.
Setelah meneliti berbagai teknik dasar dari semua sekte, akhirnya Li Fei menjadikan bab Pengolahan Otot dan Tulang sebagai inti, lalu menggabungkan intisari teknik dasar setiap sekte menjadi satu bab: “Pengubahan Tulang dan Daging”.
Bab Pengolahan Otot dan Tulang terdiri dari latihan diam dan gerak. Pertama-tama harus melatih yang diam untuk membangun tenaga dalam, lalu latihan gerak agar tenaga dalam itu meresap ke dalam urat dan tulang—baru bisa memperoleh manfaatnya.
Sementara itu, dalam bab Pengubahan Tulang dan Daging, baik latihan gerak maupun diam, keduanya bisa dilakukan terpisah dan tetap membawa hasil. Namun bila mampu melakukannya bersamaan, hasilnya jauh lebih cepat dan dalam; bakat alami pun akan meningkat pesat.
Setelah bab Pengubahan Tulang dan Daging rampung, selanjutnya adalah inti Kitab Suci Ilmu Silat—teknik pernapasan utama.
Sebenarnya, inilah bagian paling sulit. Namun anehnya, Li Fei justru menyusunnya lebih cepat ketimbang bab sebelumnya.
Sebab, setelah meneliti seluruh ilmu setiap sekte, ia menyadari bahwa teknik pernapasan Sembilan Yin dan Sembilan Yang sudah merupakan puncak segala ilmu.
Sembilan Yin bahkan disebut sebagai induk dari segala ilmu bela diri, dan memang pantas—hampir semua teknik pernapasan sekte manapun pasti bisa ditemukan dasarnya dalam Kitab Sembilan Yin.
Ilmu pernapasan mana pun, pasti ada padanannya di Sembilan Yin.
Karena itu, Li Fei pun memutuskan untuk memanfaatkan Sembilan Yin dan Sembilan Yang sebagai dasar.
Menurut teori ilmu bela diri, dua teknik itu—satu Yin satu Yang—walau berbeda jalan, akhirnya bermuara pada penyatuan Yin-Yang dan pencapaian puncak. Namun, keduanya mustahil dipelajari bersamaan sejak awal.
Tapi, ketika Li Fei mempelajari teknik pernapasan “Taiji” yang dikirim sekte Wudang, lalu menggabungkannya dengan teknik “Perpindahan Agung Langit dan Bumi”, tiba-tiba ia mendapat pencerahan: kedua ilmu itu ternyata bisa menjadi penghubung antara Sembilan Yin dan Sembilan Yang.
Lagi pula, seluruh saluran energi dalam tubuhnya sudah terbuka sempurna—apapun risikonya, ia tak mungkin mengalami gangguan aliran tenaga.
Maka ia pun meramu Sembilan Yin, Sembilan Yang, teknik pernapasan Taiji, dan Perpindahan Agung Langit dan Bumi menjadi satu teknik baru, lalu mencobanya sendiri.
Saat itu ia baru sadar dan menyesal, mengapa tidak terpikir sejak awal.
Teknik Taiji dan Perpindahan Agung Langit dan Bumi bukanlah teknik pernapasan murni, melainkan cara pemanfaatan tenaga dalam.
Taiji menekankan keseimbangan Yin-Yang, keras berbaur lembut, lembut mengandung keras—saling melengkapi.
Sementara Perpindahan Agung Langit dan Bumi mampu membalik dan menukar energi Yin dan Yang secara fleksibel.
Ketika intisari kedua teknik itu digabungkan dengan Sembilan Yin dan Sembilan Yang, keduanya pun bersatu layaknya simbol ikan Yin-Yang dalam Taiji—saling melengkapi secara harmonis.
Dua teknik itu akhirnya bisa dipelajari bersamaan, bahkan saling mempercepat pengumpulan tenaga dalam. Begitu dikuasai, energi Yin dan Yang akan berputar terus-menerus secara alami, memproduksi tenaga dalam tanpa henti.
Artinya, sebelum Sembilan Yin atau Sembilan Yang sempurna, seseorang sudah merasakan manfaat puncaknya.
Bahkan, dalam posisi apapun—berjalan, duduk, berbaring, atau tidur—tubuh akan terus-menerus berlatih sendiri dan memperkuat tenaga dalam.
Yang harus dilakukan sang praktisi hanyalah, setelah mengumpulkan tenaga dalam, segera mengarahkannya untuk membuka seluruh titik energi tubuh, hingga tercapai keseimbangan alam dan tubuh berubah menjadi setara dengan manusia sempurna.
Menurut perhitungan Li Fei, waktu yang diperlukan untuk itu tidak akan lebih dari dua tahun.
Li Fei juga menemukan, setelah seluruh titik energi tubuh terbuka dan mencapai kesempurnaan, saat berlatih teknik baru itu, tubuhnya tidak lagi memproduksi tenaga dalam, namun ada hawa dingin lembut yang mengalir dari ubun-ubun, masuk melalui “Jembatan Langit dan Bumi”.
Setelah diolah dengan teknik pernapasan, hawa itu berubah menjadi energi yang kualitasnya jauh lebih tinggi daripada tenaga dalam sebelumnya.
Energi baru itu bahkan menyerap tenaga dalam lama. Begitu seluruh tenaga dalam terserap, dengan cepat ia berubah menjadi energi baru, meski jumlahnya jauh berkurang.
Seketika Li Fei terperanjat.
Astaga, jangan-jangan inilah yang disebut “Zhenyuan”—energi sejati!
Mungkin saja, bila tenaga dalam dipadatkan hingga batas tertinggi, hasil akhirnya adalah energi sejati itu.
Jadi, aku sungguh-sungguh telah menciptakan teknik mendekati ilmu keabadian, seperti “Xiao Yao Yufeng”?
Li Fei pun bersemangat. Lantas, apa nama yang cocok untuk teknik ini?
Masa harus dinamai sekadar “Induk Utama” seperti Kitab Sembilan Yin?
Sekalipun nama awalnya Induk Utama, pada akhirnya kitab suci ini butuh nama yang layak, dan lazimnya, diambil dari nama teknik pernapasan utamanya.
Seperti Induk Utama Kitab Sembilan Yang dinamai “Ilmu Dewa Sembilan Yang”.
Ilmu Dewa Sembilan Yang termasuk dalam Kitab Sembilan Yang, tapi Kitab Sembilan Yang tidak hanya memuat Ilmu Dewa Sembilan Yang saja.
Teknik baruku ini adalah hasil gabungan Induk Utama Sembilan Yin, Induk Utama Sembilan Yang, teknik pernapasan Taiji, dan Perpindahan Agung Langit dan Bumi.
Mau dinamai “Ilmu Dewa Taiji Langit Bumi Yin Yang”?
Tidak, terlalu norak. Coret saja.
Setelah berpikir lama, tetap tak menemukan nama yang tepat. Sudahlah, pinjam saja!
Namanya adalah “Ilmu Dewa Taiji Xuanqing”, dan Kitab Suci Ilmu Silat ini akan dinamai “Kitab Suci Taiji Xuanqing”.
Sudah, itu saja.