Bab Delapan Puluh Enam: Aku Sarankan Kau Pulang
"Tin—"
"Sarang para penculik anak itu banyak, seperti kelinci licik yang punya tiga liang. Sebagai penjahat, kalau cuma punya satu-dua sarang saja jelas belum cukup. Selain itu, ada juga banyak sarang yang sudah terbengkalai, bahkan setelah ketahuan kosong pun tidak dipakai lagi untuk apapun, dan pemilik rumah pun tidak menyewakannya kepada orang lain. Kira-kira kenapa begitu, ya..."
"Target misi: Pergilah ke Nomor 18, Kota Fangsheng. Silakan cari tahu jawabannya, ingat, misi ini hanya bisa diselesaikan setelah tengah malam."
"Terima/Tolak"
"Status dukungan misi: Kejahatan gaib pasti kalah"
"Kejahatan gaib pasti kalah: Semangat ya~"
Li Yu: "......"
"Bro Sistem, apa maksudnya semangat ya ini?"
"Makna harfiah saja," jawab sistem dengan datar.
"Makna harfiahnya juga terlalu aneh, kelihatannya cuma sedang menyemangati, atau malah mengingatkanku bahwa ada sesuatu yang tidak beres di sana," Li Yu menatap panel sistem itu dengan bibir sedikit berkedut. Sudah tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, lebih baik dibiarkan saja.
Ia membuka aplikasi navigasi dan melihat lokasi Kota Fangsheng, ternyata jaraknya tidak terlalu jauh, kira-kira hanya 40 kilometer saja, perjalanan naik mobil paling juga cuma satu jam lebih sedikit.
"Tempat persembunyian yang sudah ketahuan itu sebenarnya masih ada apa yang patut diselidiki? Tempat persembunyian yang sudah ketahuan..." Li Yu mencoba mencari informasi tentang Nomor 18 Kota Fangsheng di internet, tapi sayangnya tak menemukan apa-apa, hanya dapat diketahui kalau itu adalah sebuah kota kecil yang cukup terpencil dan penduduknya kebanyakan miskin...
Sudah terbiasa, di daerah sini memang jarang ada kota kecil yang makmur, tidak seperti wilayah pesisir sana, yang bahkan kota kecilnya saja bisa makmur.
"Baiklah, berangkat..."
Setelah berkemas, Li Yu bersiap keluar rumah, sementara Xiao Hei berdiri di depan pintu kuil seperti patung menunggu suami.
Li Yu mengelus kepala Xiao Hei sambil tersenyum, "Jaga rumah baik-baik..."
"Nyaa..."
Begitu turun gunung, Liang Ji Ying yang selalu siap sedia langsung tiba di kaki gunung. Setiap kali Li Yu memesan ojek online, pasti yang datang adalah dia, membuat Li Yu sering curiga jangan-jangan dia memang sengaja menunggu di sana demi mendapat order darinya.
Tidak banyak tanya, hanya bertanya mau ke mana.
"Nomor 18, Kota Fangsheng..."
"Hmm?" Liang Ji Ying menaikkan alis, "Kamu mau kemana? Nomor 18 Kota Fangsheng?"
"Kamu tahu sesuatu?" Li Yu terlihat terkejut, jelas dari ekspresi Liang Ji Ying kalau dia tahu sesuatu.
Kenapa dia tahu segalanya, ya—
"Ya... aku pernah dengar. Kau tahu sendiri, temanku banyak, kerja di transportasi begini kan bergaul dengan berbagai macam orang, jadi kadang dengar juga kabar-kabar aneh," ujar Liang Ji Ying tiba-tiba dengan nada misterius. "Katanya sih, di sana angker..."
"Konon katanya rumah itu rumah sial, pernah ada orang mati di situ, arwah dendamnya gentayangan. Siapa pun yang tinggal di sana, atau di sekitar situ, tiap tengah malam pasti dengar suara mengasah pisau, katanya seram banget..."
"Bentar, aku coba ingat-ingat... oh iya, katanya pemilik rumah itu tukang daging. Dulu hidupnya lumayan makmur, punya istri dan anak, tapi waktu tes kesehatan, dia ternyata mandul, nggak bisa punya anak. Gara-gara itu dia curiga istrinya selingkuh, lalu dia bawa pisau dagingnya dan cari istri sama anaknya, nggak mau dengar penjelasan mereka, langsung saja satu-satu dia potong dengan pisaunya sampai jadi daging cincang. Terus daging itu dijual kayak daging babi. Akhirnya arwah dendam istri dan anaknya bergentayangan di rumah itu, membunuh siapa saja yang berani masuk, lalu orang yang dibunuh juga berubah jadi arwah dendam dan ikut-ikutan menakuti orang bersama istri dan anaknya si tukang daging..."
Waduh, ada hantu! Arwah dendam pula!
"Tapi ya, itu cuma cerita penumpang waktu ngobrol ngalor-ngidul sama aku, bener atau nggaknya sih nggak tahu. Rumah itu emang katanya aneh, tapi aku yakin dengan kemampuanmu, hantu seganas apapun nggak bakal bisa apa-apa, hahaha... eh, maaf."
Sebenarnya aku agak takut juga, sih...
Liang Ji Ying menyetir dengan santai di jalanan, lalu memutar lagu. Yang mengejutkan Li Yu, meski badannya besar dan tampak sangar, ternyata selera musiknya lagu-lagu lembut dari Teresa Teng.
Suara lembut dan menenangkan mengisi kabin mobil, membuat hati Li Yu terasa sedikit lebih tenang.
"Legenda tukang daging itu mungkin bohong, tapi pasti ada sesuatu yang tidak beres di sana."
Kalau cuma semangat, ucapan 'semangat' saja sudah cukup. Tapi 'kejahatan gaib pasti kalah', berarti memang ada kejahatan gaib yang harus dikalahkan. Li Yu cuma bisa berharap status itu bukan sekadar ucapan semangat doang.
"Ngomong-ngomong, Liang, ada cerita lain tentang tempat itu?"
"Ada sih, tapi kebanyakan mirip-mirip, intinya arwah dendam yang membahayakan orang, dan peringatan supaya jangan tinggal di sekitar sana," Liang Ji Ying tertawa kecil. "Lebih baik percaya ada, daripada tidak. Tempat itu memang sudah lama terbengkalai. Kalau aku jadi pemilik rumah pasti sudah heboh klarifikasi di internet. Tapi anehnya, pemilik rumah itu tidak pernah muncul, malah seperti senang saja rumahnya punya reputasi buruk... bisa jadi memang ada sesuatu yang tidak beres di sana."
Atau mungkin pemilik rumahnya juga sudah lama mati...
Mobil pun akhirnya masuk ke kota kecil itu.
"Mau kutungguin, nggak?"
"Nggak usah, aku juga nggak tahu bakal berapa lama."
"Baiklah, aku pergi dulu."
Liang Ji Ying menyalakan mesin dan pergi meninggalkan Li Yu.
Kota itu tidak tergolong makmur, suasananya masih khas era delapan puluhan—tenang, damai, dengan ritme hidup yang jauh lebih lambat dari kota besar.
"Lebih baik ke toko kelontong dulu..."
Li Yu masuk ke sebuah toko kelontong. Ia membeli ketan, garam kasar, kacang lima warna, lalu ke pasar unggas membeli darah ayam—karena tidak bisa mendapatkan darah anjing hitam, jadi terpaksa beli darah ayam, padahal menurut tradisi, kekuatan penangkalnya jauh di bawah darah anjing hitam.
Li Yu bahkan sempat terpikir ingin memelihara anjing hitam besar di rumah, biar bisa rutin dapat darahnya...
"Bro Sistem, kira-kira ini semua benar-benar bisa menangkal kejahatan nggak, bisa melindungiku dari hal-hal gaib itu nggak..." Li Yu melirik kantong besar yang penuh dengan perlengkapan penangkal tradisional.
Sistem: "......"
"Semangat, tuan rumah..."
Li Yu: "......"
Jawaban itu malah bikin Li Yu makin panik.
"Rasanya kamu sengaja pakai nada seperti ini biar aku takut..."
Tapi bagaimanapun juga, harus dihadapi. Pengalaman sudah banyak, arwah dendam ala film horor pun sudah pernah dihadapi, soal hidup mati sudah biasa, kalau berani macam-macam ya lawan saja.
Sesuai petunjuk, Li Yu berjalan ke Jalan Nomor 18.
Ternyata, di sana berdiri sebuah kompleks rumah besar yang berdiri sendiri.
Baru berdiri di depan gerbangnya saja, sudah terasa aura menekan yang sulit dijelaskan, benar-benar berbeda dengan lingkungan sekitarnya.
Ketika Li Yu bersiap melangkah masuk, tiba-tiba terdengar suara dari dalam.
"Kau mau coba-coba masuk, ya? Sebaiknya pulang saja, tempat ini bukan untukmu."