Bab Tujuh Puluh Tiga, Maafkan Aku
“Kita pasti sudah tamat...” Mata Ma Tengyu hampir berkaca-kaca. “Mereka pasti tidak akan membiarkan kita pergi, soalnya kita sudah melihat wajah mereka...”
“Mungkin saja mereka sangat percaya diri, makanya tidak peduli kita melihat wajah mereka...” Le Bao di samping menatap Ma Tengyu, masih dengan senyuman menenangkan di wajahnya. Namun Ma Tengyu tahu, gadis besar di depannya ini hanya berusaha menghibur dirinya saja.
Menghadapi kesulitan apa pun dengan senyuman memang patut diapresiasi, tapi kali ini Ma Tengyu benar-benar tidak sanggup tersenyum.
“Ah, semoga saja begitu. Setelah tahu aku nggak punya uang, mereka masih membiarkan aku tinggal di sini. Pasti ada hal lain yang mereka inginkan...”
“Ngomong-ngomong, aku juga penasaran, kenapa mereka menculikmu? Aku sempat dengar obrolan mereka, katanya yang diculik biasanya bos atau anak orang kaya. Katamu sendiri nggak punya uang... Seharusnya mereka nggak akan menculikmu kan?” tanya Le Bao heran.
Ma Tengyu ragu sejenak, lalu berbisik, “Aku nyetir Maserati...”
“Naik Maserati tapi bilang nggak punya uang? Mobil itu harganya mulai dari ratusan juta.”
“Aku bilang ke mereka, Maserati itu punya tante kaya yang pernah tidur semalam denganku. Dia nggak bakal mau keluar uang buat aku.” Ma Tengyu tersenyum pahit. “Sebenarnya mobil itu punya pacarku. Dia hebat, orang tuanya kaya, ratusan juta mah gampang buat mereka...”
“Lho, kenapa nggak bilang aja? Ini kan kesempatan kamu buat selamat,” Le Bao terkejut. Dalam situasi hidup dan mati, biasanya orang akan melakukan apa saja untuk bertahan hidup. Siapa yang nggak takut mati?
Wajah Ma Tengyu yang tadinya agak culun berubah jadi malu-malu.
“Dia itu benar-benar anak orang kaya, cantik pula. Kalau dia benar-benar keluar uang buat tebus aku, bisa-bisa dia jadi incaran orang-orang kayak gini. Aku tahu banget orang macam apa yang tega merampok sambil memperlihatkan wajah. Aku sudah banyak berhutang sama dia. Dia gadis baik. Sudah sial punya pacar pecundang kayak aku, nggak bisa kubiarkan dia tertimpa kesialan yang lebih besar lagi...”
Kata-kata itu membuat pandangan Le Bao terhadap Ma Tengyu berubah. Awalnya ia mengira cowok lemah ini memang sama menyedihkannya dengan penampilannya.
“Aku nggak tahu dulu kamu memang pecundang atau gimana, yang aku tahu sekarang kamu laki-laki yang baik...”
Saat mereka berbincang, pintu besar tiba-tiba terbuka. Lelaki botak masuk dan langsung menampar Le Bao.
Wajah Bai Zhe yang halus langsung memerah karena tamparan itu.
“Nona kecil... kamu mempermainkanku ya.” Si botak mencengkeram dagu Le Bao, wajahnya kejam. “Kamu ternyata benar-benar nggak punya uang. Aku ke rumahmu cari kartu ATM, tempat itu bahkan bukan rumahmu. Aku malah diusir satpam...”
Le Bao sadar sudah tak bisa lagi berbohong, ia pun berkata, “Benar, aku memang nggak punya uang. Kami berdua juga nggak punya uang. Gimana? Kecewa kan? Susah-payah culik dua orang, eh ternyata dua-duanya miskin...”
Le Bao mendongak, ingin melihat ekspresi kecewa di wajah si botak, berharap bisa merasakan sedikit kepuasan membalas dendam.
Tak disangka, si botak justru tertawa.
“Hahaha, menurutmu aku benar-benar kecewa? Eh, kalian semua, kecewa nggak sih?” Para anak buahnya hanya tersenyum, tidak berkata apa-apa, tetap berjaga dengan santai.
Si botak menepuk pundak Le Bao sambil berkata, “Adik kecil, tahu nggak kenapa kamu yang cantik dan bertubuh bagus ini, kami culik tapi nggak sedikit pun kami sentuh?”
Meski merasa jijik, Le Bao harus mengakui, sejak diculik sampai sekarang, mereka memang tidak melakukan apa-apa padanya, bahkan tidak ada tindakan kurang ajar.
“Kenapa...”
“Karena kami punya profesionalisme.” Si botak menyipitkan mata dan tersenyum. “Klien kami maunya gadis polos, jadi kami jelas nggak boleh menyentuhmu... meski kamu sebenarnya tidak terlalu sesuai dengan kriteria klien.”
Le Bao menatap senyum si botak, lalu bergumam pelan, “Kalian... kalian bukan perampok, kalian penjual manusia!”
“Bukan, kami perampok, cuma kadang merangkap penjual manusia. Setelah memeras uang dari anak-anak orang kaya seperti kalian, tubuh kalian yang muda akan kami jual. Soal pembeli nanti mau apa, itu sudah bukan urusan kami.” Si botak menatap Ma Tengyu dan tersenyum, “Kalau model kayak dia, biasanya yang paling berharga itu organ tubuhnya...”
“Benar kan, karena sudah lihat wajah kalian, kalian nggak akan membiarkan kami keluar hidup-hidup... Kalian benar-benar kejam!”
Meski sudah menduganya, Ma Tengyu tetap meraung sejadi-jadinya, tangisnya menggelegar memenuhi halaman.
Si botak mengerutkan kening. “Sumpal mulutnya.”
Salah satu anak buahnya langsung menyumpal mulut Ma Tengyu dengan handuk.
“Orang yang mau operasi udah datang?”
“Belum, tapi sebentar lagi sampai.”
Si botak mengangguk, lalu menepuk pundak Ma Tengyu dan Le Bao. “Kalian berdua, terimalah nasib.”
“Kalian nggak punya hati nurani ya...” Le Bao tak tahan, tubuhnya bergetar setelah tahu nasib yang akan menimpanya.
“Hati nurani? Apa itu bisa dimakan? Bukan cuma kalian di sini, orang miskin di hadapan bos besar juga nasibnya sama saja. Demi kekayaan sendiri, mereka korbankan kesehatan pekerja, makan sampai perutnya lebih besar dari ibu hamil, sementara pekerjanya cuma cukup makan, itu pun pas-pasan. Aku kerja sepuluh tahun, sudah lihat dan paham banyak hal. Dunia ini memang hukum rimba, kalau kamu nggak memangsa, kamu akan dimangsa. Kalau kamu nggak jadi pemangsa, kamu bakal jadi korban. Cara kami memangsa, apa bedanya dengan para bos besar yang menindas? Aku biasanya cuma menculik anak orang kaya, anggap saja membalas dosa orang tua mereka. Kalian berdua ini cuma kebetulan, sayangnya sudah lihat wajah kami, jadi nggak bisa kami biarkan pulang. Maaf ya...”
Si botak bahkan benar-benar membungkuk minta maaf dengan tulus pada Le Bao dan Ma Tengyu.
“Itu namanya ngeles!” seru Le Bao.
“Ngeles ya biarin saja. Setiap hari, tiap jam, tiap detik, berapa banyak orang hilang di dunia? Hilang beberapa orang lagi, apa bedanya... Coba lihat dari sudut lain, misalnya kecantikanmu bisa memuaskan nafsu seorang konglomerat, artinya dia nggak akan menyakiti orang lain. Atau organ tubuhmu bisa menyelamatkan beberapa nyawa, itu kan juga jasa. Penerima organmu pasti akan selalu mengenangmu, abadi selamanya...” Si botak berkata sambil tertawa, lalu bersiap pergi.
Le Bao merasa putus asa, juga sedikit iba melihat Ma Tengyu yang wajahnya sudah seperti mayat.
Setidaknya ia masih punya harapan hidup, sedangkan Ma Tengyu...
Di saat itu, tiba-tiba terdengar teriakan dari luar.
“Bos! Ada sesuatu!”