Bab Empat Puluh Delapan: Kita Berbeda
“Kau lihat, kau melihatku?” Sosok anggun berwarna hijau melayang seperti hantu di hadapan Li Yu dan dua bersaudari itu. Kedua gadis itu langsung bersembunyi di belakang Li Yu, hanya berani mengintip dari balik pundaknya. Su Mengqi, yang masih sedikit gugup, bertanya, “Ini... ini apa... makhluk halus atau hantu?”
Walau mulut mereka berkata tak takut, ketika melihat wujud nyata di depan mata, tetap saja keduanya panik luar biasa. Sosok hijau itu memiliki keindahan alami, namun sesuatu yang memesona belum tentu berarti aman...
“Jadi ini pohon Albizia itu,” gumam Li Yu.
Pohon Albizia yang menjelma menjadi sosok hijau itu dengan penasaran mengitari Li Yu dan kedua bersaudari itu. “Manusia, menarik, hehehe...”
Dialek lokal yang kental keluar dari mulutnya, membuat pohon lokal ini terasa begitu nyata.
“Eh, kakak manis ini...” Su Mengqi mengintip sedikit, dengan suara lirih menyapa, “Ha... halo...”
“Halo, halo, halo, halo~” Sosok hijau itu berputar mengelilingi Su Mengqi, lalu menatap Su Mengjie, tiba-tiba berseru, “Kalian, sama, manusia, sama, kamu, dan dia, sama!”
“Bukan, kami ini kembar, jadi memang persis sama. Orang lain beda-beda,” jelas Su Mengjie.
“Dia?” Sosok hijau itu menunjuk Li Yu, “Sama! Sama! Dengan dia! Sama dengan mereka! Sama!”
Su Mengqi dan Su Mengjie menatap Li Yu dengan terkejut. Ekspresi mereka seakan ingin berkata, “Jadi, kamu juga punya adik laki-laki?”
Li Yu hanya bisa melongo, “?????”
Jangan-jangan muncul drama klise, seperti orang tua yang menghilang ternyata meninggalkan seorang adik atau kakak, itu benar-benar terlalu untuk Li Yu.
“Sama! Sama!” Sosok itu berputar kegirangan di udara, menciptakan ilusi bunga-bunga yang bertebaran di angkasa.
Walaupun hanya ilusi, bukan nyata, namun dari segi visual sungguh luar biasa—bunga-bunga kecil berwarna kuning melayang dan menari di udara, hanya bisa dilihat oleh mereka yang memiliki penglihatan spiritual.
“Dunia ini ternyata indah sekali...” Su Mengqi berucap lirih. Ilusi itu perlahan berubah bentuk, kelopak-kelopak kuning menyatu satu demi satu.
Lalu terwujudlah sosok seorang biksu kecil berpakaian jubah abu-abu, tampak pemalu dan menggemaskan. Bahkan ekspresi malu-malu biksu kecil itu tergambar dengan jelas.
“Kalian, sama!” Sosok hijau itu penuh semangat menunjuk ke arah bayangan biksu kecil dan Li Yu.
Melihat bayangan biksu kecil itu, Li Yu pun menyadari, ternyata bukan tentang punya kakak atau adik baru, melainkan... pohon Albizia ini benar-benar mengalami prosopagnosia alias buta wajah! Hidung, telinga, mata, tidak usah dibahas—bahkan rambut lebat dan kepala plontos tidak bisa dibedakan.
Akhirnya Li Yu diam-diam menghela napas lega. Ia sungguh tak ingin terlibat drama keluarga yang penuh kejutan.
“Dari sudut mana pun, jelas tidak mirip. Bagaimana ia bisa menyamakannya?” gumam Su Mengqi.
“Buta wajah tingkat tinggi,” sahut Su Mengjie.
Sosok hijau itu tetap terlihat bahagia, menopang dagunya dengan kedua tangan, terkikik.
“Kau kembali, kau kembali, akhirnya, kau kembali...”
Li Yu bisa melihat, pohon Albizia hijau yang polos itu kini sudah sangat menyerupai manusia secara emosi.
Ekspresi bahagia yang terpancar dari wajahnya begitu nyata.
“Siapa namamu?” tanya Li Yu.
“Nama? Apa itu nama?” gumam sosok hijau itu, menggaruk kepalanya.
“Setiap insan punya nama masing-masing,” ujar Li Yu sambil menunjuk dirinya sendiri dan kedua bersaudari itu. “Namaku Li Yu, sebutanku Yu. Mereka ini Su Mengjie dan Su Mengqi. Walau secara biologi mereka nyaris sama, kami tetap individu yang berbeda, punya identitas sendiri, berbeda dari yang lain. Kau pun begitu. Kau bagian dari pohon Albizia, tapi juga lebih dari itu. Nama adalah tanda unik dirimu sendiri...”
Sosok hijau itu berputar sekali lagi, lalu berseru gembira, “Nama, dia bilang, Albizia, kau bilang, Albizia, aku, Albizia!”
Albizia.
Pohon yang namanya membawa makna—
Di tengah terpaan musim dingin, pohon itu mungkin tampak layu.
Namun hatinya selalu bermekaran...
Li Yu menatap Albizia, ingin berkata bahwa dirinya bukanlah biksu kecil itu.
Namun kata-kata itu tak juga terucap. Melihat sosok hijau yang begitu riang, ia sungguh tak tega mematahkan semangatnya. Namun akhirnya ia hanya berkata, “Kita tidak sama...”
...
“Serius aku mirip biksu?” tanya Li Yu.
“Tidak mirip...”
“Dia buta wajah...”
Dua bersaudari itu langsung menyangkal.
Ketika Li Yu dan kedua bersaudari keluarga Su turun gunung, Albizia pun melambaikan tangan, lalu menopang dagu dengan dua tangan, menatap kosong seperti tadi, begitu polos seperti anak kecil.
“Aku kira dia bakal sulit menerima penjelasanku soal aku dan biksu itu berbeda,” gumam Li Yu. “Ternyata dia langsung percaya, cuma tampak sedikit kecewa saja. Sepertinya memang belum banyak pengalaman hidup, mudah sekali dibohongi.”
Sebenarnya kalau dipikir-pikir, itu tak terlalu aneh. Jika kesadaran pohon Albizia yang sudah bertahun-tahun menjaga diri sendirian itu malah licik dan penuh tipu daya, justru itu yang aneh.
“Untung dia bukan manusia, kalau tidak besok-besok entah sudah dibohongi siapa,” ujar Su Mengqi dengan nada getir.
Su Mengjie, tak ingin adiknya mengingat kenangan pahit, segera mengalihkan pembicaraan pada Li Yu.
“Ngomong-ngomong, dari mana ada biksu di gunung kita?”
“Benar, Gunung Qiming ini memang tak ada biksu. Bahkan, di daerah sekitar pun hampir tak ada manusia, apalagi biksu,” jawab Li Yu. “Tapi biksu juga ada yang berkelana, tidak selalu tinggal di biara. Bisa saja biksu pengelana lewat sini. Kalau tidak salah, orang tuaku juga dulu pendeta pengelana sebelum memutuskan tinggal di Gunung Qiming.”
“Pasangan pengelana, asyik sekali, pasti hidupnya bebas...” Su Mengqi berandai-andai.
“Bebas belum tentu, tapi sudah pasti hidupnya susah. Sepertinya bukan kehidupan yang mudah dijalani,” ujar Li Yu. Banyak yang iri pada hidup sebagai pengelana, menganggapnya bebas dan santai, padahal hanya si pengelana sendiri yang tahu betapa sulitnya—meski orang tuanya yang selalu tampak ceria itu mungkin tak pernah peduli.
Setelah kembali ke kuil, Li Yu membuka ponsel dan langsung terkejut dengan banjir berita dari Gu Taisan.
“Eh... berita lokal seheboh ini? Kenapa... Astaga, ini benar-benar sedang ramai! Seluruh negeri membicarakannya.” Li Yu melongo menatap deretan berita yang memenuhi layar, juga berbagai komentar dari para pengacara, tokoh opini, dan warganet.
Seluruh negeri tiba-tiba menyoroti daerah kecil yang biasanya sunyi ini.
Sepertinya dirinya kini terkenal...
Kasus ini sebenarnya bukan hal luar biasa.
Yang membuatnya jadi sorotan adalah karena Yu Hai melawan balik dan bahkan membunuh orang yang hendak menyerangnya.
Jadi...
Apakah ia sengaja melukai? Atau membela diri dengan sah...