Bab Seratus Empat Belas, Memang Sudah Tahu Main Game
Sepulang ke rumah, Fang Qianyu yang sedari awal sudah merasa murung akibat perkataan Li Yu, kini menjadi semakin terpuruk.
"Aku pulang..."
"Oh..."
Terdengar suara ketukan papan tik yang bersahutan. Fang Qianyu melangkah masuk ke dalam kamar, menatap pria yang tengah sibuk mengetik di depan komputer itu, lalu menghela napas, "Kenapa kau masih bermain gim? Tiap hari yang kau tahu hanya bermain gim saja."
"Ini pekerjaanku," jawab pria itu dengan nada datar.
Melihat pria itu, amarah Fang Qianyu meluap seketika. "Pekerjaan, pekerjaan, kau bilang ini pekerjaan? Coba lihat, lihat dirimu sudah jadi seperti apa sekarang!"
Emosi Fang Qianyu meledak, ia menunjuk pria itu sambil memaki, "Ye Fu, kenapa dulu aku memilih orang sepertimu..."
Pria bernama Ye Fu itu dengan pasrah melepas pelantang telinganya lalu berkata, "Sudah kubilang, aku sedang..."
"Aku tidak mau dengar! Kau tidak punya pekerjaan tetap, kau membuang-buang waktu dengan hal tidak berguna, ini semua salahmu! Apa kau tahu betapa lelahnya aku di siang hari? Aku harus pergi jauh-jauh ke pegunungan untuk menawarkan produk. Apa kau tahu untuk apa aku melakukan itu? Untuk apa!" Fang Qianyu, yang biasanya ceria dan ramah kepada orang lain, kini berteriak histeris. "Kau pikir kau siapa? Kau cuma seorang pelayan toko. Apa kau tahu seberapa besar tekanan yang kutanggung karena bersamamu? Kau sama sekali tidak tahu..."
Mendengar itu, entah mengapa Ye Fu juga tersulut emosinya. "Kau... kau pikir kau siapa? Kau bahkan berencana menggugurkan anak kita, aku saja belum memprotesmu!"
"Orang tuaku mengancam akan mati jika aku tidak melakukannya, lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus membiarkan mereka mati? Apa menurutmu mereka setuju aku bersamamu? Jika bukan karena usahaku, kita bahkan tidak akan menjadi sepasang kekasih!" teriak Fang Qianyu. "Lagi pula, dengan keadaanmu sekarang, apa kau sanggup menghidupi kami? Tidak! Dengan sikapmu yang tidak niat bekerja itu, aku justru bersyukur anak itu tidak lahir untuk menderita bersama kita."
Kata-kata itu menusuk dalam ke hati Ye Fu, meskipun faktanya anak itu tidak digugurkan, melainkan keguguran karena kecelakaan.
"Itu bukan alasan untuk ingin melakukan aborsi..."
"Haha, apa kau mampu membiayai sekolah anak? Apa kau mampu membeli rumah? Baiklah, aku tidak menuntut itu lagi, tapi bisakah kau lebih giat? Bisakah kau berhenti bermain gim setiap hari? Tidak bisa. Sejak hari itu, kau bahkan tidak mau bekerja dan hanya mendekam di rumah."
"Bekerja? Memintaku menjadi pelayan toko? Seumur hidup pun aku tidak akan mampu membeli rumah atau menyekolahkan anak di sekolah yang bagus. Aku menginginkan pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang lebih tinggi..." sahut Ye Fu lirih.
"Jadi kau hanya menghabiskan hari dengan bermain gim? Kalau saja kau masih menjadi pelayan toko itu pun tidak apa-apa, tapi sekarang... aku sudah muak dengan alasanmu. Malam ini kita tidur terpisah, terima kasih."
Fang Qianyu tidak ingin bicara lagi dengan Ye Fu, ia langsung menutup pintu kamar dengan keras.
Tinggal Ye Fu yang terdiam dengan mulut terbuka, hendak mengatakan sesuatu namun akhirnya hanya berubah menjadi helaan napas panjang.
"Aku benar-benar orang yang tidak berguna..."
Keesokan harinya, Fang Qianyu terbangun pagi-pagi sekali. Hari ini ada orang lain yang bertugas di toko kecilnya, jadi Fang Qianyu agak terlambat bangun. Begitu bangun, ia merasakan beban berat di lehernya. "Sial, kenapa leherku semakin sakit? Rasanya seperti sedang menggendong seseorang..."
Setelah menahan rasa sakit, ia beranjak untuk mencuci muka dan menyikat gigi. Namun, ia kembali melihat Ye Fu yang sedang bermain gim. Sudah pukul delapan pagi dan Ye Fu masih asyik dengan permainannya. Melihat Ye Fu yang begitu fokus, Fang Qianyu tahu bahwa pria itu pasti sudah bermain sepanjang malam.
Melihat pemandangan itu, Fang Qianyu perlahan menyadari apa arti keputusasaan.
Ia pun bersiap-siap untuk pergi, ingin segera menjauh dari pemandangan tersebut. Ye Fu yang menyadari kepergiannya, segera melepas pelantang dan menyusul.
"Kenapa kau kemari? Lanjutkan saja gimmu itu..." ujar Fang Qianyu dengan nada tidak sabar.
Ye Fu menjawab lirih, "Kau mau ke mana? Hari ini hari libur, tidak perlu bekerja."
"Urusan ke mana aku pergi bukan urusanmu. Mainkan saja komputermu sendiri. Hari ini suasana hatiku sedang buruk, sebaiknya jangan menggangguku."
Fang Qianyu langsung pergi begitu saja. Ye Fu pun mengikuti tanpa banyak bicara. Fang Qianyu tidak melarangnya, toh itu hak Ye Fu.
Setelah menaiki sepeda motor, Fang Qianyu berniat pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan bahu dan lehernya. Namun, entah mengapa, sebuah pikiran tiba-tiba terlintas di benaknya.
Bagaimana kalau... bagaimana kalau pergi ke sana saja...
Ia memutar arah motornya menuju tempat lain. Tak lama kemudian, ia tiba di tempat yang tidak jauh dari Gunung Qiming. Ye Fu yang mengikuti dari belakang juga sampai dengan sepeda motornya.
"Kau... datang ke sini untuk menenangkan diri? Kenapa tidak mengajakku kalau mau menenangkan diri..."
"Kau terlalu sibuk, aku tidak enak mengajakmu, puas? Lagi pula, aku ke sini bukan untuk menenangkan diri, aku punya urusan penting." Fang Qianyu tidak memedulikannya dan langsung berjalan menuju Gunung Qiming.
Ye Fu mengikutinya tanpa suara. Namun, baru seperempat jalan, ia sudah terengah-engah dan tampak kelelahan.
Meskipun Fang Qianyu tidak merasa lelah, melihat Ye Fu yang terengah-engah membuatnya merasa tidak tega dan melambatkan langkahnya.
"Dasar lemah..."
Setelah berjalan dan berhenti beberapa kali, mereka akhirnya sampai di Kuil Yuqing.
"Kau... kau... berjalan sejauh ini... hanya untuk ke kuil ini... apa... apa bagusnya..." Ye Fu terengah-engah hingga terduduk lemas di tanah.
"Aku tidak seperti dirimu. Aku berjalan sejauh ini sama sekali tidak merasa lelah."
Fang Qianyu tidak menahan diri dengan ucapannya, lalu menggelengkan kepala dan masuk ke dalam kuil. Suasana kuil begitu tenang dan sunyi, tanpa ada seorang pun pengunjung, membuat Fang Qianyu merasakan ketenangan yang sudah lama ia rindukan.
"Ternyata hanya di sinilah aku bisa merasa tenang..." gumam Fang Qianyu. Kalimat itu membuat Ye Fu merasa tidak nyaman, namun ia tidak mengatakan apa-apa.
Fang Qianyu merasa beban di bahunya maupun tekanan hidupnya perlahan memudar di tempat itu.
"Wu Shang Tian Zun, apa kabar, Jushi?"
Saat itu, Li Yu keluar dari aula utama.
"Tuan!"
Fang Qianyu menunjukkan raut wajah yang sangat gembira. Hal itu membuat Ye Fu semakin tidak nyaman; di depannya istrinya selalu bermuka masam, namun di depan orang lain ia bisa tersenyum bahagia. Itu membuatnya merasa sangat terluka.
Li Yu menatap ekspresi keduanya dan langsung memahami hubungan mereka, apalagi mereka tampak sedang bertengkar.
"Kalian berdua, ikutlah denganku."
"Kau pikir kau siapa, main suruh-suruh..." Ye Fu baru saja hendak membantah, namun Fang Qianyu justru mengikuti Li Yu dengan patuh. Hal itu membuat Ye Fu serba salah, dan pada akhirnya ia hanya bisa ikut menyusul.
Li Yu membawa mereka ke depan bantalan duduk meditasi.
"Duduklah."