Bab 39: Membongkar Kebohongan
Ucapan ini kontan membuat Wang He terkejut bukan kepalang.
Mungkinkah si keparat ini sudah mengetahuinya? Tidak mungkin, bagaimana mungkin bocah ini bisa tahu?
"Baiklah, Penguasa Kota Wang, hanya bercanda, jangan terlalu tegang begitu," ujar Chu Xiao sambil tertawa.
Wang He menyeka keringat dingin di dahinya.
"Ha, ha, ha, Raja Chu, saya ini orang yang menjunjung tinggi kehormatan, mana mungkin punya pemikiran semacam itu," jawab Wang He sambil memaksakan senyum.
"Lebih baik jika tidak ada. Kalau memang tidak ada, silakan Penguasa Kota Wang maju memimpin pasukan untuk bertempur? Belakangan ini penampilan Penguasa Kota Wang sangat memuaskan hati saya. Sekarang pasukan musuh datang menyerang, saya harus kembali merepotkan Penguasa Kota Wang," lanjut Chu Xiao.
Hanya dalam kurun waktu enam hari.
Benteng Api Merah telah melancarkan sepuluh kali serangan berturut-turut terhadap Kota Awan Hitam!
Sebagian besar dari serangan itu berhasil dipukul mundur oleh Wang He.
Wang He tadinya berpikir bahwa dengan cara seperti ini dirinya telah berhasil membangun kepercayaan di hati Chu Xiao. Ya, kepercayaannya memang terbangun; hampir setiap kali makan, Chu Xiao selalu mengajaknya serta.
Rencananya hari ini Wang He tidak akan bertarung, atau terus berada di sisi Chu Xiao, lalu mencari kesempatan untuk menghabisi bocah ini.
Namun, siapa sangka hari ini Chu Xiao justru berinisiatif menyuruh Wang He terjun langsung ke medan perang?
Ini sama sekali tidak sesuai dengan skenario!
"Ini... Raja Chu, akhir-akhir ini prajurit saya memang agak kelelahan, bisakah diberi waktu sedikit untuk beristirahat?" Wang He mencari-cari alasan yang payah.
Namun, Chu Xiao memasang eksporsi penuh kebenaran.
"Penguasa Kota Wang, saya selalu menganggap Anda sebagai orang tua di dalam hati saya. Di masa perang, apakah musuh akan melepaskan kita hanya karena kita lelah?" tanya Chu Xiao dengan nada serius.
Wang He mengepalkan tangannya.
Dengan menggeretakkan gigi ia berkata, "Raja Chu benar, saya... saya akan segera mengirim pasukan untuk menghadapi Li Dong'an!"
Ia lantas memanggil seseorang.
Orang itu adalah pengikut sekaligus orang kepercayaan Wang He.
"Perintahkan Komandan Lv untuk mengerahkan pasukan dan bertempur melawan Li Dong'an!" perintah Wang He dengan suara rendah.
Pengikutnya mengangguk lalu segera mundur.
Lv Tai, salah satu jenderal andalan di bawah komando Wang He.
Setiap kali Wang He pergi berperang, Lv Tai hampir selalu disertakan.
Begitu menerima kabar tersebut, Lv Tai tampak tertegun sejenak, tetapi ia langsung paham bahwa rencana Wang He sepertinya sulit untuk diwujudkan.
Tanpa ragu-ragu terlalu lama, ia langsung memacu kudanya menerjang maju.
Lv Tai memegang sebatang tombak panjang, yang jika dipadukan dengan postur tubuhnya yang kekar, memancarkan kesan menindas yang sangat kuat.
Li Dongsheng juga sempat tertegun begitu melihat Lv Tai yang muncul.
"Kakak, situasi apa ini?" tanya Li Dongsheng dengan kebingungan.
Li Dong'an menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya pihak Wang He sedang menghadapi suatu masalah. Majulah dulu dan bertarunglah sandiwara dengannya."
Mendengar itu, Li Dongsheng mengangkat kapak gandanya dan langsung menerjang maju.
Aura permusuhannya begitu pekat, bagaikan banteng liar.
"Terimalah kematianmu!"
Kring!
Tombak panjang dan kapak ganda beradu dengan keras.
Dampak benturan yang masif membuat keduanya mundur beberapa langkah.
"Sekali lagi!" seru Lv Tai lantang.
Dalam sekejap, keduanya terlibat dalam duel sengit yang sulit dipisahkan, bahkan bertarung hingga lebih dari dua puluh jurus.
Setiap kali bertarung, mereka selalu dengan sengaja memperlihatkan celah di saat-saat krusial, pemandangan yang bahkan membuat Chu Xiao di atas tembok kota merasa mengantuk.
"Penguasa Kota Wang, bawahanmu ini tidak becus rupanya," ucap Chu Xiao datar.
"Apa maksud Raja Chu?" Wang He terkejut.
Chu Xiao melambaikan tangannya.
Ia menunjuk ke bawah dan berkata perlahan, "Aktingnya terlalu buruk. Sebagai pihak luar saja aku bisa melihatnya. Suruh mereka berhenti berpura-pura. Sebenarnya aku ingin bermain-main lebih lama dengan kalian, tapi sekarang aku sudah lelah. Penguasa Kota Wang, silakan buka kedokmu sendiri, aku sudah terlalu lelah menunggumu."
Saat ini Chu Xiao merasa sangat ingin berkata:
Aku adalah sang peramal, dan posisimu sebagai pengkhianat sudah sepenuhnya terbukti.
Wang He tiba-tiba merasakan firasat buruk di dalam hatinya.
Namun di permukaan ia tetap memasang ekspresi bingung.
"Raja Chu, saya benar-benar tidak mengerti apa yang Anda bicarakan." Belati di tangan Wang He sudah bersiap muncul.
"Oh? Kalau begitu, haruskah saya menjelaskannya secara blak-blakan? Penguasa Kota Wang, Anda bersekongkol dengan Kota Angin Barat, berniat bekerja sama dari dalam dan luar dengan Benteng Api Merah untuk merebut Kota Awan Hitam saya. Apakah harus diucapkan sejelas itu? Itu sama sekali tidak menyenangkan." Ekspresi Chu Xiao menyiratkan sedikit ketidaksabaran.
Hati Wang He berdegup kencang.
Bagaimana orang ini bisa mengetahuinya?
Mungkinkah ada mata-mata di dalam kelompoknya sendiri?
Seharusnya tidak!
"Raja Chu, jika Anda tidak menyambut baik kehadiran saya, mengapa harus menggunakan kata-kata semacam itu untuk memprovokasi saya? Saya telah menerima budi yang besar dari Penguasa Kota Long, bagaimana mungkin saya bersekongkol dengan Kota Angin Barat, apalagi berniat merebut Kota Awan Hitam!"
"Jika Raja Chu memang berkata demikian, maka biarkan saya pergi!"
Meski hatinya panik, Wang He tetap menampilkan sikap tegas dan penuh kemarahan.
Chu Xiao mengangkat sebelah alisnya.
Ia melambaikan tangannya dengan santai.
"Kalau begitu, pergi sana. Demi Tuan Long, saya bisa mengampuni nyawa Anda sekarang. Tapi jika Anda terus membeo, jangan salahkan saya jika pedang ini merenggut nyawa Anda!" Nada bicara Chu Xiao sudah mengandung secercah niat membunuh.
Wajah Wang He sedikit memucat.
Ia dapat merasakan bahwa Chu Xiao benar-benar berniat membunuhnya.
Ia mengibaskan lengan bajunya dan mendengus dingin.
"Raja Chu membuat saya merasa sangat kecewa. Semoga Raja Chu menjaga dirinya baik-baik! Selamat tinggal!"
Usai berkata demikian, Wang He segera bergegas pergi.
Tadi sebenarnya Wang He sempat berniat mengambil risiko. Asalkan ia bisa membunuh Chu Xiao dalam sekejap, maka semua masalah akan terselesaikan.
Namun, ia akhirnya mengurungkan niat itu.
Terlalu banyak orang berpakaian hitam dan mengenakan topi bambu di sekitarnya.
Setiap orang mengunci niat membunuh pada dirinya; begitu ia bergerak, ia pasti akan tewas seketika.
Tugas terpenting saat ini adalah segera meninggalkan Kota Awan Hitam.
"Tidak perlu. Pengawal, usir Penguasa Kota Wang keluar, biarkan dia bergabung dengan sekelompok sampah dari Benteng Api Merah itu," titah Chu Xiao.
Sebelum Wang He sempat bereaksi.
Ia langsung dijepit oleh dua prajurit dan dilempar keluar.
Sepanjang proses itu, Wang He sama sekali tidak memiliki harga diri.
Lv Tai dan Li Dongsheng yang sedang bertarung pun menghentikan pertarungan mereka, menatap Wang He dengan penuh kebingungan.
Ada apa ini? Kenapa dia malah dilempar keluar?
Wang He berdiri di bawah tembok kota dengan amarah yang meluap-luap.
"Chu Xiao! Aku telah membantumu menyelesaikan masalah-masalah belakangan ini, tapi kau malah memperlakukanku seperti ini! Aku sangat kecewa! Kau telah merampas Kota Awan Hitam! Penguasa Kota Long juga entah ada di mana! Padahal kau mengaku sebagai Penguasa Xiliang! Putra dari Marquis Pembela Negara! Kau adalah pengecut rendahan! Sekarang aku akan memimpin pasukan untuk menyerangmu!" murka Wang He.
Mendengar itu, Chu Xiao langsung mengambil sebuah busur panah dan mengarahkannya ke kaki Wang He.
Syuw—
Sebanak panah hitam melesat akurat dan menancap tepat di dekat kaki Wang He.
"Enyah! Jangan suruh aku mengulanginya untuk kedua kalinya, atau panah ini akan langsung menembus kepalamu."
Wajah Wang He berubah drastis. Ia melambaikan tangannya, dan pasukan besar yang berjaga di luar gerbang kota dengan cepat bergabung dengan pasukan Li Dong'an.
Dua bersaudara Li Dong'an dan Li Dongsheng diliputi kebingungan.
Mereka buru-buru berseru, "Penguasa Kota Wang, ada apa ini?"
Mereka tadinya berharap bisa berkoordinasi dari dalam dan luar untuk dengan mudah menyingkirkan bocah tengik ini.
Namun siapa sangka Wang He justru diusir keluar dengan mengenaskan.
Wajah Wang He amat sangat suram.
"Rencana kita entah bagaimana telah diketahui oleh bocah ini. Tapi setelah mengetahuinya, dia justru berani melepaskan diriku. Jumlah gabungan pasukan kita sekarang sudah melebihi enam ratus ribu! Belakangan ini aku sempat mengamati di dalam kota, jumlah prajurit mereka jelas tidak lebih dari tiga ratus ribu! Sebenarnya apa yang sedang direncanakan bocah ini?!"
Saat ini bahkan Wang He sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh Chu Xiao.
Awalnya musuh berjumlah sedikit dan mereka berjumlah banyak, dan dalam situasi sekarang, merebut Kota Awan Hitam seharusnya hanya menjadi sedikit lebih rumit, itu saja.