Bab 147 Menembak

Tuan Kepala Keluarga Yin Utara 1834kata 2026-04-01 00:22:33

"Orang yang berani melepaskan tembakan dan membunuh di kediaman keluarga Shen, jumlahnya tidak akan banyak di seluruh Guicheng. Xie Jingshuo, menurutmu siapa pelakunya?" tanya Qu Xiaotang.

"Ini sulit dipastikan. Namun, yang aku yakini adalah sang pembunuh pasti memiliki kemampuan penembak jitu yang sangat hebat. Lagi pula, dia pasti sudah tidak berada di sini sekarang," jawab Xie Jingshuo.

"Bagaimana kau tahu?" Qu Xiaotang menatapnya.

Xie Jingshuo mengusap kepala Qu Xiaotang. "Coba kau pikirkan sendiri, orang yang membawa senjata di tubuhnya akan segera tertangkap dalam waktu singkat. Bagaimana mungkin pembunuh itu mengambil risiko sebesar itu? Oleh karena itu, dia pasti menarik pelatuknya terhadap korban dari tempat yang memudahkan untuk melarikan diri. Dengan cara ini, begitu dia membunuh korban, dia bisa langsung kabur dengan cepat. Ini menunjukkan bahwa dia adalah seseorang dengan kemampuan menembak yang luar biasa."

"Masalah belum usai, masalah baru pun datang. Perkara yang sebelumnya belum sepenuhnya selesai, sekarang kejadian ini malah terjadi lagi," keluh Qu Xiaotang sambil menghela napas.

"Sudahlah, kita tidak usah berpikir terlalu rumit, mari kita bekerja sama dengan pihak kepolisian terlebih dahulu," hibur Xie Jingshuo.

Qu Xiaotang mengangguk, lalu berdiri bersama Xie Jingshuo di tengah kerumunan, menunggu para petugas kepolisian datang untuk melakukan penggeledahan.

Shen Xin mengenakan mantel luar, berdiri dengan ekspresi tanpa emosi di sisi Shen Cong.

Luo Hao berjalan mondar-mandir di belakang punggungnya, bolak-balik di hadapan orang-orang yang sedang diinterogasi.

Tiba-tiba, teringat sesuatu, dia bertatapan dengan Xie Jingshuo sejenak, lalu memanggil seorang petugas polisi ke hadapannya untuk memberikan beberapa instruksi.

"Pada dasarnya kita hampir selesai melakukan penggeledahan, kalian semua tidak memiliki kecurigaan, sebentar lagi sudah bisa pulang," kata Luo Hao melambaikan tangan kepada mereka.

Setelah semuanya diizinkan pergi, Luo Hao berjalan menghampiri Shen Cong. "Kepala Biro Shen, berikan aku waktu beberapa hari, aku pasti akan memberikan penjelasan kepada Anda."

"Tidak perlu terburu-buru, kau adalah orang yang kudidik dengan tanganku sendiri, aku sangat percaya padamu. Xiao Luo, kalau begitu semuanya kuserahkan kepadamu." Usai berkata demikian, Shen Cong naik ke lantai atas dengan dipapar oleh kepala pelayan.

Shen Xin tetap berdiri di tempatnya, melirik sekilas ke arah Luo Hao, lalu hendak berbalik pergi.

Luo Hao menarik lengannya. "Shen Xin, setelah kasus ini terungkap, aku harap kau bisa memberiku sedikit waktu untuk menceritakan seluruh kronologi kejadian yang sebenarnya kepadamu."

"Terserah." Shen Xin melepaskan genggaman tangan Luo Hao, lalu berbalik dan naik ke lantai atas.

Melihat pemandangan tersebut, Qu Xiaotang tidak dapat menahan diri untuk berkata kepada Xie Jingshuo, "Kau lihat itu, jika di masa depan kau berani melakukan sesuatu di belakangku yang mengkhianatiku, aku akan memperlakukanmu seperti itu. Tidak, aku bahkan akan bertindak lebih kejam daripada Shen Xin."

"Jika suatu hari nanti aku putus darimu, apakah kau masih akan memaafkanku?" goda Xie Jingshuo.

"Jika kau benar-benar berani memperlakukanku seperti itu, aku tidak akan pernah ingin melihatmu lagi seumur hidupku," ucap Qu Xiaotang dengan nada kesal.

Xie Jingshuo menggenggam tangannya dan membawanya pergi.

"Tenang saja, bagaimana mungkin aku akan memberimu kesempatan itu," balas Xie Jingshuo sambil tersenyum.

Saat kedua insan itu kembali ke rumah, hari sudah larut malam.

Entah mengapa, Qu Xiaotang merasa sangat bersemangat malam ini dan tidak begitu ingin tidur.

Untuk menemaninya, Xie Jingshuo membawa sehelai selimut ke sofa dan menemaninya menonton film horor terbaru.

"Bukan begitu, maksudku Qu Xiaotang, kalau kau sendiri takut, kau tidak usah menontonnya!" Suara jeritan Qu Xiaotang terus bergema di telinga Xie Jingshuo.

"Apa yang kau tahu, menonton film horor bersama pacar baru ada artinya. Xie Jingshuo, jangan bilang kau bahkan tidak tahu hal dasar ini?" cibir Qu Xiaotang.

Xie Jingshuo menatapnya sejenak, lalu tiba-tiba mengulas senyuman. "Aku punya satu hal yang jauh lebih bermakna yang ingin kulakukan bersamamu."

"Hal apa?" Qu Xiaotang menatapnya dengan tatapan kosong.

Xie Jingshuo mencondongkan tubuhnya ke depan dan dengan lembut mencium bibir Qu Xiaotang.

Qu Xiaotang membelalakkan matanya, lalu sedetik kemudian baru sadar bahwa dirinya kembali diperdaya.

Serangan Xie Jingshuo semakin gencar, perlahan-lahan mendorong Qu Xiaotang hingga berbaring di bawah kukungannya. Qu Xiaotang dicium hingga kehilangan arah dan kesadarannya mulai kabur.

Secara perlahan, dia melingkarkan tangannya di leher Xie Jingshuo dan mulai membalas ciumannya secara aktif.

Tepat saat keduanya hampir merobohkan benteng pertahanan terakhir, Xie Jingshuo tiba-tiba menghentikan gerakannya. Dia menegakkan tubuhnya dan kembali duduk di posisi asalnya dengan rapi.

"Ada apa? Xie Jingshuo, jangan-jangan kau tidak bisa?" goda Qu Xiaotang, lalu maju dan merapat dari belakang tubuh Xie Jingshuo.

"Bisa atau tidaknya aku, kau akan mengetahuinya di masa depan nanti. Qu Xiaotang, sekarang belum saatnya," tolak Xie Jingshuo.

"Hei, apa maksudnya tidak bisa. Xie Jingshuo, aku bahkan sudah mempersiapkan diri, bagaimana bisa kau selalu..." Ucapannya terhenti di tengah jalan karena Qu Xiaotang menyadari ada yang janggal, membuatnya tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

Xie Jingshuo menoleh, matanya memancarkan sedikit kilau basah. "Sepertinya kau justru sangat menantikan hal-hal tertentu di antara kita?"

"Omong kosong, aku... aku salah bicara," elak Qu Xiaotang.

"Sudahlah, aku tidak akan menggoda mu lagi. Qu Xiaotang, apa pendapatmu tentang kejadian malam ini?" Xie Jingshuo mengalihkan pembicaraan.

Qu Xiaotang mematikan televisi, lalu duduk di samping Xie Jingshuo dengan perasaan kecewa. "Pendapat apa yang bisa kumiliki? Saat itu kita sedang berada di luar, kita sama sekali tidak tahu apa-apa tentang situasi di dalam."

"Sebenarnya, entah mengapa, aku selalu merasa bahwa pembunuh ini bukanlah orang dari pihak kita, melainkan mungkin berasal dari tempat lain," ujar Xie Jingshuo.

"Dari tempat lain? Xie Jingshuo, kau ini jangan-jangan sudah gila? Perjamuan keluarga Shen, bagaimana mungkin ada orang luar yang bisa masuk begitu saja? Terlebih lagi, orang yang berani membunuh anggota keluarga Shen, kalau bukan musuh bebuyutan keluarga Shen selama ini, ya pasti musuh pribadi mereka. Atau mungkin, ada seseorang yang menyewa pembunuh bayaran," tutur Qu Xiaotang mengungkapkan pemikirannya.