Bab 144: Keluarga
Qu Xiao Tang dengan mata yang memerah berkata, "Ibu... Ibu tenang saja, aku pasti akan menjaga diriku baik-baik dan tidak akan membuat Ibu khawatir. Ibu, aku mencintaimu."
Liu Yong Li juga tidak kuasa menahan air matanya yang mulai menggenang. Ia memeluk Qu Xiao Tang dan dengan lembut menepuk punggungnya.
Qu Xiao Tang akhirnya menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Liu Yong Li.
Orang-orang yang memperlakukanmu dengan baik dalam hidup ini datang dan pergi. Hanya keluargamu yang mampu mempersembahkan setulus hati dan berkorban sepenuhnya hanya untukmu.
Keluarga sejati yang mencintai dan memedulikanmu apa adanya.
Bahkan ketika mereka berada di jurang keputusasaan dan menghadapi kegagalan, hal pertama yang mereka pikirkan adalah tetap mengerahkan seluruh tenaga demi membuatmu bahagia.
Qu Xiao Tang merasa sangat beruntung karena ia tidak bersikap jaim, melainkan berani mengucapkan secara langsung rasa cintanya kepada keluarganya.
Ia mencintai kakek dan neneknya, mencintai ayah dan ibunya, serta mencintai setiap anggota keluarganya.
Setelah menyeka air matanya dan meninggalkan kamar Liu Yong Li, kepala Qu Xiao Tang masih terasa agak pening. Ia belum sepenuhnya pulih dari gelombang emosi setelah menangis tadi.
"Kak." Qu Xiao Man berlari menghampiri dari tidak jauh.
"Xiao Man?" panggil Qu Xiao Tang.
Qu Xiao Man berhenti tepat di hadapan Qu Xiao Tang. "Kak, aku benar-benar ingin berterima kasih atas kejadian kali ini. Sebelumnya ada banyak hal yang kulakukan dengan keliru, aku harap Kakak bisa memaafkanku."
"Sudahlah, kita ini satu keluarga, mana ada kata maaf-memaafkan. Tapi Xiao Man, mulai sekarang kamu harus belajar mencintai dirimu sendiri dan jangan lagi melakukan hal-hal yang salah," pesan Qu Xiao Tang.
"Tenang saja, Kak, aku pasti tidak akan mengecewakan kalian lagi," jawab Qu Xiao Man sambil tersenyum.
"Oh ya, sebelumnya kamu bilang tentang rahasia Lu Shan, rahasia apa itu?" Qu Xiao Tang tiba-tiba teringat.
Mendengar nama Lu Shan, binar di mata Qu Xiao Man seketika meredup.
Ia mengangkat kepalanya dan berkata kepada Qu Xiao Tang, "Rahasia ini sebenarnya bukan rahasia besar. Aku hanya mendengar bahwa dia memiliki seorang kakak laki-laki dari ibu lain yang baru saja kembali ke Kota Guicheng. Keluarga Lu masih memiliki satu anak lagi."
"Kakaknya kembali ke Kota Guicheng?" Qu Xiao Tang teringat akan perkataan Shen Cong kepadanya. Jika digabungkan dengan ucapan Qu Xiao Man, ia tiba-tiba merasa semua kepingan peristiwa itu terangkai menjadi satu.
"Aku juga tidak tahu detail persisnya, pokoknya kurang lebih seperti itulah. Kak, kalau begitu aku pergi dulu ya," ujar Qu Xiao Man.
Qu Xiao Tang mengangguk pelan.
Kakak laki-laki Lu Shan?
Qu Xiao Tang berdiri termenung di tempatnya sejenak, seolah mulai memahami sesuatu. Berbagai potongan ingatan melintas di benaknya, hingga akhirnya terhenti pada satu sosok tertentu.
Ia tersadar seketika dan segera berlari keluar.
Qu Xiao Tang tiba di kantor polisi.
"Qu Xiao Tang, kenapa kamu ada di sini?" Luo Hao yang sedang duduk di ruang utama langsung bertanya saat melihat Qu Xiao Tang masuk.
"Petugas Luo, ada sesuatu yang ingin aku konfirmasikan denganmu," kata Qu Xiao Tang menatap Luo Hao dengan serius.
Keduanya duduk di ruang utama dan merangkai seluruh kronologi peristiwa dari awal hingga akhir. Setelah itu, Luo Hao sepertinya juga memahami segalanya.
"Aku ingin menemuinya," ucap Qu Xiao Tang.
Luo Hao mengantar Qu Xiao Tang menuju ruang interogasi, dan tidak lama kemudian, Lu Yang pun dibawa masuk.
"Kalian mengobrollah dengan baik, aku akan mengawasi dari jendela," pesan Luo Hao.
Begitu Luo Hao keluar, Qu Xiao Tang menatap Lu Yang. "Sebenarnya margamu bukan Lu, kan?"
"Qu Xiao Tang, aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan. Pelakunya sudah ditangkap dan kasusnya sudah diselidiki dengan tuntas, kenapa kamu masih banyak bicara?" balas Lu Yang dengan nada tidak sabar.
"Kamu adalah anak dari keluarga Lu, dan adik tiri seayahmu adalah Lu Shan. Bertahun-tahun yang lalu, demi kenaikan jabatan, ayahmu menikahi ibu Lu Shan. Sedangkan kamu, dibuangnya ke Kota Yunshi dan tidak pernah diizinkan pulang sejak saat itu. Saat kamu tumbuh dewasa dan menyelidiki semuanya sendiri, kamu mengetahui kebenaran ini. Itulah sebabnya kamu begitu menyimpan dendam, kamu ingin kembali untuk membalas dendam dan menghancurkan keluarga Lu," tutur Qu Xiao Tang dengan tenang.
Mendengar itu, Lu Yang tertawa. "Qu Xiao Tang, semua ini hanyalah tebakanmu semata. Atas dasar apa kamu merasa semuanya ini benar?"
"Hanya berdasarkan kata-kata yang kamu ucapkan kepadaku saat menculikku. Aku sempat merenungkannya lama sekali, mengapa kamu bisa memiliki pemikiran seperti itu. Kupikir pasti kamu pernah mengalami masa lalu yang kelam hingga menjadi seperti sekarang ini. Lu Yang, lepaskanlah semua ini. Lu Shan sudah mati, jika kamu terus memelihara kebencian ini, orang yang pada akhirnya hancur adalah dirimu sendiri," bujuk Qu Xiao Tang.
"Menyuruhku melepaskannya? Qu Xiao Tang, kenapa kamu tidak meminta mereka melihatku? Aku juga anak keluarga Lu, atas dasar apa aku harus menerima perlakuan seperti ini? Selama bertahun-tahun ini, seandainya saja ia datang untuk melihatku sekilas saja, aku tidak akan menyimpan kebencian sebesar ini. Namun, ia tidak pernah melakukannya, sekali pun tidak. Dialah yang dengan tangan dinginnya mendorongku ke dalam kegelapan, lalu sekarang atas dasar apa memintaku kembali ke dalam cahaya? Qu Xiao Tang, apa kamu tidak merasa semua ini sangat konyol?" Lu Yang mengangkat bahunya sinis.
Qu Xiao Tang menghela napas. "Tapi Lu Yang, kebencian benar-benar bisa mengubah seseorang seutuhnya. Karena kebencian, kamu akan melewatkan banyak orang di dunia ini yang masih mencintaimu. Kamu hidup bukan sebagai dirimu sendiri dan tidak lagi percaya pada cinta. Tapi tahukah kamu? Cinta sebenarnya jauh lebih indah daripada kebencian."
"Cinta? Seandainya saja keluarga Lu memberikan sedikit saja cinta kepadaku, aku tidak akan menjadi seperti ini. Pada akhirnya, aku tidak bersalah, yang salah adalah mereka!" geram Lu Yang sambil menggertakkan giginya.