Bab 135 Menggores Luka
"Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir. Kita tunggu saja petugas Luo kembali," ujar Shen Xin. Baru saja ia menyelesaikan kalimatnya, terdengar ketukan di pintu.
"Siapa!" teriak Qu Xiaotang.
"Ini aku."
Suara Luo Hao.
Qu Xiaotang dan Shen Xin saling bertukar pandang sebelum melangkah untuk membuka pintu.
"Saat kami sedang bertugas tadi, petugas kepolisian di Kota Yun mengatakan bahwa Lu Yang telah melarikan diri ke Kota Xi. Tempat kita menginap saat ini sangat dekat dengan Kota Xi, jadi selama beberapa hari ke depan, jangan pergi ke mana-mana tanpa instruksiku," pesan Luo Hao.
"Tenang saja, Petugas Luo. Kami tidak akan bertindak gegabah dan merepotkan kalian. Hanya saja, aku punya satu pertanyaan, mengapa Lu Yang bisa muncul di Kota Xi?" tanya Qu Xiaotang.
Luo Hao menggelengkan kepala, "Kami masih menyelidiki hal itu. Sebentar lagi aku harus pergi lagi, kalian tetaplah di sini dan jangan pergi ke mana-mana."
"Baik," sahut Shen Xin dan Qu Xiaotang bersamaan.
Di penginapan itu tidak banyak pilihan makanan yang tersedia. Setelah menyantap sedikit hidangan, Qu Xiaotang dan Shen Xin kembali ke kamar. Mereka berbaring di tempat tidur masing-masing, ditemani desau angin dingin yang menusuk, hingga perlahan terlelap.
Qu Xiaotang kembali bermimpi.
Dalam mimpi itu, sorot mata Xie Jingshuo tampak begitu dingin, seolah-olah ia tidak mengenalnya. Ia merangkul pinggang Shen Xin sambil menatap Qu Xiaotang yang tampak berantakan dengan tatapan meremehkan. Qu Xiaotang mencoba menggapai ujung pakaian Xie Jingshuo agar pria itu tidak pergi meninggalkannya, namun Xie Jingshuo justru mencibir dan membawa Shen Xin pergi dari pandangannya.
"Jangan..." Keringat dingin mengucur deras di dahi Qu Xiaotang. Ia membuka mata dengan tatapan kosong.
Ruangan itu gelap gulita, bahkan jemari sendiri pun tak terlihat. Qu Xiaotang bangkit duduk dan meraih ponsel di samping tempat tidur. Ternyata hari sudah sore keesokan harinya! Tak disangka ia tertidur begitu nyenyak. Ia mengacak-acak rambutnya lalu turun dari tempat tidur.
Saat lampu dinyalakan, perutnya tiba-tiba keroncongan. Shen Xin tidak ada di kamar, sepertinya ia sedang keluar mencari makanan. Bayangan mimpi tadi melintas, membuat hati Qu Xiaotang terasa nyeri. Ia mengambil ponselnya dan melangkah keluar kamar.
Lorong hari ini tampak sangat sepi, tidak ada seorang pun yang berlalu-lalang. Sesampainya di lantai bawah, ia mencium aroma masakan. Ia mengendap-endap menuju dapur, namun lengannya tak sengaja bergesekan dengan bingkai pintu hingga tergores dan darah segar mengalir keluar.
Qu Xiaotang memegangi lengannya yang perih. Ia teringat ada tempat cuci di halaman belakang, lalu bergegas ke sana. Benar saja, ia menemukan area tempat cuci di sana. Saat ia perlahan membersihkan lukanya, kelopak matanya terasa semakin berat. Tiba-tiba, kesadarannya mengabur, dan ia pun jatuh pingsan.
Ketika tersadar, Qu Xiaotang mendapati dirinya berada di tempat asing, namun luka di lengannya sudah dibalut. Ia berusaha meronta pelan hingga tanpa sengaja menimbulkan suara.
"Kau sudah sadar?" Sosok yang muncul di hadapannya adalah Lu Yang yang mengenakan topi bisbol. Wajahnya tampak kuyu dengan janggut yang belum dicukur selama beberapa hari.
"Lu Yang, bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Qu Xiaotang dengan bingung.
"Aku selalu berada di penginapan ini, hanya saja aku jarang keluar sehingga kalian tidak bisa menemukanku. Qu Xiaotang, tidak menyangka, kan? Aku selalu mengikutimu. Setelah susah payah mendapatkan kesempatan ini, menurutmu apakah aku akan melepaskanmu begitu saja?" Lu Yang mencibir.
Qu Xiaotang menyahut dengan sengit, "Apa maumu sebenarnya? Aku peringatkan, jangan macam-macam. Kau sudah menjadi buronan gabungan dari Kepolisian Kota Gui dan Kota Yun. Lu Yang, menyerahlah sekarang, semuanya belum terlambat."
"Menyerah? Qu Xiaotang, apa kau sedang melucu? Bagaimana mungkin aku, Lu Yang, menyerahkan diri?" Lu Yang tertawa terbahak-bahak ke langit.
"Jika kau tidak menyerah, maka aku sendiri yang akan mengirimmu ke tempat yang seharusnya. Lu Yang, kejahatan pasti ada balasannya. Tuhan melihat semua perbuatanmu, jangan berpikir kau bisa lolos begitu saja. Masalah di Kota Ping, serta dendam di antara kita, aku belum menyelesaikannya denganmu!" teriak Qu Xiaotang murka.
Lu Yang berkata dengan nada meremehkan, "Dengan apa kau akan melawanku? Qu Xiaotang, kau tidak berpikir bahwa kau bisa meninggalkan tempat ini hidup-hidup, kan? Sebelumnya aku sudah beberapa kali melepaskanmu, tapi kali ini aku tidak akan berbelas kasih."
"Aku tidak butuh belas kasihanmu. Apa yang kau perbuat cepat atau lambat akan membuahkan karma!" balas Qu Xiaotang.
"Karma? Bicara soal karma, apakah karma sudah menimpa adikmu, Qu Xiaocheng? Dia adalah wanita yang kejam, bahkan terhadap keluarganya sendiri ia tidak punya belas kasihan. Orang seperti itu saja masih hidup dengan baik, bukan? Di dunia ini tidak ada keadilan. Semua orang menghalalkan segala cara demi tujuannya masing-masing, untuk apa kau bersikap seolah dirimu suci?" ujar Lu Yang sambil tertawa.
Qu Xiaotang menjawab dingin, "Terserah apa katamu, Lu Yang. Selama aku masih ada, aku tidak akan membiarkanmu lolos."
"Kalau begitu, mari kita lihat saja nanti." Lu Yang berdiri dan berjalan keluar pintu.
Qu Xiaotang menatap tali yang mengikatnya, ia meronta sekuat tenaga dengan kedua tangannya. Ia tahu nasibnya kali ini mungkin berada di ujung tanduk, namun ia tidak rela. Masih banyak hal yang belum ia tuntaskan, bagaimana mungkin ia mati semudah ini?