Bab 13: Inspektur Roy
Qiao Tang duduk dengan pikiran melayang, lalu dengan santai mengeluarkan ponselnya dan melihat ada beberapa panggilan tak terjawab. Baru saja ia hendak menelpon balik, Shen Xin sudah masuk sambil membawa beberapa lembar koran.
“Kau tadi ke mana?” tanya Qiao Tang heran.
Shen Xin meletakkan tumpukan koran itu di depan Qiao Tang dengan sedikit kesal. “Ini, kiriman dari Kota Gui. Tadi kau sedang mengajar jadi tidak bisa angkat telepon, jadi aku ke ruang pengiriman untuk mengambilkannya.”
Koran?
Qiao Tang segera mengambilnya dan melihat pada judul utama, ternyata nama wakil kepala editor yang tercantum di sana adalah dirinya sendiri!
Ia tiba-tiba teringat, memang dulu ia pernah membantu redaksi koran di Kota Gui untuk satu edisi, tak disangka sekarang benar-benar dikirimkan kepadanya.
Kepala editor.
Koran.
Bagian kegiatan organisasi.
Qiao Tang merasakan kelopak matanya terus berkedut.
Namun orang yang memberikan koran dalam mimpinya adalah seorang kakak tingkat, bukan Shen Xin.
Ia benar-benar tidak tahu apa makna sebenarnya dari mimpi itu.
Belum sempat ia memikirkan semuanya dengan jelas, Shen Xin sudah membawa buku pelajaran dan pergi keluar, sebab pelajaran berikutnya adalah kelasnya.
Qiao Tang duduk di tempatnya, membolak-balik isi koran itu. Setelah lama membuka-buka, ternyata isinya hanya artikel-artikel yang cukup sentimental, tak ada yang benar-benar menarik perhatiannya.
Saat itulah, di bagian paling akhir koran, Qiao Tang melihat sebuah kata dalam bahasa Inggris.
Mask.
Topeng.
Qiao Tang terkejut dan membelalakkan mata, secara refleks ia langsung merobek koran itu. Saat ia sadar, baru ia menyadari bahwa ia melakukan hal yang sama seperti dalam mimpinya.
Ia menggigit bibir, membuang koran itu ke tempat sampah, lalu menoleh ke arah Zuo Nini, “Kak Nini, aku hari ini tidak ada kelas lagi, aku pulang duluan ya. Kalau nanti Shen Xin mencari aku, tolong sampaikan saja. Dan lagi, sebaiknya Kakak juga cepat pulang setelah selesai kerja.”
“Baik, Qiao Tang, wajahmu hari ini memang kelihatan kurang sehat, cepat pulang dan istirahatlah.” Zuo Nini mengangkat kepala dan memberinya senyuman.
Qiao Tang yang wajahnya pucat hanya mengangguk, lalu mengambil barang-barangnya dan pergi.
Keluar dari SMP Pingzhen, ia berjalan di jalanan dengan tatapan kosong.
Tiba-tiba, terdengar suara ‘dukk’, ia menabrak sesuatu yang keras. Ketika mendongak, ia berhadapan langsung dengan sorot mata seorang pria yang tegas.
“Nona, kau baru saja menabrak dadaku,” ucap pria itu dengan suara berat.
“Maaf... maafkan aku.” Qiao Tang buru-buru meminta maaf.
Pria itu memperhatikannya, “Aku wakil kepala kepolisian di kota kecil ini. Sudah beberapa tahun aku berpatroli di sini, tapi sepertinya aku tak pernah melihat wajahmu.”
“Ah? Oh, aku guru sukarelawan baru di SMP Pingzhen di depan sana. Wajar saja Anda belum pernah melihatku, karena aku baru sampai kemarin,” jelas Qiao Tang.
“Jadi kau guru sukarelawan, ya. Belum lama ini Kepala Sekolah Deng memang pernah bilang, ada guru dari Kota Gui yang datang, ternyata masih muda benar.” Nada bicara pria itu sedikit meremehkan, seolah memandang rendah Qiao Tang yang berasal dari kota besar.
Qiao Tang tidak ingin memperpanjang urusan, “Kalau begitu, Pak Polisi, bolehkah saya pergi sekarang?”
“Tunggu sebentar,” pria itu tiba-tiba teringat sesuatu, lalu mengulurkan tangan, “Perkenalkan, namaku Luo Hao. Kalau suatu saat di kota ini kau punya masalah, silakan cari aku.”
“Baik, Pak Luo, namaku Qiao Tang, hanya seorang mahasiswa biasa.” Qiao Tang menjabat tangannya sekilas, lalu segera melepaskannya.
Luo Hao tersenyum tipis, “Kalau begitu, sampai jumpa lain waktu.”