Bab 128: Ternyata
Qu Xiaotang menjadi gusar, "Qu Xiaocheng, bisakah kau berhenti menyerah pada dirimu sendiri? Ya, sejak kecil kau selalu merasa kami kurang memperhatikanmu. Baiklah, biar kuberitahu. Saat kau sakit waktu kecil, tengah malam saat semua apotek dan klinik di sekitar tutup, Kakek Kedua dan Paman Kedua menggendongmu berjalan kaki menuju rumah sakit. Pernah suatu kali kau diejek oleh anak tetangga, aku, Xie Jingshuo, dan Qu Xiaoyan membelamu dan memukuli anak itu. Karena kejadian itu, kami bahkan dihukum berlutut selama sehari semalam. Saat kau pertama kali tinggal di asrama, Bibi takut kau kedinginan dan begadang semalaman untuk merajut sweter untukmu. Begitu pula dengan Kepala Keluarga, dia sangat menyayangimu. Dia mendengar bahwa kau berubah sejak masuk SMA dan mengira kau sedang berada di masa pemberontakan, jadi dia tidak enak bertanya langsung. Namun, dia diam-diam menelepon wali kelasmu untuk memastikan kau tidak ditindas di sekolah. Semua ini tidak kau ketahui, dan kami juga tidak mengumbarnya kepadamu. Namun, bukan berarti karena kami tidak mengatakannya, berarti kami tidak menyayangimu. Qu Xiaocheng, kami jauh lebih mencintaimu daripada yang kau bayangkan."
"Kau... apa yang kau bicarakan?" Qu Xiaocheng menatap mereka dengan tidak percaya sambil melangkah mundur.
"Kakak benar. Saat masih kecil, kita tidak mengerti dan selalu merasa orang tua serta Kepala Keluarga tidak memedulikan kita. Namun sebenarnya, mereka hanya tidak pandai mengekspresikan rasa sayang mereka dan memilih cara lain untuk melindungi kita. Qu Xiaocheng, waktu itu aku masih kecil dan hanya suka mengikutimu ke mana-mana, menjadi 'bos' jalanan, dan merasa itu menyenangkan. Seolah-olah mengikuti langkahmu sudah menjadi kebiasaan. Padahal, orang yang selalu membereskan kekacauan kita di belakang layar adalah para orang tua yang mencintai kita. Merekalah yang selalu melindungi kita, sementara kita terus bersikap bodoh," ujar Qu Xiaoman yang berjalan mendekat dari belakang.
Qu Xiaocheng menggelengkan kepalanya, "Itu tidak mungkin. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang mereka. Sekarang kau katakan mereka mencintaiku, bagaimana mungkin aku bisa menerimanya? Tidak, bukankah semua ini sangat konyol?"
"Ini tidak konyol. Qu Xiaocheng, kau dan Xiaoman adalah adik-adikku. Meskipun aku pernah membenci kalian, bahkan meskipun kau pernah ingin aku mati, aku tidak mendendam. Aku mengerti, kau masih muda dan ada banyak hal yang belum kau pahami. Tapi tidak apa-apa, aku akan menunggumu sampai kau sadar dan memanggilku kakak dengan tulus," ujar Qu Xiaotang dengan mata berkaca-kaca.
"Aku..." Qu Xiaocheng menggeleng, merasa seluruh tenaganya telah terkuras habis.
"Xiaocheng, tidak apa-apa. Jika kau tidak membunuh siapa pun, Kakek akan melindungimu. Namun jika kau memang melakukannya, Kakek tetap berharap kau mau menyerahkan diri. Saat kau keluar nanti, masih ada banyak kesempatan untuk memperbaiki diri. Jika kau tahu siapa dalang di balik semua ini, aku harap kau pergi ke kantor polisi dan mengaku dengan jujur," ucap Qu Mingyuan yang sedari tadi diam.
Qu Xiaocheng tidak sanggup lagi menahan haru, ia langsung berlutut di hadapan Qu Mingyuan dan yang lainnya, "Maafkan saya, Kepala Keluarga. Ini salah saya. Selama bertahun-tahun ini, saya telah melakukan kesalahan besar. Seharusnya saya tidak mementingkan diri sendiri hingga menyakiti begitu banyak orang dan membuat kalian harus membereskan kekacauan saya berulang kali. Ini salah saya, saya sangat bodoh."
"Tidak apa-apa, Xiaocheng, sekarang semuanya belum terlambat. Ayo kita pergi ke kantor polisi sekarang untuk memberikan keterangan dan ungkap siapa dalang di baliknya. Selama ada kami, kami akan melindungimu," kata Qu Xiaotang.
"Tidak, biarkan saja mereka menganggap akulah pembunuhnya. Aku sangat ingin terus hidup di keluarga Qu dengan identitas sebagai Qu Xiaocheng, menjadi seorang nona muda yang tanpa beban. Namun kali ini, sepertinya aku harus meminta maaf kepada kalian. Aku tidak bisa mengatakan siapa orang itu, aku tidak bisa mengungkapnya," Qu Xiaocheng bersujud di depan mereka.
Qu Xiaotang bingung, "Kenapa tidak bisa? Qu Xiaocheng, katakan saja dengan berani. Kami sudah bilang, seluruh keluarga Qu adalah pendukungmu. Kami akan melindungimu dan berusaha sekuat tenaga agar kau tidak terluka. Siapa pun dalangnya, kami akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk menyeretnya keluar."
"Kalian tidak akan bisa melawannya, aku tidak bisa membiarkan kalian menanggung risiko. Qu Xiaotang, kau sudah lama menjadi pahlawan, tidakkah boleh kali ini aku yang menjadi pusat perhatian? Aku sudah dewasa, biarkan aku melindungi keluarga Qu sekali saja," Qu Xiaocheng tersenyum lega.
Mendengar ucapannya, Qu Xiaotang tiba-tiba seperti menyadari sesuatu. Air matanya jatuh seketika saat menatap Qu Xiaocheng yang berlutut dan memberikan isyarat mata kepadanya.
Ternyata... ternyata sedari awal Qu Xiaocheng tidak pernah berniat menyakiti keluarga Qu. Semua yang ia lakukan hanyalah untuk melindungi keluarga agar tidak diincar oleh Lu Yang. Kekuatan di balik Lu Yang belum terungkap sepenuhnya. Tidak ada yang bisa memastikan apakah keluarga Qu mampu melawannya atau tidak. Itulah sebabnya Qu Xiaocheng memilih cara ini untuk melindungi keluarga. Setidaknya pada akhirnya, keluarga Qu akan aman.
"Qu Xiaocheng..." Qu Xiaotang hendak maju untuk memeluknya, namun tiba-tiba terdengar suara sirene polisi yang menderu-deru di sekeliling mereka. Sekelompok petugas polisi masuk ke kediaman keluarga Qu dan menghampiri Qu Xiaocheng.