Bab 1 Keluarga Qu
Musim panas yang terik, Kota Melati.
Hari ini adalah hari keluarga Qu akan mengumumkan wakil kepala keluarga baru, sehingga semua anggota keluarga Qu kembali ke rumah besar mereka di Kota Melati. Meski semua orang tahu posisi wakil kepala keluarga itu pasti akan jatuh ke tangan anak sulung atau cucu sulung, namun semua tetap harus mengikuti formalitas yang ada.
Jabatan wakil kepala keluarga memang tak terlalu besar, namun begitu mendudukinya, peluang menjadi kepala keluarga di masa depan sangat terbuka lebar.
Saat ini, kepala keluarga Qu generasi kesembilan, Qu Mingyuan, sedang duduk di ruang utama, bermain catur bersama putra sulungnya, Qu Youqi.
Para perempuan keluarga Qu yang lain duduk di halaman, membicarakan berbagai kabar burung yang entah dari mana mereka dengar.
Sementara itu, cucu sulung keluarga Qu, Qu Xiaoyu, kini berdiri di depan pintu rumah sambil memegang ponsel, melihat ke sekitar seolah menanti seseorang. Tak jauh dari situ, sebuah mobil Volkswagen melaju pelan dan berhenti tepat di depan rumah.
Mesin mobil dimatikan, pintu terbuka, dan seorang gadis tinggi semampai dengan kacamata hitam dan rok kulit turun dari mobil, melangkah anggun dengan sepatu hak tingginya. Melihat gadis itu, wajah Qu Xiaoyu yang biasanya angkuh akhirnya menunjukkan sedikit kegembiraan. Ia melambaikan tangan ke arah gadis itu, “Hei, aku di sini!”
Gadis itu adalah Qu Xiaotang, cucu perempuan tertua keluarga Qu, yang juga merupakan yang paling tua di antara generasi cucu-cucu saat ini. Ia sudah berusia dua puluh tahun dan sedang kuliah semester dua di Universitas Kota Melati.
Melihat adiknya, Qu Xiaoyu, yang usianya hanya terpaut satu tahun darinya, hati Qu Xiaotang terasa hangat. Ia melangkah dengan hati-hati di atas sepatu hak, mendekat ke arah Qu Xiaoyu.
“Semua orang hampir sudah berkumpul, tinggal menunggu kamu pulang saja. Eh, Qu Xiaotang, kamu cuma ke kampus untuk urus surat keterangan saja, kenapa lama banget, sih?” Qu Xiaoyu mengeluh sambil tetap menatap ponselnya.
Qu Xiaotang melepas kacamata hitam dan menggantungkannya di kerah bajunya. “Sudah berapa kali kubilang, aku ini kakak kandungmu, lahir dari ayah dan ibu yang sama. Bisa nggak sih kamu sedikit lebih sopan? Tiap hari cuma bisa panggil ‘Qu Xiaotang’, orang yang nggak tahu pasti ngira kamu kakakku!”
“Memangnya kamu cuma lebih tua setahun, apa yang perlu dibanggakan? Lagi pula, nama Qu Xiaotang itu sudah kupanggil sembilan belas tahun, jadi sudah kebiasaan,” jelas Qu Xiaoyu.
“Wah, ternyata kamu hebat sekali ya. Aku saja nggak tahu waktu kamu masih belajar bicara, sudah bisa menyebut tiga suku kata ‘Qu Xiaotang’ dengan jelas?” Qu Xiaotang menatap Qu Xiaoyu dengan pandangan meremehkan lalu melangkah masuk ke halaman.
Begitu para gadis di halaman melihat Qu Xiaotang datang, mereka segera berdiri dan menyapanya dengan hormat, “Kakak, kamu sudah pulang.”
Qu Xiaotang mengangguk lalu bertanya, “Kakek dan Ayah di mana?”
“Kepala keluarga dan Kakak sedang main catur di dalam. Kita sebaiknya tidak mengganggu,” jawab Li Zi, istri dari paman bungsunya, yang baru saja keluar dari dapur dan kebetulan bertemu Qu Xiaotang.
Qu Xiaotang pun maklum, ia melirik Qu Xiaoyu sejenak, lalu langsung melangkah ke ruang utama.
“Kamu sudah pulang, Xiaotang?” Qu Youqi melihat putrinya masuk dan segera meletakkan bidak caturnya.
“Kakek, Ayah,” sapa Qu Xiaotang dengan penuh hormat.
Keluarga Qu dikenal sebagai keluarga besar yang punya tradisi dan budaya panjang, para keturunan mereka sangat menjunjung tinggi etika. Kecuali jika kepala keluarga sendiri mengizinkan, anggota keluarga lain harus memanggilnya dengan sebutan kepala keluarga, bukan Ayah atau Kakek.
Namun, Qu Youqi, Qu Xiaotang, dan Qu Xiaoyu mendapat perlakuan khusus.
Inilah salah satu alasan mengapa anggota keluarga Qu yang lain kurang menyukai mereka.
Tapi aturan dasar tetap harus dipatuhi, dan hal itu sudah dipahami Qu Xiaotang sejak ia masih kecil.