Bab 33: Membuka Segel
“Xiaotang, kenapa kamu masih di sini?” Xiaoyu membawa sekantong roti melewati lorong dan kebetulan melihat Xiaotang.
“Aku baru saja pergi ke ruang pengiriman untuk bertanya sesuatu pada Pak Tua di sana, tapi tidak dapat jawaban yang jelas. Ngomong-ngomong, Xiaoyu, kulihat hidupmu sebagai asisten dosen cukup santai, kenapa tidak membantuku melakukan sesuatu?” Xiaotang mendekat dan berkata pada Xiaoyu.
Melihat Xiaotang yang sedekat itu, wajah Xiaoyu sedikit memerah. “Apa yang bisa kubantu?”
“Begini saja, aku berencana menggunakan satu jam pelajaran untuk mengajak teman-teman sekelas kita ikut aktivitas di luar ruangan, main game di lapangan, supaya suasana hati mereka jadi lebih baik. Bukankah akhir-akhir ini memang terlalu menekan? Nah, kamu bantu aku merancang kegiatannya, pokoknya biar suasananya jadi seru dan menyenangkan,” jelas Xiaotang.
“Kamu ini bercanda ya? Xiaotang, sejak kecil sampai sekarang, kapan aku pernah merancang sesuatu buat orang lain? Kalau mau main, main saja sendiri, jangan libatkan aku,” Xiaoyu mundur satu langkah dengan wajah tak suka.
Xiaotang menggigit bibirnya, memandang Xiaoyu dengan wajah memelas. “Kamu kan adik terbaikku, cuma kamu satu-satunya harapanku. Masa kamu tega lihat kakakmu ini, sendirian setelah mengajar masih harus mikir semua ini?”
“Ya sudah, ya sudah, asal kamu nggak ganggu aku lagi, aku bantu deh,” Xiaoyu akhirnya menyerah, tak tahan melihat wajah Xiaotang yang seperti itu.
“Tahu kamu memang yang terbaik! Ayo, kita balik ke ruang penyimpanan,” Xiaotang menggandeng lengan Xiaoyu naik ke atas.
Melihat tangan Xiaotang menggantung di lengannya, Xiaoyu jadi bingung harus berkata apa. Ada perasaan aneh yang perlahan mengisi hatinya.
Sesampainya di ruang penyimpanan, Xin sudah duduk di dalam setelah selesai mengajar.
Begitu Xiaotang dan Xiaoyu masuk, Xin langsung mengeluh, “Kalian nggak tahu, anak-anak itu sudah berubah lagi seperti waktu awal kita datang. Lesu semua, matanya kosong. Selesai satu sesi saja, aku nggak tahu apa yang kulakukan. Xiaotang, aku hampir gila dibuatnya.”
“Bukannya kamu ini guru cantik? Masa murid-murid nggak rajin dengar pelajaran cuma demi lihat wajah cantikmu?” Xiaotang menggoda.
“Kalau gelar cantik itu benar-benar berguna, aku juga mau langsung pakai. Oh ya, di kelas sudah pilih ketua kelas baru, anak perempuan yang cantik itu, namanya Kuei,” ucap Xin kepada Xiaotang.
“Kuei?” Perlahan Xiaotang mengingat gadis itu; memang di kelas dia termasuk yang paling cantik. Matanya besar, hidungnya mancung, dan pandai sekali memilih pakaian. Selama beberapa bulan mengajar di sini, tiap hari dia datang dengan rok yang berbeda. Di kelas, dia selalu mengangkat dagunya tinggi-tinggi, mudah sekali menarik perhatian orang.
Saat Xiaotang memikirkan ini, pikirannya tanpa sadar kembali ke Chen Yu.
Gadis itu, seharusnya tetap menjadi pusat perhatian di kelas.
“Hari ini kayaknya bukan giliranmu mengajar, Xiaotang. Sebentar lagi kita bisa pulang,” Xin mulai membereskan barang-barangnya.
“Aku mau ke kantor perkumpulan dulu,” ujar Xiaotang.
“Kantor perkumpulan? Bukannya itu sudah ditutup?” tanya Xin heran.
Xiaotang melirik Xiaoyu, lalu kembali menatap Xin, “Sekarang sudah dibuka lagi, makanya aku mau cari petunjuk di sana.”
“Aku ikut denganmu,” sahut Xiaoyu cepat.