Bab 60: Bersiaplah Menerima Balas Dendam!
Jiang Ke mendorong pintu bangsal, dan aroma obat langsung tercium di udara. Ia dengan cemas mencari sosok Gu Tinghan, dan melihat pria itu berdiri di dekat jendela dengan lengan kemeja yang tersingsing separuh.
"Gu Tinghan, kamu tidak apa-apa!" Suaranya mengandung sedikit ketegangan yang hampir tak terlihat.
Pria itu berbalik dengan lengkungan tipis di sudut bibirnya. Saat melihatnya, kabut suram di matanya langsung menghilang. "Aku tidak apa-apa, hanya lecet kecil."
Ada ketidakpastian di dasar mata Jiang Ke, dan alisnya mengernyit lama tanpa bisa rileks. "Apakah benar-benar tidak apa-apa? Apa kamu sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh? Apakah ada bagian lain yang terasa tidak nyaman?"
"Kenapa tiba-tiba terjadi kecelakaan mobil? Apakah ada seseorang yang sengaja ingin membalas dendam?" Ia menarik napas dalam-dalam, tak mampu melepaskan pikiran yang bergelayut di benaknya.
Gu Tinghan menatapnya, tersenyum cerah dengan alis yang jernih. "Jangan khawatir, ini hanya kecelakaan biasa, tidak separah yang kamu pikirkan."
Pria itu memeluk pinggangnya dengan tangan terbalik, menariknya dengan lembut ke dalam pelukan, lalu dagunya menggesek puncak kepalanya.
Namun, Jiang Ke yang berada di dalam pelukan itu memamerkan ekspresi yang suram dan tidak jelas di balik mata indahnya yang sipit dan memerah. Keringkisan di matanya melintas sekilas dan lenyap.
Saat melangkah masuk tadi, ia melihat beberapa guratan tiba-tiba muncul di area *sigongchu* pria itu. Itu adalah pertanda nasib buruk, pastinya ini bukan sekadar kecelakaan mobil biasa.
Pria itu membelai helaian rambutnya dengan lembut, lalu berucap dengan suara rendah, elegan, dan berat, "Hari ini aku masih ada urusan yang harus diselesaikan, jadi aku tidak bisa menemanimu."
"Baik." Ia mengatupkan bibirnya, menurunkan kelopak matanya, sementara cahaya dan bayangan berkelebat di matanya.
Di luar ruang perawatan intensif, Gu Tinghan menatap Chen Mu di dalam. Sepasang mata yang dalam itu menyerupai kolam tanpa dasar, suram dan hitam legah, bagaikan langit malam yang memancarkan cahaya bintang, memancarkan hawa dingin yang menusuk.
"Apakah orang itu sudah mengaku?" Suara rendah dan dingin itu terucap dari bibir tipis sang pria.
Chen Chi mau tak mau mengepalkan tinjunya. "Orang itu baru saja keluar dari penjara beberapa hari lalu, sementara istri dan anaknya dikirim ke luar negeri minggu lalu."
"Bagaimanapun caranya, dia tetap menolak untuk membuka mulut..."
Sudut bibir pria itu membentuk senyuman sinis, ekspresinya semakin terlihat kejam dan tanpa ampun.
Sementara itu, di sebuah gudang terbengkalai, seorang pria dengan sekujur tubuh penuh luka diikat pada sebuah salib. Darah masih mengalir dari perut dan tangannya.
Warna merah tua tak bisa terlihat pada pakaian hitamnya, tetapi luka di tangannya tersayat begitu dalam hingga darahnya melingkar di lengannya seperti ular yang berkelok-kelok, menodai tali merah di pergelangan tangannya, lalu menetes ke lantai setetes demi setetes.
Gu Tinghan menyipitkan matanya, dan aura dingin langsung terpancar dari tubuhnya. Tatapannya suram, dan kata-kata yang diucapkan dari bibir tipisnya begitu dingin hingga terasa membeku. "Kamu masih tidak berniat untuk bicara?"
"Sungguh sangat setia!" kata Gu Tinghan sambil mengiris secuil daging dari paha pria itu, lalu melemparkannya ke arah kucing hutan di sampingnya.
Tenggorokan pria itu seolah-olah robek, setiap suku kata terdengar seperti menggunakan sisa tenaga terakhirnya.
Dadanya naik turun perlahan, suara lemahnya bergetar tipis. "Lupakan niatmu itu, bunuh saja aku sekalian!"
"Membunuhmu memang hal yang mudah, tapi aku ingin tahu apakah kamu masih mengingatnya?" Bulu mata panjang Gu Tinghan setengah menutupi sorot matanya yang dalam, sudut matanya terangkat membentuk lengkungan yang memancarkan kekejaman.
Ia perlahan mengeluarkan sebuah foto, dengan sikap arogan dan suara sedingin es. "Kudengar dia membesarkan seorang anak laki-laki berusia lima tahun sendirian. Sungguh ibu yang hebat karena tidak pernah meninggalkan anaknya!"
Pria itu tertegun sesaat, hatinya diliputi rasa ngeri, serangkaian dugaan ketakutan melonjak di benaknya, bibirnya memucat karena ketakutan, sekujur tubuhnya bergetar halus, dan matanya memancarkan ketakutan yang tak terbendung.
Lima tahun lalu, ia sempat memperkosa wanita di dalam foto itu karena dorongan sesaat. Mungkinkah anak yang digendongnya itu adalah anak kandungnya sendiri?
"Jangan khawatir, setelah kamu mati, anakmu juga akan menyusulmu." Suara Gu Tinghan terdengar dingin dan kosong, bagaikan hantu pencabut nyawa di telinga pria itu.
Kaki pria itu bergetar tak terkendali, sekujur tubuhnya gemetar. Di wajahnya yang pucat, sepasang mata kosong memancarkan kelesuan akibat kehilangan tekad hidup.
Tenggorokannya terasa terbakar dan begitu kering hingga sulit untuk berkata-kata. Kilatan cahaya emas terus berkedip di depan matanya, bahkan ia merasakan dunia berputar tak menentu. "Mohon ampuni aku, anak itu tidak bersalah..."
"Aku akan memberitahu semuanya, apa pun yang ingin kamu ketahui..."
Pria itu buru-buru memohon ampun. "Tepat sehari sebelum aku bebas, seorang wanita tiba-tiba menghubungiku dan memberiku lima juta untuk melakukan satu hal baginya."
Gu Tinghan mengerutkan kening sambil menunjuk foto di ponselnya. "Apakah itu dia?"
Mendengar jawaban tegas dari pria itu, urat di dahi Gu Tinghan berdenyut kencang, dan wajahnya yang tadinya sudah dingin kini seketika tertutup lapisan embun beku berselimut es.
Xiao Rong, bersiaplah untuk menerima pembalasannya!
Malam yang gelap gulita bagaikan tinta pekat yang dioleskan tanpa batas di cakrawala, bahkan tanpa secercah pun cahaya bintang.
Gu Tinghan yang mengenakan pakaian serba hitam perlahan melangkah masuk ke kediaman besar keluarga Gu. Pada saat itu, semua orang yang sedang makan malam serempak menoleh ke arah pria tersebut.
Gu Xiuyuan yang duduk di kursi utama bersuara lebih dulu. "Tinghan, kenapa kamu datang? Cepat duduk dan makan bersama!"
"Aku tidak datang untuk makan." Suara rendah dan dingin pria itu bergema perlahan.
Suara kejamnya tidak terlalu keras, namun tetap terdengar jelas oleh semua orang di sana, membuat mereka terpaku dan terdiam seketika.
Gu Wenzhou mengerutkan kening, wajahnya penuh ketidaksabaran. "Sialan sekali, mau makan atau tidak, terserah!" usai berkata demikian, ia berniat bangkit dan pergi.
Namun, tepat pada saat itu, seorang pria bersalut darah berjalan masuk dengan terseok-seok, menatap Gu Wenzhou dengan wajah penuh ketakutan. "Dia orangnya! Dia memberiku sejumlah uang untuk merencanakan kecelakaan mobil demi menyingkirkanmu."
Begitu Xiao Rong melihat jelas orang di hadapannya, detak jantungnya bergemuruh di telinganya, sementara rasa cemas yang kuat bergolak di dadanya.
Ketakutan membuat bibirnya bergetar, bahkan suara bicaranya menjadi terbata-bata. "Gu Tinghan, dari mana kamu mencari orang untuk memfitnah anakku?"
"Memfitnah? Kamu tahu persis di dalam hatimu! Kamu ingin aku lumpuh lagi agar aku bisa disingkirkan, bukan?" Sudut bibir Gu Tinghan membentuk senyuman sinis, sementara matanya dipenuhi dengan kebencian pekat yang tak bisa dicairkan.
Gu Xiuyuan memandangi keonaran di hadapannya dan menegur dengan suara dingin. "Cukup, masalah ini sampai di sini saja."
"Ayah, bagaimana bisa berhenti sampai di sini? Kalau tidak, menurut Ayah atas dasar apa aku bisa duduk di posisi ini?"
Suara itu seolah-olah keluar dari sela-sela giginya, rendah dan serak bagaikan hantu kelaparan dari neraka, sukses membuat semua orang merinding tanpa sebab.
Sambil menyunggingkan senyuman, ia perlahan mendekati Gu Wenzhou. Detik berikutnya, bilah pisau yang tajam langsung menancap di bahunya, mengaduk-ngaduk daging dan darah di dalamnya.
"Argh," Gu Wenzhou tiba-tiba menjerit, suara itu terdengar seperti cakar elang merobek kain sutra, tajam dan memekakkan telinga.
Matanya membelalak tak percaya menatap pria di hadapannya, sementara rasa sakit yang luar biasa menyerangnya, membuat air mata mengalir deras bagaikan mutiara yang putus dari benangnya.
"Kali ini hanya peringatan kecil. Jika aku mendapatinya lagi, akibatnya tidak akan sekadar sesederhana ini." Tatapan Gu Tinghan menyapu dingin ke arah semua orang.
Yang lainnya terkejut dengan tindakan mendadak pria itu, hanya Xiao Rong yang bereaksi paling cepat dan langsung menjerit histeris. "Aaaaa... Wenzhou..."
Gu Xiuyuan langsung dikuasai amarah yang membara. "Gu Tinghan, apakah kamu sudah gila? Dia itu kakakmu sendiri!"
"Apakah kamu memperhitungkan aku sebagai anakmu ketika kamu tahu semua hal yang terjadi tahun lalu?"
Sorot mata tajam pria itu bagaikan angin dingin di puncak musim dingin yang bercampur serpihan es, menghantam bertubi-tubi hingga membuat siapa pun menggigil ketakutan.