Jilid Pertama Bab 26: Jika Itu Hantu, Maka Itu Jahat
"Anggap saja seperti jeli buah, makin banyak perhatian, makin banyak kasih sayang," ujar Jiang Ke sambil mengedipkan bulu matanya yang lentik, matanya berbinar jenaka.
Pria itu tiba-tiba mengulurkan tangan, mencengkeram dagu Jiang Ke dengan kuat. Ujung jarinya yang kasar bergesekan dengan kulit gadis itu, sementara matanya yang hitam legam mulai memancarkan kilatan api. "Bagus sekali."
Jiang Ke tertegun mendengar ucapannya. Ia menatap lekat-lekat sosok di depannya tanpa berkedip. "Sayang, jangan galak-galak begitu. Aku sebenarnya lebih suka sikap dinginmu yang dulu."
Gu Tinghan meliriknya dengan dingin, lalu berbalik pergi tanpa ragu sedikit pun.
Tiba-tiba, sebuah pesan anonim muncul di ponsel Jiang Ke: "Memutus jalan rezeki orang sama saja dengan membunuh orang tuanya. Kau akan menanggung akibat dari perbuatanmu."
Jiang Ke bisa menebak dengan mudah siapa pengirimnya, namun ia terlalu malas untuk menanggapi. Cepat atau lambat, orang yang tidak bermoral seperti itu pasti akan terbongkar kedoknya.
Keesokan paginya.
Cahaya matahari pagi menembus tirai, menciptakan bayangan samar di wajah samping gadis itu yang jelita. Ia menggeliat malas.
"A-Ke, bangun!" seru Xiao Zhi yang sedang bergelantungan bosan di langit-langit.
Detik berikutnya, sebuah bantal melayang cepat ke arahnya. Xiao Zhi berkelit dengan lincah, namun bantal itu justru mendarat tepat di wajah pria yang baru saja mendorong pintu masuk.
Xiao Zhi terpekik kaget, menutup mulutnya dengan tidak percaya. "A-Ke, Gu Tinghan datang..."
"Biar saja, meski langit runtuh pun aku tidak peduli," gumamnya dengan suara parau yang tidak jelas, seolah terhalang kaca buram.
Gu Tinghan menatap bantal di pelukannya, jakunnya bergerak naik turun. Suaranya rendah dan serak, "Oh, benarkah?"
Jiang Ke di atas tempat tidur tersentak kaget karena suara yang tiba-tiba itu. Ia segera duduk tegak dan menyapa, "Hai..."
"Kita mau ke mana?" tanya Jiang Ke penasaran sambil menarik pintu mobil.
Wajah pria itu yang tadinya tegang sedikit melunak. Bibirnya yang tipis terbuka, dan dalam suaranya yang dingin terselip kesedihan yang tak terbendung, "Hari ini hari peringatan kematian ibuku."
Jiang Ke terdiam sejenak. Kata-kata penghiburan seolah tersangkut di tenggorokannya, tertahan oleh gumpalan kapas yang tak terlihat.
Sesampainya di pemakaman, Jiang Ke menatap foto hitam putih seorang wanita yang memiliki kemiripan tujuh puluh persen dengan Gu Tinghan. Wajahnya cantik dengan alis yang indah dan hidung yang mancung, memancarkan kesan anggun dan bermartabat.
"Ini mawar merah kesukaanmu," ujar pria itu. Dingin dalam suaranya memudar, berganti dengan nada yang rendah dan lembut.
Jiang Ke diam-diam memperhatikan pria itu. Seolah beban berat yang biasanya ia pikul telah luruh, dan sorot matanya yang tajam kini tampak lebih teduh.
"Hanya warna merah yang paling cocok untukmu. Kau memang tidak pernah suka warna-warna pucat..."
"Ibuku seorang aktris. Demi melahirkanku, ia meninggalkan kariernya. Ia meninggal saat aku berusia lima tahun."
"Kaum ningrat di ibu kota selalu memandang rendah orang sepertinya. Di mata mereka, ibuku hanyalah seorang pemain sandiwara rendahan. Di usia lima tahun, aku dibawa kembali ke keluarga Gu dengan status anak haram."
Ia bercerita perlahan, sementara matanya yang hitam legam menyimpan emosi yang rumit.
Jiang Ke menunduk menatapnya selama beberapa detik. Bagaimana mungkin ia tidak tahu penderitaan yang dilalui pria itu di tengah intrik keluarga kaya yang penuh konspirasi?
Ia selalu merasa mereka mirip. Orang-orang juga meremehkannya, namun ia justru membuktikan diri dengan menjadi murid yang paling dibanggakan oleh gurunya.
"Kau bukan anak haram keluarga Gu. Kau adalah putra ketiga keluarga Gu, dan kau juga bisa menjadi pewarisnya," ucap Jiang Ke dengan tatapan teguh. Ia bertekad membantu Gu Tinghan merebut kembali apa yang menjadi miliknya.
Wajah pria itu yang tadinya beku seperti es, kini tampak sedikit terusik oleh embusan angin dan kata-kata itu.
Jiang Ke menepuk dadanya dengan percaya diri. "Tenang saja, selama ada aku, aku pasti akan menjagamu agar tetap aman selamanya."
Gu Tinghan menatapnya dengan geli. Wanita ini benar-benar aneh, bisa-bisanya ia bertingkah seperti ini di situasi seperti ini. Namun, karena ia sudah berjanji, maka biarlah mereka terikat hingga akhir hayat.
"Itu janjimu," ucapnya dengan tatapan penuh posesif yang kelam dan liar.
Dalam perjalanan pulang, Jiang Ke menatap pemandangan di luar jendela dengan bosan, lalu menoleh ke arah pria yang sedang memejamkan mata di sampingnya.
Ia membuka ponselnya dan melihat pembaruan dari blogger favoritnya. Pemandangan visual yang memanjakan mata itu benar-benar membuatnya terpana—ia memang tidak tahan melihat pria dengan bahu lebar dan pinggang ramping.
"Bagus?" tanya suara pria yang rendah dan serak tiba-tiba, seolah berbisik tepat di telinganya.
Jiang Ke tersenyum bodoh. "Bagus..." Begitu sadar, ia menoleh dan mendapati pria itu menatapnya dengan senyum yang tidak sampai ke mata.
Detik berikutnya, Jiang Ke dilempar keluar dari mobil. Ia terbatuk karena asap knalpot dan langsung meledak amarahnya. "Gu Tinghan, apa otakmu sudah ditendang keledai?!"
Jiang Ke mengomel sepanjang jalan hingga amarahnya perlahan mereda. Baru saat itulah Xiao Zhi berani bersuara, "A-Ke, belok kiri di persimpangan depan, empat puluh menit lagi kita sampai di pusat kota."
Jiang Ke melirik Xiao Zhi dengan tajam, lalu diam-diam memesan ojek daring.
Begitu turun dari ojek, ia melihat kerumunan orang di kejauhan. Penasaran, ia mendekat dan mendengarkan bisik-bisik warga.
"Sayang sekali, anak muda itu nekat melompat dari gedung."
"Benar! Betapa sedih orang tuanya."
"Terlalu impulsif, tidak seharusnya begitu."
Setelah paham situasinya, Jiang Ke hendak pergi, namun tiba-tiba ia melihat sesosok hantu wanita berambut acak-acakan. Saat ia menoleh lagi, sosok itu sudah menghilang.
"Xiao Zhi, apakah kau melihat hantu wanita di sana tadi?"
Xiao Zhi menari-nari dengan gembira, "Aku melihat toko kue di sana!"
Jiang Ke hanya bisa mengusap keningnya. Benar-benar jawaban yang tidak nyambung; di matanya sepertinya hanya ada kue!
"A-Ke, kenapa aku tidak bisa bergerak?" Xiao Zhi membelalakkan mata, mencoba meronta namun tidak bertenaga.
Jiang Ke menoleh dan melihat sebuah jimat penyegel tertempel di punggung Xiao Zhi.
"Berani-beraninya kau, siluman! Menyerahlah sekarang juga!" seru sebuah suara jernih.
Jiang Ke menoleh dan melihat seorang biksu cilik berjubah oranye yang tampak bersih dan suci seperti bunga teratai yang baru mekar. Kepala gundulnya berkilau seperti batu di bawah sinar rembulan, memancarkan kepolosan.
Xiao Zhi cemberut dengan kesal, "Aku bukan siluman!"
"Jika bukan siluman, berarti kau hantu jahat. Guruku bilang, semua hantu itu jahat," ujar Ming Jing sambil memutar tasbih di tangannya.
Jiang Ke merapalkan mantra, dan jimat di punggung Xiao Zhi pun terbakar dengan sendirinya.
Ming Jing menatap Jiang Ke dengan takjub. "Hantu macam apa kau ini, bisa-bisanya menghancurkan jimatku?"
"Wlee... Biksu bau, A-Ke bukan hantu. Dia adalah master yang sangat hebat!" Xiao Zhi bersembunyi di balik punggung Jiang Ke sambil menjulurkan lidah.
Ming Jing mengerutkan kening, tampak bingung mencari jawaban. "Karena kau manusia, mengapa kau membela hantu jahat di belakangmu?"
"Itu karena kau salah. Tidak semua hantu itu jahat. Kau harus punya kemampuan untuk membedakan yang benar dan salah, tidak bisa hanya mengandalkan kata orang lain," ujar Jiang Ke menatap biksu cilik itu.