Jilid Pertama Bab 45 Segala Sesuatu Tak Ada yang Mengalahkan Kebahagiaanmu
Pria itu tertegun sejenak, seolah waktu berhenti pada detik ini dan seluruh dunia menjadi begitu sunyi. Matanya menatap lekat-lekat pada Jiang Ke, pupil matanya melebar seakan hendak melahap segalanya.
Sementara itu, ekspresi main-main di wajah gadis tersebut telah memudar. Sepasang mata jernihnya bersinar bagaikan bintang-bintang di langit, terselubung secercah antisipasi yang samar.
"Hm..." Ia menunduk dan menciumnya dengan lembut, menggigit bibir merah delima itu, mengecup dan merasakannya sekilas.
Pipi Jiang Ke merona kemerahan, bersandar dengan lembut di dalam dekapan pria itu, menenggelamkan kepalanya di ceruk lehernya. "Mulai sekarang, kamu tidak boleh menemui Su Qian lagi."
Ujung bibir pria itu terangkat sedikit, menyunggingkan senyuman penuh memanjakan. Tatapannya yang dingin dan kaku perlahan-lahan mencair, memancarkan seberkas kelembutan. "Baiklah."
Rumah sakit.
Ming Jing perlahan-lahan sadar di atas ranjang pesakitan. Yang tampak oleh penglihatannya hanyalah warna putih di sekeliling. Ia merasakan tubuhnya seolah-olah telah robek berkeping-keping, mendatangkan rasa sakit yang luar biasa.
"Biksu bodoh, akhirnya kamu sadar..." Xiao Zhi menatapnya dengan pandangan yang dalam.
Bibir Ming Jing yang pucat pasi bergerak-gerak tanpa warna. Dari tenggorokannya yang bergerak naik turun, terdengar suara serak, "Xiao Zhi, kamu tidak apa-apa!"
Xiao Zhi mengangkat sebelah alisnya. "Aku baik-baik saja. Untunglah berkat Ah Ke, jiwaku tidak sampai tercerai-berai."
"Syukurlah kalau begitu..." Ia menggertakkan giginya rapat-rapat, sementara lapisan keringat dingin membasahi dahinya.
"Jangan bicara dulu, istirahatlah yang benar!" Xiao Zhi menghela napas pelan.
"Biksu bodoh, jangan kembali ke Kediaman Mu lagi setelah ini. Jalani saja hidupmu sebagai biksu yang benar!"
Saat pertama kali mereka bertemu, mata biksu itu begitu jernih bagaikan riak air musim gugur yang berkilauan, memancarkan keindahan yang murni. Namun, kini pandangan itu telah diselimuti oleh warna abu-abu yang suram.
"Hah! Mulai sekarang, kamu tidak boleh mudah ditipu lagi..."
Jiang Ke memandangi toko barang mewah di hadapannya. Untuk apa Gu Tinghan membawanya ke tempat seperti ini? Ia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berlagak orang kaya! Berbelanja di sini sekali saja bukankah bisa membuatnya jatuh miskin?
Pria itu dengan lembut melingkarkan lengannya di pergelangan tangan Jiang Ke. "Mari kita masuk dan melihat-lihat."
Suasana elegan dan mewah langsung menyambut pandangan mereka. Melalui etalase kaca, berlian-berlian berkilauan memancarkan cahaya yang cemerlang, bagaikan ribuan bintang bertaburan di langit malam.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" sapa pelayan toko dengan senyuman profesional.
Gu Tinghan mengalihkan pandangannya ke arah cincin berlian merah muda Graff yang terletak di atas etalase. Ujung jarinya yang putih mengetuk meja konter secara berirama. "Istri saya ingin mencoba yang ini."
Jiang Ke mendekat untuk melihatnya lebih dekat. Cincin berlian itu seolah memiliki kekuatan magis yang membuat orang tidak bisa mengalihkan pandangan. Permukaannya tampak berkilauan dengan pendar cahaya yang memukau, sangat cemerlang dan luar biasa indah.
Ia memperhatikan harganya lebih dekat lagi. Berapa harganya? Delapan ratus ribu? Seketika itu juga, ia merasa cincin tersebut tidak lagi terlihat begitu indah. Ia buru-buru menarik pergelangan tangan Gu Tinghan. "Tidak perlu repot-repot, kita lihat cincin pasangan biasa saja sudah cukup."
"Ah Han, kamu..." Ekspresi terkejut melintas di wajah Su Qian, seolah ia baru saja disambar petir. Matanya menatap tajam ke arah kedua kaki pria itu dengan tangan yang sedikit bergetar, seakan tidak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi.
Jiang Ke menoleh dan melihat Su Qian serta Song Qianxue. Namun, dari awal hingga akhir, pria itu bersikap seolah-olah tidak mendengar dan bahkan tidak mengangkat kelopak matanya sedikit pun.
Pandangan Song Qianxue yang tersembunyi melirik Jiang Ke tanpa acuh. Ia tersenyum, dengan lengkungan bibir yang bernada meremehkan. "Kakak, bagaimana Kakak bisa punya waktu luang untuk jalan-jalan ke sini?" sengaja ia memanjangkan nada bicaranya, dengan nada bicara yang menyindir habis-habisan.
"Adikku tersayang, ucapanmu ada-ada saja. Memangnya aku tidak boleh datang ke sini?" Jiang Ke melengkungkan bibirnya dengan nada menggoda.
Bulu mata lentik Su Qian sedikit bergetar, dengan sudut matanya yang kemerahan membuatnya tampak semakin menyedihkan. "Ah Han, aku sangat senang melihatmu bisa berdiri lagi. Apakah kamu masih ingat saat-saat kita berjalan-jalan bergandengan tangan di tepi pantai dulu?"
"Tidak ingat!" Jawabannya keluar tanpa ada keraguan sedikit pun, dengan suara yang sedingin air es.
"Tolong jaga sikap Anda, saya sudah menikah." Kalimat terakhir itu seolah mengamini sebuah peringatan yang diucapkan tanpa acuh.
Su Qian merasa tidak rela. Ia mengulurkan tangan memegang pelipisnya dengan langkah gontai, tubuhnya tak terkendali condong ke arah pria itu.
Gu Tinghan menggeser tubuhnya untuk menghindar tanpa suara, lalu berkata kepada pelayan toko, "Tolong bungkus cincin berlian merah muda Graff ini. Istri saya sangat menyukainya." Sambil berkata demikian, ia mengeluarkan sebuah kartu hitam.
"Uhuk uhuk uhuk... Uhuk uhuk..." Jiang Ke dengan cemas merangkul lengan pria itu dan merendahkan suaranya, "Aku juga bukan orang yang tergiur kemewahan. Kalau kita tidak mampu membelinya, lebih baik kita pergi saja..."
"Tuan, terima kasih atas kunjungannya, semoga hari Anda menyenangkan!" Pelayan itu menyerahkan kantong kemasan yang indah kepada mereka.
Keterkejutan membuncah di mata Jiang Ke. Penampilannya yang tampak menggemaskan membuat hati Gu Tinghan melunak seketika. Sentuhan hangat dengan cepat menyapu pipinya.
Pria itu tersenyum simpul dan berbisik pelan, "Selama itu yang kamu inginkan, aku bisa memberikan apa saja untukmu."
Alis Su Qian langsung mengerut dalam. Bulu mata yang ia turunkan menciptakan bayangan pekat di bawah matanya, sementara tatapannya dipenuhi dengan kegelapan yang sulit diurai.
Pada saat yang sama, Song Qianxue juga menatap mereka dengan tidak percaya. Itu adalah barang edisi terbatas global yang dibuat dengan tangan secara murni! Tangannya mengepal erat, menatap punggung kedua orang itu yang berbalik pergi dengan sorot mata yang semakin menggelap.
Tiba-tiba Jiang Ke berhenti melangkah, menyipitkan matanya menatap pria di sisinya. "Gu Tinghan, bukankah kita sudah bangkrut?"
"Uang bisa dicari, tetapi tidak ada hal di dunia ini yang lebih berharga daripada kebahagiaanmu." Suaranya yang rendah itu kini terdengar sedikit parau, memberikan godaan yang mampu membuai senar hati siapa pun.
[Jutaan Detak Jantung: Pembawa acara, aku datang!]
[Belok di Persimpangan Lain: Kondisi pembawa acara hari ini terlihat sangat bagus ya!]
[Kurang dari Enam Kaki: Hahaha, rasanya agak mirip seperti orang yang sedang kasmaran.]
[Hari Sedang Hujan: Pembawa acara, cepat lihat, ada yang sedang menjatuhkan namamu, sudah banyak akun pemasaran yang menggiring opini.]
[Jutaan Detak Jantung: Sialan, ada yang melakukan perundungan siber pada pembawa acara kita.]
[Melamun Cukup Lama: Hari ini datang lagi untuk mendukung pembawa acara.]
Kekasih Takdir telah memasuki ruang siaran langsung.
Ambil Saja Semuanya telah memasuki ruang siaran langsung.
Jiang Ke memperlihatkan sedikit gigi putihnya, tersenyum dengan mata yang berbinar. "Terima kasih atas kecintaan dan dukungan dari kalian semua ya! Hari ini tiga ramalan, setelah selesai langsung tutup siaran!"
[Asal Bahagia: Datang untuk melihat pembawa acara penipu.]
[Tidak Makan Mi Instan: Minta maaf sana pada Nona Muda, mengandalkan banyak penggemar malah menindas orang!]
[Monster Kecil: Memangnya kalian tidak punya otak yang berkembang sempurna ya? Mau saja dijadikan alat oleh orang lain.]
[Ikan Salmon: Mengambil perkataan di luar konteks dan memotong awal serta akhirnya, apakah kalian pikir pembawa acara kita adalah kesemek empuk yang bisa diremas-remas?]
[Emosi Kecil: Pembawa acara hanya iri karena Nona Muda berparas cantik, makanya dia memprovokasi para penggemar untuk melakukan perundungan siber.]
"Terima kasih atas perhatian semuanya. Komentar-komentar buruk itu akan Kusekat. Setelah siaran langsung selesai, aku akan mengunggah bukti-bukti untuk melakukan klarifikasi. Bagaimanapun, aku tidak ingin membiarkan orang picik itu merasa menang," ucapnya perlahan.
[Masakan Sichuan Tanpa Cabai: Abaikan saja tatapan orang lain bagaikan nyala api hantu, langkahkan kakimu di jalan malam dengan berani.]
[Anjing Bodoh yang Tidak Bodoh: Pembawa acara, kami akan selalu berdiri di belakangmu.]
[Tapi Aku Bermata Minus: Pembawa acara kita memang sedang bernasib baik, sampai-sampai ada yang sengaja mencari masalah dengannya.]
[Kamu yang Nomor Satu: Pembawa acara tidak mencari masalah, tapi juga tidak takut pada masalah.]