Jilid Pertama, Bab 23: Peti Mati Menindih Peti Mati, Dendam Membubung ke Langit
Jiang Ke yang terbaring di atas tempat tidur menggeliat malas, namun tiba-tiba merasakan hawa dingin merambat di pergelangan kakinya.
Dalam keadaan setengah sadar, ia membuka mata dan seketika itu pula ia terpaku melihat rantai besi yang membelenggu kakinya. Pikirannya mendadak kosong selama beberapa detik.
Sebelum ia sempat bereaksi, pintu tiba-tiba terbuka. Seorang pria duduk di atas kursi roda masuk perlahan, sepasang matanya yang sedalam danau di musim dingin menatapnya lekat-lekat.
Jiang Ke membelalakkan mata menatap pria itu. "Gu Tinghan, apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan aku!"
"Apa kau tidak menginginkan kakimu lagi?" Suara pria itu terdengar rendah dan merdu, namun bernada mengancam, membuat sekujur tubuhnya meremang.
Jiang Ke memaksakan senyum kaku, sementara dalam hatinya ia telah mengumpat seluruh leluhur pria itu hingga tujuh turunan.
Ia menunduk malu, menutup mulutnya dengan jemari sambil tertawa kecil. "Ternyata Sayang suka yang seperti ini, tapi aku ingin menjadi dominan!"
Wajah Gu Tinghan seketika menggelap, sorot matanya berubah dingin. Fitur wajahnya yang tampan tampak membeku layaknya es, membuat siapa pun yang melihatnya gemetar ketakutan.
"Hehehe, Sayang yang baik, cepat lepaskan aku," Jiang Ke tidak kuasa menahan diri untuk menyusutkan tubuh.
Pria itu merendahkan suaranya, dingin dan kelam. "Memangnya ke mana lagi kau ingin pergi?"
Sudut bibir Jiang Ke tertarik membentuk senyum nakal. "Tentu saja..." Sebelum kata-katanya usai, pandangannya tertuju pada bibir tipis pria itu.
Bibirnya tipis dan kemerahan, tampak sebening embun pagi. Tanpa sadar, Jiang Ke pun mencium bibir tersebut.
Saat melepas ciuman itu, Gu Tinghan tertegun sejenak. Ketika mata mereka bertemu, pria itu segera membuang muka dan bergegas meninggalkan ruangan.
Wajah Jiang Ke memerah padam. Namun, ia membatin, jika bukan karena nafsu, apakah ini namanya basa-basi?
Tiba-tiba, suara notifikasi ponsel berbunyi. Ia membukanya dan melihat pesan dari Yu Yao. Sepertinya hari ini ia sudah bisa melakukan pembongkaran makam.
"Xiao Zhi, kau di sana?" Jiang Ke menyapu pandang ke sekeliling ruangan.
Xiao Zhi terkejut dan muncul dari dalam dinding. "A-Ke, bagaimana kau tahu aku ada di sini? Aku tidak melihat kalian berciuman tadi!"
Jiang Ke menarik sudut bibirnya, menunjuk rantai di pergelangan kakinya. "Xiao Zhi, bantu aku mencari kuncinya."
Setengah jam kemudian, Jiang Ke tiba di depan sebuah makam tunggal. Di sekelilingnya, pepohonan hijau menutupi langit, sesekali embusan angin dingin bertiup, menciptakan suasana yang mencekam dan sesak.
Untuk membongkar makam orang mati, diperlukan lima orang yang lahir pada tahun Kerbau, bulan Kuda, hari Kambing, dan jam Ayam, lalu menaburkan darah jengger ayam di atas gundukan makam.
Jiang Ke menancapkan tiga batang dupa di atas makam dan mulai merapalkan mantra, "Tiga keajaiban langit, matahari, bulan, dan bintang, mengguncang langit, bumi, dan para dewa. Para dewa bersujud, kejahatan takkan bertahan..."
Seketika setelah mantra selesai diucapkan, dupa pun habis terbakar. Dua batang panjang dan satu pendek, berurutan dari kiri ke kanan, ternyata itu adalah dupa pemanggil maut.
Tatapan Jiang Ke menajam. "Mulai bongkar makamnya!"
Tak lama kemudian, lapisan tanah yang ditumbuhi lumut perlahan tersingkap, menampakkan tanah kuning yang basah di baliknya.
Berkat usaha mereka, sudut peti kayu cendana akhirnya terlihat. Setelah tanah kuning itu disingkirkan, sebuah peti kayu utuh pun tampak.
Setelah peti ditarik keluar, Jiang Ke melompat ke dalam lubang makam. Tiba-tiba ia melihat tanah kuning di sisi lain tampak rata dan utuh. Ia menyentuh tanah itu dan saat tanahnya runtuh, ternyata di baliknya tersembunyi peti mati lain. Peti di atas peti, dendam yang meluap ke langit, tak heran kebenciannya tak kunjung padam dan membawa bencana bagi keluarga...
Jiang Ke menoleh ke arah Yu Yao. "Di makam kakekmu ada dua peti mati. Jika ingin dendamnya sirna, kau harus mencari tempat pemakaman baru yang lebih baik untuk memakamkannya kembali."
Wajah Yu Yao menunjukkan keterkejutan, matanya terpaku pada peti yang baru saja ditarik ke atas.
Detik berikutnya, peti itu tiba-tiba meledak. Sesosok mayat pria berambut putih dan berwajah hitam melompat keluar dan menyerang Yu Yao.
Melihat itu, Jiang Ke bergegas mendorong gadis itu menjauh dan menggunakan jimat api untuk melawannya. Namun, mayat itu tidak terluka sedikit pun. Setelah diamati, ternyata ada lapisan cahaya putih tipis yang menyelimuti tubuhnya, membuat api tak mampu menyentuhnya.
Saat itulah ia menyadari bahwa mayat ini telah menjadi iblis. Jiang Ke menusuk jarinya, melukis jimat di atas pedang kayu persik dengan darahnya, dan merapalkan mantra dalam hati sembari menusukkan pedang tersebut ke arah mayat itu.
Terdengar suara "puk", lapisan cahaya di tubuh mayat itu pecah, dan api seketika membakar tubuhnya. Raungan rendah terdengar jelas di tengah hutan yang sunyi.
Dalam sekejap, wajahnya yang pucat pasi mulai menampakkan otot-otot merah yang terpilin. Mayat itu melompat tinggi, berusaha melarikan diri.
Jiang Ke segera mengejarnya. Melihat bayangan hitam yang tiba-tiba menghilang, ia mengamati sekeliling. Hutan lebat di sekitarnya menjadi tempat persembunyian terbaik bagi makhluk itu.
"Di antara enam penjuru, di dalam empat lautan, iblis bersembunyi, gunakan jimat untuk mencari jejak." Ia dengan cepat merangkai segel dengan kedua tangannya sambil merapalkan mantra.
Jiang Ke berlari kencang mengikuti arah yang ditunjukkan jimat emas. Saat itu, mayat tersebut sudah tampak mengerikan; taringnya yang tajam menyembul keluar, tubuhnya penuh luka berdarah dan berwarna merah pekat yang mengerikan.
Ia menoleh ke arah pengejarnya, meraung rendah, lalu menepuk tanah dengan kuku panjangnya yang setajam pisau dan melompat tinggi menerjang Jiang Ke.
Jiang Ke mengangkat pedang kayu persiknya untuk menahan serangan itu. Saat mereka sedang beradu, tiba-tiba energi hitam menyelimuti tubuh mayat tersebut dan menghempaskan Jiang Ke hingga terpental.
Namun, rasa sakit yang ia bayangkan tidak datang. Saat menoleh, ia melihat seorang pria tua dengan lembut menopang lengannya.
"Penyiar, kita bertemu lagi rupanya." Sebuah suara jernih dan terang terdengar tiba-tiba.
Jiang Ke menoleh ke arah suara itu, dan pemuda itu berkata dengan penuh semangat, "Penyiar, apakah kau masih ingat mayat wanita tanpa kepala itu?"
Tatapan menyelidik Jiang Ke beralih antara pemuda itu dan pria tua di sampingnya. "Ternyata kau."
Saat Jiang Ke sedang tertegun, pria tua itu mengaktifkan formasi *Liu Jia Liu Ding* yang telah ia pasang di bawah mayat. Seketika, cahaya emas muncul, benang-benang emas bagaikan jaring raksasa mengikat mayat yang sedang melompat itu.
"Tiga keajaiban langit, matahari, bulan, dan bintang, mengguncang langit, bumi, dan para dewa. Para dewa bersujud, kejahatan takkan bertahan. Roh langit, roh bumi, enam dewa *Jia* dan *Ding* patuhi perintahku..."
Seiring dengan mantra pria tua itu yang semakin cepat, mayat itu berontak semakin hebat. Benang emas itu membakar tubuhnya hingga meninggalkan luka dalam sampai ke tulang, membuat mayat itu meraung-raung marah.
Jiang Ke segera mengambil kesempatan itu, mengangkat pedang kayu persiknya, dan menusuk jantung mayat tersebut.
"Terima kasih, Rekan Taois atas bantuannya!" Jiang Ke mengepalkan tangan memberi hormat kepada pria tua itu.
Mata pemuda itu berkilat dengan kegembiraan yang sulit disembunyikan. "Kakek, ini adalah ahli yang kubicarakan padamu waktu itu."
Pria tua itu meliriknya sekilas, lalu menjitak kepalanya dua kali dengan kesal. "Masih sempat-sempatnya kau bicara."
Pemuda itu memegangi kepalanya yang sakit dan segera terdiam.
"Terima kasih telah membantu cucuku waktu itu," kata pria tua itu dengan ramah.
Jiang Ke tersenyum. "Terlalu sopan, Kakek. Itu sudah menjadi kewajibanku."
Pria tua itu tampak bijak dengan wajah penuh pengalaman, matanya seolah mampu menembus segalanya, membuat siapa pun merasa segan.
"Di usia yang begitu muda, kau sudah menguasai hukum Tao dan metafisika, sungguh bakat yang luar biasa. Andai cucuku punya sepersepuluh ribu dari kemampuanmu."
Jiang Ke merendah sambil menahan tawa. "Kakek terlalu memuji, saya hanya tahu sedikit dan kebetulan saja berhasil."
Pria tua itu melirik pemuda di sampingnya dan menghela napas panjang dengan penuh penyesalan.