Bab Seratus Enam Puluh Tiga: Apakah Kau Melihat Jelas Wajahnya?
Su Lin memasang beberapa garis hitam di dahinya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa masalah yang selama seini ia khawatirkan justru tidak terjadi, melainkan masalah lain yang sama sekali tidak ia perhatikanlah yang justru terjadi.
Su Lin selalu cemas identitasnya akan terbongkar dan orang-orang akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang laki-laki setelah ia memasuki asrama putri. Ia tidak menyangka bahwa dari saat ia masuk hingga keluar dari asrama putri, meskipun sempat terjadi beberapa insiden kecil, penyamarannya berhasil dilakukan dengan sempurna.
Namun... siapa sangka setelah keluar, ia justru menghadapi masalah yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Ia diajak berkenalan oleh seseorang, dan yang lebih parah lagi, orang yang mengajaknya berkenalan adalah seorang laki-laki.
Saat ini, batin Su Lin benar-benar hancur dan dipenuhi dengan seribu satu kekesalan.
Ma Zhetao yang berada di sampingnya sedang berusaha keras menahan tawa, dan Su Lin tentu saja dapat merasakannya.
Su Lin tidak menghiraukan pemuda yang mengajaknya berkenalan itu. Katakanlah, apakah ia harus menjawab dengan suara yang telah diubah menjadi suara wanita, atau menggunakan suara pria yang berat dan kasar?
Di bawah tatapan penuh harap dan gugup dari pemuda itu, Su Lin berbalik dan pergi.
Namun, saat berbalik, Su Lin tanpa sengaja mendorong lengan Ma Zhetao yang sedang menahan tawa.
Ma Zhetao didorong sedikit, ia tertegun sejenak, lalu sepertinya langsung mengerti.
Ia paham maksud Su Lin, yaitu berniat untuk menjahili pemuda tersebut.
Wajah besarnya mendekat ke hadapan pemuda itu sambil menyeringai lebar.
Begitu melihat wajah besar tiba-tiba muncul di hadapannya, pemuda itu langsung terkejut dan benar-benar kebingungan, tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Kawan, terima kasih ya, uang dua puluh ribu ini jatuh dariku," kata Ma Zhetao sambil tersenyum licik, lalu menyambar uang yang ada di tangan pemuda itu sebelum sempat menyadari apa yang sedang terjadi.
Pemuda itu tertegun, atau lebih tepatnya tercengang.
Hah? Ada trik licik seperti ini?
Setelah uangnya diambil oleh Ma Zhetao, ia baru sadar. Uang apa yang jatuh darimu? Jelas-jelas itu uangku sendiri yang ku lempar ke lantai lalu kuambil lagi.
Ia mengumpulkan sedikit keberanian untuk memanggil Ma Zhetao dan menjelaskan, "Hei, kawan, uang itu bukan milikmu. Itu milikku yang baru saja terjatuh ke lantai lalu kuambil kembali."
"Benarkah?" Ma Zhetao tersenyum menatapnya.
Namun, senyuman yang begitu 'lembut' itu tampak begitu mengerikan dan menakutkan di mata pemuda tersebut.
Pemuda itu menelan ludah, kilatan ketakutan melintas di matanya.
Bagaimanapun, tinggi badan Ma Zhetao mencapai satu meter sembilan puluh, tubuhnya tinggi dan kekar. Pemuda yang tingginya sedikit di atas satu meter tujuh puluh itu tampak seperti gadis mungil di hadapannya. Terlebih lagi, Ma Zhetao adalah anggota tim bola basket sekolah dengan otot-otot yang sangat terlatih.
"Ah... mu... mungkin aku salah lihat." Pemuda itu merasa takut.
Lagipula itu hanya uang dua puluh ribu, ia memilih untuk tidak menyinggung pria seperti raksasa ini.
"Uang ini sepertinya memang milikmu... milikmu." Wajah pemuda itu tampak sangat buruk, seolah-olah ia mengatakannya sambil mau menangis.
"Kalau begitu terima kasih ya." Ma Zhetao menepuk bahunya seolah sedang 'memberi semangat'.
Orang itu hampir saja membuat kedua kakinya gemetar lemas dan langsung jatuh bersimpuh di tanah.
Sebenarnya ini tidak bisa disalahkan sepenuhnya pada Ma Zhetao, karena ini adalah instruksi dari Su Lin.
Tadi saat Su Lin pergi, ia mendorong Ma Zhetao dengan tangannya, yang berarti menyuruhnya maju untuk menyelesaikan urusan ajakan kenalan itu. Kemudian ia bertukar pandang dengan Ma Zhetao untuk menyuruhnya mengambil uang dari tangan pemuda itu sebagai pelajaran.
Diajak berkenalan oleh sesama jenis membuat hatinya masih merasa merinding hingga sekarang, dan ia tidak bisa berhenti bergidik.
Sungguh mengerikan.
Sepertinya mulai sekarang ia harus berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengenakan pakaian wanita di dunia nyata.
Kali ini mengenakan pakaian wanita, mungkin ada sekitar enam orang yang tahu penampilan Su Lin saat berpakaian wanita: keempat orang di kamar asrama Chen Er, serta Shen Yixin dan Ma Zhetao, totalnya ada enam orang.
Namun, saat ini Su Lin hanya ingin segera kembali ke asramanya sendiri dan mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Setelah melewati insiden ajakan kenalan tersebut, perjalanan selanjutnya berlangsung tanpa hambatan.
Ia tiba dengan selamat di area gedung asrama putra dan masuk ke dalam tanpa ada yang menghalangi.
Inilah aturan tak tertulis dari asrama putra dan putri: laki-laki tidak bisa masuk ke asrama putri, tetapi perempuan bebas keluar masuk asrama putra.
Oleh karena itu, melihat seorang perempuan berjalan memasuki asrama putra adalah pemandangan yang sangat lumrah.
Sehingga, kehadiran Su Lin berbusana wanita yang berjalan masuk ke asrama putra tidak menarik terlalu banyak perhatian, dan bagi orang-orang sekitar, itu hanyalah pemandangan yang biasa saja.
Namun, karena penampilan Su Lin saat mengenakan pakaian wanita sangat memukau dan memiliki aura yang luar biasa, tetap saja ada beberapa orang yang memperhatikannya. Beberapa orang tampak bersandar di balkon, menikmati pemandangan di lantai bawah.
Melihat Su Lin, mereka mulai membicarakan 'dirinya'.
"Cepat lihat, ada gadis cantik di sebelah sana."
"Memang sangat cantik, tapi sayang sekali..." Seseorang menghela napas.
"Kenapa sayang?"
"Coba lihat sekarang sudah tengah hari bolong, gadis mana lagi yang mau datang ke asrama putra sendirian? Dan apakah kalian melihat kantong yang dibawanya? Barang di dalamnya sepertinya adalah hadiah untuk pacarnya." Orang di balkon lantai atas itu menganalisis dengan sangat logis.
"Terdengar masuk akal juga..."
"Sayang sekali..." seorang lainnya mengeluh.
"Satu lagi sayur kol yang bagus dimakan babi."
"Tuhan benar-benar cemburu pada orang berbakat. Kenapa orang tampan sepertiku masih saja melajang sampai sekarang!"
"Pecandu narsisme, sana pergi sana..."
"..."
Su Lin sama sekali tidak tahu bahwa di lantai tertentu, ada beberapa pemuda mesum yang sedang membicarakan tentang dirinya.
Saat ini, setelah masuk ke dalam asrama putra, ia tetap berjalan dengan gaya seperti perempuan, tidak bertindak sembarangan meskipun koridor sepi.
Bagaimana kalau tiba-tiba berpapasan dengan orang lain? Betul kan?
Jadi, lebih baik berhati-hati adalah yang utama.
Su Lin sangat berhati-hati dan tidak menunjukkan kecacatan. Meskipun ia tidak memiliki pengalaman mengenakan pakaian wanita di dunia nyata, seiring dengan bertambahnya pengalaman, ia mulai terbiasa dan semakin mahir.
Sepanjang perjalanan ia tidak berpapasan dengan orang yang dikenalnya, inilah keberuntungan Su Lin.
Hingga ia tiba di depan pintu nomor 429 dan mengetuk pintunya dengan lembut.
Shen Yixin sedang menulis cerita di dalam asrama, jadi ia pasti ada di sana, tidak perlu khawatir tentang hal itu.
Tidak lama kemudian, pintu asrama pun terbuka.
Su Lin melangkah masuk ke dalam kamar 429.
Namun, tepat pada saat ia melangkah masuk ke kamar 429, seorang mahasiswa dari jurusan yang sama tidak sengaja melihatnya.
Orang itu menunjukkan ekspresi bingung setelah melihat kejadian tersebut.
"Kenapa bisa ada perempuan yang datang berkunjung ke kamar 429? Dilihat dari punggungnya, sepertinya perempuan itu juga memiliki paras yang lumayan."
"Mungkinkah itu Er Kecil?" Pemuda itu hanya melihat bagian belakangnya dan tidak melihat dengan jelas siapa orangnya, tetapi ia tahu pasti bahwa itu adalah seorang perempuan.
"Sepertinya tidak mungkin, Er Kecil sedang sakit dan izin libur dua hari, jadi seharusnya bukan dia. Kalau begitu, siapa orang ini?"
Ia jatuh dalam lamunan, tetapi tetap tidak bisa menebak siapa sebenarnya orang tersebut.
Tepat pada saat itu, Ma Zhetao baru saja kembali.
Ia buru-buru menarik Ma Zhetao untuk bertanya, "Eh, Ma Zhetao, apakah kamu tahu kalau barusan ada perempuan yang datang ke asrama kalian?"
"Perempuan?" Mata Ma Zhetao berbinar sesaat dan hatinya mulai bergejolak, tetapi tiba-tiba ia teringat sesuatu dan balik bertanya kepada pemuda itu, "Apakah kamu baru saja melihat seorang perempuan berjalan masuk?"
"Iya, baru saja, belum ada satu menit sejak dia masuk." Pemuda itu mengangguk.
Ma Zhetao sepertinya sudah tahu apa yang sedang terjadi.
Sepertinya saat Su Lin kembali ke asrama, ia terlihat oleh orang ini.
"Lalu, apakah kamu melihat dengan jelas wajah perempuan yang masuk ke asrama itu?"
Ma Zhetao bertanya sekali lagi.