Seratus Enam Puluh: Menyusup ke Asrama Putri (Mohon Langganan)
Selesai.
Pada detik ini, satu-satunya pikiran yang melintas di benak kedua mahasiswi dan Su Lin adalah bahwa mereka telah ketahuan.
Tubuh ketiganya langsung menegang, terpaku di tempat, tidak berani bergerak sedikit pun.
Mereka bertiga perlahan menoleh.
"Sedang apa kamu?" Suara ibu pengawas asrama terdengar. Satu tangannya berkacak pinggang, sementara matanya menatap tajam seperti mengawasi maling ke arah seorang pemuda tinggi tegap yang memanggul galon air di bahunya. Orang itu tidak lain adalah Ma Zhetao.
Ha? Bukan meneriaki mereka?
Ketiga orang yang tadinya berdiri kaku itu memasang ekspresi penuh tanda tanya. Ini... Sialan, ternyata mereka tidak ketahuan, melainkan kehadiran Ma Zhetao yang telah menarik perhatian ibu pengawas asrama.
Jantung yang tadinya hampir copot ke tenggorokan akhirnya turun kembali. Ketiganya mengembuskan napas lega, seluruh tubuh mereka pun mengendur.
Mereka diam-diam menyeka keringat dingin. Benar-benar membuat takut setengah mati.
Ternyata identitas samaran Su Lin tidak terbongkar.
"Aku datang ke sini untuk mengantar air." Ma Zhetao tersenyum kikuk.
"Kenapa aku belum pernah melihatmu sebelumnya? Di mana Cao Delin yang biasanya mengantar air?" Ibu pengawas asrama itu menginterogasi Ma Zhetao.
Untungnya, Ma Zhetao sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini dan telah berkoordinasi dengan senior mereka, Cao Delin.
"Begini, Bu, saya ini anak baru. Cao Delin yang seharusnya mengantar air mungkin tadi pagi salah makan atau bagaimana, perutnya terus-menerus mulas. Jadi, pengiriman air untuk wilayah hari ini digantikan oleh saya," jelas Ma Zhetao dengan nada menjilat kepada ibu pengawas asrama.
"Hmm, kalau begitu mari daftar dulu." Untungnya ibu pengawas asrama itu tidak curiga. Bagaimanapun, Ma Zhetao berbadan tinggi besar, memanggul galon air, dan mengenakan pakaian perusahaan air minum, jadi tidak ada yang mencurigakan.
Sebaliknya, Su Lin yang berada di samping mendengarkan dengan sekujur tubuh dipenuhi keringat dingin. Pengawas asrama ini benar-benar sangat ketat, bahkan seorang pengantar air pun harus diinterogasi sedemikian rupa.
Untung saja samarannya sempurna sehingga tidak dikenali.
Teriakan "berhenti" barusan benar-benar hampir membuat jantungnya copot.
Keringat dinginnya mengalir deras, sekujur tubuhnya kaku.
Setelah menarik napas perlahan dan ketenangannya kembali, Su Lin buru-buru mengajak kedua mahasiswi itu meninggalkan pos pemeriksaan paling ketat di seluruh Universitas Zhonghai tersebut.
Hingga mereka benar-benar keluar dari jangkauan pandangan ibu pengawas asrama, barulah bisa dikatakan mereka telah resmi memasuki area asrama putri.
Asrama putri... Tempat yang paling misterius dan paling diidam-idamkan oleh para mahasiswa laki-laki.
Tanpa diduga, akhirnya dia datang juga ke sini, bahkan masuk dengan menyamar sebagai perempuan.
Ma Zhetao yang masuk belakangan berhasil menyusul mereka bertiga. Begitu melihat ketiganya, Ma Zhetao juga mengembuskan napas lega dan tanpa sadar menyeka keringat di dahinya, entah itu keringat dingin atau keringat karena kepanasan.
"Asrama kami ada di lantai enam." Berhubung mereka berdua sudah ada di sana, Wu Di memberi tahu mereka di lantai berapa asramanya berada. "Nanti setelah di atas, kalian jangan sembarangan melirik ke asrama orang lain."
"..."
"Baiklah, baiklah."
Lantai enam, ya ampun, tinggal di tempat setinggi itu! Lagi pula asrama mahasiswa ini tidak memiliki lift, mendaki lantai setinggi itu sungguh melelahkan.
Mendengar ucapan tersebut, Su Lin baik-baik saja, paling-paling hanya berjalan kaki lebih jauh sedikit.
Sebaliknya, wajah Ma Zhetao nyaris berubah hijau. Dia tidak seperti Su Lin dan dua mahasiswi lainnya yang berjalan dengan tangan kosong.
Dia masih harus memanggul galon air ini sampai ke lantai enam.
Dengan tambahan beban satu galon air, mana mungkin dia bisa merasa senang.
Untung saja dia anak olahraga dengan kondisi fisik yang cukup baik, kalau tidak, dia pasti sudah menyerah sejak tadi.
Melihat ketiga orang itu berjalan perlahan menaiki tangga, Ma Zhetao mengertakkan gigi, memanggul galon air di bahunya, lalu ikut menyusul.
Saat berjalan di tangga, Ma Zhetao memanfaatkan kesempatan ini untuk melihat sekeliling, ingin tahu apa perbedaan antara asrama putri dan asrama putra.
Kesempatan langka seperti ini tentu harus dimanfaatkan untuk mencari tahu.
Kalau tidak, buat apa Ma Zhetao repot-repot ikut kemari jika bukan karena ingin melihat wujud asrama putri.
Sebagian besar pintu asrama putri tertutup rapat sehingga dia tidak bisa melihat apa pun. Selain itu, karena harus memanggul galon air, dia juga tidak bisa mengintip seperti pria mesum.
Sambil melirik ke sana ke mari seperti itu, dia mengikuti mereka sepanjang jalan hingga sampai di lantai enam.
Setibanya di lantai enam, Ma Zhetao menurunkan galon air tersebut dan mengambil napas dalam-dalam. Lelah sekali.
Memanggul satu galon air naik ke lantai enam ternyata sama sekali bukan hal yang mudah.
Su Lin mengikuti kedua mahasiswi itu dan akhirnya tiba di asrama mereka. Setibanya di depan pintu asrama, mereka mengetuk pintu, dan tidak lama kemudian pintu pun terbuka.
Mendorong pintu hingga terbuka, Su Lin melihat ke dalam asrama.
Suasana di dalamnya sangat bersih dan tertata dengan rapi.
Tidak ada pakaian yang berserakan atau digantung sembarangan di dalam asrama. Jelas sekali bahwa setelah tahu mereka akan datang, para penghuninya telah berbenah terlebih dahulu dan menyimpan barang-barang yang tidak seharusnya terlihat ke dalam lemari.
Asramanya sangat bersih, sama sekali tidak seperti rumor di internet yang mengatakan bahwa asrama putri sangat kotor dan berantakan.
Seluruh ruangan tertata dengan bersih, benda-benda diletakkan dengan rapi, dan ruangan itu benar-benar tanpa noda.
Melihat ruangan seperti itu, Ma Zhetao sampai tercengang, matanya menatap sekeliling dengan penuh keheranan.
Sementara tatapan Su Lin justru tertuju pada Chen Er yang sedang duduk di kursi sambil memandangnya.
Wajah Chen Er tampak pucat, rona wajah seseorang yang baru saja sembuh dari sakit parah. Tubuhnya terlihat sangat lemah seolah-olah bisa roboh ditiup angin kapan saja.
Ketika Chen Er melihat sosok Su Lin, dia sempat tertegun sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tanpa sadar.
Dia benar-benar merasa senang, sangat senang.
Karena Su Lin datang untuk menjenguknya.
"Aduh, lelah sekali aku." Pada saat ini, Ma Zhetao tiba-tiba berbicara dengan suara keras, membuat suasana di dalam ruangan itu kembali berubah.
"Hei, Wu Di, kalian punya gelas kertas sekali pakai tidak? Aku kehausan setengah mati."
"Tidak punya." Wu Di memutar bola matanya ke arahnya. "Minum saja nanti setelah kembali."
"Bertubuh besar, sekalian tolong gantikan air untuk kami juga, kebetulan dispenser di dalam sudah habis airnya." Seorang mahasiswi memanggil Ma Zhetao.
"..." Ma Zhetao terdiam. Baiklah, sepertinya dia diperbudak lagi. Namun, melayani para mahasiswi adalah sebuah kewajiban.
"Baiklah." Serunya penuh semangat.
Dia pun berlari kecil dengan antusias untuk menggantikan air di asrama mereka.
Sementara itu, di sisi Su Lin.
Pandangannya tertuju pada Chen Er, lalu dia berjalan menghampiri tempat duduk gadis itu.
"Bagaimana keadaanmu?" Su Lin berjalan mendekat dan bertanya.
Di atas wajah Chen Er yang pucat, akhirnya muncul sedikit rona kemerahan. "Aku sudah jauh lebih baik. Tadi aku sudah makan sedikit, jadi tenaganya sudah jauh pulih."
"Kalau sedang tidak enak badan, istirahatlah yang banyak, tunggu sampai tubuhmu benar-benar pulih baru pergi kuliah lagi," angguk Su Lin.
"Terima kasih."
"..."
Keduanya mengobrol sebentar. Melihat Chen Er baik-baik saja dan hanya sedikit kelelahan, mereka semua merasa lega. Su Lin pun bersiap untuk kembali ke asrama putra.
Namun sebelum itu, dia harus melepas gaun panjang yang dikenakannya untuk dikembalikan kepada Chen Er.
Hanya saja...
"Pakaian ini..." Su Lin sedikit mengerutkan keningnya. "Apakah aku harus membawanya pulang untuk dicuci dulu baru dikembalikan kepadamu, atau dikembalikan sekarang?"
Lagi pula, pakaian ganti milik Su Lin sendiri sudah dibawa serta di dalam kantong.
"Dikembalikan kapan saja boleh, tapi tidak usah kauduci, aku bisa mencucinya sendiri." Chen Er tidak mempermasalahkan kapan pakaian itu dikembalikan. Sebenarnya baginya, dia justru lebih senang jika Su Lin mengembalikannya lain waktu.
Karena...