Bab Dua Puluh Tujuh: Pemeriksaan Besar-Besaran
Awalnya, Hu Shanshan mengira bahwa selama moderator memblokir orang-orang yang sebelumnya membahas tentang streamer lain, semuanya akan baik-baik saja. Namun, ia tak menyangka bahwa beberapa orang itu, yang sudah menjadi tokoh senior di ruang siarnya, ternyata memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dari dugaannya.
Baru saja akun-akun itu diblokir, langsung saja muncul beberapa orang lain yang membela mereka dan memprotes ketidakadilan tersebut.
Dalam sekejap, seluruh layar dipenuhi perdebatan tentang hal itu.
Hal ini membuat suasana hati Hu Shanshan yang memang sudah murung menjadi semakin kesal.
Dan ada satu hal lagi yang benar-benar membuatnya ingin muntah darah: bagi seorang perempuan, tak ada yang lebih menyakitkan daripada mendengar orang lain memuji kecantikan perempuan lain di hadapannya.
Terlebih lagi bagi dirinya, yang sebelum menjalani operasi plastik, wajahnya sangat biasa. Saat masih sekolah, ia kerap iri pada gadis-gadis cantik yang selalu populer di kalangan laki-laki. Saat berkuliah, sebuah kesempatan membawanya mengenal dunia operasi plastik. Libur musim panas tahun itu, ia pergi ke negeri seberang untuk operasi, membentuk hidungnya, dan meninggikan batang hidung.
Setelah pertama kali merasakan hasil operasi, teman-temannya dulu memujinya menjadi lebih cantik.
Mendapat pujian, hatinya pun berbunga-bunga.
Sejak saat itu, setiap liburan musim panas ia pasti melakukan operasi lagi, bahkan pernah memperbesar payudara.
Empat tahun berlalu, hampir seluruh bagian wajahnya pernah tersentuh pisau bedah; dirinya seperti berubah menjadi orang lain, sampai-sampai orangtuanya pun tak mengenalinya lagi.
Setelah operasi, memang ia menjadi cantik.
Menjadi cantik membuatnya lebih percaya diri.
Karena itu, setelah lulus kuliah, ia pun menjadi streamer dan cukup terkenal di platform streaming Hiu Duel. Setiap kali siaran, puluhan ribu orang menonton, dan penghasilannya per bulan dengan mudah melampaui sepuluh juta rupiah.
Wajah Hu Shanshan saat itu benar-benar suram, apalagi melihat semakin banyak penonton di ruang siarnya yang membicarakan streamer bernama “Surat Cinta”, bahkan menyebutnya sebagai “Gadis Tercantik Hiu Duel”.
“Apa bagusnya gadis tercantik itu, cuma murahan saja.” Hu Shanshan tak tahu siapa orang itu, tapi hatinya sudah dipenuhi kebencian, sampai giginya pun gatal.
Begitu mendengar seseorang menyebut perempuan itu sebagai gadis tercantik di Hiu Duel, rasa iri dan bencinya membuncah.
Melihat jumlah penonton di ruang siarnya perlahan menurun, Hu Shanshan mulai panik.
Tidak, ini tidak bisa dibiarkan, aku harus memikirkan cara untuk menyelamatkan semuanya.
Dengan tekad bulat, Hu Shanshan mengambil keputusan nekat, berencana melakukan sesuatu yang berani demi menarik perhatian.
Terdengar suara robekan.
Rok yang sejak awal sudah sangat pendek, kini ia robek lebar-lebar, menampakkan celana dalamnya yang samar terlihat.
Aksinya itu akhirnya berhasil menahan para penonton, bahkan membuat mereka yang tadinya hendak pergi, memilih bertahan dan terus menonton adegan panas tersebut. Kolom komentar pun dipenuhi tulisan-tulisan vulgar. Jumlah penonton perlahan naik, dan kecepatan penonton mengirim hadiah pun jauh lebih tinggi dari sebelumnya—dalam waktu kurang dari semenit, ia sudah menerima hadiah senilai hampir satu juta rupiah.
Menatap suasana ruang siar yang kembali hidup, Hu Shanshan akhirnya bisa bernapas lega.
…
“Aku adalah streamer Surat Cinta.”
Su Lin menenangkan diri, lalu memulai siaran. Ia hanya memperkenalkan diri secara sederhana. Tak perlu terlalu banyak, karena para penggemar setianya sudah tahu siapa dirinya.
“Senang sekali hari ini kalian semua bisa kembali hadir di ruang siarku. Aku tak pernah menyangka, ruang siarku bisa seramai ini.”
“Sebelum mulai siaran, aku sempat khawatir, apakah ada seribu orang yang menonton?”
“Soalnya, kalau dibandingkan dengan streamer cantik lain di Hiu Duel, aku tak bisa bernyanyi, tak bisa menari, dan tak punya keahlian apa-apa.”
“Tapi ternyata…”
Su Lin terdiam sejenak.
Namun di mata para penonton di ruang siar, pemandangan itu justru menimbulkan rasa iba.
“2333, kasihan banget streamernya nggak bisa apa-apa.”
“Jangan menangis streamer, meski kamu nggak bisa nyanyi, nggak bisa nari, nggak punya keahlian lain, kami tetap mencintaimu, kamu cukup cantik saja sudah cukup.”
“Streamer secantik ini, sudah menutupi segalanya.”
“Aku bawa streamer pulang…”
“Maaf teman-teman, istriku memang suka usil.”
“Yang di atas, minggir sana.”
“…”
Dalam sekejap, layar dipenuhi komentar dan hadiah yang berdatangan. Komentar terbanyak adalah “kasihan streamer”.
Tiba-tiba hadiah yang masuk begitu banyak, sampai-sampai Su Lin sendiri tertegun.
“Terima kasih semuanya.” Su Lin menarik napas dalam-dalam, “Terima kasih dukungannya untuk aku yang tak punya kelebihan ini.”
“Aku tak menyangka, ternyata ada lebih dari sepuluh ribu penggemar yang menontonnya.”
Entah kenapa, hatinya merasa tersentuh… Tak disangka, meski dirinya tak punya keahlian apa-apa, masih banyak yang mendukungnya.
Andai saja itu terjadi pada orang lain, mungkin sejak awal sudah dicaci maki habis-habisan.
Seperti yang pernah Su Lin lihat di sebuah anime, ada karakter bernama Ratu Bajak Laut Hancock, wanita tercantik di lautan, yang selalu berkata, “Aku secantik ini, apapun yang kulakukan pasti dimaafkan.”
Kondisi Su Lin saat ini ternyata mirip dengan sang ratu.
‘Dia secantik ini, kekurangan apapun jadi tak penting.’
…
“Streamer ini memang cantik… tapi entah apakah dia pernah operasi plastik.” Seseorang tiba-tiba berkomentar sinis.
“Heh, yang operasi plastik itu kamu, satu keluargamu juga operasi plastik, streamer secantik ini jelas alami, matamu rusak ya?” Langsung saja ada penonton lain yang membela.
“Satu penggemar berani melawan sepuluh pembenci, ternyata penggemar streamer ini nggak sopan, mulai sekarang aku jadi anti-fan.” Orang itu langsung menuliskan komentar itu, tapi segera tenggelam di lautan komentar yang membanjiri layar.
Orang itu jelas seorang pembenci, sengaja datang untuk mencari masalah.
Namun, banyak penonton lama di ruang siar yang sudah terbiasa menghadapi trik murahan seperti itu.
Di saat itu juga, ruang siar Su Lin kedatangan pertarungan yang lebih seru.
“Fans Xiao Mo hadir di sini.”
“Regu satu fans Xiao Mo datang.”
“Regu dua lapor.”
“…”
Tiba-tiba saja, ruang siar Su Lin dibanjiri sekelompok orang yang langsung memenuhi kolom komentar.
“Waduh, fans Xiao Mo? Bukankah mereka fans terbanyak di Hiu Duel?”
“Gila, bahkan Xiao Mo, streamer nomor satu Hiu Duel juga datang.”
“Ada apa ini, kok tiba-tiba fans dari streamer besar pada masuk semua?”
Penonton lain di ruang siar Su Lin tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana bisa dalam sekejap fans streamer besar datang menyerbu. Kedatangan fans-fans itu terasa seperti membawa niat kurang baik.
“Jangan-jangan streamer besar itu mau inspeksi?” Ada yang berbisik pelan.
Benar saja, tak lama kemudian, layar kembali dipenuhi komentar baru.
“Inspeksi ruangan.”
“Xiao Mo inspeksi ruangan.”
Suasana pun makin tegang, memang benar streamer nomor satu Hiu Duel, Xiao Mo, sedang melakukan inspeksi ruang siar.
Yang tak diduga, target inspeksi kali ini ternyata adalah ruang siar Su Lin.