Bab Sebelas: Kehidupan Masa Lalu dan Masa Kini
Di kehidupan sebelumnya, Su Lin adalah seorang mahasiswa teknik yang mengambil jurusan desain mekanik dan otomasi di universitas. Dari empat puluh lima orang di kelasnya, hanya ada dua perempuan. Seluruh rencana hidup yang sudah ia susun sebelum masuk perguruan tinggi pun hancur berantakan. Saat itu, seluruh hidupnya terasa suram. Bagi mahasiswa jurusan sosial tentu sulit membayangkan rasanya dikelilingi para lelaki selama dua puluh empat jam, dan itu berlangsung bertahun-tahun.
Hal tersebut membuatnya sering mengeluh selama empat tahun masa kuliah, menyesal kenapa dulu saat memilih jurusan malah terjebak di jurusan yang isinya seperti biara para biarawan. Namun kini, nasib mempermainkannya dengan cara yang lebih mengejutkan sekaligus menggelikan.
Ia terlahir kembali, menyeberang ke dunia paralel yang ajaib ini. Kali ini, ia dengan bangga menjadi seorang mahasiswa jurusan sosial, tepatnya jurusan Bahasa Inggris. Jurusan Bahasa Inggris dan Teknik Mesin bagaikan dua kutub yang berlawanan: di satu jurusan hampir tak ada pria, di jurusan lain hampir tak ada perempuan. Keadaannya benar-benar terbalik.
Su Lin adalah satu dari sedikit mahasiswa pria di jurusan Bahasa Inggris. Selain dirinya, ada tiga orang lain: Li Rui, Ma Zhetao, dan Shen Yixin. Keempatnya ditempatkan di satu kamar asrama oleh pihak universitas. Hanya saja, rumah Su Lin terletak di dekat kampus, jadi ia tak pernah tinggal di asrama. Selain itu, dengan kondisi kepribadian pemilik tubuh ini sebelumnya, memang ia lebih cocok hidup sendiri daripada berbagi kamar dengan orang lain.
Di antara mereka berempat, Su Lin adalah yang paling tampan, bahkan menjadi idola di Fakultas Sastra. Ma Zhetao berasal dari timur laut, bertubuh tinggi besar, anggota tim basket kampus, logatnya kental sekali, penuh nuansa pedesaan. Li Rui adalah seorang kutu buku, di tahun pertama sudah lulus ujian tingkat enam Bahasa Inggris dan kini sedang mendalami bahasa Arab. Konon, orang tuanya adalah diplomat, keluarganya cukup terpandang. Sementara Shen Yixin, yang terakhir, tampak biasa saja. Ia selalu memakai kacamata, pendiam, dan sama seperti Su Lin, seorang penyendiri. Ia juga penulis novel daring yang cukup dikenal di dunia maya, kebanyakan waktu dihabiskan di asrama menulis cerita.
Masing-masing punya keunikan dan sifat berbeda, namun satu hal yang sama: tidak satu pun di antara mereka yang punya pacar! Di jurusan penuh gadis cantik itu, keempat pria ini tetap saja jomblo, sungguh sebuah keajaiban.
Ma Zhetao belum punya pacar karena wajahnya kurang menarik, mirip gorila, tak disukai gadis. Li Rui hanya fokus belajar, tak ingin buang-buang waktu untuk cinta-cintaan yang menurutnya tak berguna. Shen Yixin terlalu asyik dengan dunia maya, jarang sekali berbicara dengan perempuan, waktunya habis untuk menulis novel daring. Sementara Su Lin (pemilik tubuh sebelumnya) adalah seorang penyuka pakaian perempuan, tidak mencari kekasih karena takut rahasianya terbongkar.
Akibatnya, sampai sekarang mereka berempat tetap saja melajang. Tapi, mereka semua tidak mempermasalahkannya. Pacar adalah makhluk aneh, ada atau tidak bagi mereka sama saja.
Pagi hari, ketika cahaya matahari menelusup masuk lewat tirai jendela dan menyinari kamar, Su Lin perlahan membuka matanya. Ini adalah malam pertamanya tidur di dunia paralel setelah reinkarnasi, dan juga malam paling nyenyak yang pernah ia rasakan.
Di sini, tidak ada lagi intrik licik dunia bisnis, tidak ada lagi persaingan dan tekanan berat yang membebani pundaknya. Suasananya sangat tenang dan damai. Sejak mulai berwirausaha, ia tak pernah lagi tidur nyenyak; setiap hari sibuk bekerja, berjuang tanpa henti. Baik secara mental maupun fisik, ia sudah sangat lelah. Namun demi impian, ia tak berani berhenti, tak berani lengah, hingga melewatkan banyak keindahan di sepanjang jalan.
Tapi akhirnya, siapa sangka, ia justru dikhianati rekan bisnisnya sendiri. Dalam sebuah kontrak penting, temannya bermain curang hingga perusahaan kekurangan modal. Ditambah lagi mitra bisnis kompak menagih bayaran, perusahaan tak mampu membayar utang, akhirnya bangkrut, dan ia pun harus menanggung hutang besar. Akhirnya, ia menenggak minuman keras di klub malam, tanpa sengaja mendapatkan kesempatan untuk terlahir kembali.
Pada akhirnya, semua perjuangan itu sia-sia. Su Lin menggeleng dan tersenyum pahit, tak mau lagi memikirkan masa lalu yang sudah tak berarti apa-apa.
Kini, ia telah memulai hidup baru. Ia bangun, membersihkan diri, berganti pakaian, lalu turun ke warung makan di bawah untuk sarapan.
Namun entah kenapa, ia merasa orang-orang di sekitar memandangnya, seolah-olah ada sesuatu yang aneh di wajahnya. Tanpa sadar, ia meraba wajahnya sendiri, bahkan diam-diam mengintip ke arah kaca etalase di samping. Selain tampak dirinya sedikit lebih tampan, tak ada yang lain yang berbeda.
“Aneh... tidak ada yang berubah,” gumamnya dalam hati. Ia tak habis pikir, mengapa orang-orang justru memandangnya hari ini. Pakaiannya pun biasa saja, pakaian kasual pria, bukan pakaian perempuan, tanpa riasan, tanpa wig.
Aneh sekali, ia bergumam lagi dalam hati. Meski heran, ia tentu saja tak mungkin bertanya pada orang asing kenapa mereka memperhatikannya. Bisa-bisa ia malah dianggap gila.
Ia melanjutkan langkahnya, tiba-tiba teringat sesuatu. Hadiah yang didapatnya setelah menyelesaikan misi dari sistem kemarin, salah satunya adalah “peningkatan daya tarik pribadi satu poin”. Mungkinkah perhatian orang-orang hari ini ada hubungannya dengan itu?
Semakin dipikir, Su Lin semakin yakin. Namun, daya tarik pribadi adalah hal yang tak kasat mata, tak bisa dibuktikan, hanya bisa dirasakan sebagai semacam aura dari dalam diri.
Sepertinya, sistem yang kadang menyebalkan itu, kali ini memberikan hadiah yang berguna juga. Ia merogoh saku, meraba kartu keberuntungan yang dibawanya. Hari ini suasana hatinya sangat baik, sambil bersenandung pelan, “Selama sistem tidak memberi tugas aneh-aneh, dunia ini sungguh indah.”
Jarak dari rumah ke kampus hanya sekitar setengah jam berjalan kaki. Karena tidak ada kelas penting pagi ini, ia pun berjalan santai menuju kampus.
“Su... Su Lin?”
Tiba-tiba, terdengar suara lirih dari belakangnya, suara seorang gadis.
Su Lin menoleh dengan bingung, dan melihat seorang gadis manis berpenampilan tenang berdiri di belakangnya, mengenakan gaun putih, rambut panjang terurai di bahu, pipinya sedikit memerah malu-malu, membawa ransel di punggung.
“Kamu... eh, halo.” Awalnya Su Lin ingin bertanya siapa dia, tapi merasa tidak sopan jika langsung bertanya, jadi ia mengubah niatnya dan sekadar menyapa.
Toh, jika gadis itu tahu namanya, berarti mereka pernah bertemu. Kalau ia menanyakan nama gadis itu, berarti ia tidak mengenali, dan itu bisa saja membuat hati gadis itu terluka.
Mendengar sapaan Su Lin, gadis itu tersenyum bahagia, matanya melengkung seperti bulan sabit.