Bab Satu: Pakaian Wanita?
Sebuah melodi yang akrab tiba-tiba terdengar di telinga, membuat Surya perlahan membuka matanya. Begitu ia membuka mata, pemandangan yang terbentang di depannya benar-benar asing. Di hadapannya ada sebuah meja komputer, di atasnya terdapat monitor LCD, keyboard, mouse, kamera, dan satu set perangkat mikrofon profesional.
Ini... perangkat siaran langsung.
Surya memang pernah menonton banyak siaran langsung sebelumnya, jadi ia sangat mengenal perangkat seperti ini. Melihat tata letak ruangan saat itu, satu kata segera muncul di benaknya: penyiar.
Apakah ini kamar seorang penyiar daring?
Kepalanya masih terasa sedikit pusing setelah terbangun. Ia masih ingat... dirinya dikhianati oleh rekan bisnis, yang membuatnya melakukan kecurangan pada sebuah kontrak sangat penting, menyebabkan perputaran dana perusahaan menjadi kacau. Ditambah lagi dengan para rekan bisnis yang serentak menuntut pembayaran, perusahaannya tidak sanggup membayar utang dan akhirnya bangkrut. Kini ia pun menanggung utang dalam jumlah besar.
Kau kira tragedi sudah berakhir di situ? Tidak, hidup jauh lebih tragis dari yang bisa dibayangkan.
Tunangan yang seharusnya dinikahi pada akhir tahun, tiba-tiba saja membatalkan pertunangan dan menghilang ke luar negeri tanpa jejak setelah memutuskan hubungan.
Mengalami pukulan berat seperti itu, Surya hanya bisa mencari pelampiasan pada alkohol, minum-minum di klub malam hingga mabuk berat. Ia bahkan tidak ingat lagi berapa banyak minuman yang ia teguk, baik anggur putih, merah, maupun bir, semuanya ditenggaknya tanpa henti... sampai akhirnya ia benar-benar kehilangan kesadaran.
Sambil menggelengkan kepala yang masih pusing, Surya menelusuri ruangan dengan pandangan. Ia yakin tidak pernah mengenal kamar ini, belum pernah menginjakkan kaki di sini sebelumnya. Namun entah mengapa, ada perasaan samar yang terasa akrab.
Jangan-jangan semalam, setelah mabuk, ia dibawa pulang seseorang? Astaga... pria atau wanita? Kalau pria, jangan-jangan ia mengalami hal yang tidak-tidak?
Peluh dingin mulai membasahi dahinya.
Setelah mengecek, selain kepalanya yang masih pusing, tubuhnya baik-baik saja dan tidak ada rasa sakit di bagian belakang... tampaknya ia aman.
Ia menarik napas lega, mencoba mengingat apa yang terjadi malam itu, namun sekuat apa pun berusaha, ia tetap tidak ingat apa pun setelah mabuk.
Mungkinkah... yang membawanya pulang semalam benar-benar seorang wanita?
Surya memperhatikan dekorasi kamar yang bernuansa merah muda, dengan aroma lembut seperti wangi lavender. Dari sini saja sudah terasa seperti kamar seorang gadis.
Surya kembali menggelengkan kepala, namun tiba-tiba, dari sudut matanya ia menangkap sesuatu di pahanya.
Tubuhnya langsung menegang, matanya membelalak.
Yang ia lihat adalah sepasang kaki mulus, putih, panjang, mengenakan rok super pendek sepanjang tiga puluh hingga empat puluh sentimeter.
Ini benar-benar kaki indah yang bisa membuat siapa pun tergoda, apalagi jika dipadukan dengan stoking hitam, pasti membuat siapa pun mimisan. Tak ada pria yang bisa menahan pesonanya.
Surya melotot, ini... kakinya sendiri?
Apa maksudnya semua ini?
Sejak kapan kakinya menjadi begitu halus, putih, dan jenjang seperti ini? Benarkah ini kakinya sendiri? Atau ia sedang bermimpi?
Dan... kenapa ia memakai rok?
Terkejut, Surya buru-buru memeriksa bagian bawah tubuhnya, memastikan "adik kecilnya" masih ada. Bagaimana jika ia benar-benar mengalami reinkarnasi dan berubah menjadi wanita?
Dulu waktu sekolah, ia pernah membaca beberapa novel daring bertema perubahan gender, di mana tokohnya berubah dari pria menjadi gadis cantik.
Surya jelas seorang pria sejati, kalau sampai berubah menjadi wanita, ia pasti stres berat. Dulu ia yang mendominasi, masa sekarang malah jadi korban?
Saat ia menyentuh bagian bawah tubuhnya... ia menemukan barang berharganya masih di tempat. Surya pun akhirnya bisa bernapas lega.
Barang berharganya masih ada, berarti ia belum berubah jadi perempuan, masih laki-laki.
Selama masih laki-laki, itu sudah bagus.
Tapi...
Penampilannya sekarang, sebenarnya apa yang terjadi?
Surya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, dan di pojok kiri ia melihat cermin berdiri setinggi sekitar satu meter.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung bangkit dari kursi komputer, bergegas menuju cermin dengan langkah tergopoh-gopoh.
Saat ia melihat sosok seorang "gadis cantik" dalam pakaian seragam sekolah menengah gaya Jepang di cermin, seluruh dunianya seakan runtuh. Pandangannya terpaku tak percaya.
Astaga...
Pakaian perempuan?
Jangan-jangan orang yang membawanya pulang semalam punya kegemaran aneh, mengganti seluruh pakaian pria miliknya dengan pakaian perempuan, bahkan mencukur bulu kakinya?
Tidak... tidak benar.
Mata Surya menatap tajam pada wajah di dalam cermin yang bahkan lebih cantik dari wanita.
Ini bukan dirinya!
Dulu wajahnya memang tampan, tapi ada sorot mata suram dan janggut tipis khas pria dewasa.
Sekarang? Wajah cantik nan misterius itu benar-benar bisa membuat siapa pun terpesona.
Apakah ia sungguh telah berpindah dunia? Atau diculik lalu diubah penampilannya?
Tiba-tiba, gelombang informasi membanjiri pikirannya.
Itu adalah ingatan sang pemilik tubuh sebelumnya.
Ternyata, tubuh ini juga bernama Surya, mahasiswa semester dua jurusan Bahasa Inggris di Universitas Zhonghai. Meski laki-laki, ia memiliki hobi yang mirip gadis, suka mempercantik diri, berdandan... terutama mengenakan pakaian perempuan. Ia membeli banyak pakaian perempuan dan sering diam-diam memakainya di kamar, lalu melakukan siaran langsung di dunia maya. Cita-citanya adalah suatu hari benar-benar bisa menjadi wanita. Namun, kepribadiannya sangat tertutup, takut pada penilaian dan omongan orang lain. Tekanan batin yang berkepanjangan akhirnya membuatnya menderita depresi berat, hingga akhirnya nekat mengakhiri hidup.
Dan di saat inilah, Surya yang mati karena mabuk dari dunia paralel, berpindah ke tubuh ini.
Setelah mengetahui semua kenyataan ini, Surya hanya bisa ternganga tak percaya.
Ternyata pemilik tubuh sebelumnya adalah pria cantik yang berjiwa feminim.
Astaga... saat itu juga, seluruh prinsip hidup Surya seakan hancur berantakan.
Untungnya... pemilik tubuh sebelumnya belum sempat melakukan operasi kelamin, kalau tidak, Surya lebih baik bunuh diri saja.
Ia menarik napas lega, melepas wig di kepalanya, menampakkan wajah aslinya. Rambutnya agak panjang, menutupi telinga, membuatnya tampak lembut dan feminin.
Saat ia berpikir untuk memangkas rambutnya menjadi sangat pendek, tiba-tiba terdengar suara di benaknya.
"Ding, sistem aktif."
"Mendeteksi identitas pengguna, sedang memindai."
"Pindai selesai, mendeteksi garis keturunan, pemeriksaan selesai. Sedang mengikatkan sistem pada pengguna... 1%, 2%..."
"100%."
"Proses pengikatan selesai."
"Sistem Feminisasi, resmi diaktifkan."
Mendengar suara itu, Surya seolah tersambar petir.
Feminisasi?
...
Apakah dunia ini masih bisa ditinggali dengan normal?