Bab 1: Begitu Kecil, Siapa Peduli Melihatnya
Senja di pertengahan musim panas itu terasa sejuk, diiringi angin senja yang lembut. Bersama sorak sorai kegembiraan, sebuah tandu kecil berwarna merah muda diusung masuk melalui pintu belakang ke dalam Kediaman Adipati Keberanian dan Kewibawaan.
Di salah satu paviliun terpencil dalam kediaman itu, para pelayan perempuan sedang berbisik-bisik di bawah serambi.
“Katanya, selir kesembilan yang baru masuk rumah ini baru saja genap berusia lima belas tahun, benar-benar di usia secantik bunga.”
“Benar, bahkan usianya lebih muda dari Tuan Muda Keempat kita.”
“Konon katanya ia sedang membeli bedak di pinggir jalan, lalu Adipati yang baru pulang dari istana melihatnya sekilas dan langsung terpikat. Tak tahu secantik apa dirinya, sampai-sampai membuat Adipati selalu teringat?”
“Bukankah besok kita juga akan tahu? Yang jelas, sejak Nyonya Kesembilan masuk, rumah ini pasti akan semakin ramai. Tadi aku juga dengar Nyonya Kedelapan marah besar sampai memecahkan satu set keramik Ru yang mahal di kamarnya.”
Dalam kamar pengantin, lilin merah menyala terang. Udara musim panas yang pengap membuat jendela tetap terbuka, sehingga segala bisik-bisik dari luar pun sampai ke telinga Yun Zhen.
Di mana ada banyak perempuan, di situ pula banyak masalah.
Di bagian belakang rumah Adipati Tua saja, sudah ada sembilan selir, belum termasuk pelayan-pelayan yang tinggal di ruang kerja.
Memikirkan bahwa kelak ia harus hidup di kediaman besar yang serba kaku ini, bersaing secara terang-terangan maupun diam-diam dengan para perempuan itu, dada Yun Zhen terasa sesak.
Ini jelas bukan kehidupan yang ia inginkan.
Namun, sebagai seorang gadis yatim piatu yang dijual oleh pamannya sendiri seharga lima puluh tael perak, apa lagi pilihan yang ia punya?
Lilin pengantin berbentuk naga dan burung hong menyala terang, aroma manis dan menyengat memenuhi udara.
Saat Yun Zhen ragu apakah ia harus bangkit dan mematikan dupa itu, tiba-tiba terdengar langkah kaki di luar ruangan.
Sesaat kemudian, pintu didorong terbuka dan sepasang sepatu hitam bersulam benang emas tampak di hadapannya.
Yun Zhen baru saja hendak berdiri dan memberi salam, namun kain penutup wajah berwarna merah muda di kepalanya tiba-tiba disibakkan. Cahaya lilin menusuk matanya hingga ia refleks menyipitkan mata.
“Benar saja, kecantikan di bawah lampu selalu punya pesona tersendiri.”
Dagu mungilnya dijepit kasar oleh tangan laki-laki, memaksanya mendongak dan menatap wajah yang sudah tampak menua namun tetap terlihat berwibawa.
Melihat ketakutan dalam sorot mata hitam Yun Zhen, Adipati Keberanian dan Kewibawaan mengelus lembut pipi merah mudanya, lalu tertawa ringan, “Tak perlu takut, aku tidak akan memakanmu.”
“Oh, memakan tetap akan kulakukan, hanya saja dengan cara yang berbeda.”
Dengan nada menggoda, Adipati itu menarik kembali tangannya dan membuka kedua lengannya lebar-lebar. “Malam pengantin itu singkat, mari bantu aku menanggalkan pakaian.”
Mau tidak mau, Yun Zhen harus menerima kenyataan.
Pria paruh baya di hadapannya inilah sandaran hidupnya mulai sekarang.
Ia harus menyenangkan hati pria ini agar bisa bertahan hidup, bahkan hidup dengan baik di kediaman belakang yang penuh persaingan.
“Hamba menurut perintah.”
Dengan bibir tergigit, ia bangkit dan mulai membantu Adipati menanggalkan jubah.
Saat tangan mungil dan putihnya meraih ikat pinggang pria itu, pipinya terasa panas membara, menahan rasa ragu dan malu.
Adipati sempat merasa tidak senang, namun saat menunduk dan melihat wajah malu-malu Yun Zhen, ada sensasi tersendiri yang membuat tenggorokannya bergerak dan kehangatan menjalar di perutnya.
“Sudahlah, karena ini pertama kali bagimu, malam ini aku akan bermurah hati mengajarkan cara melayani seorang pria.”
Begitu ucapannya selesai, Yun Zhen langsung didorong ke atas ranjang.
“Ah! Tuanku!”
Tubuh berat yang tiba-tiba menimpanya membuat Yun Zhen semakin malu dan panik. Namun, seberapapun ia merasa malu dan takut, ia tak kuasa menolak tangan yang mulai menyusup masuk ke balik gaunnya.
Tangan pria itu bergerak liar di balik pakaian tipis yang membalut tubuhnya.
Tubuh Yun Zhen terasa seperti meleleh oleh hawa panas, air mata membasahi matanya. Ia memohon lirih, “Tolong… Tuanku, kasihanilah aku…”
Adipati Keberanian dan Kewibawaan menatap pemandangan indah di depannya, darahnya serasa mendidih, dan ia menyahut dengan sukacita, “Sudah tentu.”
Ia pun membungkuk dan menindih Yun Zhen sepenuhnya.
Yun Zhen menutup mata ketakutan, ingat pesan ibu pengantin bahwa malam pertama pasti akan terasa sakit.
Namun, rasa sakit yang diantisipasi tak kunjung datang.
Pria di atas tubuhnya seperti terkena kutukan, diam tak bergerak.
Yun Zhen membuka mata penuh keheranan, “Tuanku?”
Di bawah cahaya lilin yang terang, pria yang tadi begitu bertenaga kini tampak pucat pasi, matanya mendelik, dan busa putih keluar dari mulutnya.
Yun Zhen menjerit ketakutan, “Ah! Tuanku, ada apa denganmu?”
Begitu ia bergerak sedikit, tubuh pria itu langsung terjatuh ke samping. Wajah Yun Zhen seketika berubah pucat pasi. “Tolong! Ada orang, cepat kemari!”
Tak lama, pintu kamar didobrak masuk.
Bukan pelayan perempuan yang datang, melainkan seorang pria muda dan tampan, tinggi besar, dengan bau alkohol yang menyengat.
Yun Zhen terpaku, dan begitu sadar, ia berseru dengan marah dan panik, “Kau… siapa kau? Bagaimana bisa menerobos masuk ke kamar pengantin!”
Lu Xingzhou, meski telah menenggak satu kendi arak, kesadarannya masih cukup jernih.
Mendengar suara lirih penuh tanya dari ranjang, matanya yang hitam menyipit, menatap datar ke arah Yun Zhen.
Tirai tipis berwarna asap dengan sulaman bunga teratai kembar menggantung indah. Seorang gadis muda duduk terjatuh di atas ranjang, wajah mungil berbentuk biji melon, sepasang mata rubah yang bening dan menggoda menatap penuh rasa tak berdaya.
Saat itu, pakaiannya separuh terlepas, kulit putih bagaikan salju, dan kain penutup dada merah menyala masih menggantung di lehernya, samar-samar memperlihatkan lekuk tubuhnya yang menggoda.
Menyadari tatapan pria itu yang menelanjangi dirinya, Yun Zhen baru sadar betapa berantakannya dirinya kini!
“Kurang ajar! Aku adalah wanita Adipati!”
Ia buru-buru meraih selimut sutra menutupi tubuh putihnya, dan saat melihat pria itu masih menatapnya, wajahnya memerah karena malu dan marah, mata berkaca-kaca, “Jangan lihat aku!”
Gadis muda ini suaranya tidak keras, tapi nyalinya besar juga.
Lu Xingzhou perlahan menarik kembali pandangannya, bibir tipisnya tersenyum sinis, “Tubuh sekecil itu, siapa juga yang berminat melihatnya.”