Bab 24 Es Krim
Ling Mo mengenakan pakaian olahraga longgar yang membuatnya tampak agak mencolok dibandingkan orang-orang di sekitarnya yang berpakaian kaus dan celana pendek. Namun, ia sama sekali tidak peduli dengan tatapan mereka.
Suhu udara di luar sangat panas, dan membiarkan kulit terpapar sinar matahari secara langsung dapat dengan mudah menyebabkan luka bakar.
Saat tiba di area pakaian wanita, tempat itu cukup ramai, tetapi hanya sedikit orang yang benar-benar membeli pakaian. Maklum, uang orang-orang saat ini saja sudah hampir tidak cukup untuk membeli makanan, apalagi untuk membeli pakaian. Selain itu, harga pakaian di sana mencapai ribuan, padahal kualitasnya belum tentu lebih baik daripada yang dijual di pasar grosir pakaian di luar.
Sambil terus berjalan, Ling Mo sampai di tempat penjualan es krim. Dari jauh, ia melihat banyak orang berhenti di depan lemari pendingin, namun setelah melihat cukup lama, mereka pun pergi begitu saja.
Ling Mo mendekat dan segera mengerti mengapa mereka bersikap demikian. Satu kotak kecil es krim dihargai 188. Jika harga seperti ini terjadi di masa lalu, mungkin sudah menjadi topik hangat di media sosial.
Ling Mo menggelengkan kepala dan hendak berbalik pergi seperti orang-orang sebelumnya. Bukan karena ia tidak mampu membelinya, melainkan karena tidak ada gunanya membuang-buang uang untuk hal tersebut.
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar dari belakangnya.
"Ling Mo!"
Mendengar seseorang memanggil namanya, Ling Mo menoleh. Ternyata itu adalah teman sekelasnya dulu, yang sudah tidak pernah berkomunikasi lagi sejak ujian akhir sekolah.
Ji Zhizhi datang bersama dua temannya menghampiri Ling Mo. Ia mengamati Ling Mo dari atas ke bawah, lalu berpura-pura terkejut. "Ling Mo, tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. Kenapa waktu acara perpisahan kelas dulu kamu tidak datang?"
"Benar, biasanya kamu memang tidak suka bergaul, tapi tidak menyangka bahkan acara perpisahan terakhir pun kamu tidak datang. Apa kamu merasa lebih hebat dari kami semua?" sindir salah satu pengikut Ji Zhizhi dengan sengaja.
"Qianqian, jangan bicara begitu. Ling Mo mungkin hanya tidak pandai bersosialisasi, pasti bukan disengaja," ujar Ji Zhizhi sambil berpura-pura menegur Li Qian di sampingnya.
"Ling Mo, jangan masukkan ke hati ya, Qianqian memang bicara apa adanya. Tapi, aku dengar orang tuamu mengalami kecelakaan, keluargamu juga berutang banyak, dan semua peninggalan orang tuamu sudah disita untuk melunasi utang. Pasti hidupmu sangat sulit belakangan ini, ya?"
Begitu kalimat itu selesai, Li Qian dan pengikut lainnya tertawa mengejek.
Ji Zhizhi kemudian berpura-pura baru menyadari kesalahannya, menutup mulut dengan ekspresi menyesal. "Maaf ya, apa aku menyinggung perasaanmu? Aku tidak sengaja, benar-benar minta maaf. Ling Mo, kamu kan orangnya berhati besar, pasti akan memaafkanku, kan?"
Ji Zhizhi tidak menyukai Ling Mo sejak pandangan pertama. Sebagai murid pindahan, Ling Mo langsung merebut posisinya sebagai kembang kelas. Belum lagi Ling Mo punya orang tua yang lengkap, keluarga yang harmonis, dan nilai pelajaran yang bagus.
Sejak Ling Mo pindah, baik guru maupun teman sekelas semuanya tertarik padanya. Yang membuatnya semakin kesal adalah sikap Ling Mo yang selalu tampak tidak peduli.
Entahlah, ia merasa sangat senang saat mendengar kabar bahwa orang tua Ling Mo mengalami musibah, terutama saat mendengar gadis itu mulai menjual aset keluarganya. Ia yakin itu dilakukan karena Ling Mo terpaksa melunasi utang.
Ji Zhizhi menatap Ling Mo dengan kebencian yang kental di matanya.
Ling Mo hanya menyaksikan mereka bicara sendiri. Trik kekanak-kanakan seperti ini sama sekali tidak berarti baginya. Ia hanya merasa bodoh karena membuang-buang waktu di sana.
Dalam ingatan pemilik tubuh asli, ia memang tidak memiliki hubungan dekat dengan Ji Zhizhi. Mengingat sifatnya yang tertutup dan statusnya sebagai murid pindahan, ia memang jarang berinteraksi dengan teman sekelas.
Melihat tatapan Ling Mo yang seolah menganggap mereka bodoh, Ji Zhizhi mengernyitkan dahi dengan tidak senang. "Tatapan apa itu! Keluargamu sudah bangkrut, pasti kamu tidak akan punya kesempatan makan es krim lagi ke depannya, kan? Anggap saja kali ini aku yang mentraktirmu."
Kalimat itu membuat langkah Ling Mo yang hendak pergi terhenti. "Itu janji kamu, ya."
Ini pertama kalinya Ling Mo berbicara secara resmi kepadanya. Ji Zhizhi merasakan firasat buruk tanpa alasan. Namun, karena kata-kata sudah terucap, Ji Zhizhi tetap bersikap keras kepala. "Tentu saja." Ia menunjuk ke lemari pendingin dengan pongah, "Ambil saja sesukamu."
Mendengar itu, sudut bibir Ling Mo terangkat membentuk senyum tipis. Baru kali ini ia menemukan orang yang dengan sukarela menawarkan diri menjadi mangsa.
Berpegang pada prinsip tidak akan melewatkan keuntungan yang ada, Ling Mo menoleh dan melambai pada pelayan di dekatnya. "Tolong ambilkan setiap varian es krim di sini masing-masing satu, terima kasih."
Setelah berpikir sejenak, ia menambahkan, "Apakah kalian punya kotak pendingin?"
"Ada, ada."
Pelayan itu dengan sigap mengambil sebuah kotak pendingin dan memasukkan setiap jenis es krim yang ada di lemari pendingin ke dalamnya.
Ling Mo menerima kotak pendingin itu, lalu menunjuk ke arah Ji Zhizhi yang kini ternganga kaget. "Dia yang bayar."
Pelayan itu mengangguk mengerti. Ia sudah melihat kejadian tadi dan tahu bahwa ketiga gadis itu jelas datang untuk mencari masalah. Apalagi sikap Ji Zhizhi yang terang-terangan merendahkan orang lain membuat pelayan itu merasa kesal.
"Nona, silakan ikut saya ke meja kasir untuk melakukan pembayaran," ujar pelayan itu dengan senyum ramah kepada Ji Zhizhi.
"Kamu sengaja ya!"
Menghadapi Ji Zhizhi yang marah, Ling Mo tersenyum sopan. "Terima kasih atas traktirannya, teman sekelas Ji Zhizhi."
Setelah berkata demikian, ia membawa kotak pendingin itu dan pergi tanpa menoleh lagi.
Hanya tersisa Ji Zhizhi yang menghentak-hentakkan kaki di tempat karena marah, berteriak ke arah punggung Ling Mo, "Kembali kamu ke sini!"
Ia hanya ingin mempermalukan Ling Mo dengan es krim itu karena menganggapnya sombong, siapa sangka sifat asli gadis itu ternyata begitu licik. "Dasar wanita bermuka dua, penuh tipu muslihat! Ternyata kepolosannya selama ini hanya akting belaka."
"Nona, totalnya 13.678. Silakan ikut saya ke meja kasir untuk melakukan pembayaran," desak pelayan itu lagi.
"Apa! Es krim apa yang harganya sampai sepuluh ribu lebih!"
Meskipun sangat tidak rela, Ji Zhizhi terpaksa membayar tagihan tersebut sambil bersumpah dalam hati bahwa jika ia berbicara lagi dengan Ling Mo, ia akan menjadi anjing!
...
Ling Mo tidak peduli dengan pikiran Ji Zhizhi. Mendapatkan begitu banyak es krim secara cuma-cuma membuatnya merasa sangat senang.
Meskipun ia meminta satu dari setiap varian, ia memperhatikan bahwa pelayan tadi sengaja mengambilkan beberapa buah untuk setiap jenis, terutama yang paling mahal. Berdasarkan estimasi kasarnya, harga semua es krim itu pasti lebih dari sepuluh ribu.
Kata-kata Ji Zhizhi mungkin terasa menyakitkan bagi anak remaja yang tertutup, tetapi bagi Ling Mo, itu sama sekali tidak berarti. Ia sudah terbiasa berjuang di dunia luar sejak kecil dan memasuki dunia kerja setelah lulus. Dihina orang tidak akan membuatnya terluka secara fisik, sementara keuntungan yang ia dapatkan adalah nyata.
Khawatir kotak pendingin tidak mampu menahan suhu panas di luar, Ling Mo diam-diam memasukkan semua es krim itu ke dalam ruang penyimpanannya, dan hanya memegang kotak kosong di tangannya.