Bab 141 Kalian Semua Sampah
Saat seluruh isi gimnasium terdiam dalam keheningan, tiga sosok bayangan kembali melompati tali ring dan mendarat di atas panggung arena.
Xiao Chen melirik sekilas ke atas panggung dan mendapati bahwa kekuatan ketiga orang ini tampaknya sedikit lebih unggul daripada tiga orang sebelumnya.
Begitu ketiganya melompat ke atas panggung, seseorang berseru kaget.
"Bukankah itu Ketua Perguruan Silat Gelora Dahsyat? Hari ini bahkan dia datang! Jika kita bisa mengalahkan mereka, kita benar-benar memiliki harapan!"
"Betul, betul, orang itu memang Ketua Cheng Tianyu dari Perguruan Silat Gelora Dahsyat! Dengan dia yang turun tangan kali ini, kita seharusnya tidak akan kalah lagi, kan?"
Cheng Tianyu adalah sosok yang sudah lama terkenal di dunia persilatan Yunhai. Meskipun dulunya ia sempat berada di bawah bayang-bayang Feng Jingtao dari Perguruan Silat Ombak Besar, kini setelah kedua lengan Feng Jingtao dipatahkan oleh Xiao Chen hingga menjadi seorang yang tak berguna, Cheng Tianyu secara alami menjelma menjadi tokoh representatif dunia persilatan Yunhai.
Kali ini, setelah mendengar selentingan kabar tersebut, Cheng Tianyu memutuskan untuk membawa murid-muridnya guna mengikuti ajang pertandingan ini.
Di satu sisi, sebagai warga negara Tiongkok, ia juga merasa risih dengan keangkuhan dan kesewenang-wenangan delegasi perwakilan Asia Timur ini. Di sisi lain, ini adalah kesempatan emas untuk mengangkat namanya.
Jika ia berhasil mengalahkan ketiga orang ini, Perguruan Silat Gelora Dahsyat beserta dirinya secara pribadi pasti akan dikenang oleh tak terhitung banyaknya orang di Yunhai, yang tentu saja akan memberikan bantuan luar biasa bagi kariernya.
"Tenang saja, Ketua Cheng mewakili kekuatan terkuat di dunia persilatan Yunhai kita, dia pasti bisa meremukkan mereka!"
Seketika itu pula, para penonton di bawah panggung mulai bersahut-sahutan memberikan dukungan dan semangat kepada Cheng Tianyu serta dua orang lainnya.
Dua orang lainnya, yang pertama adalah murid sulung Cheng Tianyu, dan satu orang lagi adalah seorang pendekar dari kota tetangga, Kota Dongjiang. Tingkat kekuatan kedua orang tersebut masing-masing berada di alam puncak pendekar dan tahap awal master silat.
Saat ini, ketiganya berdiri di atas panggung dengan aura yang tajam, membuat seluruh panggung arena seketika diliputi oleh suasana membunuh yang pekat.
"Datang lagi tiga ekor ayam sayur, huh." Jin Jun-eun mendengus meremehkan, lalu mengisyaratkan jarinya kepada mereka bertiga. "Siapa yang mau menantangku? Cepat majo kemari, tanganku sudah gatal."
Yasuda Hisato yang berada di sampingnya melirik ke arah Cheng Tianyu di antara ketiga orang tersebut, "Kau, yang terkuat, majulah!"
Sebagai Ketua Perguruan Silat Gelora Dahsyat sekaligus tokoh representatif dunia persilatan Yunhai, Cheng Tianyu merasa amarahnya langsung tersulut saat dipandang rendah sedemikian rupa.
"Keparat!"
Ia membentak keras, melayangkan sebuah pukulan, dan menerjang ke arah Yasuda Hisato.
Dalam sekejap, dua orang lainnya juga turut bertarung melawan lawan masing-masing.
Di atas tribun, bayangan kepalan tangan langsung bertebaran dengan aura pembunuh yang pekat.
Sorak-sorak dukungan di bawah panggung serta teriakan di atas panggung membuat seluruh gimnasium mendidih.
Setelah bertukar beberapa jurus, Yasuda Hisato menatap Cheng Tianyu dan mengangguk, "Kau lumayan. Kau adalah pendekar Tiongkok pertama yang bisa bertahan hingga sepuluh jurus denganku."
Cheng Tianyu mendengus dingin, "Kau terlalu sombong! Apa kau pikir kami orang Tiongkok terbuat dari tanah liat? Rasakan ini!"
Usai berkata demikian, ia mengerahkan jurus Telapak Petir, melesat menyerang Yasuda Hisato dengan kekuatan yang sangat dahsyat.
Sudut mata Yasuda Hisato berkedut, lalu dengan suara mendadak, ia mencabut pedang samurai yang terselip di pinggangnya!
Pedang terhunus!
Begitu pedang samurai itu tercabut, aura Yasuda Hisato melesat naik seketika, lalu menebas ke bawah ke arah Cheng Tianyu yang sedang menerjang!
Srit!
Sabetan pedang ini sangat tajam, bahkan cukup untuk membelah tubuh seseorang dari puncak kepala.
Setelah melepaskan hantaman telapak tangannya, mana sangka lawannya ini tiba-tiba mencabut pedang. Cheng Tianyu pun langsung tertangkap basah tidak siap dan dengan cepat menarik tubuhnya ke sebelah kanan!
Sementara itu, Yasuda Hisato berturut-turut melancarkan dua tebasan lagi, setiap sabetannya begitu mendesak!
Dalam sekejap, Cheng Tianyu jatuh ke posisi terpojok. Setelah bertahan kurang dari lima jurus, ia ditendang oleh Yasuda Hisato hingga terjatuh keluar dari panggung arena!
Srit!
Yasuda Hisato menyarungkan kembali pedang samurainya, lalu menatap angkuh ke arah penonton di bawah.
"Kau kalah."
Cheng Tianyu terhempas ke tanah dengan wajah pucat pasi bagai abu.
Pada saat yang sama, dua orang lainnya yang bertarung sengit melawan Jin Jun-eun dan BuChai juga turut dikalahkan dan ditendang keluar dari panggung arena.
Jin Jun-eun melipat tangan di dada, berdiri di atas panggung dengan wajah yang sepenuhnya dipenuhi ekspresi meremehkan.
Ia menghadap ke arah ribuan penonton di seluruh penjuru gedung, mengulurkan tangan kanannya dengan ibu jari mengarah ke bawah. "Kalian para pendekar Tiongkok semuanya adalah sekelompok sampah!"
BuChai di sampingnya juga tertawa dingin, sembari melakukan gestur menghina yang sama dengan ibu jari menghadap ke bawah.
Seluruh arena kembali jatuh dalam keheningan yang mematikan.
Cheng Tianyu, yang tadinya dijagokan oleh semua orang, ternyata juga harus menelan kekalahan. Lalu, kepada siapa lagi mereka bisa bergantung sekarang?
Ribuan penonton di seluruh gedung tergemap bisu dengan ekspresi muram. Rasa dipermalukan secara langsung di tempat seperti ini tentu saja sama sekali tidak menyenangkan.
"Dunia persilatan Tiongkok ternyata benar-benar sudah tidak memiliki orang hebat lagi, hehe." Jin Jun-eun mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. "Sekelompok sampah, benar-benar membuang-buang waktuku saja."
Setelah berkata demikian, ia kembali menyunggingkan senyum mengejek ke arah ribuan penonton sambil mengacungkan ibu jarinya ke bawah.
Para penonton di seluruh arena saat ini tengah menahan gejolak amarah di dada, namun tak seorang pun yang bersuara.
Mereka tidak tahu siapa lagi yang memiliki kekuatan untuk naik ke atas panggung dan memberikan tantangan.
Tepat ketika suasana seluruh gedung teramat sunyi, tiba-tiba sebuah suara seruan jernih terdengar melengking tajam.
"Kak, apa lagi yang kau tunggu? Cepat naik ke atas!"
Jiang Qing menatap Xiao Chen yang berada di depannya, tanpa mempedulikan volume suaranya yang begitu keras, ia mendesak dengan penuh kecemasan.
"Xiao Chen, naiklah! Sekarang kami hanya bisa mengandalkanmu!"
Wang Shuai dan yang lainnya juga menatap Xiao Chen dengan pandangan penuh harap.
"Xiao Chen, cepatlah pergi. Harga diri kita sebagai orang Tiongkok tidak boleh hilang begitu saja." Chu Yunwei memandang ke arah Xiao Chen dengan tatapan lembut.
Xiao Chen mengangguk, melepaskan genggaman tangannya dari tangan kecil gadis itu, tersenyum kecil, lalu bangkit berdiri.
"Baiklah, karena semua orang menyuruhku naik, kalau begitu aku akan naik."
Usai berucap demikian, ia melangkah maju dengan santai, berjalan menuju atas panggung tanpa terburu-buru.
Namun pada saat itu, para penonton di bawah panggung merasa sedikit kebingungan.
Selain para pelajar dari Sekolah Menengah Xinghai yang datang untuk memberikan dukungan kepada Xiao Chen, hampir tidak ada seorang pun di tempat itu yang mengenalnya.
"Anak muda siapa ini? Bukan, ya ampun, apa benar dunia persilatan Yunhai kita sudah benar-benar tidak ada orang lain lagi?"
"Sialan, orang ini tampaknya hanyalah seorang anak sekolah. Gawat, gawat, tampaknya hari ini kita benar-benar akan kalah, aduh!"
Berbagai komentar bersahutan di antara para penonton di bawah. Terlepas dari mereka yang akrab dengan Xiao Chen, jelas tidak ada seorang pun yang menjagokannya.
Kendati demikian, Xiao Chen sama sekali tidak terpengaruh oleh pandangan-pandangan tersebut.
Ia memasang senyuman di wajahnya, berjalan perlahan menaiki panggung arena, lalu menatap ketiga orang di hadapannya.
Ketika orang-orang dari delegasi perwakilan Asia Timur di bawah panggung melihat kemunculan Xiao Chen, seseorang langsung berseru dengan suara lantang: "Orang ini memiliki sedikit kemampuan! Dua hari yang lalu dia sempat turun tangan mengalahkan orang-orang kita, jangan meremehkannya!"
Orang yang berbicara itu tentu saja adalah sekelompok orang yang sempat terlibat konflik dengan Xiao Chen di pintu masuk kafe beberapa waktu lalu.
Mereka pernah menyaksikan sendiri kehebatan ilmu bela diri Xiao Chen, itulah sebabnya mereka memberikan peringatan tersebut.
Kendati demikian, ketiga orang di atas panggung jelas-jelas tidak menyadari betapa mengerikannya lawan yang berdiri di hadapan mereka saat ini.
"Lingkaran persilatan Tiongkok kalian benar-benar sudah kehabisan orang ya, bahkan barang rongsokan seperti ini pun ikut maju menantang kami. Sungguh menggelikan sekali!"
Jin Jun-eun memperagakan gestur tubuh yang menyiratkan rasa tak berdaya.
Yasuda Hisato menatap Xiao Chen dengan sorot mata yang berbinar tajam, "Selain kau, apakah masih ada orang lain yang datang untuk menantang kami? Sesuai dengan aturan pertandingan, dalam satu kesempatan boleh ada tiga orang sekaligus yang datang menantang kami."
Xiao Chen melirik sekilas ke arah mereka lalu melambaikan tangannya, "Tidak perlu. Aku sendiri saja yang akan menantang kalian bertiga."
Apa?
Jin Jun-eun, Yasuda Hisato, dan satu orang lainnya merasa sangat terkejut, sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak penuh kemeréhkan.
Bum!
Para penonton di bawah panggung juga hampir mengira pendengaran mereka keliru, hingga suasana seketika meledak riuh.
Dalam pandangan mereka, Xiao Chen hanyalah seorang pelajar biasa. Sekalipun ia menguasai sedikit ilmu bela diri, lantas apa gunanya? Bagaimana mungkin ia bisa menantang tiga orang jagoan sekaligus!
"Bocah, apa otakmu sudah rusak? Kau bilang... kau seorang diri hendak menantang kami bertiga sekaligus?"
Jin Jun-eun menunjuk ke arah kepalanya sendiri dengan gestur berlebihan seraya melontarkan ejekan.
Xiao Chen menatapnya dengan sudut bibir yang terangkat, sementara tatapan dingin perlahan-lahan merayap di dasar matanya.
"Jika ingatanku tidak salah, barusan kau telah melakukan tindakan menghina sebanyak dua kali dan melontarkan kata sampah sebanyak tiga kali, benar begitu?"
Jin Jun-eun tertawa dingin: "Lalu kenapa kalau memang iya? Kalian pada dasarnya memang sekumpulan sampah!"
Xiao Chen mengangguk, menatap ketiganya sambil mengisyaratkan jarinya: "Kalian bertiga, majulah bersama-sama. Akan tetapi, orang pertama yang akan kuhancurkan dan kupermainkan sampai babak belur, sudah pasti adalah kau."
Xiao Chen menunjuk ke arah Jin Jun-eun dengan senyuman penuh makna.
"Keparat! Orang Tiongkok yang angkuh, akan kuberi pelajaran agar kau tahu ilmu bela diri nasional terkuat dari negeri kami, Korea!"
Sebuah bentakan keras menggema, disusul oleh gerakan kilat Jin Jun-eun yang melesat menerjang ke arah Xiao Chen. Dengan tubuhnya yang tinggi besar mencapai seratus delapan puluh lima sentimeter, ia bergerak lincah bagaikan seekor kera, melompat ke udara, dan menghujamkan sebuah tendangan berputar tiga ratus enam puluh derajat yang sangat indah ke arah Xiao Chen!
Sejujurnya, kemampuan Taekwondo milik Jin Jun-eun memang dilatih dengan sangat baik, dan lebih dari cukup untuk menghadapi pendekar biasa pada umumnya.
Akan tetapi, sosok yang dihadapinya hari ini bukanlah seorang pendekar biasa, melainkan dewa pembunuh!
"Mati kau!"
Sepasang mata Jin Jun-eun memancarkan kilatan dingin, berniat merobohkan dan menerbangkan Xiao Chen dengan tendangan tunggal tersebut.
"Enyahlah!"
Xiao Chen berdiri tegak di tempatnya, dan pada saat itulah ia melepaskan seluruh kekuatannya. Tanpa sedikit pun menggerakkan posisi tubuhnya, ia tiba-tiba mengangkat lengan kanannya, lalu dengan suara 'pletak' yang nyaring, ia berhasil mencekal kaki kanan Jin Jun-eun dan mengerahkan sedikit tenaga!
Kletak!
Suara kertakan tulang yang begitu nyaring bergema ke seluruh penjuru ruangan, terdengar amat jelas di dalam gimnasium yang luas itu, membuat siapa pun yang mendengarnya merasa merinding ketakutan...