Bab 22 Jangan Terlalu Merasa Dirimu Penting
Riuh terdengar. Saat kedua orang itu sedang berbincang, tiba-tiba saja Xiao Chen mendengar kegaduhan dari dalam dan luar kelas.
Tak lama kemudian, terdengar suara perempuan yang tampak bersemangat membicarakan sesuatu.
"Heh, coba lihat, bukankah itu Zheng Yang?"
"Wow, benar-benar Zheng Yang! Pangeran sekolah kita, kenapa hari ini juga datang ke kelas kita?"
"Siapa tahu, mungkin dia datang karena siswi baru itu..."
Xiao Chen mengangkat kepala, lalu melihat wajah tampan muncul di ambang pintu kelas. Wajah itu bukan hanya rupawan, tapi juga memancarkan kepercayaan diri dan kebanggaan yang sulit disembunyikan.
Memang benar, itu Zheng Yang.
Bicara soal Zheng Yang, di SMA Xinghai, dia memang layak disebut sebagai sosok idola yang dielu-elukan. Tampan, berbakat, sejak kelas dua SMA sudah menjabat sebagai ketua OSIS. Selain itu, latar belakang keluarganya juga tidak sembarangan.
Keluarga Zheng merupakan salah satu keluarga papan atas di Yunhai. Konon, ayah Zheng Yang memegang jabatan penting di pemerintahan Yunhai dan sangat terkenal. Anggota keluarga yang lain juga ada yang terjun ke dunia birokrasi, ada pula yang sukses di dunia bisnis, sehingga keluarga Zheng benar-benar disegani di Yunhai.
Dari segala aspek, Zheng Yang memang pangeran impian bagi banyak gadis.
Begitu Zheng Yang muncul di pintu kelas, hampir semua perhatian para gadis langsung tertuju padanya.
Saat itu, Zheng Yang melirik ke arah Chu Yunwei, kemudian bersama seorang laki-laki yang datang bersamanya, masuk ke dalam kelas.
Xiao Chen memperhatikan Zheng Yang dan laki-laki yang bersamanya, matanya menyipit.
Laki-laki itu ia kenal, namanya Lin Long, ketua divisi olahraga OSIS, teman baik Zheng Yang, dan mereka memang sering bersama.
Kini, Zheng Yang dan Lin Long sudah berdiri di depan Xiao Chen dan beberapa temannya.
"Nona Yunwei, sungguh tak disangka kau masuk ke SMA Xinghai. Kalau saja aku tidak lihat fotomu di grup, aku pasti tak percaya," ujar Zheng Yang pada Chu Yunwei dengan senyum percaya diri.
Oh?
Mereka saling kenal?
Xiao Chen sempat terkejut.
Namun, sepertinya Chu Yunwei tidak terlalu mengingat Zheng Yang. Ia menengadah, memandangi Zheng Yang beberapa detik, tampak berpikir, tetapi tak juga mengingatnya.
"Maaf, Anda siapa?"
Ucapan Chu Yunwei membuat suasana seketika menjadi canggung.
Wajah Zheng Yang sedikit berubah, namun tetap tersenyum dan berkata, "Nona Yunwei, jangan bercanda. Candaan seperti ini kurang lucu."
Chu Yunwei menatapnya sejenak, "Maaf, saya sungguh tidak ingat pernah bertemu dengan Anda. Maaf ya."
Selesai berkata, ia duduk, lalu mengambil sebuah novel berjudul "Istriku Seorang Direktur" dan mulai membacanya.
Mungkin karena novel itu memang seru, akhir-akhir ini bila sedang bosan ia selalu menghabiskan waktu dengan membaca.
Melihat Chu Yunwei benar-benar mengabaikannya, wajah tampan Zheng Yang langsung diliputi aura dingin.
Lin Long yang berdiri di sampingnya merasa suasana jadi janggal, ia pun berdeham, berusaha menyelamatkan muka Zheng Yang.
Saat itu, matanya beralih ke Xiao Chen di sisi Chu Yunwei, lalu dengan nada memerintah berkata, "Hei, kami ada urusan penting di sini, kau keluar saja."
Nada bicara Lin Long terdengar keras, jelas-jelas meremehkan Xiao Chen.
Xiao Chen menatapnya sekilas, memilih untuk tidak menggubris.
Sungguh dunia sekarang aneh, pikirnya. Jika seseorang tidak punya kemampuan, orang-orang yang tak penting pun berani menginjak-injak.
Karena diabaikan, Lin Long tampak kesal. Sebagai ketua divisi olahraga, ia cukup disegani di sekolah. Apalagi dengan latar belakang keluarganya, jarang ada yang berani melawan.
"Heh, aku bicara padamu, kau tidak dengar?" kata Lin Long lagi, menatap tajam.
"Ini tempat dudukku, aku duduk di bangkuku sendiri. Kenapa aku harus dengar perintahmu?" sahut Xiao Chen dengan nada tak senang, menatap Lin Long.
Lin Long menyipitkan mata, tampak marah.
"Kau Xiao Chen, kan?"
"Benar," jawab Xiao Chen, menatap balik.
"Akhir-akhir ini kau memang sedang terkenal, aku tahu. Tapi, jangan kira cuma karena memukul beberapa preman, kau sudah hebat."
"Orang sepertimu, cuma tahu sedikit bela diri, tak akan jadi apa-apa. Jangan terlalu besar kepala!"
Lin Long memang sejak awal memandang rendah siswa seperti Xiao Chen yang berasal dari keluarga kurang mampu. Melihat Xiao Chen membangkang, hatinya pun makin panas.
Xiao Chen menatapnya dingin, enggan berdebat lebih lanjut.
Bagi orang macam itu, ia malas meladeni.
Jadi, Xiao Chen hanya mengucapkan satu kata, "Enyah!"
"Bagus, kau berani juga!" Jika bukan karena tahu kemampuan Xiao Chen, Lin Long pasti sudah main tangan.
"Tunggu saja, suatu hari kau pasti menyesal!"
Belum habis kata-katanya, tiba-tiba sebuah bayangan hitam melesat ke dadanya!
Benda itu melaju sangat cepat, Lin Long tak sempat menghindar. Ia hanya merasa dadanya dihantam kekuatan besar, tubuhnya terangkat, lalu seperti boneka, ia terbang dan terpaku di dinding tiga meter jauhnya!
Semua yang ada di dalam dan luar kelas, termasuk Zheng Yang, terdiam terpaku.
Ternyata, sebuah pulpen biasa menembus kerah baju Lin Long, menancap ke dalam dinding seperti paku baja, menahan tubuhnya menempel di dinding...
Artinya, Xiao Chen hanya dengan sebuah pulpen biasa mampu menancapkan seorang pemuda setinggi satu meter delapan ke dinding!
Kelas mendadak hening.
Butuh waktu dua menit hingga orang-orang mulai sadar dan kembali berbisik-bisik.
Zheng Yang berdiri, menatap Xiao Chen dengan mata berkilat.
"Cuma tukang pukul," ucapnya meremehkan.
Ia lalu berjalan menghampiri, butuh tenaga besar untuk mencabut pulpen dari kerah baju Lin Long, kemudian pergi bersama Lin Long dengan wajah muram.
Setelah Zheng Yang dan Lin Long pergi, Xiao Chen melirik ke Chu Yunwei di sampingnya.
"Kau kenal Zheng Yang?"
Chu Yunwei terdiam sejenak, "Aku sudah lupa. Mungkin dulu, waktu mereka ke Jinling menemui kakekku, aku pernah bertemu tanpa sengaja."
Keluarga Chu seperti mereka, keluarga papan atas di ibukota provinsi Jinling, tentu punya banyak relasi dan sering dikunjungi orang. Keluarga Zheng mungkin cukup terpandang di Yunhai, tapi di seluruh Provinsi Jiangdong, mereka bukan siapa-siapa.
Mereka ke Jinling mencari muka keluarga Chu, itu sudah biasa.
Xiao Chen mengangguk, tak berkata apa-apa, hanya sedikit kesal.
Sebenarnya, ia tak ingin bertindak kasar di sekolah, tapi selalu saja ada orang yang mengira dirinya mudah dipermainkan, dan terus saja mencari gara-gara.
"Xiao Chen, ada yang mencarimu," seru seseorang dari luar kelas saat Xiao Chen masih melamun.
"Siapa?" tanyanya curiga.
"Xiao Chen, keluar sebentar."
Belum sempat mendapat jawaban, Xiao Chen sudah melihat Jiang Qing berdiri di pintu kelas, cemberut, matanya yang bening menatapnya tajam.
Seketika, para siswa laki-laki di kelas mulai bersorak.
Walau Jiang Qing adalah bunga sekolah kelas satu, banyak siswa kelas tiga yang mengenalnya.
"Astaga, bunga kelas satu, Jiang Qing..."
"Gila, nasib cowok itu lagi mujur-mujurnya..."
"Aku tak tahan, mulai sekarang Xiao Chen adalah guru cintaku, aku akan berguru padanya..."
Xiao Chen menatap Jiang Qing bingung, antara ingin tertawa dan menangis.
Gadis ini benar-benar cari gara-gara.
Di hadapan teman-temannya, ia malah memanggil namanya, bukan kakak.
"Xiao Qing, ada apa? Mencariku?"
Xiao Chen berdiri, berjalan ke pintu kelas dan menghampiri Jiang Qing.
"Xiao Chen, ikut aku," sahut Jiang Qing, menarik lengan Xiao Chen, membawanya ke lorong yang sepi.
"Wah, mereka mesra sekali."
"Xiao Chen benar-benar playboy..."
Terdengar lagi suara godaan dari belakang.
Xiao Chen menatap Jiang Qing di depannya, bingung, "Ada apa, Xiao Qing? Kenapa tiba-tiba mencariku? Ada yang mengganggumu?"
Jiang Qing cemberut, menatapnya, "Betul, kau benar. Ada yang menggangguku."
Xiao Chen langsung berubah serius, "Siapa yang mengganggumu? Katakan, aku akan urus dia. Tak ada yang boleh mengganggu adikku!"
"Hmph."
Jiang Qing malah mendengus manja, mengepalkan tinju mungilnya dan memukul dada Xiao Chen, "Kau masih sempat bilang begitu, yang menggangguku itu ya kamu!"
"Aku?" Xiao Chen melongo, bingung. "Kapan aku mengganggumu?"