Bab 79: Apa Dia Sudah Gila?
Begitu mendengar Mo Yanan mengumumkan pesta dimulai, semua orang pun langsung bersorak riang. Karena ini adalah pesta ulang tahun, tentu saja mereka harus makan dulu sebelum melanjutkan ke berbagai hiburan lainnya.
Mereka pun bergerak menuju meja bundar besar di tengah ruang VIP dan duduk di tempat masing-masing. Sebagai yang berulang tahun, Mo Yanan duduk di kursi utama di sisi utara meja. Saat itu, kursi di sebelah kirinya sudah ditempati oleh Deng Hao.
Mo Yanan menarik lengan Xiao Chen dan menempatkannya di kursi di sebelah kanannya. “Xiao Chen, kamu duduk di sini,” ucapnya.
Xiao Chen tersenyum dan mengangguk. “Baiklah.”
Sebenarnya, secara jujur, ia tidak terlalu menyukai pertemuan ini. Kalau bukan karena Mo Yanan, ia pasti sudah pergi dari tadi. Berada di tengah kelompok anak orang kaya ini membuatnya merasa sangat tidak nyaman dan canggung. Namun karena ia cukup akrab dengan Mo Yanan, ia pun berharap bisa duduk di dekatnya.
Namun, saat Xiao Chen baru hendak duduk, kursinya tiba-tiba ditarik ke belakang dengan kasar oleh seseorang, hingga ia hampir saja jatuh terduduk di lantai. Adegan yang sedikit konyol itu langsung mengundang tawa penuh sindiran dari para anak orang kaya di ruangan itu.
Xiao Chen menoleh dan melihat Deng Hao menatapnya dengan ekspresi mengejek, tersenyum penuh maksud buruk.
“Deng Hao, apa-apaan sih kamu?” Mo Yanan mengerutkan alis indahnya dan memandang Deng Hao.
Deng Hao tertawa kecil. “Nggak apa-apa, cuma bercanda saja.”
Sambil berkata begitu, ia menaruh kembali kursinya dan memandang Xiao Chen dengan remeh. “Hei, kamu nggak lihat apa? Kursi ini bukan buatmu.”
Xiao Chen meliriknya sekilas. “Kenapa aku nggak boleh duduk di sini?”
“Heh, kenapa? Kamu nggak pantas duduk di sini. Ini kursi khusus milik Tuan Luo, ngerti nggak, bodoh!”
Saat Deng Hao berkata begitu, Luo Chengpun menatap Xiao Chen dengan penuh selidik, seolah menunggu reaksinya.
Xiao Chen menatap Deng Hao, lalu mengabaikannya. Ia langsung merebut kursinya kembali dan duduk dengan tenang.
Persetan, aku sama sekali tidak peduli siapa yang merasa kursi ini miliknya.
Deng Hao yang diacuhkan begitu saja oleh Xiao Chen langsung merasa dipermalukan, dan ia pun melirik Luo Cheng dengan kesal.
Alis Luo Cheng berkerut, matanya menyorotkan kilatan tajam, tapi ia tak berkata apa-apa.
“Duduk saja dulu, nanti setelah makan baru kita bicarakan lagi,” ujar Luo Cheng pada yang lain, lalu menarik kursi dan duduk tepat di seberang Mo Yanan.
Setelah Luo Cheng duduk, barulah yang lain ikut duduk. Suasana pun terasa sedikit canggung. Gadis di samping Mo Yanan mengedipkan matanya, berusaha memecah keheningan.
“Yanan, hari ini ulang tahunmu. Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu, semoga kamu suka,” katanya sambil menyerahkan sebuah kotak beludru hitam berbentuk persegi panjang kepada Mo Yanan.
Semua orang yang melihatnya langsung tahu. Itu adalah satu set lipstik Chanel keluaran terbaru tahun ini, dan harganya mencapai puluhan juta rupiah.
Melihat gadis itu memberikan hadiah, yang lain pun segera mengeluarkan hadiah mereka masing-masing dan menyerahkannya pada Mo Yanan.
“Yanan, ini parfumnya COCO dari aku.”
“Yanan, ini tas Gucci yang kubelikan untukmu…”
“Nih, ini gelang giok yang kubelikan khusus untukmu, cantik kan…”
Satu demi satu hadiah mewah dan indah diletakkan di hadapan Mo Yanan, menumpuk tinggi seperti gunung kecil.
Setelah semua hadiah diberikan, Luo Cheng pun menatap Mo Yanan dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan yang sangat elegan dari sakunya.
“Yanan, hari ini ulang tahunmu. Aku juga membawakan hadiah spesial untukmu, semoga kamu suka,” katanya sambil berdiri dan menyerahkan kotak itu pada Mo Yanan.
“Tuan Luo, kamu kasih hadiah apa ke Yanan? Buka dong, biar kita lihat.”
“Iya, benar tuh. Kak Cheng, hadiah apa sih yang kamu kasih ke Yanan, biar kami juga penasaran.”
“Pasti hadiah dari Kak Cheng lebih berharga dari hadiah kita semua, setuju nggak?”
Melihat semua orang mulai menggoda, Luo Cheng tersenyum penuh percaya diri dan membuka kotak perhiasan itu.
Tiba-tiba, sebuah gelang berlian yang sangat berkilauan muncul di hadapan semua orang. Gelang itu terbuat dari emas putih 18 karat dan 52 butir berlian bulat potongan brilliant, total berat enam karat, berkilauan memikat di bawah cahaya lampu ruangan.
Siapa pun wanita pasti akan terpukau melihat gelang secantik itu.
“Wow…”
Seruan kagum terdengar dari seluruh ruangan.
“Wah, Tuan Luo benar-benar baik banget sama Yanan. Aku tahu gelang ini, Cartier seri Elizabeth Supreme terbaru tahun ini, nilainya satu miliar enam ratus juta…”
Gadis bergaun Versace itu berteriak kagum, matanya berbinar-binar melihat kilau gelang itu.
“Nana benar, ini memang gelang Elizabeth dari Cartier yang baru diluncurkan. Tuan Luo sungguh romantis…” tambah seorang gadis kaya lainnya.
“Yanan, gelang ini hanya sedikit ungkapan dari hatiku. Jangan menolak, terimalah,” kata Luo Cheng sambil menyerahkan gelang itu.
Mo Yanan tampak ragu dan menatap Luo Cheng. “Hadiah ini terlalu mahal, aku tak bisa menerimanya.”
Meski Mo Yanan sudah biasa menerima perhiasan mahal, tapi gelang dari Luo Cheng kali ini memang terlalu berharga, dan ia pun paham arti di balik pemberian itu.
“Yanan, mahal atau tidak, gelang ini adalah ketulusan hatiku. Kalau kamu menolaknya, berarti kamu tidak menganggapku teman,” ujar Luo Cheng dengan nada serius.
Mo Yanan merenung sejenak, lalu akhirnya menerima gelang itu dengan terpaksa.
Ia tahu, jika menolak, pasti Luo Cheng merasa sangat dipermalukan dan mungkin benar-benar akan marah. Toh, ia bisa mengembalikannya nanti dengan cara lain.
Melihat Mo Yanan menerima gelang itu, semua orang bersorak, dan wajah Luo Cheng pun menjadi lebih cerah.
Saat itu, Deng Hao melirik ke arah Xiao Chen yang duduk di samping Mo Yanan dan mengejek, “Semua orang sudah memberikan hadiah. Kok ada yang nggak bawa hadiah sama sekali, ya?”
“Jangan-jangan ada yang cuma numpang makan gratis? Ulang tahun Yanan tapi nggak bawa hadiah, hebat juga, salut deh.”
“Sudahlah, ada yang memang nggak tahu malu, mau diapain lagi?”
Mo Yanan tentu tahu mereka sedang menyindir Xiao Chen. Ia pun menatap Xiao Chen dengan penuh kelembutan. “Xiao Chen, abaikan saja omongan mereka. Aku tidak peduli soal hadiah, yang penting kamu datang, aku sudah senang.”
Xiao Chen tersenyum. “Yanan, siapa bilang aku nggak bawa hadiah?”
Sambil berkata demikian, ia mengaduk-aduk sakunya, lalu mengeluarkan sebuah gelang batu giok berwarna-warni dan menyerahkannya pada Mo Yanan.
“Yanan, gelang ini aku buat sendiri khusus untukmu.”
Semua orang yang melihat gelang berwarna-warni itu langsung menatap Xiao Chen dengan tatapan merendahkan. Beberapa bahkan tak bisa menahan tawa.
“Astaga… Dia sudah gila kali, ya?”
“Aduh, gelang itu harganya sepuluh ribu rupiah saja nggak sampai, deh. Di pinggir jalan saja banyak yang lebih bagus…”
“Gila, dia kira Yanan pengemis apa, berani-beraninya kasih hadiah sejelek itu?”
Meski banyak yang berkata sangat menyakitkan, Mo Yanan tetap tak peduli. Sejak awal ia mengundang Xiao Chen ke pesta ulang tahunnya, memang bukan untuk mengejar hadiahnya.
Ia pun menerima gelang itu dan memperhatikannya. Batu giok berwarna-warni itu tampak sangat menarik. Meski ia tahu kualitas batunya biasa saja, namun gelang itu seolah memiliki daya pikat tersendiri yang membuatnya langsung menyukainya.
“Terima kasih, Xiao Chen. Aku sangat suka,” ucap Mo Yanan sambil mengenakan gelang itu di pergelangan tangan putihnya dan tersenyum bahagia pada Xiao Chen.
“Yanan, gelang sampah begitu pantas kamu pakai, ya?” Deng Hao protes tak terima.
“Iya, Yanan. Barusan Tuan Luo kasih gelang Elizabeth, jauh lebih cocok buatmu.”
“Benar, Yanan. Buang saja gelang murahan itu, pakai Elizabeth dong.”
Berkali-kali dihina dan diremehkan membuat Xiao Chen merasa sedikit marah.
Ia mengangkat kepala dan menatap semua orang dengan penuh percaya diri. “Hadiah yang kuberikan pada Yanan bukan barang murahan. Hanya saja kalian tidak bisa melihat nilainya.”
“Heh…” Deng Hao mengejek. “Memang kami nggak lihat nilainya. Siapa yang tahu gelang buatanmu itu harganya berapa—beberapa ribu, atau malah cuma ratusan rupiah?”
Xiao Chen memandangnya dingin. “Orang sepertimu memang takkan pernah tahu betapa berharganya gelang ini. Bahkan jika semua hadiah yang kalian berikan digabungkan, tetap tak akan sebanding dengan nilai gelang ini.”
Semua orang saling berpandangan, lalu melirik Xiao Chen seolah ia sudah tidak waras.
Orang ini, pasti ada sesuatu dengan otaknya…