Bab 19: Serangan ke Gedung Utama Keluarga Lu (Bagian 1)
Karena sudah memahami kepribadian Lu Zuo Yu, seusai pelajaran Chu Xi langsung meminta si Gendut dan si Kurus menghentikan semua transaksi.
“Tapi, Bos, seribu eksemplar yang baru dicetak kemarin, hari ini masih tersisa seratus lebih,” ujar si Kurus sambil membolak-balik buku catatan, terlihat enggan.
Chu Xi mengelus dagunya dan berkata, “Sisanya, akhir pekan nanti kalian berdua bawa ke lapak pinggir jalan di luar akademi, harganya bisa kalian turunkan.”
Si Gendut dan si Kurus mengangguk, “Bos memang bijaksana.”
Besok hari Sabtu, tepat untuk pindah lokasi.
“Chu... Chu Xi, waktu itu kamu nggak apa-apa kan?” Suara lembut dan pelan terdengar.
Ketiganya menoleh, tampak seorang gadis berambut pendek dengan wajah bulat seperti apel, dihiasi bintik-bintik lucu.
Wajah asing namun terasa familiar itu segera diingat Chu Xi; hari itu dia melompat dari lantai lima dan nyaris menimpa gadis ini.
Chu Xi tersenyum ramah, “Aku baik-baik saja, maaf soal waktu itu. Lain kali aku traktir makan, ya.”
Ye Tingting buru-buru menggeleng, pipinya yang bulat memerah, tak berani menatap mata Chu Xi yang jernih berkilau.
Dengan suara pelan ia mengingatkan, “Chu Xi, aku tahu mungkin kamu yang jual koleksi foto itu. Aku cuma mau kasih tahu, sebaiknya berhenti sekarang. Saat pelajaran tadi, buku catatan milik Fu Gui dilihat sama Bai Xue.”
Si Gendut terkejut, “Bai Xue lihat? Padahal aku sama si Kurus udah diam-diam banget!”
Chu Xi hanya bisa menghela napas. Dua orang ini tadinya memang hati-hati, tapi lama-lama tergoda keuntungan, akhirnya malah diam-diam bertransaksi di kelas. Wajar saja ketahuan.
Secara logika, kini banyak orang tahu si Gendut dan si Kurus “kembali ke jalan semula”, jadi anak buah Chu Xi.
Mereka terang-terangan menjual koleksi foto Lu Zuo Yu, pasti Chu Xi dalangnya.
Dan Bai Xue, gadis itu, begitu tahu idolanya difoto tanpa busana oleh Chu Xi...
Wah, masalah besar.
Meski Chu Xi menjelaskan, ini semua hasil editan, orang-orang biasa tetap takkan percaya.
“Tenang, urusan ini aku yang tangani. Terima kasih atas peringatannya.” Ucap Chu Xi sambil menunduk sedikit, mata berbinar seperti bunga sakura.
Suaranya lembut, sedikit mengandung godaan.
Ye Tingting makin tak berani menatap matanya, apalagi ketika pemuda itu mendekat, aroma samar melayang di udara.
Ia berlari pergi dengan wajah merah, sementara si Gendut dan si Kurus menatap punggung gadis itu, berdecak kagum. Satu lagi yang jatuh hati, pikir mereka.
“Bos, bukannya kamu suka cowok? Kenapa malah sering godain cewek-cewek?” tanya si Gendut sambil menggaruk kepala.
Chu Xi termenung, “Mungkin, memang sudah watak dasarnya.”
Di kehidupan sebelumnya, ia sering menjalankan tugas dengan menyamar sebagai pria, tak jarang harus berurusan dengan wanita cantik.
Demi menjaga identitas, kadang ia sengaja menggoda gadis-gadis manis.
Pembunuh bayaran nomor 13 terkenal di dua dunia, bukan hanya karena kehebatannya, tapi juga reputasinya yang sangat genit.
Jejaknya tersebar di berbagai negara, dan di banyak tempat masih ada sahabat wanita yang pernah dekat dengannya.
Chu Xi menghela napas.
Dia pergi begitu saja, entah bagaimana nasib para sahabatnya itu sekarang...
———
Sore itu, ketika pulang sekolah, Paman Ou yang misterius menyerahkan sesuatu pada Chu Xi.
“Tuan muda, ini hadiah untuk Anda. Saya yakin pasti suka.”
Mata kecil Paman Ou berkedip licik.
Chu Xi mengangkat alis, merasa barang yang diberikan itu sangat familiar.
Saat dibuka, ternyata benar-benar koleksi foto asli Lu Zuo Yu, edisi resmi.
Walaupun Paman Ou sedih dengan cinta diam-diam tuan mudanya pada Lu Zuo Yu, pada dasarnya ia tetap memihak Chu Xi.
Begitu mendengar sekolah ramai soal koleksi foto itu, ia langsung membeli satu set untuk Chu Xi dari uang gajinya.
“Tuan muda, bagaimanapun Lu Zuo Yu tak suka pria. Jangan dipaksakan. Lihat saja foto-fotonya, buat mengobati rindu,” hibur Paman Ou.
Chu Xi menahan tawa. Ia tentu hafal betul foto-foto itu, sebab semua adalah hasil editannya sendiri, bahkan bulu halus di wajah Lu Zuo Yu pun masih diingat jelas.
Namun melihat tatapan penuh kasih dari Paman Ou, Chu Xi pun luluh dan hanya mengangguk mengucapkan terima kasih.
“Paman Ou, terima kasih. Tapi aku benar-benar sudah tak ada rasa pada si Es Batu itu, dan takkan pernah suka dia lagi.”
Jujur saja, menurut Chu Xi, cowok seusia Lu Zuo Yu, selain pintar dan ganteng, tak ada kelebihan lain.
Selain membuat gadis-gadis remaja jatuh hati, nilainya nyaris nol.
Paman Ou terkejut, melihat Chu Xi yang tampak acuh, lalu bertanya ragu, “Jangan-jangan, Tuan Muda sekarang malah suka perempuan?”
Chu Xi menepuk dahi, “Bukan.”
Paman Ou menghela napas panjang.
Benar saja, rupanya tuan muda masih belum bisa move on dari Lu Zuo Yu.
Tak tahu bagaimana perasaan tunangan tuan muda yang bahkan belum pernah bertemu itu.
Ia menahan kekhawatirannya, lalu menyalakan mobil dan pergi.
Keesokan harinya, akhir pekan tiba. Matahari bersinar cerah.
Chu Xi masih setengah terlelap di balik selimut, tiba-tiba terdengar klakson mobil dari bawah, disusul suara dua orang bercakap-cakap.
“Paman, tuan mudamu tidak di rumah?” Li Zeyang meneliti vila kecil yang sederhana itu, ternyata si Peretas Hitam tinggal di tempat seperti perkampungan kumuh?
Paman Ou sudah makan asam garam kehidupan, ia mengenali Li Zeyang, putra keluarga Li.
Di mana ada Li Zeyang, pasti ada tuan besarnya.
Jangan-jangan ini mau menagih utang?
Paman Ou tersenyum kaku sambil menghidangkan segelas jus, “Tuan muda Zeyang, tuan muda kami kemarin pergi dinas luar kota dengan Tuan Chu, belum pulang.”
Li Zeyang mengangkat alis, matanya yang cermat meneliti Paman Ou yang gemuk itu, lalu mengamati rak sepatu, karpet, dan gantungan di balik pintu.
“Si Peretas Hitam dinas luar kota, tapi sepatu dan jaketnya saja tidak dibawa?”