Bab 17: Sebuah Album Foto yang Memicu “Kasus Pembunuhan” 2

Ternyata Seorang Pria Tampan Sebilah bulan sabit 1832kata 2026-03-04 19:37:12

Di bawah keremangan dedaunan yang bergoyang dan bunga yang menari di udara, hati Chu Zhenghao bergolak hebat. Kedewasaan Chu Xi membuat Chu Zhenghao nyaris menitikkan air mata haru. Pria paruh baya itu menengadah menatap langit barat, Ah Yue, anak kita memang ditakdirkan bukan orang biasa.

Keluarga Chu sedang dalam masa pemulihan dan butuh banyak perbaikan, sehingga Chu Zhenghao tak punya pilihan selain menghabiskan banyak waktu untuk mengatur segalanya. Tak lama ia singgah di vila kecil itu, setelah berpesan pada Chu Xi tentang keperluan sehari-hari, ia pun bergegas pergi di bawah sinar rembulan.

*

Malam harinya, tiga komputer menyala bersamaan. Jemari Chu Xi bergerak lincah, mengetik di satu keyboard, lalu berputar ke keyboard lainnya. Seluruh layar dipenuhi foto-foto tampan Lu Zuoyu.

“Sial, kulit si batu es ini bagus banget, pasti rajin pakai skincare,” gerutu Chu Xi sambil memperbesar gambar, tak kuasa menahan rasa iri. Benar-benar anak orang kaya yang dipelihara dengan dolar, lihat saja wajahnya, lehernya, tatapan matanya… ckck, benar-benar menawan.

Di kehidupan sebelumnya, saat senggang, Chu Xi pernah menerima pekerjaan mengedit foto di situs bawah tanah. Foto yang pernah ia tangani nyaris tanpa jejak editan, sampai-sampai orang yang bersangkutan pun bisa ragu. Reputasinya bagus, jujur, dan hasil kerjanya laku keras di seluruh penjuru Shenghua, bahkan di hari tanpa pesanan pun ia tetap bisa mendapat penghasilan tambahan.

Chu Xi membuka galeri, memilih satu foto dengan kerah baju terbuka, memperlihatkan otot dada yang indah, lalu mengganti wajahnya dengan wajah Lu Zuoyu… Setelah beberapa kali mengubah detailnya, hasilnya nyaris sempurna.

Di bawah naungan malam, dari lantai dua vila kecil, terdengar tawa liar yang tak sopan.

Hehehe…

Sementara itu, si Gemuk dan si Kurus sudah lama menunggu di depan komputer di rumahnya masing-masing, akhirnya menerima foto-foto kiriman Chu Xi. Mata mereka nyaris menempel ke layar, tak sadar mengusap air liur yang tak ada.

Astaga, sejak kapan Dewa Lu pernah difoto seperti ini?

Baru setelah beberapa saat, mereka sadar…

Gila, kemampuan si Bos memang luar biasa.

Sejak kecil si Gemuk dan si Kurus memang sangat cocok, keluarga mereka sama-sama punya penerbit kecil. Malam itu, seratus buku foto langsung dicetak, belum lagi jumlah foto-foto tampan yang tak terhitung lagi…

*

Keesokan harinya, seluruh sekolah gempar. Ada organisasi misterius yang beroperasi diam-diam, dan barang yang dijual bukan sembarangan—buku foto dan foto-foto Dewa Lu!

Yang lebih mengejutkan lagi, foto-foto itu sangat nyata, sangat… menggoda.

Transaksi dilakukan dengan sangat rahasia, siswa cukup mentransfer uang ke satu akun, segera akan mendapat petunjuk ke lokasi tertentu.

Menyimpan foto-foto Dewa Lu secara diam-diam tentu saja tak mungkin diumbar siswa-siswa itu. Perdagangan bawah tanah berlangsung panas, dalam waktu singkat menjadi rahasia umum.

“Bos, barangnya laku keras!” Di sudut taman, si Gemuk menyeringai puas.

“Paling laris buku fotonya, sesuai permintaanmu, tiap orang maksimal hanya boleh beli sepuluh,” si Kurus menyerahkan buku kecil catatan keuangan, “Total untung 600 juta, dikurangi biaya produksi 20 juta, sisa 580 juta, kita benar-benar untung besar!”

Inilah yang disebut punya masa depan cerah.

Dibanding dulu cuma memeras teman demi uang jajan, ikut Chu Xi jauh lebih menjanjikan.

Chu Xi sangat mengakui pesona si Batu Es, tapi ia juga tahu semua ada batasnya, tak ada rahasia yang benar-benar tersembunyi.

“Kita jual tiga hari lagi saja, setelah itu tutup transaksi dan hapus semua akun pembayaran,” perintah Chu Xi.

“Siap, semua ikut perintah Bos,” jawab si Gemuk dan si Kurus penuh semangat.

Entah kenapa, si Gemuk mendadak teringat sesuatu, matanya berputar licik, “Bos, akhir-akhir ini banyak teman tanya, masih ada nggak buku foto jenis lain?”

Chu Xi sedang sibuk menghitung uang di ponsel, tanpa menoleh ia bertanya, “Maksudnya buku foto jenis lain apa?”

Si Kurus berdehem, menjawab mewakili, “Banyak cowok dan cewek yang pengen banget punya buku foto Bos… kalau bisa yang tanpa pakaian.”

Chu Xi nyaris menjatuhkan ponselnya, menatap mereka berdua dengan kesal, “Nggak ada! Aku bukan tipe murahan yang jual pesona fisik!”

Si Gemuk dan si Kurus cuma bisa mengeluh dalam hati, seolah-olah Dewa Lu itu tipe yang jual pesona fisik saja…

Tapi harus diakui, sekarang popularitas Bos di Akademi Bangsawan Shenghua kian melesat. Hampir menyaingi kejayaan Dewa Lu dan Tuan Muda Qiu dulu.

Pesona Chu Xi bukan terletak pada ketampanan berlebihan, ia tidak sedingin Dewa Lu, juga tidak semisterius Tuan Muda Qiu, melainkan daya tarik yang murni, nyaris di atas kepribadian, dan sangat memikat.

“Bos, gimana kalau kita coba jual buku foto Tuan Muda Qiu? Banyak banget penggemarnya di sekolah, baik cowok maupun cewek,” si Kurus yang lebih cerdas langsung mengusulkan.

Chu Xi miringkan kepala, bingung, “Siapa itu Tuan Muda Qiu?”

Belum sempat si Kurus menjawab, ponsel Chu Xi tiba-tiba berbunyi.

Dilihatnya nama di layar: [Si Batu Es]

Chu Xi segera melambaikan tangan, mencari sudut untuk mengangkat telepon.

“Keluarlah.”

Hanya tiga kata, tapi hawa dinginnya nyaris merembes dari layar ponsel.

Tanpa melihat langsung, Chu Xi sudah bisa membayangkan wajah masam Si Batu Es yang menyeramkan itu.

Sepertinya, urusan menjual foto-foto Lu Zuoyu sudah ketahuan.

Tapi mana mungkin Chu Xi takut padanya. Ia dengan tenang mengetik pesan balasan.

[Maaf, siang ini aku masih harus ikut pelajaran.]

Kebetulan, bel sekolah pun berbunyi nyaring.

Nada bel yang jernih seolah diam-diam memberi semangat pada Chu Xi: masuk kelas saja, lupakan Si Batu Es~ lupakan~~

Chu Xi pun menerima dukungan bel itu dengan sangat alami.