Bab 24: Penindasan yang Terang-terangan
Awalnya, saya tidak terlalu memikirkan hal ini, namun perkataan orang-orang di sekitar justru membuat saya mulai curiga.
Karena penasaran, saya sengaja mencari toko kue tersebut di internet. Harga rata-ratanya mencapai jutaan rupiah. Padahal, kue yang saya makan tadi malam hanya berukuran sekitar enam inci. Tidak terlalu besar, namun harganya mencapai sepuluh juta rupiah!
Rasanya memang sangat lembut. Saya bukannya tidak percaya Ming Kai mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk saya, hanya saja sejak dia tahu saya pergi wawancara hingga diterima, waktu sudah menunjukkan sore hari. Bahkan jika dia bergegas pergi dan kembali, setidaknya besok malam dia baru bisa sampai. Apalagi jika harus meminta orang lain mengirimkannya lebih dulu. Terlebih lagi, video yang baru saja saya tonton itu direkam di kota ini.
"Siapa ini? Apa ini pacarmu?"
Saya terus menatap foto kami tadi malam. Semakin dilihat, semakin saya merasa kue itu sangat mirip dengan kue yang dibuang oleh gadis di video tersebut. Jantung saya berdegup kencang.
Pertanyaan mendadak dari rekan kerja membuat saya tersadar. "Ya," jawab saya samar.
"Kue ini kok mirip sekali dengan yang kusebutkan tadi, 'Kue Si Bodoh'? Jangan-jangan pacarmu memungutnya dari tempat sampah?" Tao Ya tertawa kecil, matanya menyiratkan ejekan.
Tidak mungkin... "Tentu saja tidak, ini pacarku yang membelikannya melalui orang lain."
Setelah berkata demikian, saya bergegas pergi dan menyendiri di ruang pantry. Meskipun mendengar bisik-bisik orang di sekitar, saya berpura-pura tidak mendengarnya. Saya menggenggam ponsel erat-erat cukup lama, lalu memberanikan diri menelepon Ming Kai.
"Ada apa?" Suara Ming Kai masih selembut biasanya, membuat pertanyaan yang hendak saya ajukan tersangkut di tenggorokan. Saya tidak sanggup mengucapkannya.
"Apakah ada kesulitan di pekerjaanmu? Butuh bantuanku?" Ming Kai terdengar cemas karena saya tak kunjung bicara.
"Tidak, aku baik-baik saja... Itu... Ming Kai, rekan kerjaku akan berulang tahun beberapa hari lagi. Aku ingin bertanya di mana kau membeli kue kemarin? Rasanya enak sekali, aku ingin membelikan satu untuknya..." Saya mencari alasan setelah ragu sejenak. Meski baru bekerja, menjalin hubungan baik dengan rekan kerja adalah hal yang wajib. Ming Kai, yang sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia bisnis, pasti tidak akan merasa aneh dengan permintaan seperti ini.
Ming Kai tergagap cukup lama di seberang sana sebelum menjelaskan, "Kue itu dibawakan oleh rekanku yang sedang dinas luar kota. Aku juga tidak tahu dia membelinya di mana, nanti akan kutanyakan."
"Tidak apa-apa, tidak perlu repot-repot." Setelah mengobrol singkat, saya menutup telepon. Akhirnya, saya bisa bernapas lega.
"Kenapa kamu bersembunyi di sini sendirian? Sekarang jam kerja, jangan lupa antarkan dokumen di meja itu ke ruang direktur." Pintu pantry terbuka, Ai Wei melirik saya dengan dingin.
Saya segera menyimpan ponsel dan keluar dari pantry. Tanpa berkata apa-apa, saya bergegas mengantarkan dokumen ke ruang direktur. Saya mengetuk pintu berkali-kali, namun tidak ada jawaban, akhirnya saya memutuskan masuk.
Ruangan itu kosong, tidak ada orang sama sekali. Saya meletakkan dokumen di atas meja kerja. Saat hendak beranjak pergi, saya mendengar suara-suara tak senonoh dari balik sekat ruangan. Telinga saya seketika memerah. Sebagai orang dewasa, saya tentu tahu apa yang sedang terjadi di sana, apalagi ini ruang direktur.
Reaksi pertama saya adalah ingin segera pergi. Namun entah mengapa, kaki saya terasa terpaku di lantai dan tidak bisa digerakkan. Saya membiarkan suara-suara samar itu terus terdengar.
"Semakin mahir saja, ya?"
"Jangan-jangan kamu diam-diam berlatih?" Suara berat itu terdengar. Meski terhalang papan kayu, saya langsung mengenali pemiliknya. Zhou Shi Yan. Saya pikir dia tidak ada di kantor, tidak disangka dia melakukan hal seperti ini di dalam ruangan.
"Tuan Muda Zhou bisa saja bercanda~"
"Aku ini setia, mana mungkin mencari orang lain? Tapi, asisten baru yang datang itu... bukankah dia juga milik Tuan Muda Zhou...?"
"Jangan bertanya hal yang tidak perlu!"
Saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana, namun terdengar suara jatuh yang cukup keras, diikuti dengan bentakan yang membuat saya terlonjak kaget.
"Tuan Muda Zhou, saya tahu saya salah..."
"Bagus kalau tahu salah, ajari dia dengan benar..."
Mendengar sampai di situ, saya tidak sanggup lagi mendengarkan. Saya segera melarikan diri dari sana.
Sesampainya di meja kerja, saya masih tidak mengerti apa maksud dari perkataan Zhou Shi Yan tadi. Tiba-tiba, sebuah tangan muncul di hadapan saya. Saya menengadah, ternyata Ai Wei!
"Tuan Muda Zhou sudah bicara. Mulai hari ini, kamu belajar di sini bagaimana caranya menjadi asisten yang baik!" ucap Ai Wei sambil mengangkat alis.
Saya mengira itulah maksud dari perkataan Zhou Shi Yan sebelumnya. Saya mengangguk secara refleks tanpa memberikan reaksi apa pun.
"Ini, kerjakan ini hari ini. Harus selesai sebelum jam 12 siang nanti." Ai Wei melirik jam tangannya dan berkata dengan santai, lalu berbalik pergi.
Hanya selembar kertas yang tertinggal di depan saya. Kertas itu berisi daftar panjang kesukaan setiap orang serta daftar makanan dan minuman yang diinginkan. Sebagian besar berupa kopi dan roti dari toko-toko yang berbeda.
Saya menghitung waktu; sekarang sudah jam 9 pagi. Jika saya harus pergi membelinya sekarang, saat kembali pasti sudah lewat jam 12. Ini jelas-jelas perundungan.
Saya berjalan menghampiri Ai Wei dengan marah dan mengembalikan kertas tersebut. Entah mengapa, semua orang di area kantor menatap saya dengan terperangah, seolah-olah saya baru saja melakukan kesalahan fatal. Hanya Ai Wei yang tetap tenang.
"Kenapa? Ada masalah?"
"Ya, saya punya banyak pertanyaan. Saya adalah asisten direktur, apakah membelikan kopi untuk rekan kerja termasuk dalam lingkup pekerjaan saya? Lagipula, jika kalian semua ingin minum, bukankah kalian bisa memesan melalui aplikasi?"
Saya tahu saya tidak boleh terlalu lemah, jika terlalu lemah, saya akan terus-menerus diinjak-injak.
"Baiklah, hari ini aku buat pengecualian. Kamu boleh memesan lewat aplikasi, tapi pastikan pesanan sampai sebelum jam 12." Ai Wei berkata dengan santai sambil terus memainkan ponselnya, seolah ucapan saya tidak berpengaruh sama sekali padanya.
"Lalu, apakah perusahaan akan mengganti biaya pembeliannya setelah ini?"
Orang di depan saya tampak semakin tidak habis pikir. "Apa kamu bodoh? Bagaimana mungkin perusahaan mau mengganti biaya untuk barang-barang seperti ini?" ujar Ai Wei dengan penuh percaya diri.