Bab 16 Menggoda
Aku ingin lari.
Sebelum sempat bereaksi, sebuah kekuatan yang sangat besar menyeretku ke samping.
Aku terhuyung-huyung lalu jatuh di atas ranjang.
Saat menatap ranjang yang empuk itu, aku tiba-tiba teringat pada kejadian yang baru saja berlangsung.
Jantungku mendadak berdegup kencang, seolah tersengat listrik. Aku buru-buru bangkit.
“Tuan Muda Zhou, meskipun kita sudah terikat kontrak, tidak ada satu pun ketentuan dalam kontrak itu yang mengharuskanku melakukan hal semacam ini.”
“Kalau kau terus begini, jangan salahkan aku kalau bertindak kasar!”
Dengan marah aku melontarkan kata-kata tegas itu, sama sekali tidak peduli pada reaksi pria di hadapanku.
Aku bergegas hendak pergi.
Namun, pergelangan tanganku kembali ditarik oleh kekuatan besar, lalu tubuhku didorong dengan kasar ke dinding.
Punggungku terasa nyeri.
Saat aku mengernyit, pria itu sudah menempel rapat di tubuhku.
Jarak di antara kami bahkan tak lebih dari selebar telapak tangan.
Hembusan napas hangatnya jatuh merata di tubuhku, menimbulkan rasa geli yang aneh.
“Tuan Muda Zhou, kalau kau masih begini…”
Sebelum sempat menyelesaikan ucapanku, dia tiba-tiba melepaskan tangannya.
Aku sedikit terkejut.
Mengapa hari ini dia begitu penurut?
Namun, aku tahu dia bukan orang yang bisa dianggap enteng. Walaupun kini dia tidak lagi menghalangiku, perasaanku mengatakan bahwa semua ini pasti disengaja.
Saat ini, dia pasti sedang memikirkan sesuatu yang lain.
“Kalau kau tidak takut pacarmu mengetahui sesuatu, silakan pulang dengan pakaian seperti itu.”
Suara penuh ejekan terdengar dari hadapanku.
Aku menoleh dan melihat noda merah anggur telah membasahi kemeja putih bersihku. Noda itu kini sudah menyebar ke mana-mana.
Ketika menunduk dan mengendusnya, samar-samar masih tercium aroma alkohol.
Entah akibat pergulatan tadi atau karena hal lain, kerah bajuku entah sejak kapan telah terbuka lebar.
Bagian tubuh yang seharusnya tersembunyi terlihat jelas.
Dan sepanjang kejadian itu, aku sama sekali tidak menyadarinya.
Mengingat tatapan semua orang kepadaku saat itu, hatiku mendadak gelisah.
Detik berikutnya, kedua pipiku terasa membara hingga memerah.
Aku segera merapatkan kedua tangan di depan dada, menutupi bagian tubuh yang terekspos.
“Hal seperti ini seharusnya kau katakan sejak awal, bukan?”
Kali ini aku benar-benar merasa kesal.
Namun, dia malah terkekeh pelan.
“Perlu kau ketahui, semua yang kaulakukan hari ini telah membuatku mengalami kerugian besar.”
“Anggap saja masalah kecil ini sebagai imbalannya.”
“Kau!”
Aku sungguh tidak menyangka dia akan mengatakan hal seperti itu.
Walaupun sangat marah, setelah kupikir-pikir, di matanya aku hanyalah mainan baru yang menarik. Kalau dia ingin melakukan sesuatu, bukankah itu semudah menggerakkan bibir?
Memikirkan hal itu membuatku sedikit lebih bisa menerima keadaan.
Dalam hati, aku hanya berharap siksaan ini segera berakhir.
Aku benar-benar tidak ingin memiliki hubungan apa pun dengannya, apalagi terlibat lebih jauh.
Untuk pertama kalinya, aku berharap tiga bulan ini bisa berlalu dalam sekejap.
“Kenapa tidak pergi?”
“Bukankah tadi kau terburu-buru ingin pulang?”
Dia bertanya dengan nada yang sangat ringan.
“Atau jangan-jangan… kau berniat menemaniku bermalam di sini?”
Dia berbalik lalu duduk di tepi ranjang yang empuk. Tubuhnya sedikit bersandar ke belakang, kedua tangannya bertumpu dengan santai di belakang tubuhnya, sementara salah satu kakinya bertumpu di atas kaki yang lain.
Sepasang mata yang sulit ditebak itu terus menatapku.
Sesaat, bulu kudukku terasa meremang.
“Tuan Muda Zhou! Tolong jaga sikapmu!”
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya hanya kalimat itu yang berhasil kulontarkan.
Aku masih berdiri kikuk di tempat, tidak berani menatap matanya.
Zhou Shiyan dengan santai membuka lemari di hadapannya, lalu mengeluarkan satu set pakaian yang persis sama dengan yang kukenakan.
Bukan hanya modelnya, ukurannya pun sama.
Ternyata dia sudah menyiapkannya sejak awal?
Setelah mengeluarkan pakaian itu, Zhou Shiyan tidak langsung memberikannya kepadaku. Dia malah meletakkannya dengan penuh kemenangan di tepi ranjang.
Seketika firasat buruk muncul dalam benakku.
Namun, dengan penampilanku yang berantakan seperti ini, bukan hanya sulit pulang—bahkan keluar dari tempat ini saja mungkin akan mengundang perhatian orang-orang yang seharusnya kuhindari.
Kalau berganti pakaian di sini, setidaknya aku bisa terhindar dari banyak masalah.
“Katakan, apa yang kauinginkan dariku? Atau kau ingin memperpanjang masa kerjamu sebagai asistanku?”
Kali ini aku membalikkan keadaan dan mengambil inisiatif.
Untuk sesaat, aku bahkan bisa melihat keterkejutan di wajahnya.
Namun, ekspresi itu segera menghilang, lalu wajahnya kembali seperti semula.
“Jadi itu yang kauinginkan? Seharusnya kau mengatakannya sejak tadi. Kalau kau bilang lebih awal, tentu akan berusaha kupenuhi semua permintaanmu.”
Kata-katanya sebenarnya tidak terlalu vulgar, tetapi entah mengapa, yang kudengar justru memiliki makna lain.
Begitu mendengarnya, seluruh tubuhku kembali menegang.
Dalam hati, aku terus berusaha menenangkan diri.
“Aku hanya menggodamu. Cepat ambil dan ganti pakaianmu!”
Zhou Shiyan mengambil pakaian itu dan menyerahkannya ke tanganku.
Aku tidak berani membuang waktu sedikit pun.
Dengan tergesa-gesa aku masuk ke kamar mandi, lalu mengunci pintunya.
Barulah aku berani berganti pakaian dengan tenang.
Ketika membuka pintu, pria itu ternyata sedang bersandar di dinding dekat pintu kamar mandi.
Kedua tangannya dimasukkan ke saku, satu lututnya ditekuk.
Penampilannya sungguh seperti seorang bangsawan muda yang anggun.
Aku berniat mengabaikannya begitu saja.
“Aku sudah membantumu sekali lagi. Bukankah seharusnya aku menerima sedikit imbalan?”
Kata-kata Zhou Shiyan terdengar seperti bisikan iblis.
Aku memejamkan mata. Pada saat itu, akhirnya aku benar-benar pasrah.
Sebuah kekuatan kasar menyerbu. Ketika tersadar, tubuhku sudah kembali didorong ke dinding.
Bibirku mendapat sentuhan yang begitu mendominasi.
Kali ini aku tidak melawannya, sebab aku tahu kedudukan kami sangat berbeda. Sekalipun aku mendorongnya, dia mungkin akan mengulangi perbuatannya.
Atau mungkin masih ada hal lain yang menantiku.
Karena itu, saat itu aku hanya bisa menahan diri.
Ketika akhirnya dia melepaskanku, aku merasa bahkan bernapas pun terasa begitu indah.
Ujung jarinya mengusap bibirku yang lembap dengan lembut, seolah enggan melepaskannya.
“Imbalannya sudah kuterima. Lain kali, jangan sampai aku kehilangan muka lagi.”
“Besok, ingat datang ke kantor.”
Mendengar ucapannya, kedua pipiku seketika memerah.
Aku pun bergegas lari keluar.
Tak lama setelah aku pergi, Zhou Shiyan menerima sebuah telepon.
“Tuan Muda Zhou, apakah pertunjukan hari ini memuaskan?”
Orang di seberang telepon adalah Tuan Li, pria yang sebelumnya dipukul oleh Zhou Shiyan.
Nada bicara Tuan Li sudah sama sekali tidak menyisakan keangkuhan seperti sebelumnya. Kini dia terdengar seperti seekor anjing kecil yang sedang memohon belas kasihan.
“Lumayan. Akan kusuruh seseorang mentransfer uangnya kepadamu.”
“Terima kasih, terima kasih!”